
Mengingat peristiwa baru saja membuat pipi Kanaya memerah seperti kepiting rebus, rasanya sangat malu bila berhadapan langsung dengan Tama suaminya.
"Rasanya manis..." guman Kanaya memegang bibirnya yang memanas.
"Gimana? mau lagi? hayo kita ulang lagi..." Ucap Tama menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam tempat tidurnya kamarnya, kedua alisnya sudah naik turun dan mulai tersenyum misterius.
Kata-kata suaminya bikin Kanaya terhipnotis, sungguh membuat Kanaya melayang di udara, Kanaya juga tidak sadar menuruti kemauan suaminya untuk masuk ke dalam atas tempat tidur.
Tama mulai dengan permainannya, mula-mula mengecup pipi lalu bibirnya memasukkan lidahnya, dan mulai menginvasi rongga mulut Kanaya. Awalnya Kanaya diam saja malah memejamkan kedua matanya, menikmati perlakuan suaminya yang manis. Lama kelamaan Kanaya mulai membalas perlakuan Tama, Kanaya mulai mengusap-usap pipi suaminya menyalurkan rasa yang ada bergejolak di hatinya.
"Aaaakkkhhhh Mas......" Desisan kenikmatan Kanaya keluar, tetapi tertahan dengan bibir suaminya.
Mendengar desisan Kanaya membuat sang Tama bersemangat, memberikan kenikmatan yang akan susah mereka lupakan. Kanaya juga tidak menolak perlakuan suaminya yang sudah kelewat batas, bagi Kanaya Tama berhak atas dirinya karena Beliau suamiku, imamku.
Tangannya Tama tidak tinggal diam, mulai meremas-remas bukit cintanya dari balik piyama istrinya. Bentuknya pas di tangannya, pasti rasanya berbeda tidak seperti yang pernah Tama lihat atau pegang. Pelan-pelan memasukkan tangannya ke dalam piyama Kanaya, setelah menemukan bukitnya Tama sangat intens untuk memainkan kanan kiri bergantian.
"Aakkhhh.... geli.... Mas....." Ucap Kanaya tertahan, karena rasa nikmat yang tidak biasa Kanaya rasakan.
Tama melepaskan pagutannya, melihat Kanaya yang sudah tak berdaya dengan tatapan matanya yang sudah sayu. Semakin membuat Tama ingin segera meminta haknya, membobol gawang istrinya.
"*Mas mulai ya..." Bisiknya Tama dengan mengecup telinganya Kanaya.
__ADS_1
"Tidak ada kata terucap dari Kanaya, kepalanya yang mengangguk menandakan Kanaya siap menyerahkan jiwa raganya untuk suaminya, yang berhak atas dirinya karena Kanaya sudah tanggung jawabnya Tama*."
Pelan tapi pasti, Tama mulai melucuti pakaian Kanaya satu persatu, terpampang jelas bentuk tubuh Kanaya yang membuat Tama menelan ludahnya berulang-ulang.
"Sungguh ciptaan Allah mana lagi yang Engkau Dustakan....." Batinnya Tama yang terhipnotis dengan bentuk istrinya.
Setelah puas memandangi Kanaya, Tama memulai aksinya untuk melakukan yang seharusnya Tama lakukan semenjak mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri. Baru malam ini keduanya akan memulainya dari awal, akan memulai meminta haknya malam ini.
Kanaya yang merasa di pandangi suaminya dengan tatapan matanya yang sulit di artikan, membuatnya salah tingkah, malu, dan menutup daerah tertentu dengan kedua tangannya.
"*Tidak usah di tutupi, Mas sudah melihat semuanya...." Ucap Tama yang berusaha menyingkirkan tangan istrinya, di area yang Tama sukai.
"Mas iiiikhhh mesum banget, kan Kanaya malu Mas..." Ucap Kanaya menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kalau pipimu merah, dan malu begitu! kamu tambah cantik, dan tentunya sangat seksi." Bisiknya Tama.
Tidak tahu siapa yang memulai duluan, tiba-tiba Tama langsung masuk ke permainan intinya, kedua bibirnya saling bertemu dan bertukar saliva. Kanaya langsung membalas permainan Tama, tangannya sangat lihai memainkan benda yang ada di depannya. Menurutnya di depannya ini sangat menggiurkan, daripada memenangkan tender di perusahaannya.
Seperti bayi sedang kehausan, Tama terus saja mencecap bukit cintanya dengan kecepatan penuh semangat. Mulai mengeksplorasi tubuhnya Kanaya, tangannya terus saja bergeliya manja menyusuri bentuk yang sudah sangat lama tama idamkan.
"Pelan Mas...." Ucap Kanaya yang belum terbiasa dengan perbuatan nakal bibirnya Tama, dan tangan suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas akan pelan-pelan..."
Mendengar ucapan suaminya yang menenangkan, membuat Kanaya jadi tenang, menikmati aluran permainan keduanya. Kanaya jadi terbuai, dan melupakan rasa sakitnya meskipun ini yang pertama baginya, tetapi menurut Kanaya rasanya susah untuk di ungkapkan dengan perkataan.
Dengan pelan, Tama memulai ke permainan, mulai memasukkan bola ke gawangnya, awalnya susah untuk mengiring bola ke gawang lawan, dengan kakinya yang panjangnya bola pelan-pelan di masukkan ke gawangnya.
"Gooolllllll." Teriaknya Tama yang sedikit melupakan rasa sakitnya Kanaya.
"Akhhh.... Dengan gerakan maju mundur, masuk sana, masuk sini, pada akhirnya Tama menemukan titik koordinat yang membuat keduanya mendesahkan nama masing-masing.
Sungguh sensasinya sayang kalau di buang percuma, mereka menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka alami berdua, nafasnya juga sangat ngos-ngosan untuk mengatur deru nafasnya yang berlomba-lomba untuk menghirup oksigennya.
"*Makasih sayang..." Bisiknya Tama mengecup kening, pipi istrinya.
Partnya kurang hot kah? kasih krisannya untuk part ini dong.
Maaf autthor baru Up, semoga masih ada yang suka menunggu ceritanya autthor๐๐๐
Selamat malam
Selamat beristirahat*
__ADS_1