Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 53


__ADS_3

Selamat hari Senin


Selamat beraktivitas


Sabtu sore, hari yang selalu di tunggu Kanaya, karena setiap hari Sabtu sore atau pagi suaminya pasti sudah tiba di Solo. Seperti dugaannya suaminya akan tiba di Solo sore hari, rasanya seperti kegerahan langsung tersiram air hujan, Mak nyesss rasanya adem sekali. Banyak ribuan kupu-kupu yang berterbangan, menari-nari di atas kepalanya, memutari rumahnya.


Hari ini sekolah Kanaya sedang berlibur, Senin-jum'at Kanaya setiap hari berangkat ke sekolah. Sabtu-minggu baginya untuk bersantai -santai sejenak, untuk mengistirahatkan otak, dan tubuhnya untuk merilekskan pikiran.


Setelah menjalankan perintah-Nya Kanaya masih bermalas-malasan di atas tempat tidur, untuk bangun tidur kepalanya pening sekali, terkadang perutnya ikut bergejolak ingin memuntahkan, tetapi Kanaya berusaha tidak untuk muntah supaya tidak lemas.


Dengan posisi rebahan seperti ini dapat mengurangi mual, pusing, makanya Kanaya memilih tiduran lebih dulu, sebelum bangun dan mulai aktivitas paginya.


Kanaya mulai memejamkan kedua matanya kembali, sayup-sayup Kanaya mendengar suara seseorang yang memanggilnya, tetapi kedua matanya susah untuk membukanya, alhasil Kanaya mulai tertidur pulas di atas tempat tidur di temani cahaya matahari pagi yang bersinar cerah.


🍭🍭🍭


Pukul 08.00 Wib, Kanaya tidak kunjung keluar kamar, sang Ibu di dapur pun ikut mengkhawatirkan kondisi putrinya, tidak terbiasa am bangun telat seperti pagi ini.


Sebenarnya Kanaya anak yang rajin membantu dirinya kala pagi, sebelum berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.


Selesai memasak sang ibu mondar-mandir, antara ingin membangunkan putrinya atau membiarkan saja di kamarnya.


Setelah menimbang-nimbang 15 menit, akhirnya sang ibu memilih membangunkannya, ibunya takut bila putrinya sedang sakit atau emang sengaja tidur kembali setelah menjalankan perintah-Nya.


Ibunya merampungkan masakannya, pagi ini memasak menu kesukaan Kanaya, dan Adiknya. Mumpung keduanya sedang libur dari sekolah, Ibunya ingin memanjangkan lidah keduanya supaya nafsu makannya semakin meningkat seperti Dulu.


Semenjak Kanaya sibuk dengan ujian di sekolahnya, sedikit berat badannya turun, nafsu makan tidak seperti dulu yang biasanya makan dengan tiga centong nasi, dan lauk pauknya setinggi gunung. Akhir-akhir ini nafsu makannya menurun, wajahnya sedikit pucat, dan badannya seperti lemas tidak bertenaga.


Setelah menghidangkan menu makanan diatas meja makan, sang ibu mulai menghampiri kamar putrinya.


Tok!....... Tok!.....

__ADS_1


"Nay, bangun waktunya sarapan..." Ujar Ibunya dari balik pintu kamarnya.


"Tidak ada jawaban..." sang ibu mulai khawatir putrinya kenapa-napa.


Akhirnya sang ibu mulai mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Kanaya, dengan intensitas ringan, sedang, dan tinggi supaya Kanaya mendengar suara ibunya.


Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, pada ketukan ketiga ada suara dari dalam yang menyahutnya.


Setelah membangunkan putrinya untuk sarapan bersama, sang ibu kembali ke kamar si bontot yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kamarnya Kanaya.


🍭🍭🍭


Mereka sudah duduk di meja makan, Kanaya sudah mandi sekarang wajahnya lebih fresh, dan segar. Senyumnya yang mengembang bak matahari pagi, yang memberikan sinarnya di meja makan.


Sang ibu bisa tersenyum tipis, melihat pemandangan pagi yang menghangatkan, kedua putra-putrinya makan dengan sangat lahap. Kanaya sampai nambah lagi, sungguh nafsu makannya meningkat drastis, berkat masakan sang ibu yang menjadi juaranya.


Seperti biasanya Setelah sarapan bersama, mereka sedang duduk di ruang telivisi, paginya mereka di temani secangkir teh manis, dan beberapa camilan yang di buat sang Ibu.


