Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 63


__ADS_3

Setelah tamu undangan sudah pulang semua, hanya tinggal keluarga inti yang masih berbincang-bincang di halaman belakang. Reksa ikut hadir di acara pengajian empat bulan kehamilan Kanaya, rasanya tidak sabar menunggu calon keponakan barunya.


Kanaya sudah meminta ijin duluan untuk istirahat di kamar, setelah kehamilan memasuki usia empat bulan, atau masuk trimester kedua. Kanaya sering merasa lelah meskipun sedikit beraktivitas ringan, ini yang membuatnya tidak kuat berlama-lama untuk duduk, atau berdiri terlalu lama. Nafsu makan meningkat berkali-kali lipat juga membuatnya jadi sering mengantuk.


Setelah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, Kanaya langsung memposisikan dirinya untuk menjadi kaum rebahan. Meskipun usia kandungan baru memasuki empat bulan, tetapi perutnya sudah sedikit membuncit nampak sekali sudah menonjol bila dibuat rebahan.


Sayangnya Papa dan Bunda


Taman belakang


Sudah berkumpul empat sekawan, Tama, Reksa, Renda, dan Endra. Mereka berbicara banyak hal, karena dari keempatnya hanya Tama yang sudah melepas masa lajangnya.


"Kapan bro menyusul?" tanya Tama menepuk pundaknya Renda.


"Menyusul kemana, Tam?" Tutur Renda yang tidak mudeng kemana arah pembicaraannya yang tiba-tiba mendengar kata "Menyusul"


"Surga dunia, nikah bro, nikah! seperti Aku yang sebentar lagi akan jadi hiot Daddy." jawabnya Tama menggebu-nggebu.


"Kenapa ke Renda? itu yang paling tua saja belum menikah, kan Aku yang muda." Aksi protes Renda malah membuat empat sekawan tertawa.


"Usia boleh tua, tapi aku yang paling tampan, mapan di antara kalian bertiga." sahutnya Endra yang sedikit narsis.


"Huhu... pede kali kau! katanya paling tampan, mapan tetapi belum laku." Tutur Reksa sedikit dengan nada sindiran.


"Sialan kau, Sa!" sahutnya Endra dengan mimik wajah penuh kekesalan.


Terjadi gelak tawa di antaranya, setiap kali mereka berkumpul, atau bertemu selalu ada bahan yang mereka bahas berempat mulai dari pekerjaan, maupun ke hal-hal yang pribadi.


Kamar utama


Kanaya sudah memasuki alam mimpi dengan satu tangannya masih diatas perutnya, tersenyum tipis menandakan bahwa Kanaya sedang bermimpi indah.


Tama masuk ke dalam kamar melihat pemandangan yang indah, membuatnya tidak sabar untuk bergelung satu selimut dengan sang istri.


Setelah ketiga sahabatnya untuk undur diri dari rumahnya, Tama langsung naik keatas ke kamarnya. Rasa lelah membuatnya sedikit mengantuk, di tambah lagi di depannya ada pemandangan indah semakin membuatnya menyusul kaum rebahan.


Di ruang tamu


Empat orang dewasa sedang nongki-nongki cantik di sofa ruang tamu, kedua orang tua sangat antusias mengikuti jalannya acara pengajian empat bulan calon cucunya, yang baru saja selesai beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


Tinggallah mereka berempat sedang menikmati camilan khas dari Solo, sengaja di bawa ibunya Kanaya sebagai buah tangan besannya.


"Jeng, Aku sudah nggak sabar nunggu cucu lahir." Tutur Mama-nya Tama dengan senyum tidak pernah lepas dari sudut bibirnya.


"Sama jeng, kira-kira cucu kita mirip siapa ya? aduhh ingin cepat menimang-nimang nich tangan..." sahutnya Mama Kanaya . Membayangkan saja sudah membuatnya tidak berhenti untuk tersenyum, berbagai pertanyaan berkecamuk di lubuk hatinya.


Para suami hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya, bukan berarti dirinya tidak bahagia kehadiran cucu baru, tetapi para calon Kakek memilih diam, dan berdoa semoga ibu dan bayinya sehat sampai melahirkan nanti.


Perusahaan Abadi Group


Keesokan paginya Reksa sudah berkantor, pesonanya Reksa tidak kalah dengan ketiga sahabatnya, meskipun keuangan pas-pasan saja, soal ketampanan bisa di perhitungkan masuk dalam kategori calon suami idaman.


