
Beberapa hari yang mereka lewati dengan penuh canda dan tawa bahagia, keduanya sepakat melupakan hari dimana dirinya pernah terpuruk dalam ketidakberdayaan, di cuekin sang suami, bahkan di abaikan sebagai seorang istri.
Awalnya berat, lama-kelamaan semua menjadi senyum bahagia di bibir keduanya. Kanaya sudah melupakan rasa sakit, kecewa tetapi semua sudah tergantikan hari penuh dengan kebahagiaan.
Mereka sedang menikmati sore hari di sebuah taman dekat rumahnya, sore ini bertepatan dengan hari Sabtu malam minggu. Seperti orang yang mengidam pada bumil lainnya, Kanaya sedang menikmati sore hari dengan melihat banyak orang yang berlalu lalang di depannya.
"Ramai ya mas, tempatnya juga bersih dan asri." Ujar Kanaya dengan senyum bulan sabit di bibirnya.
"Kamu suka!" Tama memastikan kebahagiaan sang istri. Dari binar wajahnya Tama sangat tahu bahwa sang istri sangat menyukai tempat ini.
"Banget Mas!" Kanaya langsung gerak cepat menyahuti ucapan sang suami, saking bahagianya Kanaya ingin bergelayut manja di lengan sang suami.
"Syukurlah kalau kamu senang, mas juga senang, di tambah melihat senyum manis mu membuat Mas semakin cinta terus dan terus sampai kita menua nanti." Ucap Tama di tengah kemesraan keduanya. Tama sangat memanjakan sang istri, segala bentuk apapun Tama berikan sekuat dan semampunya.
Mereka berdua menikmati jajanan yang mendunia yang menjadi ciri khas kota Jakarta, kerak telor menjadi makanan pilihan keduanya, meskipun Kanaya bukan terlahir orang Jawa, tetapi sangat mengidam-idamkan yang namanya makanan kerak telor yang menjadi legend di Jakarta.
Dua sejoli yang sedang duduk di bangku taman, tidak henti-hentinya menebarkan senyum, kebahagiaan seakan-akan taman ini milik mereka berdua yang lainnya hanya numpang duduk-duduk saja.
__ADS_1
******************
Pulang dari taman senyum tidak pernah lepas dari bibir dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Sungguh mereka sangat bahagia, jarang-jarang mereka bisa menikmati waktu berdua di luar rumah, tetapi sore ini menjadi sore yang indah untuk kedua calon orang tua dari baby twins.
"Kenapa Nay? Mama perhatiin dari tadi senyum-senyum sendiri, apa ada yang membuat mu bahagia, Nak?" Mama Tama memperhatikan sang menantu senyum sendiri, membuatnya curiga dan lidahnya sangat gatel ingin menanyakan perihal ini.
"Sangat mah, tumben-tumbennya mas Tama ngajakin Nay jalan-jalan di taman, ternyata tempatnya sejuk dan asri membuat Nay nyaman berlama-lama di taman." Seru Kanaya menceritakan pengalamannya berada di taman bareng sang suami.
"Ohhh iyahhh." jawabnya Mama yang antusias mendengar cerita menantunya.
"Nanti Mama akan coba main ke taman sambil momong cucu, pasti tempat semakin indah lagi." Mama Tama sudah membayangkan mereka berada di taman bareng cucu-cucunya.
Bunda tidak sabar nunggu kalian lahir, tumbuhlah dengan sehat Bunda Papa, Ooa Oma sangat menyayangi kalian," batinnya Kanaya membelai lembut perutnya
Mereka larut dalam obrolan, Kanaya menceritakan keseruan yang dilakukan mereka berdua di taman. Mertuanya sangat semangat mendengarkan cerita menantunya, sampai mereka lupa ternyata hari sudah sore para pak suami sebentar lagi akan pulang.
Sepuluh menit kemudian, Kanaya sudah rapi dengan pakaian santainya. Mereka berdua sudah cantik, wangi untuk menunggu di ruang keluarga, menunggu para suami pulang kerja sembari menikmati sore hari dengan berita aktris yang lagi viral saat ini.
__ADS_1
"Banyak publik figure yang kawin cerai ya, Mah! Pernikahan seperti mainan saja, bila sudah bosan di tinggal ganti yang baru." Tutur Kanaya yang sangat kesal. Publik figure harus menjadi contoh yang baik, tetapi malah membuat Kanaya kesal dengan berita berseliweran di layar televisi.
"Namanya juga aktris, sudah hal biasa seperti itu mah, semoga kita bisa mencontohkan yang baik untuk para readers yang membaca cerita novel ini!" Tutur mereka berdua di kala senja menyingsing ke barat, bahwa pernikahan itu ibadah, dan menyatukan dua sejoli yang saling mencintai di bubuhi dengan kesetiaan.
Tak! Tak! Tak!
Dua para pak suami sudah melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah, baru di ambang pintu mereka sudah saling melirik satu dengan satunya.
"Lihat istri mu wajahnya di tekuk seperti tidak dapat jatah semalam." bisiknya Papanya tepat di pintu masuk rumahnya.
"Jatah mah tiap malam Pa, kita mainnya sampai subuh dini hari." jawabnya Tama dengan di hiasi dengan senyum jenaka nya, dan senyum simpul.
"Lagi apa sayang?" tanya papa dan anak kompakan. Mata keduanya saling melirik menunggu reaksi sang istri.
"Kalian mengangetkan saja! Nyebelin!" Ucap kedua menantu dan mertua, mereka juga bisa kompakan menjawab pertanyaan para suaminya.
Mereka berempat tertawa bersama, menertawakan kekonyolan nya yang tidak mau kalah dengan ke kompakan mereka berempat.
__ADS_1
Insyaallah bulan depan mudah-mudahan bisa nulis lebih panjang lagi, tidak ngaret jamnya seperti saat ini
Maklum auuttor masih ada kesibukan di dunia nyata .