
Setelah menjemput keluarganya di Stasiun, Reksa membawa keluarganya untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum mengantar beliau pulang ke apartemen.
"Rasanya Jakarta masih seperti dulu, masih saja macet." Seloroh Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu Adiknya.
"Iya Dik, sekarang malah tambah macet." Reksa ikut menimpali perkataan Kanaya.
Hening tidak ada yang bersuara, Kanaya asyik melihat-lihat gedung pencakar langit, dan pepohonan yang tumbuh sangat rindang di jantung Ibukota Jakarta.
Sedangkan kedua orang tuanya memilih memejamkan matanya sebentar, rasa lelah karena perjalanan jauhnya, sudah lama juga tidak pernah melakukan perjalanan jauh ke Jakarta kembali, setelah memutuskan untuk pulang kampung ke Solo.
Sedangkan Rudi, seperti Kanaya memperhatikan jalanan Ibu kota yang padat, bertepatan dengan jam istirahat para pegawai baik di kantor maupun instansi pemerintah.
***
Reksa membelokkan mobilnya ke tempat makan yang sangat terkenal di Jakarta, dan masakan sangat enak versi Reksa. Jika rindu rumah, Reksa selalu datang ke tempat makan ini karena banyak menu makanan yang berasal dari Solo, Chinese, maupun makanan dalam negeri, dan luar negeri semua tersaji di restoran ini.
Setelah memprakirkan mobilnya, Reksa mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam, Reksa memilih duduk di lesehan paling pojok biar bisa leluasa, dan santai.
"Permisi Pak! ini buku menunya silahkan!" Tutur pramusaji dengan Tutur katanya yang sangat sopan.
"Makasih Mbak." Sahutnya Kanaya dengan senyum manisnya.
Setelah memilih menu makanan, mereka menunggu lima belas menit dulu, baru menunya di antar ke mejanya. Sembari menunggu pesanannya datang, Reksa pamit sebentar untuk mengangkat telepon dari sahabatnya Wira.
"Lagi dimana, Sa?"
"Makan siang di restoran X! Ada apa?"
"Setelah makan siang, dan mengantar keluarga ke apartemen, entar balik ke kantor ya! ada sedikit tugas untukmu." Tutur Wira sedikit terkekeh.
"Oke bro!"
Klik.... Reksa mematikan sambungan telepon di ponselnya, melihat dari jauh pesanannya sudah sampai di mejanya. Reksa bergegas menghampiri keluarganya, yang sedang menunggu dirinya kembali.
"Siapa, Sa?"
"Wiratama Buk."
__ADS_1
Ayo di makan ke buru dingin, nanti makanannya tidak enak. Mereka makan dengan sangat hening, hanya suara dentingan sendok garpu saja. Sesekali Kanaya berbicara, dan Rudi ikut menimpali. Membuat gelak tawanya keluarganya membahana, mendengar bahasa planet-nya Kanaya.
Selesai makan siang bersama, Reksa mengantar keluarganya untuk pulang ke apartemen terlebih dahulu, baru melanjutkan perjalanan ke kantornya.
Tiba di basement apartemen, Reksa membawa keluarganya untuk naik ke atas mengunakan lift untuk masuk ke unit apartemen-nya.
Reksa mengeluarkan ID CART-nya untuk masuk ke dalam, Selasai mengantarnya Reksa pamit untuk kembali ke tempat kerjanya.
***
Sampai di dalam kamar kakaknya, Kanaya merebahkan tubuhnya di atas ranjang kakaknya yang sangat begitu empuk, Kanaya memejamkan matanya karena dari tadi kedua matanya ingin segera istirahat.
Sedangkan Ibunya sedang membereskan barang-barang bawaan, pakaian ganti sudah di taruh di kamar sebelahnya, bertepatan dengan sebelah kamarnya Reksa, tempat tidur untuk kedua orang tuanya.
Bapak dan Rudi sedang asyik menonton televisi, yang menyiarkan acara berita yang terjadi akhir-akhir ini membuat sedikit khawatir, dan harus waspada.
Di kamarnya Reksa, Kanaya sudah tertidur pulas tanpa mandi terlebih dahulu. Kanaya nampak nyenyak sampai-sampai terbawa ke alam mimpi, dalam mimpinya Kanaya bertemu dengan pangeran berkuda putih.
