Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 84


__ADS_3

Hari terus saja berlalu, hari berganti hari, minggu berganti dengan bulan, tidak terasa kehamilan Kanaya sudah masuk sembilan bulan.


Seperti pagi ini di dalam dapur, Kanaya sangat kesusahan berjalan kesana kemari, berulang-ulang Kanaya mengusap perut buncitnya.


Sebenarnya sang suami sudah melarangnya untuk masuk ke dalam dapur, memasak atau melakukan pekerjaan lainnya. Lagi-lagi Kanaya tidak mau berpangku tangan, tanpa beraktivitas sama sekali. Kata dokter di usia kehamilan masuk trimester ketiga, sudah sangat kuat , harus sering melakukan aktivitas tetapi sewajarnya. Dari kutipan sang dokter Kanaya mulai mempraktekkan, meskipun itu hanya aktivitas ringan tidak membutuhkan tenaga ekstra.


Di sinilah Kanaya sedang bantu-bantu masak bersama bibi di dapur, Kanaya sangat berhati-hati berjalan takutnya lantainya licin, sangat membahayakan kandungannya bila sampai dirinya terpleset.


"Bi, Nay bisa bantu apa nich?" tanya Kanaya berjalan pelan kearah bibi. Sesekali mengusap lembut perutnya, rasanya sesuatu dengan tendangan si kecil di dalam kandungannya.


"Aduh non biar bibi saja, non Nay duduk saja! nanti kalau tuan dan nyonya tahu bibi bisa di pecat!" jawabnya sang bibi sedikit ada raut ketakutan. tangannya meremas-remas ujung bajunya, untuk meredakan rasa tidak enak bila tiba-tiba sang majikan datang.


"Enggak pa-pa bibi, kan Nay yang mau bantu sendiri." Ucap Kanaya dengan senyum simpul tetapi sangat manis.


"Adduuhhh non Nay kalau sampai pak Tama tahu gimana? entar kalau bibi di marahin, bibi jadi takut non." Lagi-lagi sang bibi meremas ujung pakaiannya, pandangan matanya celingukan takutnya tiba-tiba majikannya berada di ujung pintu.

__ADS_1


"Udah bibi tenang saja, nanti kalau Papa Mama, dan pak suami marah! Nay yang akan membela bibi, menjadi garda terdepan untuk bibi." Kanaya memberikan kepercayaan kepada sang bibi, supaya dirinya di ijinkan untuk bantu-bantu di dapur," tuturnya untuk menyakinkan sang bibi.


Akhirnya bibi hanya pasrah, dan menyerah bila majikannya marah, akan menerima konsekuensinya bila sampai dirinya di pecat nantinya.


Sang bibi jadi tidak tega melihat muka imut non Nay, baginya Nay sudah dianggap seperti anak sendiri, non Nay sangat baik dengan para pekerja di rumahnya.


Tidak masalahkan dirinya membiarkan non Nay bantu-bantu yang ringan-ringan, asal berhati-hati, dan waspada pada keselamatan non Nay.


Mereka berdua masak tidak ada halangan rintangan yang berarti, mereka sangat cepat sekali menyelesaikan ritual memasaknya, dan menata nya diatas meja dengan rapi.


***********


Dirasa penampilannya cukup, Kanaya melihat ponselnya siapa tahu ada hal penting yang menghubunginya.


Kanaya sudah berada di ruang tamu, dan menonton televisi sembari menunggu sang suami pulang kerja.

__ADS_1


Berbicara dengan mertuanya, pagi tadi keduanya baru saja mengunjungi saudaranya yang punya hajat di Bandung.


Di rumah yang megah ini, tinggallah Kanaya dan para pekerja, sedang suaminya berada di kantor.


"Brummmm.... brummmm...." suara mobil memasuki halaman rumahnya, tidak berselang lama mesin mobil sudah mati.


"Tak! Tak! ," suara langkah kaki berjalan kearahnya. Kanaya menoleh siapa yang datang bertamu di jam seperti ini?


"Sayang...." sapa Tama menghampiri sang istri.


"Tumben jam segini sudah pulang, biasanya malam." sahutnya Kanaya mengecup punggung tangan suaminya, dan mengambil tas kerja sang suami.


"Kangen..." Tama masih saja memeluk perutnya, dan tidur di pangkuannya.


Aduhhhhh bayi besarku sangat manja, tetapi sangat mengemaskan tidak sebanding dengan penampilan nya yang selalu perpect, tetapi ada sisi orang lain tidak di ketahui

__ADS_1


"Mandi dulu yuk, Nay siapkan air hangat nanti baru tiduran di pangkuan lagi, biar badan mas segar bugar kembali." titah Kanaya membujuk sang suami.


Akhirnya Tama hanya pasrah saja, berjalan gontai ke dalam kamar mandi. Meskipun enggan tetapi semua demi kebaikan, karena dari luar rumah pasti kumannya sangat banyak.


__ADS_2