Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 75


__ADS_3

Mereka yang berada di ruang tamu menikmati hari kebahagiaannya, mereka merayakan pesta kecil menyambut kepulangan pewaris tahta Abadi Group. Sudah hampir dua bulan Tama menghilang, ada yang berbeda di perusahaannya, suasananya pasti berbeda karena CEO nya hilang tanpa jejak yang bisa tembus.


Setelah mereka makan malam bersama, bertukar cerita, saling melepas rasa rindu yang terpisah dua bulan lamanya. Membuat kedua keluarga menyambutnya dengan suka bahagia, terutama Kanaya, dan juga kedua orang tuanya Tama.


"Akhirnya kamu pulang, nak! Waktunya sangat tepat tujuh bulan kehamilan sang istri." Ucap sang ibu dengan matanya berkaca-kaca, mengusap lembut bahu sang putra..


"Makasih mah, sudah mendoakan Tama selalu sampai Tama bisa pulang ke keluarga kembali." sahutnya Tama menggenggam tangan sang Mama, sesekali Tama mengecup punggung tangan sang Mama.


"Sama-sama nak, yang penting sekarang kamu sudah pulang dalam keadaan sehat, itu sudah membuat Mama bahagia." Ujar sang Mama mengusap sudut matanya yang sudah basah dengan air matanya.


Sedangkan tidak jauh dari tempat duduknya, semua yang berada di ruang tamu mulai berkaca-kaca melihat pemandangan yang sulit diartikan.


Kanaya juga tidak kalah bahagia seperti perasaan Mama mertuanya, sudut matanya juga mengeluarkan cairan kristal di kedua pipinya.


Setelah acara tangis-menangisnya selesai, mereka melanjutkan pembahasan acara tingkepan istrinya yang di adakan acaranya esok harinya, sesuai jadwal yang sudah di tentukan kedua mertuanya.


Sesuai kesepakatan bersama, Tama hanya bisa menyetujui keluarganya. Kapan pun itu Tama mengikuti saja, yang penting demi kebaikan untuk sang istri dan calon penerusnya.


Acara temu kangen selesai pukul setengah malam, mereka masuk ke kamar masing-masing. Tama sudah berada di atas ranjang sembari memainkan ponsel sang istri, menunggu adalah hari yang melelahkan, tetapi menunggu untuk mendapatkan jatah itu yang membuat Tama menghalau rasa kantuknya.


"""""


Kanaya sengaja ingin berlama-lama di dalam kamar mandi, Kanaya ingin memberikan kejutan untuk sang suami, di depan cermin Kanaya sedang berlegok-legok mematutkan dirinya, dengan perut yang buncit menambah keseksian nya.


Kanaya tersenyum puas dengan karya nya, semoga suaminya malam ini bertekuk lutut di hadapan nya.


Kaki jenjangnya sudah menapaki lantai kamarnya, dengan gerakan pelan Kanaya mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar mandi untuk menemui sang suami yang tengah sibuk dengan ponselnya, tanpa memperhatikan dirinya yang sudah berjalan kearahnya.

__ADS_1


""""""


Mendengar seperti seseorang yang melangkah kearahnya, Tama mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang ke kamar malam buta.


Mulutnya menganga lebar, melihat pemandangan mengunggah naluri benda keramatnya, masih tertutup celana tetapi sudah berontak ingin di keluarkan, rasanya begitu sesak dan sudah menggembung montok.


"Mas...." sapa Kanaya dengan menyibak selimut.


"Tama masih belum membalas sapaan istrinya, pikirannya tidak fokus dengan gerakan sang istri, baginya sangat menggodanya."


"Cantik..." celetuknya Tama. Tama berbicara di sebelah sang istri, dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa pikir panjang, Tama langsung menubruk tubuh sang istri. Bibirnya mulai memainkan gundukan daging yang sangat menantang indah, aerola nya sudah membulat sempurna, siap untuk di terkamnya.


Tama tidak sabaran langsung merobek gaun yang di pakai sang istri, gerakan tangannya sangat lihai memainkan primadona yang istrinya miliki.


Kanaya sudah meliuk-liuk tubuhnya mengikuti permainan sang suami, suaminya sangat pandai memberikan kenikmatan yang membuatnya susah untuk dilupakan. Rasanya terbang melayang di angkasa, bagaikan kupu-kupu berterbang di pelupuk matanya yang terus-menerus menari-nari di ujung kedua matanya.


