Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Fikiran kotor


__ADS_3

Kevin menoleh ke arahku, memegang hidungku lalu mencubitnya dengan gemas, "Sebaiknya otak kamu itu di isi dengan ilmu biar bermanfaat, kan sekarang kamu bukan lagi siswa tapi mahasiswa!" tuturnya menasehati.


"Vin, asal kamu tau ya! belajar itu membosankan loh... Aku tuh seringkali bilang mau belajar, sentar lah... Apalah... Ujung-ujungnya main instagram, nonton youtube, dan juga main tiktok!" balasku.


"Cukup! Sini ponsel kamu!"


"Mau ngapain?"


"Kamu tidak perlu tau, kasi aku sekarang!" tegasnya.


Dengan terpaksa aku hanya menurut, mengambil ponselku dari dalam saku, kemudian memberikannya, sungguh aku tidak rela ponselku berpindah tangan lagi ke Kevin.


"Tunggu! Jangan-jangan kamu mau hapus kontak WhatsAppku lagi?" selidikku kesal


"Bukan! Ohh iya aku mau bubur dong! Tolong kamu masakin ya!" pintanya sekilas menatapku.


"Kenapa harus aku?"


"Bulankah kamu mau merawatku?


Aku sakit karena nasi goreng itu, aduh...." Sindir Kevin berpura-pura kesakitan.


"Ishh aku juga tau kalau aku yang salah, tapi kenapa hape aku disita? Please jangan hapus aplikasi aku ya!" rengekku memohon.


"Sudah sana! Cepat buatkan aku bubur aku sangat lapar sekarang!" usirnya seraya berfokus kelayar ponselku, menggeser layarnya seperti mencari sesuatu.


Aku berdiri, sambil menatapnya terus, kemudian melangkah keluar dari kamar dan turun ke ruang dapur.


Setelah selesai, semangkuk bubur aku berikan ke Kevin, dia terlihat sangat santai membaca sebuah buku sambil bersandar.


"Ini bubur kamu makan dulu!"


"Taruh diatas meja aja, aku mau baca buku dulu!" jawabnya membuka lembaran demi lembaran kertas buku.


"Makan dulu selagi masih panas Vin... nanti kalau sudah dingin bisa-bisa nggk enak lagi!"


"Tunggu sebentar! nanti aku makan, tenang saja kalau kamu yang masak pastinya enak!"


"Kamu menghinaku ya? kalau kamu tidak suka masakan aku! bilang saja tidak perlu bilang enak, aku tau aku tidak pernah masak dengan benar!"


"Masakan kamu memang enak Sal...." pujinya.


"Oh kalau begitu makan sekarang!" perintahku tegas.


"Iya-iya aku akan makan setelah membaca buku ini!" elaknya


"Emangnay itu buku apaan?" tanyaku karena tidak sempat melirik sampul buku tersebut.


Seketika Kevin menyelipkan buku itu di belakang bantal tempat ia bersandar.


"Cuman buku kedokteran!" ketusnya terlihat gugup.


Aku curiga dengan gerak-geriknya apalagi saat ia menjawab pertanyaanku dia tak menatapku seperti menyembunyikan sesuatu.


Karena penasaran dengan cepat aku berpindah kesampingnya menyelipkan tanganku masuk kedalam bantal untuk mengambil dan melihat buku yang dibacanya tadi.


Plak.


Sebelum tanganku berhasil mengambilnya tangan Kevin lebih dulu memukul tanganku, "Aku bilang itu buku kedokteran, kamu tidak boleh membacanya!" tegasnya dengan dahi berkerut.


"Kan kamu tau, sekarang aku mahasiswa yang mengambil jurusan kedokteran lalu kenapa kamu melarangku untuk membacanya? Jangan-jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku ya? Ahh apa itu buku mesum? Atau...." selidikku.


"Stop! Sal... Kenapa fikiranmu selalu kotorrr terus?"


"Alllah... Kamu selalu saja menyangkal, berarti dugaan aku bener dong!" serkahku mencari tau lebih dalam.

