Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 156


__ADS_3

Di kamar tamu Kanaya mulai memejamkan matanya di temani ibunya, tangan lembutnya sangat telaten mengusap-usap rambutnya Naya yang tak tertutup hijab, sikap, perlakuan yang lembut membuat Naya merindukan momen-momen seperti ini. Ibu Melati sangat menyayangi Naya, meskipun sudah berkeluarga kasih sayangnya tidak pernah luntur di makan oleh status yang berbeda. Naya tetap Putri kecilnya, meskipun mau punya 3anak , Naya adalah perempuan satu


-satunya yang lahir dari rahimnya.


Usapan tangan lembut ibunya, menghantarkan arus positif tidurnya Naya semakin lelap dalam mimpi indahnya. Sekian bulan Naya merindukan momen tercipta seperti ini, baru malam ini Naya merasakan usapan tangan perempuan hebatnya.


Lambat laun sang ibu ikut memejamkan kelopak matanya, mereka saling berpelukan, melepas rasa rindu. Naya semakin nyaman, di peluk sang Ibu, tidak terbangun sama sekali hingga pagi tiba.


*****


Di kamar utama Tama tidak bisa memejamkan kelopak matanya, pikirannya melalang buana kemana-mana? Tangannya meraba-raba tempat tidur di sisinya, kosong? ini alasan nya Tama tidak bisa matanya terpejam.


"Ahhh si al!" umpat Tama.


"Kenapa aku enggak bisa memejamkan mata, padahal ini mata tinggal beberapa watt." Ujar Tama yang pusing tujuh keliling, padahal menguap terus tapi susah untuk terpejam.


Tama membolak-balikkan badannya, tidur terlentang, miring, tengkurap sudah Tama lakukan. Masih juga tidak bisa terpejam barang sedetik pun.


Dengan berat hati, Tama mulai keluar kamar untuk berpindah ke kamar si kembar. Berharap dengan kepindahannya ke kamar tidur my twins, Tama bisa memejamkan matanya walaupun hanya sebentar.


Tama mulai merengkuh, memeluk si kembar dengan pelukan yang sangat menenangkan seperti yang dirasakan Tama malam ini. Sungguh sangat nyaman.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya Tama sudah terbangun lebih dulu, mulai berpindah ke kamar tidurnya.. Di kamarnya Tama mulai memejamkan matanya kembali, berharap bisa bangun siang , supaya rasa pening yang di rasa akan berkurang.


"Zzzzz..." Tama langsung terlelap dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.


Sedang di kamar tamu, Naya baru saja bangun tidur pukul 6pagi. Hari ini Dia bangun agak kesiangan, semalam tidurnya sangat nyenyak membuatnya enggan untuk bangun pagi.


"Akhh rasanya sangat nyaman." ucap Naya merentangkan kedua tangannya keatas, untuk menghirup udara pagi yang segar.


Di rasa nyawanya sudah terkumpul, Naya beranjak dari tempat tidurnya guna untuk membersihkan tubuhnya, lalu pergi ke dapur untuk memasak sarapan.


"Pagi juga Naya." sahut ibu Melati sembari mengulek-ngulek bumbu. Ibu Melati suka dengan cara tradisional, dari pada harus di blender bumbunya.


"Makasih ya Buk tidurnya semalam, tidurnya Naya jadi nyenyak tanpa terbangun sama sekali." Ujar Naya dari belakang. Naya langsung memeluk pinggang ibunya.


"Khusus kemarin saja bukan untuk malam-malam berikutnya, kasihan suamimu jika tiap malam tidurnya sama ibu. Nanti malam kembali ke kamar utama kasihan suamimu, pasti semalam suamimu tidak bisa tidur!" Ujar ibu Melati memberikan wejangan untuk putrinya.


"Tapi buk!" Ucap Naya dengan berbagai alasan.


"Tidak ada tapi-tapian lagi Naya, pokoknya harus kembali ke kamar utama."

__ADS_1


Mendengar suara ibunya, Naya hanya bisa pasrah menerima titah, wejangan ibunya. Wanita yang melahirkan tidak akan salah dalam memberikan nasehat untuk putrinya, Meskipun putrinya sudah berkeluarga.


*****


Naya sudah berada di kamar utama, pertama kali masuk ke kamar kelopak matanya langsung di buka lebar-lebar. Biasanya suaminya sudah rapi di jam seperti ini, lha ini apa? masih ada seseorang tertidur nyenyak dengan selimut membungkus tubuh kekarnya.


Tumben sekali mas Tama masih tidur, apa jangan-jangan suaminya kurang enak badan, atau bener-bener sakit, batinnya Naya penuh rasa kekhawatiran dan tanda tanya dengan perubahan suaminya.


Naya mulai menempelkan tangannya di dahi, untuk mengecek suhu tubuh suaminya panas atau dingin. Beberapa kali mengulang pelajaran yang sama, tetap tidak ada yang berubah suaminya tidak panas, tidak ada tanda-tanda kegawatan darurat.


Naya sedikit bernafas lega, suaminya ternyata hanya tidur pulas makanya kedatangannya tidak membuat mas Tama terusik sama sekali dengan istirahatnya.


Level 8 penghasilan tak naik, karya ini hanya di hargai tak sampai 5rb perhari. Sangat miris ya pendapat penulis sekelas noveltoon.


Bener kata pepatah, orang sukses itu harus bekerja keras dulu! ini juga sudah bekerja keras tetapi mendapatkan hasil yang luar biasa banyaknya.



Yang nanyain cerita kakaknya Kanaya, Reksa Bhakti ada di cerita chat story yang minim uploud foto profilnya. Di tunggu ya tanda cintanya untuk Mimin ya. Klik profil untuk mengetahui cerita Mimin lainnya, selamat membaca semoga suka.


__ADS_1


__ADS_2