Mereka memacu adrenalin, keduanya saling bertukar keringat, raut kepuasan jelas tergambar di wajah keduanya.


Dengan hentakan yang keras, dan suara lenguhan yang panjang menyebutkan nama pasangan masing-masing, menandakan mereka berdua sudah mencapai dalam puncak nirwana, melupakan sejenak masalah yang membuat luluh lantakkan hatinya, hari kemarin adalah ujian dalam rumah tangganya.


Hari ini merupakan kebahagiaan, berharap hari esok mereka akan semakin kuat dalam menghadapi ujian-ujian berikutnya.


""""""


Acara tingkepan akan di gelar hari ini, acara akan dilaksanakan siang hari sesuai kesepakatan sebelumnya. Dirumahnya Kanaya sudah sangat ramai, tetangga, kerabat, dan saudara jauhnya sudah mulai berdatangan ke rumahnya. Sudah terpasang tenda di halaman depan, dan jalan di perumahan nya. Ada dekorasi kecil untuk mempercantik ruangannya, ruang tempat acara.

__ADS_1


Sedang Tama dan Kanaya tengah bersiap di kamarnya, mereka baru saja selesai mandi setelah permainan singkatnya di kamar mandi, membuat waktunya sedikit lama berada di dalam.


"Mas iiihhhh pengen nya seperti nggak tahu tempat saja..." Tutur Kanaya kesal. bibirnya sudah mengerucut ke depan, pipinya nampak menggembung membuat Tama semakin gemas dengan sang istri.


Rasanya ingin mengulang kembali permainan keramatnya di dalam kamar mandi, mendengar suara seksi sang istri membuatnya sangat ketagihan untuk mempraktekkan


Tama senyum-senyum sendiri, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuat menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Mas itu kenapa senyum-senyum sendiri? ada penampakan ya mas, di mana?" tanya Kanaya yang penasaran melihat perubahan mimik wajah sang suami.


"Tidak ada, hayu turun sudah di tunggu tamu lho ." ucap Tama mengandeng tangan sang istri. Kanaya hanya bisa mengikuti langkah sang suami, bener apa kata suami di halaman depan, dan ruang tamu sudah penuh tamu undangan, saudara, dan kerabat.


Mereka sudah duduk diantara tamu yang sudah datang, Kanaya memilih duduk di sebelah suami dan ibunya.


"Nduk senyum dong, banyak tamu yang memperhatikan mu, hari ini kamu menjadi pusat perhatian," bisiknya sang ibu di telinga Kanaya.


"Iya buk!" Kanaya mencoba tersenyum tipis sekali, meskipun dalam lubuk hatinya masih ada kekesalan dengan suaminya. Demi menghormati tamu, kedua orang tuanya, dan mertuanya Kanaya mencoba untuk memberikan senyum terbaiknya.


Ritual acara tingkepan ( upacara mitoni, tujuh bulanan ), Kanaya mengikuti rangkaian acara dengan banyak diam, bukan Kanaya tidak suka tetapi rasa lelah letih mendominasi tubuhnya. Berkat kehamilan menginjak usia tujuh bulan, Kanaya sering merasa kelelahan, karena ritual yang panjang membuatnya sering kelelahan.


Acara terlaksana dengan khidmat dan lancar, Kanaya juga mengikuti segala ritual yang di pandu pembawa acara, mulai berganti pakaian tujuh warna, jualan dawet, dan membanting kendi yang kata orang Jawa untuk mengetahui jenis kelamin.


Serangkaian ritual tingkepan telah selesai, Kanaya bisa bernafas lega, karena pakaian yang membuatnya tersiksa akan segera di lepaskan, dan berganti dengan pakaian yang menurutnya nyaman.


"""""""""""


"Kamu pucat, yank," Tama terpaku melihat wajah sang istri yang nampak kelelahan.

__ADS_1


"Yank, kamu pasti kelelahan ya..." tangannya Tama menggenggam tangan sang istri, terasa sangat dingin.


Kanaya menatap wajah sang suami tanpa ada Kata yang terucap di bibirnya, dengan pandangan yang berbeda, menurutnya suaminya sangat tampan seperti hari-hari biasanya, tetapi hari ini sangat berbeda lebih tampan dari sebelumnya.


__ADS_2