
Happy reading
Tiga hari sudah Kanaya di rawat di rumah sakit, tiga hari pula usianya baby twins. Kanaya bisa beristirahat nyenyak masih ada sang nenek, Oma nya yang bergantian menjaga jagoannya.
Kedua orang dewasa tetapi bukan hanya sekedar dewasa lagi, lebih tepatnya dewasa setengah tua tengah berbahagia mempunyai mainan baru layaknya boneka hidup.
Semenjak kelahiran cucu-cucunya, senyum nenek dan oma terpatri di sudut bibir keduanya.
Mereka menyambut suka cita atas kebahagiaan tak terkira, bahagia di karunia-Nya dua cucu sekaligus, dan mereka berdua sehat tidak kekurangan apapun.
Di tengah lamunan-nya Omanya kaget mendengar suara tangisan baby twins
"Oekkkkkk...oek.. mau minum ASI ya duh duh kog pakai nangis sayang, cup cup cucu oma yang ganteng," Mendengar suara Oma kesayangan, abangnya langsung terdiam, kaki dan tangannya terus saja bergerak keatas.
"Cucunya Oma pintar sekali udah nggak nangis dong, Oma." Mama Nisa tidak henti-hentinya memuji cucunya yang langsung anteng mendengar suara dirinya
Kanaya melihat interaksi antara Mama Nisa dan cucunya ikut tersenyum tipis, bahagia karena ada yang bantu menjaga dua jagoannya.
Sebagai ibu muda, Nay belum terlalu paham tentang merawat bayi baru lahir, banyak yang harus Nay pelajari dari sang Mama, dan ibunya sendiri.
Cekkklllekkk.....
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah sang suami yang sangat Nay rindukan, satu hari tidak bertemu di karenakan Tama harus kembali ke kantor demi nasib seluruh pegawai nya.
"Selamat malam sayang..." sapa Tama mengecup kening sang istri lama.
__ADS_1
"Malam juga, Mas baru pulang?" tanya Nay dengan pandangan mata yang penuh rasa penasaran.
"Iya, tadi pulang ke rumah bentar mandi dan ganti pakaian saja kog, memangnya kenapa? tumben teliti banget tanyanya." Ucap Tama sudah mendudukkan bokongnya di kursi sebelah tempat tidurnya sang istri.
"Enggak pa-pa, tumben pulang malam gitu." jawabnya Nay dengan senyum seperti yang di paksakan.
"Mas tadi bawa makanan nasi dan lauknya Ayam K*C! Nay mau?" Tama menawarkan makanan yang di bawanya, Tama tahu ada aura yang tidak baik di istrinya, tidak mau memperpanjang pembahasan memilih mengalihkan barang bawaan.
"Nanti saja Nay baru saja makan malam jatah dari rumah sakit, kalau mas mau makan dulu silahkan!" Nay sibuk dengan ponselnya, tanpa memandang lawan bicara lagi.
Tama memilih mengisi perutnya terlebih dulu, sebelum bergantian momong dua jagoannya, mengantikan sang Mama yang masih sibuk momong putranya.
🏓🏓🏓🏓🏓
Satu minggu berada di rumah sakit membuatnya jenuh, jenuh ingin pulang ke rumah, lagi-lagi sang suami belum mengijinkan , sedangkan sang dokter pun sudah mengijinkan.
"Tidak boleh! Nay harus sehat dulu kasihan jagoan kita bila Bundanya masih sakit." jawabnya Tama memberikan pengertian ke sang istri.
Mendengar suara sang suami, nyali Nay menciut rasanya ingin menangis dan guling-guling diatas lantai , supaya keinginannya terkabul.
Semua itu hanya angan-angan saja, Nay sangat malu bila mertuanya sampai melihat dirinya.
"Pokoknya Nay mau. hari ini." Nay langsung memalingkan wajahnya kearah tembok, kedua matanya sudah berkaca-kaca, mencoba untuk menghalau yang mau menetes.
🏓🏓🏓🏓🏓
__ADS_1
Dengan drama air mata, akhirnya Tama mengalah.
Setelah mendapatkan ijin dari dokternya, dokter anaknya juga. Tama membereskan semua biaya administrasi, dan sudah menebus obat juga di apotek.
Masuk ke kamar rawat istrinya, semua pakaian dan yang lainnya sudah di packing rapi. Putranya juga sudah di dandani sedemikian rupa, dengan pakaian tertutup supaya tubuhnya selalu hangat.
"Gantengnya jagoannya Papa, udah wangi, udah mau pulang ke rumah ya, Son."
ucapnya Tama mengecup keningnya bergantian.
"Iya dong Pa, biar gantengnya tidak kalah dengan Papa." jawabnya Nay menirukan suara anak kecil.
Tama menghadiahi satu kecupan manis di kening sang istri, awalnya hanya di keningnya, lama-lama merambat ke pipi, dan leher jenjang sang istri yang belum memakai hijabnya.
Tama semakin aktif, dan gemas dengan sang istri yang beberapa hari terakhir membuat dirinya uring-uringan.
Membuka kancing pakaian di depannya, tepat di dua gundukan tempat favoritnya yang sudah menjadi candunya.
Semakin intens memperlakukan istrinya seolah-olah barang porselen yang mudah pecah, Tama mulai menghisap nya persis tidak mau kalah dengan putranya.
"Akhhh udah mas nanti kebablasan.." tangannya Nay sudah menahan suaminya, supaya segera menyudahi aksinya.
Dengan hisapan pelan, dan kecupan manisnya, Tama segera melepas candunya.
Melepas bukan berarti tidak mau mengulang kembali, hanya saja ingin mengulang cerita siang ini di rumah saja supaya readers setia tidak tahu apa yang di lakukan Tama selanjutnya hihihi.
__ADS_1
#Maapin auuttor bila sering minta like, komentar, dan vote ya pada kalian semua.
Di ikhlas kan ya, supaya auuttor tambah semangat dalam berkarya, berimajinasi, dan melalang buana hehehe canda ya.