Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Ketemu Nayla


__ADS_3

Kepergian Dita dan pacarnya meninggalkan luka yang mendalam bagiku, semua cibiran yang ia lanturkan padaku terus saja mengusik ketenangan yang baru saja ku dapatkan dari Kevin.


Bahkan sekarang aku tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menjelaskan pada Dita, karena kesalahpahamannya semakin panjang padaku, belum mendapatkan titik terang sebab ia tak mau mendengar penjelasanku terlebih dahulu.


Aku bengong memandangi nasi goreng yang baru beberapa suap ku makan, dan untuk sekarang rasa lapar itu hilang bahkan nafsu makanku sepertinya juga ikut menghilang.


Dengan lesu aku berjalan ke arah kasir untuk membayar, setelah itu aku berjalan lagi ke arah pintu keluar.


Brak....


Tiba-tiba aku merasa lenganku sakit karena tak sengaja menyenggol seseorang, "Heii di mana mata kamu hah!" tegur seorang wanita yang tak sengaja ku senggol tadi.


"Maaf bu! Saya tidak sengaja melakukannya!" ucapku lalu kemudian mataku mengarah ke depan ibu itu yang ternyata sedang mendorong kursi roda.


Yang duduk di kursi roda itu sepertinya seorang wanita dan dari arah samping aku merasa tak asing dengan wajahnya, walau ada sedikit goresan tapi aku tetap yakin dengan naluriku.


"Kenapa kamu melirik-lirik anak saya!" sekali lagi ibu itu menegurku sontak membuat tubuhku terkinjat kaget.


"Ahh saya... Itu anu.... "


"Dia... Dia mah.... " sahut Wanita yang di kursi roda melirikku.


Wanita di kursi roda itu terlihat langsung panik sambil terus menatapku, aku yang tidak tau apa-apa juga merasa takut, apa aku terlihat sangat menyeramkan karena belum mandi atau apa? Sehingga orang di depanku sangat ketakutan.


"A-aku kenapa?" tanyaku heran sambil meraba wajah serta melirik sekilas anggota tubuhku, tapi tidak ada yang terlihat aneh lalu kenapa dia seperti itu.


"Nayla... Kami kenapa nak! Dia siapa kamu? Apa kamu mengenalnya?" tanya Sang ibu.


"Tunggu, Nayla? Sepertinya nama itu pernah ku dengar tapi dimana? Ahh apa jangan-jangan Nayla mantan Willy yang mengeroyokku dulu?" gumamku dalam hati mencoba menebak.


"Dia siapa Nay... Kasih tau mama?" pinta mamanya lagi.


Nayla malah menangis, berusaha mengangkat jari telunjuknya untuk mengarahkannya padaku.


"Di-dia yang buat Nayla seperti ini mah dia yang bikin Nayla kehilangan masa depan! Semua gara-gara dia!!!" ungkap Nayla menjerit membuat orang-orang yang ada di sekitar ku seketika menyoroti kami.


Aku terkejut, gagal paham dengan maksudnya, lagi pula kenapa dia langsung mengatakannya di tempat seperti ini.


Dan juga ucapannya adalah sebuah fitnah aku tidak pernah melakukan apa-apa padanya lalu kenapa masalah yang ia alami menyeretku juga ? Apa dia sengaja ingin membuatku terluka untuk kedua kalinya?


Ahh Sungguh sial hariku kali ini, masih pagi sudah di hadapkan dengan dua orang yang sangat susah di ajak bicara pakai hati.


Masalah Dita belum kelar dan sekarang masalah baru muncul lagi! Kanapa tidak sekalian Clara datang juga agar aku bisa bunuh diri di tempat karena sudah putus asa dengan semua masalah yang menimpaku.


"Nayla apa maksudmu? Padahal kita tidak pernah mengenal akrab sebelumnya?" serkahku tegas.


"Mah... Jangan dengarkan dia! Dia dalang dari semua peristiwa kecelakaan yang Nayla alami mah... Dia yang membayar orang untuk mencelakai Nayla... Mama harus balaskan dendam Nayla mah... " lenguh Nayla terus bicara omong kosong, memfitnahku sembari melirik ke arah mamanya.

