Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 101


__ADS_3

**Happy reading


Selamat hari Senin


Selamat beraktifitas saja**


Satu minggu sudah berlalu, Kanaya belum bisa Move On dari acara aqiqah putranya, seperti tidak percaya bahwa dirinya sudah menyandang predikat sebagai seorang ibu dari baby twins nya.


"Rasanya Bunda seperti mimpi, Nak!" Nay terus saja mengecup kening, pipi putranya bergantian ke abang Dana, dan adik Dapi.


Sudah hal biasa bagi Nay, setiap baby nya tidur Nay selalu saja membuat keisengan untuk dua putranya.


Yang membuatnya Nay tak jemu-jemu memandangi wajah putranya, semakin hari, semakin pintar menunjukkan ekspresi nya.


Sengaja Nay menaruh keduanya diatas tempat tidurnya, pipi chuby membuat Nay sangat gemas dengan baby yang sedang tidur diatas tempat tidur kamarnya, yang tak lain adalah dua jagoannya sendiri.


"Sayangnya Bunda dan Papa..." Nay terus saja mengisengi keduanya, tetap saja putranya enggan terbangun, dan tidak berkutik sama sekali dengan sikap jahil Bundanya.


Setelah tidak mendapatkan respon dari putranya, Nay memilih membiarkan kedua jagoannya tidur nyenyak, tanpa ada gangguan dari dirinya.


Mumpung keduanya masih mimpi indah, Nay membereskan pakaian putranya, dan kamar putranya yang terhubung langsung dengan kamar pribadinya.


Kelak kamar ini akan menjadi tempat tidur putranya, meskipun belum di tempati tapi kamarnya selalu saja di bersihkan.


Barang-barang putranya masih tertata rapi di kamarnya, mainan mobil-mobilan, dan mainan lainnya masih terbungkus plastik.


Kantor Abadi Group


Tama baru saja selesai rapat, mendudukkan bokongnya untuk meredakan rasa nyeri di kepalanya. Tiba-tiba kepalanya pusing, seakan-akan ruangan ini ikut berputar-putar, padahal dirinya sedang duduk tenang di kursinya.

__ADS_1


"Ada apa dengan diriku? kenapa tiba-tiba kepalaku pusing berputar-putar? Tama terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tetap saja tidak mendapat jawaban, karena rasa pusingnya secara mendadak.


Tama memilih menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, memijat-mijat pelipisnya, berharap pusing nya akan segera reda.


Masih saja sama sampai pintu di kamarnya terbuka, ada sosok sekertaris yang merupakan kakak iparnya sendiri.


"Kenapa Tam?" tanya Reksa dengan penuh kekhawatiran penuh, pikirannya sedang traveling kemana-mana, yang Reksa ingat langsung keponakannya yang baru saja berumur belum seumur jagung.


"Enggak tahu Sa, tiba-tiba kepalaku pusing." jawabnya Tama dengan kelopak matanya terpejam, sesekali tangannya memijat-mijat pelipisnya.


"Mau diantar pulang atau ke rumah sakit, Tam?" Lagi-lagi Reksa bertanya untuk memastikan jawaban Tama, sebelum melakukan tindakan selanjutnya.


"Pulang aja Sa, takutnya Nay berpikir tidak-tidak bila di bawa ke rumah sakit langsung," jawabnya Tama.


"Oke!"


Reksa langsung memapah Tama melewati lift khusus yang terhubung lantai bassement, tas kerja pun di tenteng Reksa dengan satu tangan lainnya.


Sampai di kamarnya Nay dibuat kaget dengan suaminya yang diantar pulang kakaknya, padahal tadi pagi suaminya baik-baik saja.


Kenapa bisa seperti ini?" batinnya Nay .


"Kenapa dengan suami nya Nay, Kak?" tanya Nay dengan berlinang air mata, air matanya terus saja tidak mau di halau karena rasa cemas.


"Enggak pa-pa, Mungkin hanya kelelahan saja, Nay!"Jawabnya Reksa untuk menenangkan sang adik.


Mendengar jawaban kakaknya Nay bisa bernafas lega, sepuluh menit kemudian dokter pribadinya sudah datang, dan baru saja selesai di periksa.


"Bagaimana keadaan suamiku, dok?" tanya Nay tidak sabaran, tangannya terus saja meremas tangan nya sendiri untuk meredakan rasa cemas berlebihan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa buk, pak Wiratama hanya kelelahan saja dan butuh istirahat secukupnya, nanti akan segera pulih." sang dokter menerangkan panjang lebar.


"Alhamdulillah.." mengucapkan rasa syukur tidak terhingga, mendengar suaminya baik-baik saja sudah membuat Nay sedikit lega.


"Ini ya buk, resep yang harus di tebus di apotek! usahakan pak Wiratama meminumnya, dan makan yang teratur." Tutur dokternya menyerahkan selembar kertas putih, sudah ada coretan tinta di kertasnya.


"Makasih Dok!"


"Sama-sama buk, saya permisi dulu kalau ada apa-apa silahkan hubungi saya kembali." Ujar dokter yang memeriksa nya.


Setelah Reksa mengantar dokternya pulang, Reksa melanjutkan perjalanan untuk menebus obat di apotek.


Lima menit Reksa sudah berada di kamar sang adik, menyerahkan beberapa obat yang baru saja di tebus nya di apotek.


Setelah menyerahkan obat kepada sang adik, Reksa berniat untuk pamit karena sudah sangat lama meninggalkan kantor.


"Kaka tinggal ya dik, jangan lupa obatnya di minum kan, ada aturan minum tertera pada tulisan di masing-masing obatnya." Reksa menjelaskan.


"Makasih banyak kak, sudah mengantar mas Tama pulang." teriaknya Nay.


Reksa sudah berjalan keluar kamar langsung menoleh mendengar suara sang adik memanggil dirinya, Reksa hanya membalasnya dengan anggukan kepala, dan senyum tulusnya.


Setelah sang kakak pergi meninggalkan kamarnya, Nay memilih menemani suaminya, sedang anak-anak sudah Nay titip kan sama mbak di rumahnya.


Nay setia menggenggam tangan sang suami, Nay ikut tertidur , tidak menyadari pintu kamarnya terbuka menampilkan wajah sang Mama mertua penuh dengan kekhawatiran mendengar kabar putranya sakit.


Senyum manis terbit di wajah renta nya, rasa khawatir nya langsung sirna melihat pemandangan di depannya.


Pemandangan yang membuat hatinya menghangat, membuncah dengan penuh kebahagiaan, putranya sudah menemukan kebahagiaan nya bersama perempuan yang dicintainya.

__ADS_1


Berbahagialah Nak


Semoga kalian berdua bahagia selamanya, sampai tua nanti cinta kalian tetap abadi sepanjang masa


__ADS_2