
Yang awalnya hanya tendangan dan kontraksi ringan, semakin lama Naya semakin merasakan mules-mules di perutnya seperti sedang mau ke kamar mandi.
"Mas akhhh."
suara ******* Naya seperti teriris-iris, bibirnya di biarkan untuk menahan rasa sakit yang kian menjadi.
Berpegangan dengan sofa panjang di ruang tamu, membuatnya sedikit leluasa untuk mencengkeram ujung sofa.
"Akhhhh.... Sa..kita Mas....."
teriaknya Naya sampai ke telinga suaminya yang sedang menemani si kembar bermain di ruang keluarga.
"Suaranya siapa? apa Kanaya?"
Tama terus saja menanyakan isi hatinya, terdengar kecil tetapi seperti suar istrinya.
"Kalian lanjutkan mainnya, Papa mau ke tempat Bunda dulu, mengerti!"
"Mengelti Pa."
Setelah berbincang sebentar memberikan penjelasan. Tama akhirnya meninggalkan ruang keluarga, ruangan khusus untuk si kembar dan calon adiknya bermain. Tama mendesain khusus untuk si kembar dan calon adiknya, yang tidak dalam waktu lama ini dedek kecil akan melihat dunia.
Tak! TAk! Tak!
Langkah kakinya tak main-main cepat nya di Kala mendengar suara istrinya yang sedang menahan kesakitan, langkahnya semakin tergesa-gesa berharap istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa perutnya Bun? apa ada yang sakit? atau bagaimana? tolong jelaskan ke Papa Bun." Tutur Tama panjang yang sudah sangat khawatir, mimik wajahnya langsung berubah tegang melihat istrinya tak menjawab pertanyaan nya.
"Bunda."
"Sakit Pa......, perutnya tidak nyaman kayaknya Bunda mau melahirkan deh Pa hiksss ... sakit...."
"Apa! melahirkan."
"Iya mas, si kecil sudah tidak sabar bermain dengan si kembar, ketemu Papa Bunda, Opa Oma, dan Kakek Nenek ." Naya masih bisa mengabsen satu persatu nama anggota keluarga, meskipun tak menyebutkan detail namanya.
"Apa bermain,! kan dedek nya masih kecil, kasihan kalau main sama si kembar yang ada mereka mencubitnya seperti boneka, gimana Bun?"
"Pluk, Naya langsung melempar bantal sofa tepat mengenai wajah tampan suaminya."
"Kog aku malah di lempar-lempar pakai bantal Bun, nanti kalau wajah tampan ku rusak gimana ?"
"Bo doh amat!"
Rasa sakitnya semakin bertambah, sembari memegangi perutnya Naya memanggil ibu dan Mama Nisa. Sedang Tama sendiri nmalah bengong mau bertindak seperti apa? pikirannya sangat bleg melihat wajah istrinya yang kesakitan.
"Kamu itu bukan nya langsung bawa Naya ke rumah sakit, malah bengong seperti sapi ompong." omel Mama Nisa yang gemas dengan sikap putranya, meskipun ini sudah kelahiran yang kedua.
"Ehhh iya mah." Tama sudah beranjak dari duduknya, memanggil seisi rumah untuk menyiapkan perlengkapan dedek kecil.
Si kembar yang mendengar suara Papa nya datang mendekat, dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya?
__ADS_1
"Kenapa Papa teliak-teliak sepelti di hutan?"
tanya si kembar yang penasaran dengan wajah kesal nya.
"Hmmm .... anu.. Bunda mau melahirkan boys, Papa sedikit panik hehehe.
jawabnya Tama memperlihatkan deretan giginya.
"Asyiiilk ..... asyik dedek akan lahil."
Seru si kembar dengan binar mata yang bahagia.
Kaki kecilnya melangkah mendekati Bundanya di sofa, tangan kecilnya juga ikut mengusap-usap perutnya bunda nya.
"Dedek ndak boleh nakal ya, kasihan Nda nanti Nda kesakitan terus nangis."
"Mas sayang adek kecil."
Naya yang sedang menahan rasa sakit ikut tersenyum melihat si kembar yang perhatian kepada sang calon adik. Elusan tangan kecilnya mampu untuk meredakan rasa sakit yang kian menjadi.
