
Diatas ranjang ia tak hentinya menatapku lekat dengan mata berbinar, "Aku sudah tidak apa-apa sayang! Kenapa kau harus seperti itu, lebih baik kita tidur sekarang! Aku sangat lelah hoah.... " kataku seraya menguap didepannya.
"Kamu yakin? Aku... Aku salah Sayang! Aku minta maaf!" pintanya lagi.
"Iya.... Tidak apa-apa ayo tidur!" ajakku yang kemudian dianggukan seperti anak kecil olehnya.
***
Pagi harinya aku terbangun lebih dulu, meskipun masih ada sedikit rasa mengantuk aku berusaha untuk tetap tersadar dan menyiapkan sarapan untuk Kevin.
Sementara ia masih tertidur pulas, aku sudah sibuk menyiapkan bahan dan mulai memasak.
Ting tong.
Suara bel menyadarkanku membuatku menghentikan aktivitas yang tengah kulakukan saat ini, "Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanyaku pada diri sendiri.
Perlahan aku berjalan meninggalkan dapur menuju pintu, untuk mencari tau siapa tamu yang datang.
Krek...
"Salsa!!! " jeritan seseorang dengan lantang memanggil namaku.
Yah... Dia Lena, dia langsung memelukku sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun, dan seketika saat aku melihat kebelakang Lena, ada 4 orang yang bersamanya, mereka David, Willy, Reno dan juga Dita.
Aku sempat kaget melihat mereka apalagi Dita, "Ahk... Salsa gue kangen banget sama lo!" jerit Lena lagi.
Aku tersenyum masam, "Kalian datang! Ayo masuk!" ajakku mempersilahkan setelah melepaskan diri dari pelukan Lena.
"Ahh oke... Ayo masuk gaes... " timpal Lena.
Begitu kaku sikapku terhadap mereka, bukan karena aku yang berubah hanya saja mungkin karena sudah jarang berkomunikasi membuatku merasa seperti tak lagi akrab dengan para sahabatku ini.
Mereka berlima duduk di sofa, sedang aku menatap mereka satu-persatu dengan terus tersenyum.
Keheningan menghampiri tak ada yang memulai pembicaraan bahkan mereka hanya saling bertukar pandang lalu menatapku.
__ADS_1
"Ohh iya aku akan membuatkan minuman untuk kalian!" imbuhku memecah keheningan.
"Ehh biar gue bantuin lo!" Saat aku berdiri tiba-tiba Dita buka suara, dan dia ingin membantuku.
Aku merasa lebih gugup dari sebelumnya pasalnya ini terlalu mendadak sebab hubunganku dengan Dita belum akur, akan tetapi aku menerima bantuannya kali ini.
"Ba-baiklah...." kataku terbata.
Didapur, aku dan Dita mulai membuat minuman dingin, "Sal... Gimana keadaan lo?" tanya Dita membuatku kaget.
"Ehh... A-aku... Sudah tidak apa-apa! Kalau kamu bagaimana kandunganmu?" ucapku balik tanya.
Perbincangan yang seperti dua orang yang baru saja kenal, namun aku merasa mungkin ini saatnya untukku berbicara dengan baik padanya.
Seketika Dita memelukku sambil menangis sesegukan,"Huhuh Sal... Maafin gue... Gue baru sadar kalau iri cuman buat gue menderita, gue minta maaf Sama lo Sal... Maaf!" lirih Dita.
Aku mengelus punggungnya, "Iya... Aku sudag memaafkanmu Dita, aku tau kamu pasti akan sadar kalau perbuatanmu sebelumnya itu salah!" balasku.
Dita melepaskan pelukannya, "Segampang ini elo maafin gue Sal? Elo seharusnya marah sama gue karena gue yang udah keterlaluan banget sama lo! Huhu"imbuhnya lagi
"Makasih Sal... Elo emang sahabat gue, Ohh iya katanya elo keguguran ya?" Ucap Dita membuatku terdiam sejenak.
"Kamu tau dari mana?"
"Willy yang bilang sama gue dan yang lain, terus dia juga yang ngajak kita buat jengukin elo!" kata Dita.
