
Hari, minggu, bahkan bulan berganti menjadi tahun. Banyak peristiwa yang Tama dan Kanaya abadikan, mulai Baby boys twins lahir, usia seminggu, sebulan, pertama kali Mpasi hingga satu tahun dan tahun berikutnya. Semua itu tidak luput dari perhatiannya, keduanya sebagai orang tua.
Weekand telah tiba, rencananya Tama mengajak putra kembarnya dan istri untuk berlibur menikmati pemandangan yang menyejukkan mata.
Villa di daerah puncak adalah pilihan nya, bukan hanya pemandangan tetapi udara yang sejuk baik juga untuk anak-anak.
"Sayangnya Bunda bangun yuk! udah pagi lho!" bisiknya Kanaya tepat di telinga putra kembarnya.
"Ental Nda, asih antuk!" jawab dua D dengan kelopak matanya masih terpejam, dan tangannya merapatkan selimutnya.
"Beneran nih enggak mau bangun?"
"Iya Nda, au bobok aja!"
"Papa dan Bunda mau jalan-jalan, mau liburan ke puncak, kalian di rumah sama mbak Marni kan ?"
"Ndak au sama Nda dan Papa aja!"
Jalan-jalan, liburan membuat kelopak mata keduanya mulai bergerak-gerak menyesuaikan cahaya di kamarnya. Meskipun rasa kantuknya berat, tetapi lebih berat di tinggal Bunda dan Papa nya untuk pergi jalan-jalan.
"Ita itut Nda dan Papa ke uncak."
"Liyat Ita uga udah bangun seperti Nda."
__ADS_1
Kelopak matanya sudah terbuka, meskipun belum sempurna tetapi menurut Kanaya ini malah mengemaskan. Saking gemasnya Kanaya menghadiahi kecupan bertubi-tubi di pipi, meskipun bibirnya masih ada bau ileran tetap saja itu manis seperti madu.
"Katanya tadi masih ngantuk, mau tidur saja! kok tiba-tiba tadi sayup-sayup Bunda dengar ada yang mau ikut jalan-jalan, siapa ya yang ikut Bunda kurang jelas dengarnya?"
"Ita Nda, Ita itut Nda dan Papa jalan-jalan!" Putra kembarnya langsung meringsek memeluk Bundanya, dan membenamkan kepalanya di perut sang Bunda.
"Itut ya Nda ya ya ya....!"
"Boleh sayang, tapi ada syaratnya....."
"Apa Nda?" wajah keduanya mendongak keatas untuk menunggu jawaban syarat Bundanya.
"Hadiahi dulu ciuman untuk Bunda, biar nanti Bunda bantu bilang ke Papa kalian."
🎈🎈🎈🎈🎈
Putra kembarnya sudah siap dengan pakaian santainya, keduanya sudah menunggu di ruang tamu sembari di temani mbak Marni. Dengan pakaian yang sama Baby twins boys sangatlah tampan, keduanya kembar identik dari garis wajah keduanya sangat mirip. Tetapi keduanya memiliki sifat yang berbeda, wajarlah setiap anak pasti tidak sama baik perilaku dan sifatnya.
"Papa dan Nda ama anget!"
"Ita nungguin nya ampe kaki Ita kesemutan Nda, iya kan mbak Malni?"
"Iya twins."
__ADS_1
Kanaya dan Tama hanya senyum-senyum sendiri, mendengar, melihat celotehan putra kembarnya yang sudah mulai ceriwis dengan kosakata yang belum mudah di pahami.
"Nda sama Papa kog cenyum-cenyum, Ita tampan sepelti Papa kan Nda."
Dengan tingkah mengemaskan, Baby twins berpose berbagai gaya mereka peragakan, mulai dengan menampilkan deretan giginya, tangan di masukkan ke saku celana, dan masih banyak pose-pose lucu keduanya.
"Kog putra kita makin pintar ya Bun." bisiknya Tama ke isteri.
"Iya dong, siapa dulu Bundanya." Nay kembali berbisik ke suaminya untuk menjawab bisikan cinta suaminya.
"Bibit unggul mas tepat sasaran, cinta kita tumbuh dengan sehat, semakin pintar dan sangat kritis bertanya ini itu!" Tama tidak mau kalah, tetap saja masih narsis di depan anak-anak dan istrinya.
**Othor mau lanjut cerita tentang perjuangan bulan Juni-Juli ya.
Hari keenam othor datang ke ruang isolasi untuk menanyakan perkembangan kondisi Kaka di dalam, pertama-tama othor konsultasi ke mbak-mbak dan mas-mas perawat. Alhamdulillah banyak perkembangan kearah positif, othor masih ingat pukul 13.30 dokter yang merawat visite ke ruangan.
Pukul 14.00 othor konsultasi langsung ke dokternya, banyak yang di jelaskan penyakitnya ini itu, tetapi semuanya sudah membaik yang dulunya hasil laboratorium tinggi dan hasil Rontgen sebagian hasil banyak cairan. Alhamdulillah hari keenam di rawat sangat-sangat pesat perkembangannya.
Berhubung seseg berkurang, saturasi naik di 98&99 perkembangan Bagus, nafsu makan pun Bagus, hasil laboratorium dan Rontgen bagus, nanti isoman di rumah ya.
"Besok pulang, nunggu injeksi anti virus hari ke tujuh dulu ya mbak ."
"Baik Dok! terimakasih!"
__ADS_1
Keluar dari ruangan tidak bisa berkata-kata, mendengar kata pulang dengan sehat adalah kebahagiaan tak terhingga untuk othor dan keluarga**.