
Sampai di kediaman Wiratmaja, dua bocil Dana dan Dapi masih nyenyak dalam tidurnya. Kanaya tersenyum melihat tidur putranya, mereka berdua sangat anteng, tidak terusik sama sekali oleh orang tuanya, maupun perjalanan ke rumah.
Sampai di kamar putra kembarnya, Nay dan Tama berbagi tugas. Tama menggendong bang Dana, Nay menggendong bang Dapi. Mereka membagi tugas sebelum menidurkan keduanya diatas kasur.
Kanaya mulai mengganti pakaian yang dipakai dari luar rumah, membersihkan tubuhnya dengan lap bersih yang sudah di basahi dengan air hangat.
"Mimpi indah sayang." Nay mengecup puncak kepala putra kembarnya bergantian.
Memakaikan selimut di tubuh putranya, mematikan lampu kamar, Lalu kamarnya di tutup pintunya.
Tugas meninabobokan putranya telah selesai, Saatnya kembali meninabobokan suaminya. Meskipun enggan ke kamar utama, tetapi ada bayi besar yang harus di perhatikan secara ekstra.
Nay berjalan ke arah kamarnya yang tidak terlalu jauh letak kamar utama, dengan kamar sang putra.
Klek...
"Sudah bobo kan anak-anak?" Tama bertanya ke Nay.
__ADS_1
"Sudah!"
Nay memilih melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dulu, sebelum berganti pakaian piyama yang di pakainya setiap hari, setiap malam.
Nay keluar kamar dengan handuk yang di lilitkan di kepalanya, pakaian nya sudah rapi di di kenakan di tubuhnya.
"Lagi sibuk apa? serius amat dengan gadget." Nay melirik kearah suaminya yang berada di atas ranjang, pandangan nya fokus terhadap gadget di tangannya.
"Lihat pekerjaan lewat email." jawab singkat.
Nay melanjutkan membersihkan wajahnya dengan kapas, lalu Nay oleskan crem malam yang rutin Nay pakai untuk kecantikan dan kesehatan kulit wajah. Bukan muluk-muluk, hanya saja Nay ingin terlihat cantik Paripurna meskipun riasannya sederhana.
Nay menurut apa yang di perintahkan suaminya, naik keatas kasur sebelahnya yang masih kosong.
"Sibuk apa sih mas, sampai lupa kepada ku, istri sendiri?" Nay pura-pura merajuk supaya mendapatkan perhatian suaminya.
"Pekerjaan."
__ADS_1
"Sini deketan sama Mas." ajak Tama ke sang istri.
Nay dengan sigap mendekat, memainkan kancing piyama nya. Lalu Nay bergelayut manja di dada bidang suaminya, menurutnya ini dekapan hangat suami yang melebihi segalanya.
Awalnya Tama tidak tergoda dengan rayuan istrinya, lama kelamaan Tama pun terbawa suasana menikmati usapan lembut tangan sang istri.
"Akhh."... Tama menahan gejolak yang susah untuk dilupakan, malah membuatnya semakin bergejolak ingin sentuhan lebih.
"Kenapa mas? ada yang sakit, atau apa?" tanya Nay yang mengkhawatirkan suaminya....
"Enggak pa-pa Bun, hanya saja ...." Tama menggantung kan jawabannya.
Kanaya tidak lagi menghiraukan ucapan suaminya, saking asyiknya Nay tidak sadar membuat laki-laki di sebelahnya berkali-kali menahan supaya tidak mendesah.
Sabar Tam, sabar harus bisa nahan sebentar lagi sebelum memulai permainan menguras keringat.
Tama menyemangati dirinya sendiri, berharap tidak hilang kendali dan harus jeda sebentar sebelum pembahasan lewat virtual selesai.
__ADS_1
Semakin lama semakin intens, Tama membalikkan keadaan. Sekarang Tama sudah menyerang duluan, kedua bibir saling beradu menciptakan suara khas persatuan dua orang dewasa.
Hembusan nafas yang memburu membuatnya tidak sabar bermain lama-lama. Mereka ingin segera menuntaskan permainan, beda halnya dengan Tama yang ingin bermain pelan-pelan tapi pasti. Daripada permainan cepat tetapi endingnya kurang indah dan berkesan.