Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 70


__ADS_3

Hari ini, acara tingkepan tujuh bulan kehamilan Kanaya. Berbagai persiapan keluarga sudah rampung di lakukan, acara tingkepan diadakan di Solo.


Berjalannya sang waktu Kanaya bisa sedikit melupakan kesedihannya, bukan berarti tidak mengharapkan kepulangan suaminya, Kanaya sangat berharap tetapi takdir belum mempertemukan mereka berdua.


Doa tidak putus Kanaya panjatkan untuk sang suami yang belum tahu keberadaannya, tetapi Kanaya sangat yakin suaminya akan kembali pulang untuk dirinya, dan juga anaknya.


Sesuai usia kehamilan, orang tua Kanaya mengadakan acara tingkepan di rumahnya, hanya mengundang tetangga dekat, dan sanak saudara saja.


Kanaya begitu sangat antusias berbelanja pakaian yang berjumlah tujuh buah, warna yang berbeda pula. Bersama sang ibu, Kanaya berkeliling pasar tradisional yang terbesar di Kota Solo.


"Buk, Nay mau makan ini boleh ." Tutur Kanaya menunjuk dengan jari telunjuknya ke depan gerai yang letaknya tidak jauh darinya.


"Boleh sayang, ayo Kita kesana." sahutnya sang ibu mengandeng tangan putrinya.


Sampai di gerai, Kanaya memesan banyak makanan seolah-olah sedang kelaparan. Melihatnya sang ibu tersenyum tipis, mood putrinya sering berubah-ubah, membuatnya harus ekstra sabar untuk menghadapinya.


"Enggak pa-pa kan, kalau Nay belinya banyak Buk!" Ucap Kanaya menundukkan kepalanya, takut keinginannya tidak di kabulkan ibunya.....


"Kenapa menunduk? Nay boleh pesan apa saja yang penting Nay harus senyum untuk Ibu, dan makan yang banyak biar cucu ibu sehat." sahut ibunya mengusap-usap lembut kepala putrinya yang tertutup hijab.


Mendengar jawaban ibunya senyum lebar Kanaya perlihatkan kepada ibunya, menampilkan deretan giginya yang putih membuat aura kecantikannya terlihat sempurna, seperti tidak ada beban yang menghampirinya.


Berbahagialah nak, jangan sedih karena senyuman menjadi obat segala kesedihan mu.


⭐⭐⭐


Di Jakarta


Reksa dan kedua orang tuanya Tama akan berangkat ke Solo. Ketiganya untuk menghadiri acara tingkepan menantunya, dan Reksa ikut menghadiri acara tingkepan adiknya.


Sesuai jadwal penerbangan, mereka akan berangkat jam 15.00 WIB. Reksa sudah memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper, dan ada pula buah tangan untuk keluarganya.


Di apartemen ini, Reksa sedang termenung menunggu kabar sahabatnya yang belum ada kabar sama sekali.


Hatinya resah mengingat bila Tama tidak kembali, bagaimana nasib adiknya, dan keponakannya bila mencari papanya. Rasanya tidak sanggup bila semuanya terjadi, bagaimana nasib Kanaya? bagaimana nasib keponakannya? Lagi-lagi Reksa menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya supaya tidak berpikir yang tidak-tidak.


Setelah beristirahat sejenak, Reksa sudah terbangun dari tidurnya karena suara alarm memekik telinganya.

__ADS_1


"Sudah pukul 14.00 WIB, harus segera bangun dan mandi supaya tidak terlambat sampai bandara." guman Reksa dengan kesadarannya belum sepenuhnya.


Di rasa sudah lebih baik, Reksa bangkit dari tempat tidurnya untuk membersihkan tubuhnya, sebelum berangkat ke bandara.


⭐⭐⭐


Bandara internasional Soekarno-Hatta, Reksa baru saja turun dari taksi sedang membenahi kacamatanya. Kedua matanya celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang, padahal Reksa sedang kegerahan karena udara Jakarta siang ini sangat panas.


Setelah merapikan penampilannya, Reksa menggeret kopernya untuk masuk ke bandara, kebetulan kedua orang tuanya Tama sudah menunggu kedatangannya di ruang tunggu.


"Maaf om, tan! Reksa sedikit telat, maaf sudah menunggu lama." Tutur Reksa sedikit tidak enak, seharusnya dirinya yang menunggu orang yang lebih tua, bukan yang lebih tua menunggu dirinya.


"Enggak pa-pa nak Reksa, Om dan Tante baru juga sampai kog!" sahutnya Mama Tama dengan senyum tipisnya, senyumnya begitu menyejukkan hati.