Kanaya tersenyum tipis, walaupun masih dalam mimpi. Kanaya berharap itu bukan mimpi, bila itu mimpi jangan bangunkan Kanaya.
***
"Tok...Tok....." Reksa ketok-ketok pintu ruangan Tama.
"Masuk..." Sahutnya Tama dari dalam ruangan-nya.
Setelah mendapatkan ijin masuk, Reksa membuka pintu-nya sangat pelan, dan menutupnya kembali dengan sangat pelan sekali, karena Reksa takut mengganggu kinerja atasannya.
"Ada apa, Tam?"
"Silahkan duduk dulu." Tutur Tama menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Reksa mendudukkan pantatnya di tempat duduk, di depannya Tama."
Reksa mulai menarik nafasnya, dan mulai berbicara terlebih dahulu.
"Sibuk bikin apa, Tam?" teman datang malah di diamkan."
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang di bicarakan, Reksa permisi dulu, Tam."
"Ehhhtda tunggu! Maaf ya cuekin kamu habis kejar deadline."
"Berkas-berkas untuk rapat bulanan besok, sudah siap belum, Sa?"
"Sudah beres, Tam."
Mereka membicarakan tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini begitu padat, Untuk berlibur saja susah apalagi cuti untuk liburan ke luar negeri.
***
Sesudah adzan Maghrib Reksa sudah tiba di apartemen, sudah tersaji hidangan makan malamnya. Ini yang selalu Reksa rindukan, masakan ibunya tetap nomor satu, tetapi kebersamaan keluarga-nya membuatnya tersenyum tipis. Keluarga tempat untuk pulang, keluarga tempat untuk berkeluh-kesah, tempat untuk berbagi.
Lelahnya Reksa terobati, melihat keluarganya berkumpul. Ini yang Reksa tunggu bisa memboyong keluarganya untuk kembali ke Jakarta, walaupun sekedar untuk berlibur saja, Sudah membuatnya bahagia.
***
Kanaya juga sudah rapi dengan baju santainya, setelah membantu Ibunya memasak. Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan minimalis di apartemen-nya, kecuali Kanaya yang masih memakai jilbab di kamarnya.
Setelah semua berkumpul, mereka makan dengan sangat khidmat, tidak ada yang berani berbicara karena dari kecil sudah di ajarkan kedua orang tuanya, kalau makan harus diam, tidak boleh ada yang berbicara.
Siang tergantikan malam, cahaya matahari meninggalkan peraduannya, tergantikan malam yang gelap. Seperti malam ini di apartemen, masing-masing sudah meninggalkan ruang telivisi untuk masuk ke kamarnya.
"Kanaya berulang-ulang sudah menguap, tetapi sinetron yang dibintangi idolanya belum usai."
"Kanaya berusaha menghalau rasa kantuknya, tetap saja tidak bisa terkalahkan dengan rasa ingin segera berbaring di kasur yang empuk, dan nyaman."
Sedangkan Reksa dan Rudi sudah tertidur di kamarnya, mereka tidur dalam satu kamar. Di sebelahnya ada kamar kedua orang tuanya, sedangkan Kanaya tertidur pulas di ruang keluarga.
Keesokan paginya, Ibunya terbangun dulu untuk membangunkan suaminya untuk menunaikan kewajibannya. Ibunya beralih membangunkan Reksa dan Rudi, tidak lupa juga membangunkan Kanaya yang tertidur di depan televisi.
Reksa berangkat kerja, Kanaya dan keluarga sedang menikmati acara televisi yang menanyakan siraman qalbu. Mereka sangat antusias menyimak kajian, walaupun hanya lewat televisi.
Agak siangan, Kanaya sudah janjian ketemu dengan teman-nya di SD, walaupun jarang bertemu, komunikasi tetap terjalin baik. Kanaya menggunakan waktunya untuk bertemu dengan teman-teman lama, dan Napak tilas di Jakarta.
Setelah di jemput temannya, kedua bersahabat dari SD itu untuk pergi ke Mall, dan janjian dengan teman-teman lainnya.
__ADS_1
"Mumpung di Jakarta." batinnya Kanaya.
Tinggalkan like, koment, dan votenya yah guys.