Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 39


__ADS_3

Keesokan harinya Kanaya sudah mulai masuk ke sekolah lagi, Kanaya menjalankan hari-harinya seperti biasanya. Pagi pergi ke sekolah terkadang ada belajar tambahkan di sekolahnya, membuatnya harus pulang sore hari.


Maklum Kanaya sudah kelas tiga SMA, yang berarti sebentar lagi Kanaya akan lulus dari bangku Putih abu-abu, dan akan mulai melanjutkan bangku perkuliahan, bila memungkinkan suaminya mengijinkan untuk melanjutkan pendidikan.


Awal mula Kanaya ingin melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat selanjutnya, tetapi takdir cintanya berjalan lain. Kanaya menikah di usia yang terbilang masih muda, Kanaya pun juga belum lulus dari bangku sekolah SMA. Terselip rasa tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri, dari Ceo perusahaan ternama di Jakarta.


Kanaya juga ingin mengapai cita-cita, dan membahagiakan kedua orang tuanyanya menjadi seorang Dokter seperti cita-citanya dari kecil, tetapi semua sudah berubah semenjak ada seorang pria mengucapkan ijab qobul di depan Ayah, dan Ibunya. Sejak saat itu pula, Kanaya sudah menjadi tanggung jawab suaminya bukan kedua orang tuanya kembali. Sebelum memulai pendidikan lebih lanjut, Kanaya harus meminta ijin dulu ke suaminya


"Ridho suami kebahagiaan istri..."


Kanaya duduk termenung, wajahnya senyum-senyum sendiri. Tidak sadar ada dua sahabatnya memperhatikannya, tetap saja Kanaya sibuk dengan pikirannya. Kanaya tidak menggubris lingkungan sekitarnya, baginya yang terpenting tidak ada yang mengganggunya itu udah cukup.


"Teng..teng..."


Waktu istirahatnya telah tiba, Kanaya baru tersadar bahwa dirinya dari tadi dirinya sedang melamun. Padahal Difa dan Dina Sudah menghampiri ke kelas, baru ngeh ternyata dirinya asyik dengan dunianya.


Mereka berjalan ke kantin sekolah dengan tangannya saling bergandengan, supaya orang lain yang melihatnya terlihat romantis hehehe.


Di kantin sekolahnya sangat riuh, semua siswa-siswi menghambur keluar menuju kantin. Seperti halnya Kanaya, dan kedua sahabatnya Maldifa dan Andina juga ikut menemani Kanaya ke kantin.


"Soto-nya tiga porsi ya, Buk..." Tutur Kanaya..


"Beres non..." Sahutnya dengan mengacungkan jempolnya.


"Ehhh non minumnya apa?" tanya pemilik warung di sekolah.


"Hehehe ibu lupa nanyain..."


"Tiga es teh aja Buk.." teriaknya Kanaya.


Menunggu lima menit pesanannya sudah datang, beserta es tehnya juga. Ketiganya sangat menikmati hidangan makan siangnya, sesekali di selingi dengan candaan. Kanaya sangat menyukai makanan yang berkuah, dan sayurnya bukan dari santan.


Kedua sahabatnya juga belum tahu, bahwa Kanaya sudah menikah yang mereka tahu Kanaya tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga di luar kota. Bukan Kanaya menyembunyikannya, tetapi Kanaya belum siap bila satu sekolah tahu bahwa dirinya sudah menikah.


Teng...teng...

__ADS_1


Bunyi lonceng sekolah berbunyi bertanda sudah saatnya memasuki kelasnya kembali dan mulai dengan pelajarannya, setelah membayar makanannya.


Kanaya dan kedua sahabatnya terbirit-birit untuk masuk ke dalam kelas, mereka tidak ingin terlambat masuk yang ada mereka di ketawain satu kelasnya.


🍭🍭🍭


Di Jakarta


Tama sedang kelimpungan mencari keberadaan istrinya, karena sejak pukul 08.00 pagi ponselnya bisa di hubungi tetapi tidak di angkatnya. Perasaan cemasnya seperti menguliti kulitnya, karena tidak biasanya istrinya tidak ada kabar seperti pagi ini.


Suasana di kantor begitu mencekam, auranya Tama sangat dingin seperti air es pada musim salju.


"Kemana sih kamu, gadis kecil yang membuatku kecanduan..." guman-nya Tama memainkan bolpoin dengan senyum smirk-nya.