Ahhh membuatku kangen sama ibu di kampung


Ketiganya sudah memasuki bording, semuanya berjalan lancar tid ada kendala yang berarti.


Mereka sedang menunggu di ruang tunggu, seharusnya pesawat sudah terbang sekitar sepuluh menit yang lalu, berhubung pesawat sedang dellay.


Satu jam mereka menunggu, akhirnya ketiganya sudah memasuki kabin pesawat. Setelah seorang pramugari menjelaskan tata cara dan aturan selama dalam pesawat. Para penumpang pun mengikuti instruksi sang pramugari.


Tidak membutuhkan waktu lama, pesawat sudah mengudara di langit angkasa. Cuaca hari ini sangat cerah, penerbangan tidak mengalami kendala apapun. Semuanya berjalan sesuai jadwalnya.


Setelah menempuh perjalanan satu jam di pesawat, ketiganya sudah turun dari pesawat. Tidak ingin membuang-buang wakt, Reksa langsung memesan taksi online. Jika menghubungi orang rumah, pasti rombongan akan di jemput orang suruhan bapaknya yang bertugas menjadi sopir pribadi putrinya yang sengaja Tama pekerjakan untuk mengantar jemput istrinya.


Di dalam mobil pun mereka sibuk dengan pikirannya, tidak ada yang mengeluarkan suara, nampak hening suasana di dalam mobil taksi. Sesekali sang sopir melihat penumpangnya lewat kaca spion, tidak ada yang berubah mereka masih seperti dulu, setelah mereka menaiki taksinya.


"Pak, buk dan mas mobilnya sudah sampai alamat yang dituju!." Tutur sang sopir dengan penuh kelembutan.


"Iya pak, Reksa langsung membuka matanya untuk melihat sekeliling, benar mereka sudah sampai di depan rumahnya." Ucap Reksa lirih, berniat untuk membangunkan keduanya, tetapi Reksa urungkan karena keduanya sudah terbangun.


Setelah membayar ongkos taksi, dan taksi pun sudah meninggalkan depan rumahnya. Reksa melangkahkan kakinya untuk membuka gerbang rumahnya, di belakangnya sudah diikuti kedua orang tuanya Tama.


"Assalamualaikum..." sapa Reksa. kebetulan pintu rumahnya yang terbuka, ada suara telivisi di ruang tamu.


Siapa?

__ADS_1


Tama kah?


Tidak mendapatkan jawaban dari dalam, Reksa langsung nyelonong masuk ke dalam rumahnya.


Reksa dibuat tercengang dengan penampakan sosok pria misterius yang sedang tertawa lepas.


Dilihat dari belakang sepertinya Tama, tetapi di lihat penampilannya sedikit tidak terurus, bukankah Tama badannya lebih berisi, tetapi di depannya terpampang seorang laki-laki yang sedikit kurus


Reksa ingin sekali melangkahkan kakinya, tetapi kedua kakinya susah untuk di gerakan, ada beban berat yang Reksa pikul.


*Bagaimana Reksa akan menjawab pertanyaan keluarganya?


Bagaimana Reksa akan menenangkan sang adik, bila kenyataan suaminya belum kembali pulang?


Reksa sedang memborbardir pertanyaan di otaknya, tetapi pikirannya sedang buntu tidak ada Ilham sama sekali.


Kedua orang tuanya Tama di buat heran dengan tingkah Reksa yang hanya diam ditempat. Rasanya ingin sekali menyelonong masuk ke dalam, tetapi perasaannya tidak enak karena ini bukan rumahnya.


"Nak Reksa, kenapa diam saja?" tanya sang mamanya Tama.


"Enggak pa-pa Tan, Reksa sedang kegerahan sedikit hehehe.." jawabnya Reksa sedikit gugup.


Mendengar jawaban Reksa, membuatnya semakin penasaran dengan apa yang mengalihkan fokusnya seorang Reksa. Meskipun sangat penasaran, tetapi memilih menghentikan langkahnya untuk menghampiri sang suami yang masih berdiri di depan pintu.


"Ada apa, mah?"


"Enggak apa-apa, Reksa sedang kegerahan katanya Pah!"


Keduanya saling diam, mereka memilih duduk di bangku kosong sambil menunggu disuruh masuk ke dalam sama pemilik rumah besannya.


*Hayo tebak siapa laki-laki yang berada di ruang tamu?


Wiratama Wiratmaja kah?


Teman Kanaya kah?


Temukan jawabannya di next part ya😀😀😀*

__ADS_1


__ADS_2