
Pagi yang indah untuk jiwa yang sedang bahagia, seperti yang di rasakan seorang Naya. Bisa berduaan dengan sang ibu adalah kesenangan nya, bahagianya, momentum yang tepat saat dirinya ingin bermanja-manja sebelum sang ibu kembali ke kampung halamannya.
Naya tak terpisahkan barang sedetik pun dengan sang ibu, kemana pun langkah kaki ibunya, Naya terus mengekori berada di belakangnya.
"Naya apa kamu enggak capek atau lelah gitu mengekori ibu terus, ibu lihat saja capek lho Naya..." tanya ibu dengan diiringi dengan kekehan tipis, Ibu Melati geleng-geleng kepala dengan sikap putrinya yang tak biasanya manja seperti ini.
"Enggak buk, Naya suka kog." seru Naya dengan menampilkan deretan giginya. Giginya yang bersih, rapi menjadi nilai plusnya untuk Naya.
"Enggak malu sama siapa apa?" tanya ibu Melati untuk menggoda putrinya.
"Biasa saja buk, mas Tama juga sudah tahu luar dalam tentang Naya." jawab Naya dengan absurd kata-katanya.
Semenjak kehamilan yang kedua ini, Naya sangat manja tidak ketulungan terutama sama ibunya. Berbicara dengan Tama, ya jawabannya Naya juga sangat manja dengan suaminya, bila itu sedang di atas ranjang hehehe.
*****
__ADS_1
Pagi menjelang setelah mereka sarapan bersama, mereka duduk bersantai di belakang. Si kembar tidak kalah hebohnya kedatangan Oma nya, Mama Nisa sengaja datang berkunjung karena merindukan cucu-cucunya.
"Oma.." teriaknya si kembar dari kejauhan, melihat Oma nya datang kearah nya membuat keduanya histeris saking bahagianya.
"Kesayangan Oma." Ucap Mama Nisa memeluk si kembar.
"Oma ke cini nya sama ciapa? kog sendiri, biasanya duga sama Opa."
tanya si kembar celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang sedang di bicarakan, nihil karena tidak ada siapapun yang di carinya.
"Oma ke sini nya sendiri sayang, Opa sedang pergi ke kantor ada urusan sedikit, nanti kalau sudah selesai mau kesini jemput Oma sayang.." jawab Mama Nisa menjelaskan tentang dirinya yang datang sendiri. Semuanya pasti ada alasannya, tergantung kitanya aja untuk menjelaskan kepada si kembar yang super ingin tahu.
"Mama Nisa mengangguk dan tersenyum tipis, menandakan ucapan cucunya adalah benar."
Mama Nisa berjalan ke tempat besannya berada, tangannya mengandeng cucu-cucunya untuk menuju ke orang-orang yang tengah berjemur di pagi hari.
__ADS_1
"MaMah apa kabar? di antar siapa mah, kog Papa enggak ikut."
tanya naya dengen memberondong pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Husttt, Mama nya belum duduk eehh kamu nya malah mengajukan pertanyaan yang macam-macam, Naya." Tutur ibu Melati yang menegur halus putrinya, supaya bisa mempersilahkan mertuanya duduk dulu baru mengajukan pertanyaan.
"Enggak pa-pa , jeng." ucap Mama Nisa.
"Entar kalau di biarin malah jadi kebiasaan, biarlah di tegur pelan, Naya masih suka terbawa cerewet, jeng." Ujar ibu Melati.
Tama yang sedang menemani si kembar, tidak berniat merespon apa-apa pembicaraan para perempuan, bila itu masih sebatas wajar. Penting nya istrinya bisa membawa dirinya di lingkungan yang berbeda, dan tidak bersikap keterlaluan.
Mama Nisa pun sama menanggapi ucapan besannya adalah bentuk cintanya dengan Naya menantunya. Mama Nisa juga tidak pernah protes dengan sikap menantunya yang sedikit banyak bicara, tetapi sangat pandai merawat istri dan cucu-cucunya.
"Hehehe maaf buk." ucap Naya membentuk huruf V. Naya jadi sedikit bersalah dengan perkataan nya, mungkin menyinggung perasaan orang lain.
__ADS_1
"Silahkan duduk Mah!" Naya langsung mencium punggung tangan mertuanya. Merilekskan tubuh nya yang sedikit terasa canggung, padahal itu sering Naya lakukan meskipun suaminya tak pernah protes dengan sifat cerewet nya
Mereka melupakan kejadian barusan, memilih mengganti topik pembicaraan yang lebih ringan, santai dan kekeluargaan.