__ADS_1


"Wah... Masih muda kok hatinya kayak iblis sih! Sadia banget, apa begini gaya-gaya anak muda zaman sekarang, penampilannya terlihat polos tapi hatinya... Cihcihcih...." sindir salah satu orang yang mengelilingi kami menyaksikan kebohongan Nayla sambil berdesis.


"Jadi kamu! Kamu yang sudah membuat anak saya seperti ini?" tuduh Mamanya berteriak menggema di hotel ini.


"Tidak! Saya tidak pernah melakukannya sama anak ibu! Justru anak ibu yang dulu pernah membuat saya masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri! " balasku cepat sebelum mamanya bertindak lebih lanjut.


"Kamu bohong! Mah jangan pernah percaya sama dia! Mama balasin aja dendam aku!" pinta Nayla lagi tersenyum jahat.


"Saya mohon percaya sama saya bu!"


Aku memohon terus tapi sepertinya percuma, mamanya Nayla agaknya mempercayai perkataan anaknya, bahkan kini wajahnya memerah dengan kepalan tangan yang sangat kuat seakan mempersiapkan diri untuk menyerbuku.


"Saya tidak percaya sama kamu! Dan kamu harus membayar semua yang terjadi sama anak saya!" raung mamanya Nayla.


Seketika Mamanya dengan sangat emosi menyerbuku seperti yang ku duga tadi, sebelum itu aku tak bisa berkata-kata lagi, mungkin karena dua lawan satu memang tidak sebanding bukan?


Aku sungguh tidak terima dengan fitnah serta penghinaan ini, Nayla memang orang pendendam dan tak punya hati.


Apa salahku sehingga aku harus mendapatkan semua ini, bahkan jika aku bisa memilih lebih baik tadi aku langsung pulang kerumah saja.


Tapi apa daya! Aku tidak bisa lagi mengelak, bahkan jika itu terjadi, semua pastinya akan berakhir seperti ini, aku yang terluka dan menjadi korban.


Aku yang berusaha jujur tapi tidak ada yang percaya denganku, tidak ada yang mau mendengarku lalu untuk apa aku hidup.


Seakan hidupku tak punya arti jika tak ada yang mempercayai, jadi apa aku harus diam saja menerima luka ini.


Mamanya Nayla menarik rambutku, menamparku berkali-berkali membuat wajahku seakan perih serta kaku.


"Kenapa kamu tidak melawan hah! Apa kamu takut?" ucap mamanya.


"Tidak! Aku tidak takut sama sekali, hanya saja aku mau minta maaf dulu sama tante karena jangan sampai tante menyesal berbuat begini sama saya dan pada akhirnya terbaring di rumah sakit! Sebenarnya tadi saya sudah berkata jujur sama tante! Tapi dulu itu anak tante yang menindas saya bersama dengan 5 orang temannya!" tuturku


Plak...


Satu kali tamparan di muka mamanya yang terlihat ngos-ngosan, " Tapi karena tante tidak percaya, baik saya akan melayani tante berhubung saya hanya melawan 1 orang bukannya 5 orang bukankah begitu Nayla... " cibirku.


"Kamu!!! Tidak usah menyebut nama anak saya, dasar pela*ur" kata mamanya.


Plak....


Tamparan kedua untuk kata kasarnya itu, membuat mamanya terkejut sambil mengelus wajahnya hasil tamparanku sedangkan Nayla terlihat gemetar ketika aku tak sengaja melirik ke arah tangannya, "Jangan sembarang menilai orang, wahai mamanya Nayla... Karena jangan sampai kata itu menyindir anak perempuan anda sendiri!" balasku menyindir.


"Cukup Sal... Cukup! Mah ayo kita pergi aja sekarang!" Seka Nayla menengahi obrolanku dengan mamanya.


"Tidak Nay mama tidak akan berhenti sebelum dia terluka seperti yang kamu rasakan!" ucap mamanya.


"Mah... Hentikan." pinta Nayla.

__ADS_1


Tadinya aku yakin mamanya mungkin akan mendengarkan Nayla tapi ternyata dugaanku salah lagi, mamany bahkan menatapku dengan tajam.


