
Tama langsung masuk ke dalam kamar mandi, mendengar titah sang istri Tama langsung menurut tanpa bantahan. Meskipun awalnya enggan, setelah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower yang membasahi nya, membuatnya sedikit rileks dari kepenatan di dalam pekerjaan.
Lima menit berkutat dengan sabun dan air shower, Tama menyudahi acara mandinya, dan sudah melilitkan handuk di pinggangnya. Dengan rambut basahnya menambah aroma maskulin, dan keseksian nya. Sungguh siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan pemilik perusahaan Abadi Group, perusahaan terbesar yang memiliki anak cabang di mana-mana.
Cekkklllekkk...... pintu kamar mandi di buka pelan. Tama langsung tersenyum melihat sang isteri yang masih sibuk dengan pakaian ganti untuk dirinya, Kanaya pun tidak menyadari bahwa sang suami sudah selesai mandi.
"Sedang sibuk apaan sih?" tanya Tama dengan tangan sudah melingkar di perut sang isteri. Tangannya mengelus lembut perutnya, Kanaya menikmati usapan lembut suaminya, membuatnya hanyut dalam keinginan untuk menggapai surga bersama dalam berumah tangga.
"Mas mah nganggetin saja." elaknya Kanaya membuka kelopak matanya. Sepertinya ada yang hilang dengan dirinya, barusan saja mendapatkan usapan, dan belaian lembut tiba-tiba sang suami masuk ke dalam kamar mandi kembali.
"Rasanya seperti di berikan harapan tinggi, tapi tiba-tiba di jatuhkan ke dalam jurang yang sangat dalam."
********
Tama sedang asyik memeluk sang istri, tiba-tiba ada panggilan alam yang mengharuskan dirinya untuk menuntaskan terlebih dahulu.
"Lega rasanya." Ucap Tama. Setelah Bersemedi di kamar mandi, senyum jahilnya langsung terbit. Tama ingin menggoda sang istri dengan tubuhnya yang hanya terbalut dengan handuk yang mini melilit di tubuhnya. Handuknya hanya mampu menutupi pusaka, tempat yang menjadi tempat favorit sang istri.
__ADS_1
Tama berjalan pelan kearah sang istri, Kanaya sedang menyenderkan kepalanya di kepala tempat tidur. Tangannya dan kedua matanya sedang fokus berkutat dengan ponsel di tangannya, Kanaya sedang membaca novel yang menjadi tempat mengisi rasa jenuhnya.
Kanaya menjadi terusik dengan gerakan mondar-mandir sang suami yang berada di samping tempat tidur.
"Kenapa mas belum ganti pakaian? kan sudah Kanaya siapkan, tinggal mas pakai ini." Tutur Kanaya yang tidak berkedip dengan tubuh seksi, dan aura yang memancarkan yang sulit diartikan.
"Mas lagi gerah, tiba-tiba muncul keringat membuat mas tidak nyaman bila harus memakai pakaian." sahutnya Tama yang masih saja mondar-mandir. Tangannya masih sibuk mengusap-usap lembut tubuhnya, seolah-olah sedang berkeringat.
"Sedang baca aja? kok asyik banget sampai suami pun ikut di cuekin." Ucapnya Tama dengan bibirnya sudah mengerucut. Baginya Kanaya itu sangat lucu melihat pemandangan di sampingnya.
"Baca novel "Takdir Cinta" mas, yang menceritakan tentang putra sulungnya Yudha Pradipta, pemilik Pradipta group yang sudah beranjak remaja, ceritanya seru seperti mengingatkan masa lalu, waktu masih duduk di bangku sekolah." Tutur Kanaya dengan sangat antusias.
"Mas mau ikutan baca?" Kanaya menawarkan tempat di sebelahnya. Tidak mendapatkan respon, kan melanjutkan membacanya, saking asyiknya Kanaya melupakan keberadaan sang suami.
"Mas mau kamu!" jawabnya dengan tatapan penuh damba. Tama menjadi tidak fokus dengan gerakan sang istri, membuat dress nya tersingkap sebatas paha.
"Mau apa mas, Nay tidak punya apa-apa?" Kanaya menjawabnya dengan polosnya. Kanaya sangat bingung dengan keinginan sang suami.
__ADS_1
"Sial! Ternyata istriku tidak peka rasanya sudah tidak tahan, sangat sesak di balik handuknya," gerutu nya Tama.
Tama mondar-mandir dalam berjalan, sedang memikirkan momen yang pas untuk menyerang sang istri. Melirik sebentar kearah sang istri, tetapi Kanaya sibuk dengan ponselnya sendiri, sepertinya mulai mengabaikan suaminya.
Tama langsung merebut ponselnya, dan meletakkan diatas nakas kamarnya.
"Mas itu apa-apaan sih main rebut-rebut saja!" ucap Kanaya dengan nada kesal nya. Matanya sudah memancarkan aura permusuhan, aura dinginnya membuatnya bergidik ngeri menatap wajah sang suami.
"Mas kamu anggap siapa? hahhh!" tanya Tama dengan kilatan petir menyambar. Tama dibuat emosi dengan sikap sang istri, sang istri lebih mementingkan ponselnya daripada dirinya.
"Suami..." jawabnya.
"Suami? tetapi kamu malah asyik dengan ponsel mu, tanpa memperhatikan keberadaan ku di kamar ini, itu yang kamu maksud dengan sebutan suami?" Dadanya Tama sudah naik turun. Ada ras kesal, cemburu karena dirinya butuh di perhatikan juga.
Kanaya hanya diam saja, rasanya tidak percaya suaminya ternyata berani membentak nya. kedua matanya sudah berkaca-kaca, tetapi pandangan Kanaya menunduk, dan menyembunyikan air matanya yang siap menyemburkan lahar panas.
Bunda harus apa dik? rasanya sangat menyakitkan Papa mu berani membentak Bunda? batinnya Kanaya mengusap lembut perutnya yang sudah buncit.
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi di tahan nya, akhirnya pecah juga membasahi pipinya. Sakit rasanya? sungguh sangat sakit? Suami yang di cintainya tega sekali membentaknya, hanya masalah yang Kanaya belum tahu akar permasalahannya.