
Waktu berjalan sangatlah cepat berlalu , hari berganti bulan berikutnya. Tidak terasa rumah tangga yang di bina keduanya, memasuki fase bahagia.
Mereka tinggal membesarkan ketiganya, banyak suka duka yang mereka lalui. Kini saatnya mereka berbahagia dengan keluarga kecilnya.
Kehidupan rumah tangga Tama dan Naya semakin harmonis dengan hadirnya tiga jagoannya yang tumbuh dengan sehat. My twins sudah masuk sekolah paud, meskipun baru berapa hari masuk sekolah keduanya sudah mempunyai banyak teman.
Esha tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, wajahnya imut, sangat ceriwis dan keinginan tahunya sangat tinggi.
Sebagai orang tua Naya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya, bukan dewasa malah semakin manja dengan Bundanya.
Sifat yang di miliki putrinya tak menurun pada dirinya, maupun Papa nya. Esha memiliki sifat yang unik, karena keceriwisan nya. Padahal kedua orang tuanya tak memiliki sifat yang di turunkan ke putrinya.
"Bunda adek Talla yang mana? kakak cali-cali di kamal nya ndak ada!" teriaknya Esha sembari menuruni anak tangga, sedang yang di panggil sedang sibuk di dalam dapur.
"Bunda adek Talla mana?" tanya Esha berulang-ulang karena belum mendapatkan jawaban dari Bundanya.
"Jangan lari-lari nanti jatuh!" Ujar Naya yang khawatir melihat tingkah putrinya yang sedikit berlari.
__ADS_1
"Adek Talla mana?"
"Kakak kog pakai teriak-teriak sih, Bunda enggak suka dech denger kakak teriak-teriak begitu!" Tutur Naya menasehati Putri cantiknya.
"Maaf Bunda kakak salah." sahut Esha menundukkan kepalanya sembari *******-***** ujung gaunnya.
"Bunda maafkan, tapi besok-besok enggak boleh di ulangi lagi ya cantiknya Bunda." Naya berucap lembut sembari membelai surai rambut putrinya yang di kepang dua.
"Baik Bunda!"
Esha langsung menerbitkan senyum di sudut bibirnya, kakinya ringan untuk menemui sang adek yang sedang bermain di taman belakang rumah.
Atalla tersenyum memperlihatkan lesung Pipit nya kanan kiri, ini yang membuat Esha gemas sendiri dengan sang adek.
******
Tama sudah bersiap untuk pulang ke rumah, di ruangannya Tama sudah merapikan beberapa berkas yang akan di bawa pulang. Bila memungkinkan Tama akan mengerjakan pekerjaan, karena tidak ingin menghabiskan waktunya di kantor.
__ADS_1
Terutama Tama sudah merindukan anak-anak, dan istrinya. Usia pernikahan tak muda lagi, bukan berarti cintanya ikut memudar. Semakin kesini cinta keduanya semakin tumbuh rapi, dan semakin besar.
Baru saja Tama masuk ke dalam rumah langsung di sambut teriakan anak-anak nya yang tersenyum menyambut nya pulang. Terutama Esha yang sangat excited, mungkin karena Esha perempuan sendiri jadi manja ke sang Papa.
"Cantiknya Papa." Tama menggendong Esha dan menghadiahi kecupan bertubi-tubi di wajah montok Esha.
"Esha semakin melebarkan senyumnya tatkala mendapatkan hadiah ciuman sang Papa."
Tama sudah selesai dengan ritualnya, kini mereka sedang menghabiskan waktunya di ruang keluarga. Adek Talla yang sudah pintar berjalan, sampai tak bisa untuk diam, tingkah nya ada aja mengundang tawa.
Naya menyadarkan kepalanya di dada bidang sang suami, ekor matanya tak pernah lepas memperhatikan gerak-gerik anak-anaknya yang sedang bermain.
Sepasang suami istri tersenyum bahagia, kebahagiaan nya semakin lengkap dengan hadirnya putra-putrinya yang memasuki masa keemasan. Masa yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya, masa ini yang selalu membuat banyak orang tua sedih.
Cepat atau lambat anak-anak nya pasti akan besar, mereka akan mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka akan memiliki teman-teman, dan pergaulan nya semakin luas.
Hal seperti ini yang di takutkan Naya, anak-anak nya akan mempunyai dunia sendiri. Pasti cepat dan lambat Naya harus bisa menerima, waktu akan terus berjalan maju menatap masa depan.
__ADS_1
Sebagai orang tua Naya dan Tama siap mengantarkan putra-putrinya ke gerbang masa depan yang lebih baik lagi. Gerbang di mana mereka akan beradaptasi dengan dunia luar, dunia yang mengajarkan mereka untuk mengerti apa itu arti pertemanan.
Maafkan Mimin bila masih banyak kekurangan di cerita ini, cerita nya mungkin tidak nyambung dan tidak bagus. Setidaknya Mimin sudah berusaha menyelesaikan cerita ini walaupun endingnya mungkin tak sesuai harapan. Next time sampai ketemu di cerita CEO Tampan Itu Milikku.