"Hm... Aku memang keguguran!" lirihku merendahkan suara, rasanya jika ditanya seperti itu ada saja rasa sesak yang hinggap didadaku.
"Sabar ya Sal.... Gue yakin elo pasti bakalan cepat hamil lagi kok!" ujar Dita menenangkanku.
"Iya... Semoga saja! Ohh iya bagaimana dengan kandunganmu?"
"Berkat ucapan lo waktu itu, gue bertekad buat pertahanin bayi gue! Walaupun rasanya sangat berat tapi gue juga pengen banget dipanggil ibu!" Dita berkata sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit agak membesar membuatku merasa iri.
"Sepertinya kali ini giliran aku yang iri sama kamu Dita, kamu bisa menjaga janin kamu, sedangkan aku yang juga sudah berusaha untuk menjaga tapi tetap saja aku ceroboh lagi" paparku.
__ADS_1
Dita menepuk pundakku dengan memberi senyuman cerah, "Elo harus kuat Sal....menurut gue elo itu wanita yang kuat! Jadi jangan karena gagal sekali dan elo udah nggak mau berusaha lagi, gue yakin kok, bakal ada yang terbaik untuk lo kedepannya!" terang Dita membuatku terisak.
"Makasih Dit... Aku tidak menyangka kamu bakal datang hari ini, Ngomong-ngomong bagaimana dengan yang lain, apa mereka sudah tau soal kandunganmu, terus laki-laki yang menghamili kamu apa dia tetap tidak mau bertanggung jawab?" karena sudah sangat penasaran sejak dulu, aku mengajukan semua unek-unek pertanyaan padanya.
"Ehhh mereka udah tau Sal... Tapi kalau orang yang buat gue hamil, sebenarnya dia pernah ngasih gue uang buat gugurin kandungan gue tapi gue nggak mau nerima uang itu dan memilih buat lahirin bayi yang ada diperut gue, dan dia meminta putus hubungan sama gue jadi gue langsung setuju aja dari pada nantinya gue bakal lebih menderita."tutur Dita.
"Aku yakin kamu bakal bisa merawat bayimu Dita" Dia mengangguk dengan yakin.
Beberapa menit berlalu minuman dingin yang kubuat bersama Dita akhirnya siap, aku dan Dia berjalan seraya melempar senyum satu sama lain berjalan menuju meja ruang tamu.
"Ehh kayaknya perang dinginnya udah selesai deh!" sindir Lena menatap kami berdua yang kompak menaruh gelas minuman diatas meja.
Aku terduduk disamping Lena begitu pula dengan Dita, "Sal... Gimana kondisi lo?" tanya Willy bermata sayu.
Pandangan mereka semua seperti menantikan jawaban apa yang akan aku keluarkan, "Kalian tenang saja! Aku sudah agak baikan kok!" kataku.
"Pasti sakit banget ya Sal? Pas lo keguguran ya ampun....gue nggak bisa bayangin gimana rasanya elo nahan sakit!" Lena berkata dengan nada lebay.
"Hush... Sayang! Jangan bicara kayak gitu!" Tegur Reno membuat Lena terdiam.
"Maaf ya kita baru sekarang bisa datang buat jenguk elo!" Ucap Willy.
"Ahh... Kalian datang sekarang juga aku sudah bersyukur banget, makasih ya...." imbuhku.
"Ohh iya Sal... Suami lo kemana?" tanya David.
"Dia masih tidur!" jawabku singkat dengan perasaan sedikit malu.
"Sal... Pasti nyaman banget ya tidur bareng suami!" lirih Lena semakin membuatku malu apalagi ketika teringat adegan mesum Kevin saat mandi.
"Hahah iya...." balasku cengingisan.
Saat suasana sudah mencair tidak seperti sebelumnya, ruang tamu rumahku penuh canda tawa mereka, aku pun seperti itu, terbawa suasana hingga lupa untuk melanjutkan tugasku untuk memasak.
"Sayang! Kamu dimana?" Seketika Aku membatu, mendengar suara Kevin yang memanggilku.
__ADS_1