Mendengar teriakan pak Tama, mbak Marni langsung siap menenteng tiga tas besar keperluan persalinan.
*******
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Naya terus saja mengadu kesakitan, rasa pegal-pegal di pinggangnya semakin menjadi..
Kering sudah bercucuran membasahi wajah cantiknya, kesakitan demi kesakitan Naya rasakan. Tendangan si kecil sangat kuat, membuat Naya meringis menahan sakit...
"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai."
"Sakkkkiiiiiittt mas......"
Tiba di UGD Naya langsung di tidurkan di brankar, lalu di dorong menuju ruang persalinan. Wajah tegang dari keduanya nampak terlihat, Naya terus saja memegangi tangan ibunya untuk meredakan rasa sakitnya.
"Mas Tama di mana Buk?"
"Nungguin kamu di Luar, kenapa?"
"Panggilkan mas Tama buk!"
"Iya ibuk panggilan kan, sebentar ya."
*****
Di luar ruang persalinan Tama sedang menormalkan detak jantungnya. nafasnya sangat memburu, nampak sekali sangat ngos-ngosan menelusuri Lorong rumah sakit..
"Nak Tama di suruh masuk Naya."
Ucap ibu Melati memilih keluar ruangan, memberikan ruangan mereka di dalam.
"Makasih buk!"
__ADS_1
Sebelum masuk ke ruangan, Tama sudah menyiapkan hatinya untuk menemani sang istri melahirkan. Sedang Mama Nisa tidak ikut, karena harus menjaga si kembar di rumah sembari menunggu suaminya untuk menjemputnya.
Klekkk...
"Mas ini suaminya?"
"Iya dok!"
"Sudah siap?"
"Siap apa Dok?"
"Siap menemani istrinya melahirkan Pak!"
"Hmm siap dok."
Tama sudah memegang tangan istrinya, mengecup keningnya bertubi-tubi, memberikan semangat supaya rileks menjalani persalinan yang kedua ini.
Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Naya sudah memasuki pembukaan lengkap. Kontraksi terus saja berjalan, sampai Naya sendiri menggeleng kan kepalanya, dan menggigit giginya untuk menghilangkan rasa sakit nya.
Sekali lagi team dokter, perawat, dan bidan tengah bersiap melakukan persalinan normal. Tempat nya juga sudah di sterilkan, tidak ada sedikit debu pun di ruangan persalinan. Kekuasaan Tama semua bisa di beli, bahkan rumah sakit ini siap membeli nya bila benar-benar di jual.
Melihat istrinya yang sedang bertarung nyawa melahirkan keturunannya, membuat Tama matanya berkaca-kaca, seakan tidak tega melihat penderitaan rasa sakitnya. Genggaman tangan Naya sangat kuat, setiap kali merasakan kontraksi si kecil yang tidak bisa diam.
"Ikutin instruksi saya ya buk."
"Baik dok."
"Dalam hitungan satu, dua, tiga ibu mengejan ya, jangan di angkat pinggul nya, cukup lihat perutnya."
"Akhhh...."
"Ayo buk lebih kuat lagi, kepala dedek nya sudah kelihatan.."
"Akhhh husss akhhh..."
Oek.....oek....
"Selamat buk, bayi sudah lahir cantik seperti Ibunya."
"Terimakasih sayang."
Ucap tulus Tama dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama mas, sudah menjadi tugas ku melahirkan keturunan mu mas."
Sahutnya Naya tersenyum penuh kebahagiaan, melihat putr kecil nya dengan wajah yang masih merah.
Hampir satu jam berjuang di dalam ruang bersalin, kini terbitlah senyum bahagia di wajah keduanya. Tidak henti-hentinya Tama mengelus-elus wajah Putri yang masih merah, bibirnya terus saja mencari-cari sumbernya.
Setelah melalui proses yang tak mudah, suara tangis Putri kecilnya menggema di dalam ruangan. Ada perasaan haru, bahagia, sampai tak percaya bahwa ada makluk kecil yang berada di atas dadanya sedang mencari sumber minuman.. Bibirnya yang mungil pandai sekali dalam menyu su. Tatapan mata kecilnya menghipnotis Papa nya untuk selalu memandangi putrinya, bibir mungilnya tidak pernah lepas dari sumbernya.. Setelah merasa kenyang, putrinya yang tertidur nyenyak.
__ADS_1