Satu jam telah berputar, dua jam juga sudah terlewati tetapi WhatsApp-nya Wira ke ponsel Kanaya hanya conteng Hitam.


🍭🍭🍭


Teng....teng


Mereka berjalan beriringan untuk keluar kelas, dan keluar dari gerbang sekolah. Mobil jemputan Kanaya sudah menunggunya, meskipun sedikit tidak enak dengan teman-teman sekolahnya tetapi Kanaya ingin mematuhi perintah suaminya.


"***Aku duluan ya, sudah di jemput..." Ucap Kanaya sedikit menyengir.


"Iya Nay, hati-hati di jalan..." Sahutnya duo sahabatnya***.


Setelah masuk ke dalam mobil, tidak ada yang mulai berbicara keduanya nampak hening. Kanaya mulai memejamkan matanya, karena hari ini sangat melelahkan di tambah lagi ponselnya ketinggalan dirumahnya, lengkap sudah pikiran Kanaya yang semerawut.


🍭🍭🍭


Setelah pulang kantor, Tama masuk ke dalam rumahnya tidak bersemangat. Jalannya gontai, karena setengah hari sampai sore Tama tidak mendengar suara manja sang istri, atau tahu kabarnya.


Seperti terbentang jarak diantara keduanya, padahal mereka sudah menikah. Sah-sah saja mereka bermanja-manja dengan pasangan, meskipun keduanya terpisah jarak dan tempat yang berbeda.


Masuk ke dalam rumahnya keadaannya sepi Mamanya sepertinya sedang pergi, dan Papa-nya sedang ada perjalanan bisnis.

__ADS_1


Tama menaiki tangga pelan, setelah membuka pintu kamarnya Tama langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan fungsi pikirannya yang sedang tidak berfungsi dengan baik..


🍭🍭🍭


Setelah mengucapkan salam, Kanaya masuk ke dalam kamarnya. Memejamkan kedua matanya sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya, dan perasaannya ada yang kurang dalam dirinya.


Kanaya bangun dari tidurnya langsung membuka tasnya, nengubek-ngubek isi tasnya tetapi tidak di ketemukan.


"Ahh kemana sih ini ponsel kok di tas tidak ada..." guman Kanaya.


Kanaya mulai mencari sekitar sudut kamarnya, celingak-celinguk untuk mencarinya tetapi belum di temukan.


"Daripada pusing, lebih baik mandi biar pikiranku sedikit lebih baik..." guman Kanaya berbicara dengan dirinya sendiri.


Setengah jam di kamar mandi, Kanaya keluar dengan handuk di kepalanya. Sore ini Kanaya ingin keramas biar pikirannya fresh, dan otaknya bisa bekerja dengan baik.


🍭🍭🍭


Keluar kamar mandi Tama hanya melilitkan handuk di pinggangnya, rambutnya yang basah membuat semakin meningkat kadar kegantengannya.


Belum juga Tama berganti pakaian, sudah meraih ponselnya untuk menghubungi istrinya kembali, karena waktu sudah sore pasti istrinya sudah pulang dari sekolah.


Tama mendial nomer ponsel istrinya baru dering ketiga di angkatnya.


"***Assalamu'alaikum Mas, maaf tadi ponselnya ketinggalan di rumah..." Tutur Kanaya dengan wajah sendu-nya.


"Mas hampir saja gila setengah hari tidak mendengar kabarnya, Dik..." Sahutnya Tama sedikit frustasi.


"Maaf..."


"Mas maafkan, tetapi jangan di ulangin lagi ya mas bisa gila, Dik***..."


Keduanya berbincang-bincang panjang lebar, mereka bercanda gurau, meskipun sedang menjalani LDR bukan berarti kemesraan antara pasangan akan berubah. Semakin hari mereka sangat menikmati perannya masing-masing sebagai suami, dan istri.


Ada rasa rindu yang menggunung, rasa ingin segera ada pertemuan selanjutnya, tetapi semuanya tidak sesuai apa yang di harapkan. Mereka harus menahan rindu beberapa hari dulu, baru lima hari kemudian mereka akan bertemu di tempat yang sama.

__ADS_1


Rindu itu pasti, karena kedua insan manusia saling mencintai terpisah demi mengejar cita-citanya masing-masing untuk masa depan keduanya, dan Anak-anaknya kelak.


__ADS_2