
Selamat hari Senin.
Selamat beraktifitas saja.
Malam nya Naya tidur dengan gelisah, bolak-balik ke kamar mandi tak membuat tidur Tama terusik. Tidak ingin membangunkan suaminya, mengganggu tidurnya Tama, akhirnya Naya duduk di sofa kamar nya yang terbentang luas. Kakinya Naya di selonjor kan sesekali di pijat pelan-pelan, mulutnya terus saja mendesis merasakan kontraksi yang hebat dan sering.
Duk Duk Duk
Tendangan di perutnya semakin menjadi, dedek bayi di dalam sangat aktif membuat Bundanya tidak bisa tidur malam ini.
Berkali-kali Naya mengusap pelan perutnya berharap yang di dalam sedikit diam, tetapi dugaannya salah si kecil semakin aktif sampai-sampai tak membiarkan Bunda untuk beristirahat hanya sebentar saja.
"Akhhh.."
Naya berusaha menahan mati-matian, supaya sang suami tidak terbangun.
Perutnya tiba-tiba terasa sakit, mules-mules enak, dan keringat sebiji jagung pun membanjiri wajahnya Naya.
Di sofa panjang Naya merasakan kontraksi, mules-mules, perutnya yang sangat sakit di tambah yang di dalamnya sangat aktif. Setiap kali tangannya membelai perutnya, si kecil langsung merespon lewat tendangan, menandakan si kecil tahu apa yang di ucapkan Bundanya.
Di tempat tidurnya Tama sedikit gelisah, biasanya ada tangan yang memeluknya, kali ini terasa hampa tidak ada sentuhan lembut yang membuat nya betah untuk berlama-lama di atas ranjang.
Tangan Tama meraba-raba di sebelahnya, kosong? kemana Naya? batinnya terus saja bertanya-tanya. Membuat kelopak matanya langsung terbuka sempurna, pandangan nya langsung melirik seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan istrinya.
__ADS_1
Matanya langsung terbelalak sempurna melihat Naya rebahan di sofa panjang, isteri sedikit meringis memegangi perutnya sembari bibirnya tidak berhenti untuk bergumam lirih.
Tama langsung melompat dari atas tempat tidur, berjalan pelan kearah sang istri supaya sang istri tidak kaget. Tangannya langsung ikut terulur untuk ikut-ikutan mengelus-elus dedek kecil di dalam.
"Mas..."
Ucap Naya yang masih menutup kelopak matanya, menikmati tangan lembut suaminya membuatnya bisa sedikit terpejam.
"Hmm, tidurlah."
sahutnya Tama yang semakin intens membelai perutnya istrinya, usapan nya mampu membuat si kecil diam.
"Si kecil jangan nakal ya, kasihan sama bunda , biarkan Bunda istirahat sebentar baru nanti main sama Bunda lagi."
Tama terus saja membisikkan kata-kata, supaya si kecil sedikit anteng dan membiarkan Bunda istirahat.
"Akhh mas..."
Naya sedikit berteriak merasakan tendangan si kecil yang leluasa bermain di dalam.
"Kenapa? apa ada yang sakit? mau ke rumah sakit sekarang, mas jadi enggak tega melihat mu kesakitan seperti ini."
Ujar Tama yang sangat mengkhawatirkan melihat kondisi istrinya seperti sedang kesakitan.
__ADS_1
"Si kecil hanya menendang mas, rumah sakit nya entar aja kalau sudah mau melahirkan, Mas."
******
Pagi menjelang Naya baru bisa tidur dengan catatan tangan suaminya tidak boleh berhenti mengelus-elus perutnya. Tak sedikit pun Tama beranjak dari sebelah istrinya, sesekali mengecup kening, pipi dan bibirnya istrinya supaya semakin nyaman bermimpi indah.
Setelahnya Naya pulas dalam tidurnya, Tama berniat beranjak untuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya, dan menjalankan perintah-Nya. Nampak damai, tenang dalam tidurnya membuat Tama berani meninggalkan sebentar.
5menit Tama sudah rapi, wangi dengan pakaian rumahan. Hari ini Tama meliburkan dirinya ke kantor, ingin menemani istrinya, bila sewaktu-waktu istrinya merasakan kontraksi dan melahirkan.
"Mas.."
"Hmmm."
"Sini!"
"Iya bentar Bun, mau minum dulu."
Setelah meneguk segelas air putih, Tama kembali mendekati istrinya. Bibirnya lalu mengecup bertubi-tubi perut Naya yang membuncit semakin besar.
"Ada apa hmm?"
"Kangen, pengen seperti ini."
__ADS_1
Naya semakin mendusel-dusel di bawah ketiak nya Tama, tidak memperdulikan dirinya bila di katakan suaminya manja, terpenting dirinya bisa merasakan kenyamanan dalam bersandar di pelukan suaminya.
Pelukan ini yang membuat nya semakin menenangkan, melupakan rasa sakit yang hilang timbul. Aroma wangi sabun mandi mampu menyegarkan indera penciuman, Naya pun semakin menempel seperti perangko lengket tidak ingin lepas barang sedetik pun.