Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 22


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Sudah satu minggu ini sekolahan Kanaya sedang sibuk-sibuknya, hari ini Kanaya akan menghadapi latihan ujian atau tryout. Berbagai persiapan sudah Kanaya siapkan, mulai buku-buku, soal-soal ujian, dan persiapan dirinya sendiri supaya siap menghadapi ujian.


Jauh-jauh hari Kanaya sudah rajin belajar, ingin mendapatkan nilai yang bagus dan ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Kanaya berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk nilai-nilai di sekolah, baik mata pelajaran yang di sukai maupun tidak di sukai.


Pagi sekali Kanaya sudah sampai di pintu gerbang sekolah, tidak mau terlambat atau apa. Kanaya datang lebih pagi, ingin mengulang belajar yang di pelajari semalam walaupun sangat singkat sebelum tryout di mulai.


Siswa-siswi hilir mudik sudah pada berdatangan, ada ketegangan itu pasti ada walaupun ini cuma ujian tryout, tetapi Kanaya mempersiapkan sebaik mungkin, menurutnya itu seperti ujian sungguhan.


Pukul 08.00 ujian tryout sudah mulai, wajah ketegangan nampak jelas di siswa-siswi kelas tiga. Beda halnya dengan Kanaya yang begitu santai mengerjakan soal-soal ujian, apa yang di pelajari semalam keluar semua di ujian tryout.


Kanaya jadi siswi yang tercepat, diikuti Maldifa dan Andina mereka berdua mengikuti jejaknya Kanaya. Tidak heran ketiganya bersahabat dari SMP kepintarannya juga menurun ketiga Dara cantik yang kelas tiga SMA itu!. Walaupun mereka bersahabat, tetapi kalau selera kaum hawa jelas berbeda, Kanaya suka pria yang tampan dan pintar. Sedangkan Maldifa dan Andina mempunyai selera hampir sama, yaitu sama-sama gantengnya.


Selesai mengikuti kelas tryout, Kanaya dan kedua sahabatnya keluar dari sekolah, karena ini ujian terakhirnya. Mereka bertiga berencana akan pergi ke Mall untuk menyegarkan pikirannya, yang beberapa hari ini waktunya di gunakan untuk belajar dan belajar menghadapi ujian tryout.


Mereka memilih Menaiki angkutan umum, karena ketiganya tidak membawa kendaraan. Rasa bahagia jelas terasa, Ketiganya tertawa, bercanda di dalam angkutan. Banyak pasang mata memperhatikan ketiganya, yang sangat cantik dan kulitnya putih bersih seperti jelmaan Putri kayangan.

__ADS_1


***


Setelah meeting di Hotel XXX, Tama mampir ke Mall yang dekat dengan tempat meeting-nya. Tama ingin menikmati makan siang di foodcourt yang katanya masakan terkenal sangat enak. Tama berjalan tergesa-gesa, karena waktunya yang sangat mepet, tidak melihat jalan hingga tidak sengaja Tama menabrak tiga dara berseragam putih abu-abu.


"Brruuukkkk...."


"Aduhhh..." Tutur Kanaya memegang kakinya yang sedikit lecet, terkena sepatunya sembari Kanaya mengeluhkan Kaki-nya yang sangat sakit.


"Lihat-lihat dong! kalau jalan." Tutur Maldifa dan Andina. Tangan Keduanya sudah gatal, mereka bersungut-sungut marah ingin sekali memukul pria yang di depannya ini.


Sedangkan ada seorang pria yang menabraknya terdiam di tempat, melihat tiga Dara SMA keluyuran ke Mall di jam sekolah yang masih pakai seragam sekolah pula. Tidak habis pikir, seharusnya belajar bukan keluyuran tidak jelas.


Ingin rasanya Tama membantu gadis yang ditabraknya, tetapi gengsinya sangat berlebihan. Semenjak Tama di khianati tunangannya, Tama menjadi laki-laki dingin seperti orang yang tidak tersentuh sama sekali.


Aura Tama tidak bersahabat siang ini, kejadian yang tidak sengaja membuatnya mengingat penghianatan mantan tunangannya. Semenjak saat itu Tama sangat alergi yang namanya perempuan, Tama mempunyai prinsip tidak mau pacaran langsung ingin menikah saja, takut kehilangan di masa lalu membuatnya susah buat move on.


"Bapak ini gimana sih? udah nabrak tetapi tidak mau bertanggung jawab." tukasnya Maldifa yang sangat ketus. Disebelahnya Andina ikut menimpali perkataan Maldifa. Andina sangat geram dengan pria yang berdiri diam saja di sampingnya, tanpa ada niat untuk membantunya.

__ADS_1


Tama menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah, karena Tama tidak punya waktu banyak untuk meladeni tiga dara di depannya.


"Ini uangnya untuk berobat, karena saya harus pergi kembali meeting." Tutur Tama pergi dari Mall. Dan Tama tidak jadi makan siang, karena waktunya mepet sebentar lagi ada meeting.


Tama memberikan beberapa lembar uang warna merah yang jumlahnya sangat fantastis. Tanpa menoleh ke belakang, Tama berjalan sedikit berlari untuk sampai ke tempat parkirnya.


Lima belas menit perjalanan, Tama sudah sampai di tempat meeting, dengan cepat memprakirkan mobilnya di basement Hotel tempat mereka untuk mulai meeting selanjutnya.


***


Kanaya yang merasa lututnya agak lecet, sedikit-sedikit meringis karena jalannya sedikit tertatih-tatih. Kedua sahabatnya dengan sangat sigap membantu Kanaya untuk berjalan, mereka berdua mengajak Kanaya ke klinik terdekat untuk mengobati luka lecet-lecet kecil.


Setibanya mereka di klinik, luka Kanaya langsung di bersihkan dan di kasih salep. Lukanya tidak di perban, karena lukanya tidak terlalu dalam, hanya lecet-lecet kecil saja Kedua sahabatnya bisa tersenyum lega.


Setelah di bersihkan, dan membayar administrasi. Kanaya diantar kedua sahabatnya untuk pulang ke rumahnya, walaupun ada rasa takut menghinggapi ketiganya, tetapi Kanaya harus diantar pulang sebelum kedua orang tuanya semakin khawatir dengan keadaan Kanaya.


💚Hai maafkan autthor baru Up. semoga masih ada yang menunggu cerita ini untuk di baca💚

__ADS_1


__ADS_2