
Seperti hari-hari yang sudah di janjikan, di sepakati berdua. Sore ini mereka akan bertolak ke Jakarta, sedang Tama hari Senin sudah mulai berkantor kembali.
Sebenarnya berat harus meninggalkan kamar penuh kenangan, tetapi apa daya tangan tak sampai. Kanaya harus ikhlas ikut suami, padahal Tama tidak memaksanya, mau melahirkan di Jakarta atau di Solo terpenting istrinya nyaman.
Semenjak suaminya dinyatakan pulang, dan keduanya bagaikan pinang di belah menjadi dua bagian. Mereka seperti tidak terpisahkan, benar-benar pasangan seperti perangko yang saling membutuhkan.
Mereka berdua sedang beristirahat di kamarnya, sebelum melakukan penerbangan sore nanti.
Awalnya keduanya berniat untuk beristirahat untuk mengumpulkan stamina penerbangan nanti, maklum bumil pasti akan lebih capek, jika harus duduk terus.
Mereka mengobrol banyak hal, mulai dari persiapan melahirkan, membeli perlengkapan baby twins, kamar, dan masih banyak lagi yang mereka bahas.
__ADS_1
Saking banyaknya berbicara, sang suami sudah mendengkur halus, suara sang isteri seperti lantunan lagu penghantar tidur untuk dirinya.
"iiihhhh nyebelin, malah di tinggal tidur!" ucap Kanaya dengan bibirnya mengerucut, sembari mulutnya komat-kamit.
Akhirnya Kanaya ikut merebahkan tubuhnya di sebelah sang suami, meskipun tidak saling berpelukan, atau memandangi pasangan. Kanaya tidur membelakangi punggung sang suami, tangannya sangat erat merapatkan selimutnya.
******
Ada tangis haru, dan rasa kehilangan yang di rasakan kedua orang tua Kanaya, dan Kanaya sendiri. Baru kemarin mereka tinggal bersama, sore ini mereka harus berpisah kembali dengan waktu yang belum tentu Kanaya pulang kembali.
Mengingat kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga, membuatnya sangat kesusahan untuk berjalan, dan melakukan perjalanan jauh.
__ADS_1
"Pak, buk, Nay pulang dulu ya, bila ada waktu dan kesempatan Nay dan mas Tama akan sering-sering pulang ke Solo, doain kandungan Kanaya baik-baik saja, sampai melahirkan nanti." ucapnya Kanaya dengan kedua matanya berkaca-kaca. Mereka berpelukan sangat erat, seolah-olah tidak ada hari esok untuk berjumpa kembali. Kenyataannya mereka berpisah untuk sementara waktu.
"Kami akan selalu mendoakan untuk mu, nak! kabari ibu lalu sudah waktunya melahirkan, pasti kami akan berangkat ke Jakarta." sahutnya sang ibu dengan senyum tulusnya. Orang tua harus ikhlas melepas putrinya, setelah putrinya menikah, dan mengharuskan harus ikut suaminya.
Tama yang berdiri di sebelah sang istri, memperhatikan drama sang istri dan mertuanya. Ada perasaan sedih, tetapi mau gimana lagi pekerjaan sudah menunggunya, dirinya harus segera kembali ke kantor demi nasib para pegawainya.
"Bapak titip cucu kami, dan putri kami! tolong jaga mereka dengan baik-baik, bapak percaya kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab!" Pak Bhakti menepuk pundak sang menanti memberikan wejangan untuk menantunya.
"Siap Pak, saya Wiratama Wiratmaja akan selalu setia, dan bertanggung jawab sepenuhnya untuk istri, dan calon anak kami!" Tutur Tama dengan sangat lantang, cepat, dan tepat.
Mereka berdua sudah memasuki bandara dengan satu tangannya Tama sedang menggeret kopernya, dan satu tangannya untuk menggenggam tangan sang istri.
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa pengecekan , mereka sudah menunggu di ruang tunggu, tangan keduanya saling menggenggam, untuk saling menguatkan terutama Kanaya. Ini pertama kali naik pesawat dengan kandungannya yang sudah membuncit, dan badannya mekar drastis persis seperti sumo tetapi masih cantik hihihi...