"Dasar bocah ingusan! Berani sekali kamu menamparku berkali-kali! Aku akan memberikanmu pelajaran karena memperlakukan orang tua sepertiku, dasar tidak punya sopan santun!" seru mamanya


Kembali dia menjambak rambutku, mencakar-cakar-cakar apa yang berhasil di jangkau oleh jemarinya, bahkan kurasakan leher belakangku sangat perih.


Aki tetap saja diam meski tubuhku terkadang terhempas ke lantai, bahkan terbentur namun aku berusaha menahan sakit hingga sdua security datang memisahkan kami.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku ingin memberikan dia pelajaran yang setimpal karena telah menyakiti putriku!" ungkapnya.


Aku mengela nafas, memandangnya malas, sembari tersenyum meremehkan, "Sepertinya usaha tante bakal gagal kali ini!" kataku menantang.


"Heh! bilang aja kamu memang takut melawan saya buktinya kamu tidak berani melakukan sesuatu sama saya!" balas Mamanya Nayla dengan bangga.


"Ohh takut ya tante! tapi sepertinya saya tidak merasakannya, hanya saja saya tidak ingin melukai tante karena tante sudah sangat tua! takutnya tante bakal encok karena ulah saya! lagi pula tante hanya salah paham karena di hasut oleh anak sendiri jadi saya bisa mengerti itu! dan juga Nay... ingat masalah kita yang waktu itu belum selesai," paparku melirik ke arah Nayla.


"Berhentilah berurusan sama anak saya kalau berani sini lawan saya!" ujar Mamanya lagi berontak melawan security yang berusaha menahannya.


"Sudah hentikan lebih baik kalaian selesaikan di kantor polisi!" seka Pak security.


"Apa!!! ti-tidak usah ke kantor polisi pak! kami sudah damai kok iyakan tante! hehe" elakku dengan terpaksa meminta mamanya Nayla untuk sekali ini saya langsung setuju walau ku tau ujung-ujungnya hanya penolakan yang dapat.


"Baik pak! lebih baik kami selesaikan di kantor polisi biar bocah ingusan itu di penjara sekalian! " sahut mamanya Nayla sesuai dugaanku.


"Tante yang cantik dan awet muda! ayolah kita tidak perlu ke kantor polisi! nanti tante sendiri loh yang malu!" bujukku.


"Percuma kamu melakukan itu, saya tetap akan ke kantor polisi!" tegasnya tidak mau goyah.


Aku kehilangan ide untuk melawan lagi, dan akhirnya aku serta ibu dan anak itu di bawa ke kantor polisi bersama-sama di temani oleh dua security tadi.


Nayla dan mamanya duduk tepat didepanku, sesekali aku mendapati Nayla memandangku, seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Nay... kamu mau bilang sesuatu? bilang aja!" ucapku.


Awalnya Nayla memutar bola matanya menghindari tatapanku, "Sal... apa kamu memang bukan pelakunya?"


"Ya enggaklah... apa aku terlihat bisa mencelakai seseorang sampai separah kamu! aku juga punya perasaan yang tidak tega! meski sudah dilukai orang tapi tetap saja aku tidak berkeinginan punya dendam!" terangku menjelaskan.


"Nayla kamu jangan langsung percaya, siapa tau dia memang pelakunya, nanti kamu terluka lagi, mama tidak mau kehilangan kamu! jadi kamu tenang aja serahkan semuanya sama mama, sebentar lagi kita akan sampai di kantor polisi!" lirih mamanya masih tidak mau mempercayaiku.


Ku pandangi lagi wajah Nayla ternyata dia hanya mengangguk, astaga anak sama mama di depanku ini sebenarnya kenapa? ku fikir Nayla akan membujuk mamanya setelah mendengar penjelasannku.


Sepertinya apa yang di katakan oleh salah satu pepatah yang mengatakan 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya' agaknya sesuai dengan mereka berdua.


Lagi pula kenapa ada banyak orang yang tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu? apa wajahku terlihat seperti pembohong handal? tapi sepertinya tidak!.


sebenarnya aku tidak tau ke kantor polisi hanya saja aku takut menghadapi Kevins serta keluargaku, nanti mereka khawatir apalagi mama! aku takut mama akan syok dan penyakit jantungnya akan kambuh.

__ADS_1


Lalu aku harus bagaimana? apalagi kantor polisi sudah sangat dekat,


__ADS_2