__ADS_1


"Sudahlah... Kalau aku bicara lagi, nanti fikiranmu tambah kemana-mana! aku mau mandi, tapi awas kalau sampai aku tau kamu mengambil buku itu aku akan menghilangkan tangan kamu! Kamu kan tau aku dokter, jadi aku ahli dalam hal bedah, potong-potong tulang sudah biasa bagiku hahah!" ancam Kevin tersenyum menakutkan.


"Kevin!!! Kamu ngancam aku? Aku kan cuman pengen tau kamu baca apaan!" lenguhku menjerit menyebut namanya.


"Kamu tidak perlu tau! Yang jelas buku itu hanya buku kedokteran!" jelasnya lagi.


Kemudian Kevin masuk ke kamar mandi, sedangkan aku terus menatap bantal tempat buku itu disembunyikan.


"Kevin! Kevin! Dia kira aku bakal takut gitu sama ancamannya tadi! Hahah Salsa dilawan!" ucapku bergumam.


Suara air terdengar berjatuhan didalam kamar mandi , perlahan membuatku dengan cepat melakukan aksi yang sejak tadi kutahan.


Tanganku diam-diam menyelinap di balik bantal sambil terus memandangi pintu kamar mandi, waspada akan datangnya Kevin.


"Ahh ini dia!" lirihku ketika berhasil menarik buku tersebut dari balik bantal.


"What!" aku tercengang membaca judul buku tersebut. Nyatanya buku itu berjudul 'Cara meluluhkan hati cewek keras kepala' lalu apakah yang di maksud itu aku? Apa iya?


Sungguh tak menyangka Kevin rela membeli buku seperti ini hanya untuk mencari sebuah cara agar aku bisa luluh.


Sebelumnya dia memang aneh mulai dari menungguku ketika ingin kekampus padahal waktu itu aku tidak pernah menyuruhnya, apa dia melakukan itu karena petunjuk yang diberikan oleh buku ini?


Lalu apakah perhatiannya juga bukan tulus dari hatinya? Sekarang aku mulai meragukan hal itu.


Aku terduduk dipinggir ranjang, Memegang buku itu dengan erat menunggu Kevin keluar dari kamar mandi.


Ketika Kevin keluar aku langsung menyambutnya dengan tatapan sinis menghampirinya, "Apa ini Vin? Apa ini buku kedokteran yang kamu maksud?" tanyaku mulai emosi.


"Kenapa kamu mengambilnya? Aku kan sudah bilang jangan mengambil buku itu!" bentaknya.


"Heh! Jadi kamu melarangku melihatnya agar aku tidak tau bahwa perhatian yang kamu berikan sebelumnya semua palsu? Begitu!"


Kevin menyipitkan matanya, "Palsu? Apa maksud kamu! Aku tidak mengerti!"


"Alllah Sudahlah Vin kamu tidak perlu pura-pura bodoh di depanku, pasti semua yang kamu lakukan untukku hanya sandiwaramu bukan? kamu melakukannya karena mengikuti arahan buku ini?" selidikku


"Jangan absurd Sal... Aku tidak pernah melakukannya, jujur aku yang membeli buku itu, awalnya aku mengikuti arahannya tapi ternyata tidak berefek sama kamu, jadi aku hanya menyimpannya tapi aku tadi tidak sengaja mendapatkan buku itu lagi di bawah ranjang!" jelas Kevin meyakinkanku.


"Bener?" lirihku.


"Iya Sal... Jika kamu tidak percaya untuk apa aku harus memakan nasi goreng yang sudah basi buatanmu itu padahal aku tau itu hanya akan mendapatkan penyakit, lagian apa yang aku lakukan sebelumnya tidak tertuang dibuku itu! Jadi ini bukan rekayasa tapi real!" tegasnya lagi.


Kevin mengangguk kuat beberapa kali, dia sepertinya sangat serius, "Vin! Aku minta maaf, karena aku sangat keras kepala ku mohon tolong mengerti diriku huhuh" pintaku seraya menangis.


Kevin menarikku ke dalam pelukannya, tubuh yang basah kini menempel ditubuhku, tapi aku tidak perduli malah membalas pelukannya melingkarkan tanganku di perutnya.


