
Di rumahnya Kanaya sudah merasakan mulas yang datangnya hilang timbul, padahal kata dokter HPL nya sekitar satu minggu lagi. Belum juga satu minggu Kanaya sudah merasakan mulas, kontras meskipun tidak terus menerus tetapi rasanya sangat sakit sekali.
"Kenapa Yank? wajahnya kok meringis begitu, ada yang sakit?" tanya Tama beruntun. Sebagai seorang suami Tama tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti ini.
"Mulas Mas, sepertinya dedeknya sudah mau keluar." jawabnya Kanaya mengusap lembut perutnya, sembari wajahnya menahan kesakitan akibat kontraksi palsu.
"Bukankah masih satu minggu lagi? terus harus gimana? Mas bingung apa saja yang harus di persiapkan." Tama berjalan mondar-mandir untuk mengambil langkah yang tepat untuk istrinya.
Tapi nihil, Tama tidak menemukan jalan keluar yang ada Tama malah bingung sendiri mau apa? bagaimana?
"Mas cepat panggil Mama atau mbak yang bekerja!" Kanaya dibuat sedikit kesal dengan sikap suaminya yang malah diam saja, bukannya membantu mengelus perutnya, atau apalah yang penting tidak membuatnya semakin pusing dengan tingkah suaminya yang mengemaskan.
Mendengar teriakan sang istri dengan nada membentak membuat Tama berlari terbirit-birit, tujuan utamanya adalah kamar kedua orang tuanya. Berlari pun rasanya sangat berat, langkah kaki yang biasanya ringan kali ini sangatlah susah untuk di gerakan.
"Dorrrr.... dorrrr..." gedor-gedor pintu suaranya terdengar sangat keras, ritme gedoran pun di buat terburu-buru seperti sedang memburu penjahat saja.
"Mah, Nay mau lahiran cepat Mah!" Di balik pintu Tama menempel kan bibirnya, di tempelkan supaya Mama nya cepat mendengar, dan pintunya segera di buka.
Di dalam kamar sepasang suami istri yang sudah tidak dibilang muda lagi, sedang menjalankan aksinya persis seperti pengantin baru yang tidak pernah puas dengan satu kali ronde.
"Pah sepertinya di luar ada yang gedor-gedor pintu kamar kita dech, mamah lihat ya takutnya penting."
"Biarin saja nunggu mah, nanggun nich!"
Akhirnya mereka berdua melanjutkan kegiatan yang menguras keringat, tetapi ada kepuasan tersendiri bisa merengkuh surga bersama.
Di luar kamar suara gedoran pintu masih saja terdengar nyaring, kelopak mata yang sebelumnya tertutup langsung terbuka mendengar suara putranya seperti tidak sabaran.
__ADS_1
"Mah buka pintunya cepat Tama tunggu!"
Dengan langkah berat, sang Mama membersihkan tubuhnya, dan membereskan kekacauan di kamarnya akibat ulah sepasang pengantin baru alias sudah berumur.
Dengan langkah gontai sang Mama berjalan menuju pintu, mengintip sebentar lewat celah kecil di pintu
Cekkklllekkk...
Pintu di buka sangat pelan, sayup-sayup mendengar suara putranya memanggil dirinya. meskipun ada rasa kantuk, dan capek demi putranya sang Mama rela mengabaikan rasa itu semua.
"Ada Tam? ganggu Mama aja." sang Mama mencebik kan bibirnya, aktivitas dengan sang suami di ganggu oleh putranya membuatnya tidak leluasa menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Nay mau melahirkan, mah."
"Apa melahirkan? bukankah masih satu minggu lagi HPL nya?" tanya Mama dengan dahi yang berkerut.
"Iya Mah, kata Nay perutnya sudah mules-mules seperti ingin Buang air besar."
Skip.....
"Sakit mas hiks.... hiksss...." Nay mencengkraman erat tangan sang suami, Nay ingin mencari kekuatan untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Iya sayang, mas ada di sini untuk mu..." Tama mengelus tangan sang istri untuk memberikan dukungan, dan semangat.
Brankar sudah di dorong menuju ruang tindakan, masih terdengar juga suara ringngisan Nay suaranya seperti mengiris hati.
Sampai ruang tindakan Nay langsung di pasang infus yang menancap di lengan kirinya, sedang tangan kanannya untuk menggenggam erat tangan suaminya.
__ADS_1
"Sabar sayang, sakit bentar pasti akan indah pada waktunya." Tama mengusap keringat di dahi sang istri, dan mengecup keningnya lama.
Setelah sampai di kamar bersalin, Nay sudah sedikit lebih tenang tidak seperti tadi yang menahan sakit.
"Selamat pagi Bu Nay, gimana apa mulas nya hilang timbul apa terus menerus, Buk?" tanya sang dokter yang biasanya menangani kehamilan nya.
"Masih kadang-kadang dok."
"Baiklah saya periksa dulu sudah pembukaan berapa ya Buk."
"Nay hanya memberikan jawaban lewat anggukan kepala."
Beberapa prosedur pemeriksaan sudah di lakukan, Sebelum meninggalkan kamar pasien, sang dokter menjelaskan panjang lebar.
"Setelah saya cek pembukaan belum lengkap, mohon bersabar dalam menunggu! Pak Tama tidak perlu terlalu khawatir, ini hal yang lumrah di alami seorang wanita yang akan melahirkan."
"Baik dok! terimakasih."
"Mungkin ada yang di tanyakan pak Tama atau ibu?"
"Tidak dok, terimakasih kasih!"
Skip.....
Setelah dokter meninggalkan kamar pasien, ada kelegaan menyelimuti calon orang tua baru. Sang Mama pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan baby, karena terburu-buru sampai tidak di bawa, di tambah lagi ada kepanikan menyelimuti keduanya membuat sang Mama juga ikutan panik.
Nextpart, part-nya Kanaya melahirkan
__ADS_1
Yuk kasih masukan untuk nama baby twins Kanaya dan Tama, dari USG auuttor jenis kelamin nya laki-laki ..
Di bantu ya prok....prok......prok.. !!!!!