Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Berbincang didepan Cermin


__ADS_3

Meskipun ponselnya sudah berada tepat ditelapak tanganku, aku masih ragu untuk membuka, pandanganku terkadang terkecoh oleh suara air didalam kamar mandi.


"Ahh sepertinya aku tidak bisa menahan diri lagi" gumamku penuh tak sabar untuk segera menatap layar ponselnya.


Dengan secepat kilat aku menekan dua kali layar ponselnya yang otomatis langsung menyala, dan ternyata yang tertera dilayar ponselnya adalah deretan foto bayi yang begitu menggemaskan disertai dengan perlengkapan bayi.


Aku begitu terkejut bahkan rasanya ikut tersenyum melihat foto bayi yang di layar ponselnya,


"Ugh... Lucunya...."


Pandanganku bahkan tak bisa terlepas dari foto bayi tersebut, Sambil mengelus perutku dibalik handuk berharap calon bayiku mirip dengan foto bayi yang ada di layar ponselnya Kevin.


Ada rasa tak sabar menanti kelahiran janin yang ada didalam perutku, meskipun nyatanya tanggal kelahiran yang di perkirakan oleh sang dokter masih begitu lama.


Krek....


Pintu terbuka lebar, Kevin keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang masih basah sembari mengelap rambutnya dengan handuk.


Ia terpaku menatapku memegang ponselnya, namun kemudian tersenyum dengan melangkah ke arahku secara perlahan.


"Kamu melihat apa Sayang?" tanyanya.


"Aku... Aku melihat kamu... Ini...." jawabku seraya memperlihatkan layar ponselnya tepat didepan wajahnya, "Ohh... Aku hanya tak sabar ingin menggendong bayi kita walaupun rasanya waktu berjalan begitu lambat, jadi aku mencari tau juga soal perlengkapan bayi dan cara menggendongnya biar aku bisa menjadi sosok ayah yang sempurna nantinya!" tukas Kevin dengan mata serius yang kini berdiri tepat didepanku

__ADS_1


Pandangannya lalu turun ke perutku, mengelus perutku dengan sesekali mendonggakkan wajah menatapku "Hahah sabar ya Sayang! Aku juga tak sabar menantikan kelahiran bayi kita, tapi kita bahkan belum tau jenis kelaminnya!" Sekaku.


"Hm... Kita harus menunggu usia kandunganmu menginjak 3 bulan agar kita bisa melakukan USG!" balasnya dengan suara pelan.


"Yah... Aku tau! Tapi apa kamu tidak masalah soal jenis kelaminnya?"


"Sayang... Kalau soal jenis kelamin, aku tak perduli, baik dia laki-laki ataupun perempuan dia tetap benihku yang berada dalam rahimmu, bukankah jika bayi kita lahir pastinya itu akan menjadi hadiah dari pernikahan kita yang sudah lama kita nantikan? Bahkan muka dari bayi kita nantinya pasti akan mirip dengan kita ya kan?" tambahnya yang kini mengacak pelan rambutku.


"Tadinya aku risih memikirkan soal itu, aku takut kamu mengharapkan anak laki-laki seperti yang sering kudengar dari orang-orang yang mengatakan seorang suami pastinya menginginkan anak laki-laki!" ucapku.


Kevin menggeleng pelan, "Tidak! Aku tidak seperti itu, anak yang lahir dari rahimmu pastinya adalah anakku, dan benih yang tumbuh tentunya adalah benih dari juniorku hehehh!" Ia kembali tersenyum nakal melingkarkan tangannya di leherku.


"Hahah Iya-iya kenapa kamu terus membahas soal juniorlah... Dulu-dulu kamu bahasnya kecebonglah... Terus apa lagi nantinya?" kataku membalas.


"Hm... Nanti ya? Aku akan memikirkannya lebih dulu atau bagaimana dengan penyatuan? Atau adepasran?" pungkasnya kembali membuatku bingung atas ucapannya.