"Tidak apa-apa Sal... Aku juga terkadang keras kepala, jadi aku tau Bagaimana rasanya, tidak perlu minta maaf karena aku juga banyak salah sama kamu! Mungkin ini tantangan bagi kita di persatukan dalam ikatan janji suci dan sebagai tantangannya kita harus bisa melawan ego masing-masing! Jangan selalu beranggapan bahwa kamu yang bersalah Oke!" tutur kevin mengelus lembut rambutku.


"Dan juga aku membeli buku itu karena aku tidak tau harus bagaimana menghadapi kamu karena baru kali ini aku berhadapan dengan cewek keras kepala seperti kamu, sebelumnya wanita yang menghampiku itu terlihat saxy, penampilan yang terawat, dan sikapnya semua lembut, tapi kamu malah berbanding terbalik dengan mereka, malah kamu selalu melawan ucapanku, padahal dulu setiap kali aku menyuruh orang-orang disekitarku Pastinya langsung dilkukan dengan cepat!" sambung Kevin mengejek


"Makasih Vin! Makasih telah memilihku, mungkin ini kali pertamanya aku mengucapkan ini selama aku hidup tapi aku ingin kamu mendengarnya baik-baik, aku sangat beruntung di pilih oleh kamu!" ungkapku dalam pelukannya.


"Benarkah? Kalau begitu mana tanda terimakasihnya, aku selalu membantumu loh tapi tidak ada tuh sekalipun tanda terimakasih yang kamu berikan dengan tulus!"


Seketika aku melepaskan diri darinya melangkah agak jauh beberapa meter, "Apa!!! Jangan bilang kamu minta dicium lagi seperti waktu itu! Kalau begitu aku tidak mau, kamu kira bibirku ini apaan!" serkahku kesal.


"Semacam gulali yang bikin candu, membuatku senantiasa ingin selalu ku cicipi!" rayunya.


"Hah! Tapi maaf aku tidak akan senantiasa memberinya dengan suka rela! Bwekk," elakku menjulurkan lidah.


Kevin tersenyum seperti ada makna di balik senyumnya itu, "Lidah kamu juga bikin ketagihan! Apalagi ketika lidah kita beradu! Hehe!"


Aku melongo mataku melotot, "Kevin!!! Dasar mesum! Sejak kapan fikiranmu juga kotor! Bukankah kamu bilang aku yang selalu berfikiran kotor? Lalu apa yang kudengar tadi hah! Ternyata oh ternyata fikiran kamu yang lebih kotor dariku!" protesku.


"Tidak! Fikiran kamu yang lebih kotor!"

__ADS_1


"Kamu Vin! Kamu.... " sekaku


"Kamu Sal... Yang Selalu berfikiran mesum setiap saat!" tuduhnya.


"Ahhh Pokoknya kamu Vin titik!".


"Baiklah! Aku mengalah saja, dari pada gendang telingaku rusak karena suara kamu!" guraunya.


"Kevin! Berani-beraninya kamu menghina suaraku, kamu tau suara emasku ini adalah anugrah dari pada tidak punya pita suara, mending aku yang punya meskipun cempreng!" celotehku.


"Hahah jadi kali ini kamu jujur?"


"Diam! Jangan menguji batas kesabaranku!!!" jeritku marah.


"Cie marah lagi! Dasar si cempreng marah!"


Dia semakin membuatku kesal, hingga aku memegang pinggulnya, mencubit sekeras-kerasnya seakan kulitnya terlepas oleh cubitanku.


"Ahh Sal... Sakit!!! Lepaskan!" lenguhnya menjerit kesakitan.


"Kamu bilang apa? Aku tidak bisa mendengarmu!" aku semakin memperkencang cubitanku membuat Kevin berjinjit karena sakit.


"Sakit!!! Ahh sakit Sal...."


"Heh! Gimana? Sakit kan! Masih berani mencela suaraku?"


"Tidak! Tidak aku tidak akan melakukannya lagi! Ahh... "


Akhirnya aku melepaskan cubitanku, Seketika Kevin menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya padahal yang ku cubit tadi adalah pinggulnya.


"Sal... Perut aku sakit lagi!" ujar Kevin merebahkan diri diatas ranjang.


"Jangan pura-pura, bukannya tadi kamu sudah sehat menemaniku bertengkar?" balasku tak percaya.


