
Keadaan kamarnya terjadi keheningan Kanaya sibuk dengan pikirannya, sedang Tama sibuk dengan gadget-nya. Tidak ada yang memulai duluan, tetapi Kanaya memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan memunggungi suaminya.
Kanaya masih sibuk menyelami perasaannya, yang tiba-tiba berdebar-debar tidak karuan bila mengingat peristiwa Kanaya menubruk dada bidang suaminya. Rasanya sangat malu sekali, mau minta maaf pun Kanaya enggan, bukan berarti Kanaya tidak mengakui kesalahannya tetapi rasa malunya lebih mendominasi.
Berusaha memejamkan kedua matanya, tetapi tidak bisa terpejam, membolak-balikkan posisi tidurnya tetap saja tidak menemukan posisi yang bikin nyaman. Kanaya mengintip suaminya masih saja sibuk dengan gadget-nya, ingin menanyakan tetapi gengsinya berlebihan.
***
Sebenarnya Tama tahu kegelisahan istri kecilnya, tetapi membiarkan saja karena ingin tahu ada usaha tidak untuk merayu dirinya. Tama berpura-pura fokus dengan gadget-nya, lirikannya matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik istrinya...
Ingin rasanya Tama menegurnya duluan, tapi gengsinya selangit membuat keduanya sibuk dengan caranya sendiri.
Tama ingin sekali mendekap tubuh mungil istrinya, membawanya dalam dekapannya menciuminya dengan gemas. Semuanya hanya angan-angannya saja, hanya berani bermain tipis-tipis bila istrinya sudah tertidur sangat pulas.
***
Akhirnya Kanaya mengalah membuka percakapan, dan mulai merapatkan tubuhnya di samping suaminya.
"Mas...." Sapa Kanaya manja.
__ADS_1
"Hemmm...." Jawabnya Tama.
"Mas iiihhh.... nyebelin..." Ucap Kanaya yang sedikit merajuk, Kanaya memilih memunggungi suaminya kembali, padahal tadi sudah nempel ingin dekat-dekat.
Tama menutup gadget-nya, dan mulai menghadap ke punggung istrinya. Tama mulai menarik nafasnya, wanita kalau sudah merajuk pasti susah untuk di bujuk, wanita Itu selalu maha benar dan tidak mau di salahkan meskipun terkadang juga salah.
"Ada apa, Nay?" tanya Tama. Tama mengelus lengan istrinya dengan lembut, seperti cermin karena takut akan pecah.
Belum juga ada jawaban, Tama tidak tinggal diam terus saja merayu istrinya supaya merujuknya berkurang. Tetapi nihil, istrinya belum mau membuka mulutnya maupun selimutnya.
"Nggak jadi..." Jawabnya Kanaya ketus.
"Mas ingin seperti ini, mendekap tubuhmu selalu Nay." bisik Tama yang suaranya sudah parau. nafasnya mulai memburu, ada gairah yang ingin Tama tuntaskan bersama istrinya.
Kanaya membalikkan badannya untuk membalas pelukan suaminya, rasanya berat bila harus LDR kembali, meskipun pernikahan karena perjodohan tetapi Kanaya sangat nyaman berada di pelukan suaminya, yang bagi Kanaya pelukannya sangat menenangkan hati.
Tama membalas perlakuan istrinya yang tidak kalah manisnya, menciumi seluruh wajah Kanaya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Mas ini apa-apain sih! main cium-cium tanpa ijin dulu..." Ucap Kanaya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Wajahnya sudah memerah, rasanya sangat malu sekali bila harus bertatap muka langsung dengan suaminya.
__ADS_1
"Cium istri sendiri itu nggak dosa..." Sahutnya Tom mengecup keningnya Kanaya.
Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, Kanaya sibuk memainkan dada suaminya seperti sedang melukis senja. Mati-matian Tama menahan desisan akibat permainan jarinya Kanaya yang nakal.
"Aakkhhh... Nay, jangan seperti itu tangannya.." Tutur Tama dengan suara parau....
"Mas kenapa? kok mukanya begitu seperti menahan sesuatu?" tanya Kanaya yang khawatir melihat raut wajah suaminya.
"*Ternyata istriku sangat polos..." Tama membatin.
"Persetan dengan penolakan istrinya, yang penting hasratku tersalurkan..." Ucapnya Tama di hatinya*.
Tama membalikkan keadaan, mulai mengecup bibirnya singkat lalu mulai memasukkan lidahnya, Tama begitu pandai dalam menginvasi rongga mulutnya, sedangkan Kanaya diam saja menerima permainan suaminya.
Keduanya terjadi pemanasan yang saling bersilat lidah, bertukar saliva. Kanaya sangat bingung di perlakukan suaminya, karena ini pengalaman pertamanya, sungguh sensasinya luar biasa susah untuk di ungkapkan kata-kata.
"Hussstt...hossssttt.... Kanaya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya..."
Nafas keduanya saling berlomba untuk meredakan gejolak yang berbeda, ada geleyer aneh yang Kanaya rasakan. Berulang-ulang Kanaya memegang bibirnya yang sudah mulai bengkak, rasanya sangat manis seperti permen...
__ADS_1