Aku ikut tersenyum, merona memikirkan setiap ucapannya, dengan malu mencolek pinggulnya, "Ihhh kamu nih ya! Pintar banget kalau soal menggoda, udahlahh aku mau mengeringkan rambutku dulu!" Sekaku mencoba bersikap tenang dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Heheh cie... Malu ya? Ehhem... Kalau mau ya bilang aja sekarang!"


"Siapa yang malu! Udah ahh rambutku masih sangat sangat basah!" elakku memutar badan dan berjalan menuju laci yang ada hairdayer didalamnya.


"Tunggu biar aku membantumu!" katanya menahan dan berjalan cepat mendahuluiku menuju laci penyimpanan hairdayer, "Hah! Kamu mau ngapain?" Aku melongo dengan langkah terhenti melihatnya.

__ADS_1


Ia mengeluarkan hairdayer tersebut dan mulai menyalakannya, tak lupa ia juga menarik kursi dan mempersilahkanku duduk, "Duduklah sayang! Biar aku membantumu!" tawarnya.


Dengan masih tercengang seakan kakiku melangkah sendiri kearah kursi tanpa perintahku dan langsung duduk dihadapannya.


Begitu aku terduduk, ia mulai beraksi, berawal dengan mengendus dicuruk leherku " Umm... Kamu sangat wangi sayang! Aku merasa mulai bergairah lagi!" ujarnya.


"Ahh... Vin... Jangan seperti itu, aku merasa geli...." lenguhku dengan sedikit mendesah.


"Hahah Maaf sayang, aku hanya bercanda!" Kevin kembali menegakkan tubuhnya menatap sosokku yang kegelian di dalam cermin.


Kini sosoknya yang berdiri dan aku yang duduk terpampang nyata didepan mataku, pasangan yang bisa dibilang hampir sempurna apalagi hanya menunggu kehadiran tangisan bayi dalam gendonganku.


"Kamu Begitu cantik Sayang!" Matanya tak pernah lepas dariku, begitu pula aku yang menatap pantulan dirinya dibalik cermin, "Kau juga Vin... kau begitu menyanyangiku, perhatian padaku, tapi aku selalu menyusahkanmu!" tuturku meraih tangan kirinya yang mengangggur.


Ia menggenggam tanganku, membungkuk menempelkan wajahnya tepat di pipi sebelah kananku, " Aku tidak mengharapkan sesuatu yang bisa dibilang terlalu dipaksakan Sal... dan aku menghargai yang namanya proses, kita bisa sama-sama seperti ini saja membuatku bahagia, jika kamu beranggapan kalau kamu menyusahkan itu tidak masalah, aku mencintaimu seperti ini dan juga dimasa lalu!" paparnya.


"Kita tidak usah menoleh ke masa lalu lagi, bahkan dulu aku sudah mengatakannya padamu bukan? kamu juga bisa mencoba yang namanya berubah, tapi itu semua terserah kamu, yang mana yang membuatmu nyaman maka aku menghargainya!" lanjutnya berkata.


"Aku tidak tau lagi harus berkata apa selain terimakasih!"


"Lihatlah kita didalam cermin Sal... bukankah kita sudah tampak seperti pasangan yang bahagia? apalagi sebentar lagi kita kedatangan anggota keluarga baru, yah... kita akan menjadi orangtua sayang, punya anak yang begitu lucu-lucu, merawatnya bersama ahhh aku begitu menantikannya!" terangnya lagi.


"Aku baru sadar mulutmu begitu manis dalam berkata ya?" balasku tersenyum menampakkan deretan gigi rapi nan putihku.

__ADS_1


"Ia menegakkan tubuhnya, "Ahh Salsa... kenapa responmu hanya seperti itu, padahal aku baru saja mengucapkan kata-kata yang romantis," rengeknya dengan nada manja.


"Hahah iya... Kamu begitu romantis kok sayang!" balasku


__ADS_2