Reksa sedang memeriksa file-file yang masuk di mejanya, sebelum di serahkan kepada atasannya.


Derrrtttttt....... derrrtttttt....


Ponselnya Reksa diatas meja bergetar, memilih mengabaikan suara getaran ponselnya, dan lebih memilih fokus pada file-file diatas mejanya.


Beberapa jam berkutat dengan file-file, Reksa sampai mengabaikan ponselnya dan makan siangnya.


"Ahhh selesai sudah..." ucapnya Reksa merenggangkan kedua tangannya, dan memejamkan kedua matanya sebentar untuk mengatasinya rasa lelahnya.


"Siapa sih, ganggu saja!" geruttuannya dengan bibirnya komat-kamit seperti membaca mantra.


Suara ponsel terus saja bergetar, membuatnya mau tidak mau melihat layar ponselnya siapa tahu penting? Tertera nama sang ibu membuat mengernyitkan dahinya, dan kedua matanya terbuka lebar-lebar.


"Assalamualaikum buk!" sapa Reksa sembari membetulkan posisi duduknya.


"Waalaikumsalam, Sa!" jawabnya sang ibu.


"Sibukkah Sa? di telepon ibu kok angkatnya lama." Tutur sang ibu dengan suara merdu seperti nyanyian pengantar tidur.


"Hehehe sedikit buk!" sahutnya dengan sedikit cengengesan.


"Ada apa? tumben ibu telepon." tanya Reksa diujung telepon. Pikirannya penuh dengan pertanyaan.


"Ibu mau masak, di cari-cari kok tidak ada berasnya, emang tempat berasnya di mana, Sa?" tanya sang ibu kebingungan mencari wadah beras.


"Reksa lupa beli buk, adanya mie instan dan telur di kulkas, nanti pulang kantor Reksa belikan berasnya, bapak dan ibu makan seadanya dulu di kulkas ya." Tutur Reksa merasa tidak enak, karena kedua orang tuanya tidak terbiasa makan mie instan.

__ADS_1


"Ohhh yo wes, Le! ora po-po maem sak enek'e wae ( Ya sudah gak apa-apa, makan seadanya saja) ." sahutnya sang ibu.


Sambungan telepon sudah di putus sang ibu, setelah menghadiri acara pengajian empat bulan putrinya, mereka memilih menginap di apartemennya Reksa.


Mereka juga ingin menikmati sisa-sisa liburannya di Jakarta, mumpung ada kesempatan mereka ingin menghabiskan waktunya dengan putranya.


Kediaman Wiratmaja


Kanaya sedang berkutat di dapur, membantu bibi, dan Mama mertuanya. Rencananya kedua orang tuanya akan menginap di rumahnya sebelum kembali ke Solo.


Kanaya ingin menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan menu masakan kesukaan keduanya, mumpung masih ada waktu untuk bertemu, Kanaya memanfaatkan momentum yang jarang di lewatkan.


Semenjak menikah Kanaya jarang bisa bermanja-manja dengan sang ibu, mungkin karena jarak yang jauh juga membuatnya sedikit bisa mandiri, dan tergantung lagi dengan sang Ibu.


Selesai memasak, dan menghidangkan menu makanan diatas meja, Kanaya pamit undur diri untuk membersihkan tubuhnya dari bau masakan.


"Bi, naik ke atas duluan ya! udah asam baunya." Tutur Kanaya mencium ketiaknya. Sebenarnya tidak asam, hanya saja Kanaya sudah kegerahan.


"Sok atuh, non!" sahutnya bibi.


Selesai shalat Maghrib berjamaah, seluruh keluarganya sudah duduk di kursi makan masing-masing. Kedua orang tuanya juga sudah datang, kakaknya juga. Mereka menikmati hidangan makan malam sedikit menyunggingkan senyumnya, rasanya pas di lidahnya .


"***Rasanya pas di lidah, ibu suka."


"Mama juga suka, enak"


"Papa satu pendapat dengan Mama."


"Hmmm yummy, bapak sampai nambah***."


Segala pujian di lontarkan diatas meja makan, Kanaya merasa puas dengan hasil masakannya, ternyata banyak yang suka padahal hanya menu sederhana.


Tinggalkan jejak biar auuttor rajin update, dan semangat dalam berkarya.


Yuk dukung cerita auuttor biar semakin banyak yang membaca.


Kasih bunga boleh, Krisan, komentar, like, dan vote boleh banget ya.


Selamat menjalankan ibadah puasa

__ADS_1


Hari ke-5 puasa


__ADS_2