Mereka keasyikan mengobrol sampai lupa waktu, suara adzan berkumandang menandakan hari sudah siang. Sang ibu kalang kabut karena belum masak memasak menu makan siang, alhasil Kanaya mentraktir keluarganya untuk membeli makanan di luar.


Sesuai request Kanaya, mereka menjatuhkan pilihannya dengan menu masakan Padang , belum juga membeli Kanaya sudah mencium bau-bau daging rendang, menggugah selera makannya lebih semangat.


Sang adik yang di perintahkan Kanaya untuk membelinya, dengan berjalan gontai tidak bersemangat Rudi menjalani titah kakaknya, dengan iming-iming ada tambahan uang jajan sebagai upahnya.


Dengan perasaan bahagianya, Rudi bersemangat berangkat membeli nasi Padang yang tidak jauh dari komplek perumahannya.


Mereka kompakan sedang makan siang lesehan di depan televisi, satu teko es jeruk menemani makan siang satu keluarga, keluarga Bhakti sedang menikmati makan siang secara bersamaan.


Beberapa menit setelah makan siang, mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat sejenak sebelum memulai sorenya.


🍭🍭🍭

__ADS_1


Tama sedang memasukkan beberapa potong pakaian untuk di bawa pulang ke Solo, tempat istri kecilnya tinggal.


Kesibukan pada perusahaannya membuatnya jarang memberikan kabar kepada sang istri, bukan karena tidak cinta atau karena sudah bosan, tetapi pekerjaan yang padat membuatnya rindu-serindu-rindunya namun apa daya tangan tak sampai.


Sesuai janjinya dengan sang istri, bahwa siang ini akan berangkat dari Jakarta kemungkinan besar sampai di Solo sore harinya.


Satu koper barang-barang yang di bawa Tama sudah di masukan ke dalam satu koper, Tama tidak membelikan oleh-oleh kepada mertuanya, dan sang adik ipar.


Tama sudah menggeret kopernya keluar rumahnya menuju bandara, sengaja Tama menggunakan taksi, tidak ingin merepotkan sopir pribadi kedua orang tuanya.


Tama sudah meninggalkan rumahnya, taksi sudah melaju kencang membelah jalanan ibukota Jakarta, siang ini kendaraan sangat lengang bertepatan hari weekand, membuatnya sang sopir taksi leluasa melajukan mobilnya.


Turun dari taksi Tama langsung menggeret kopernya, setelah melewati bording, Tama sudah berada di ruang tunggu bandara, sesekali memainkan gadget-nya untuk bermain games yang terkenal di Indonesia.


Setelah mendengar pemberitahuan pihak bandara, Tama berjalan ke arah pesawat, selesai memasuki kabin. Pesawat langsung mengudara terbang tinggi, menuju Bandara Adi Soemarmo Solo.


Perjalanan satu jam di pesawat, membuat Tama susah untuk memejamkan kedua matanya. Padahal berulang-ulang Tama menguap, mau di pejamkan matanya tetapi tidak bisa.


🍭🍭🍭


Perjalanan yang singkat sangat bermakna, Tama akan bertemu dengan bsang istri. Pesawat sudah mendarat di Bandara Solo, Tama langsung memesan taksi menuju singgasana mertuanya.


Taksi sudah memasuki halaman rumah mertuanya, setelah membayar ongkos taksi, sang sopir menurunkan satu koper, dan barang bawaan lainnya.


Tama langsung di persilahkan masuk oleh mertuanya, kebetulan sedang di luar untuk menghirup udara segar sore hari. Meskipun tinggal di perumahan, tetapi kampungnya masih asri khas pedesaan banget.


Tidak usah menunggu pintu di buka dari dalam, Tama langsung masuk ke kamar sang istri kebetulan sedang tidak di kunci. Tama langsung menyusup masuk, dan naik ke atas tempat tidur.


Mereka berdua tertidur pulas, dengan tangannya Tama tidak lepas dari pinggang sang istri, tubuhnya saling menempel menciptakan suasana yang hangat dan romantis.


Boleh dong kasih krisannya part ini, kasih vote, like, komentar juga ya supaya autthor semangat bisa mengeluarkan ide-ide terbaik untuk melanjutkan cerita ini ya.

__ADS_1


__ADS_2