"Ini beneran sakit lagi Sal....ahhk! " lirih Kevin meringkuk sambil terus memegang area perutnya


Aku mulai panik, sepertinya ia tidak sedang bersandiwara, "Kevin perut kamu beneran sakit lagi? Terus aku harus gimana? Aku ambilkan kamu obat ya, atau ayo kita kerumah sakit aja! "ucapku menghampirinya.


"Tidak perlu Sal... Sepertinya rasa sakit ini tidak bisa ku tahan lagi, mungkin ajalku sudah dekat! Aku minta maaf atas semua yang ku lakukan padamu sebelumnya, ku harap kamu memafkankanku dari dalam lubuk hati" ungkap Kevin menambah rasa takutku.


"A-apaan sih kok bicara ajal segala! Itu tidak lucu Vin! Jangan bercanda soal nyawa dong!"


"Aku serius Sal... Ini sangat sakit seakan menyerap perlahan jiwaku! Lalu apakah kamu punya kata-kata terakhir untukku?"


"Tidak! Aku tidak punya kata-kata terakhir lagian action kamu Terlalu mengecewakan," cibirku dengan tenang.


"Sal... Kalau begitu sampai jumpa di kehidupan selanjutnya!"


Seketika Kevin kejang-kejang, bola matanya mengarah ke atas, aku sangat terkejut apalagi Kevin seperti mengatakan kata-kata terakhir padaku.


"Ahh Vin! Kamu kenapa? Vin bangun dong! Jangan bercanda ini tidak lucu sama sekali, Kevin bangunnn.... " tanpa Sadar air mata mengalir begitu saja di pipiku, tanganku gemetar mengoyang-goyangkan tubuhnya.


"Hentikan candaan ini sekarang juga Vin! Aku tidak suka kamu bercanda seperti ini, ayo Vin! Bangun kalau kamu tidak bangun aku akan menceraikanmu!" ancamku namun sayang sekali Kevin tak menampakkan perubahan.


Tiba-tiba Kevin menarik nafas panjang hingga dadanya terangkat, kejang-kejangnya perlahan menghilang, dan langsung menutup mata.


"Ke-kevin kenapa kamu malah tidur? Ayo bangun huhuh, Jangan bercanda seperti ini Vin! Aku tidak mau kamu meninggalkanku secepat ini, kita baru saja baikan kenapa meninggalkanku secepat ini!" ucapku menangis tersedu-sedu.


"Jika kamu bangun sekarang! Aku akan menjadi istri yang terbaik untuk kamu! Aku akan melakukan apapun yang kamu mau, kita bisa mempunyai keluarga kecil, bukankah kamu menyukai anak kecil seperti juga? Aku bisa memberikannya asal kamu bangun sekarang! Ayolah Vin berhenti bercanda!" lanjutku terisak.


Walaupun aku terus menguncang tubuhnya, tetapi Kevin tak kunjung bangun, aku sangat syok! Seketika kepalaku teras ingin meledak, jiwaku seakan pergi meninggalkan tubuhku.


Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, secepat inikah Kevin meninggalkanku, tapi ini sungguh sangat cepat bahkan usia pernikahan kita masih seumuran jagung.


Kenapa? Kenapa hidupku sesial ini, dulu berpacaran dengan Willy hanya beberapa jam lalu sekarang pernikahan ku dengan Kevin belum cukup setahun.

__ADS_1


Apa takdir sedang bermain-main denganku? Tapi kenapa harus aku! Ada banyak orang diluaran sana, tapi kenapa mesti aku lagi, dunia sungguh tidak adil bagiku.


Kembali kupandangi Kevin, "Vin bangun! Huhuh jangan tinggalin aku, aku tidak rela, aku belum siap kehilangan kamu! Kevin!!! Ahh jika kamu pergi secepat ini lebih baik aku juga pergi! Untuk apa aku hidup seorang diri jika kamu tidak ada disampingku lagi, dan ku harap kita dipersatukan lagi di kehidupan selanjutnya semoga saja kita bisa membina rumah tangga yang lebih baik, mempunyai keluarga yang sakinah mawaddah warohma! Aku janji Vin!" tuturku.


__ADS_2