Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Ruang Rawat Mama


__ADS_3

Waktu terus berjalan, dan kini aku sudah sampai di depan rumah sakit dengan Kevin, aku berlari ke arah ruang ICU, sembari menangis di lorong rumah sakit, Kevin yang membawa koper mengikutiku dari belakang


Langkahku terhenti, mataku melotot mendapati seorang lelaki yang tak lain adalah ayah yang kini tengah berdiri di depan sebuah ruangan.


Ayah terlihat gelisah, perlahan aku melangkah menghampirinya yang hanya modar-mandir, "Ayah!!!" panggilku berlari kecil.


"Salsa... Kamu sudah datang sayang!" sahut ayah menyambut.


Tiba di depan ayah, aku langsung memeluknya penuh tangis bercampur rindu dan rasa khawatir.


"Kenapa kamu sangat lama Sal... Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya ayah melepaskanku lalu melihat tubuhku dari atas ke bawah.


"Ayah! Kami pulang!" ucap Kevin yang baru saja datang.


"Ahh iya terimakasih sudah membawa Salsa pulang dengan selamat!" kata Ayah membuat Kevin tersenyum dan meanggangguk.


"Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi sama mama? Kenapa ayah tak mau mengangkat telfonku?" cerocosku bertanya.


"Kamu masuk saja Sal... Lihat sendiri keadaan mamamu!" seka ayah membuatku mengerutkan dahi.


"Kenapa? kenapa ayah tak menjawabku saja, jangan membuatku takut ayah!" lirihku.


Ayah menunduk, sedangkan aku di buat heran karena kebisuan ayah.


Aku semakin penasaran, dan ingin cepat melihat mama, meskipun hatiku jiwaku sebenarnya sangat takut membayangkan hal-hal tak terduga.


Namun aku mencoba menahan diri, bertekad untuk membuka pintu tersebut,


Cleklek



Pintu terbuka lebar, ada sosok mama di atas ranjang pasien yang telah lama tak ku temui, sekian lama kurindukan apalagi omelannya.


Pupil mataku melebar dengan air bening yang berlinang disekitarnya, perlahan aku berjalan mendekat di samping ranjang mama.


Terlihat tubuh serta wajah pucat yang dulunya berisi, tapi sekarang sangat tirus seakan tulang pipi mencuak, tubuh mama juga begity, sangat kurus bak tinggal tulang.


"Mah...." lirihku memanggil mulai terisak.


"Mama bangun! ini Salsa anak nakal mama! please buka mata mama, aku ingin mendengar mama memarahiku karena baru pulang! ayo mah aku tak sabar ingin mendengar celoteh mama!" sambungku meraih tangan mama lalu mengelusnya, mencium, dan membelainya.


Sayang sekali, aku tak mendapat respon, bahkan tangan mama tak bergerak sedikitpun.


"Mah... bangun! Salsa ada disini!!!" jeritku memanggil.

__ADS_1


"Sal... ada apa? apa mama sudah bangun?" Kevin datang dan berlari ke arahku, ia bersama rekan yang merawat mama.


"Dok! mama saya sebenarnya kenapa?" tanyaku cepat kepada dokter.


"Mohon maaf! ibu anda sudah tiada sejam yang lalu!" jawab Dokter tersebut seraya menunduk.


Aku mendengus, "Ha... tidak! dokter pasti bohong! bagaimana mungkin mama saya sudah tiada? itu tidak mungkin!!!" raungku menjerit keras di hadapan dokter.


"Mah... bangun! Salsa sudah pulang, kenapa mama malah meninggalkanku seperti ini? apa mama tidak mau bertemu denganku lagi? apa mama tidak merindukanku? mah... bangun mah... salsa mohon buka mata mama!" aku menangis sekeras-kerasnya, tak percaya dengan mama yang benar-benar meninggalkanku.


Tubuhku seketika lemas hingga terkulai ke lantai, Kevin datang dan berusaha membantuku untuk berdiri.


"Vin... tolong bangunkan mamaku... bantu aku membangunkan mama!!! kamu kan dokter Vin... bantu aku huhuh...." pintaku.


"Bangun dulu Sal...." balasnya.


Aku menurut dan membelai lembut wajah pucat mama, lalu memeluk erat tubuh tak berdayanya, "Mah... bangun... apa mama tak mendengarku? bangun mah... aku mohon, aku ingin membahagiakan mama tapi kalau mama pergi secepat ini bagaimana aku harus membalas pengorbanan mama yang telah membesarkanku? jadi please bangunlah mah!... jangan menakutiku..." imbuhku.


"Apa benar begitu?" Seketika suasana hening, kala ada suara yang tak asing di telingaku, yang sama persis dengan suara mama.


Secepat kilat, aku menatap wajah mama, " Ahh... mama.... syukurlah akhirnya mama bangun juga! aku.... aku kira mama akan meninggalkanku!" Kataku mendapati mama yang kini tersenyum lebar membukaa matanya.


"Ehhem kamu siapa?" tanya mama yang mengangkat sebelah alisnya setelah berdehem.


"Ahh... mama nih... pura-pura amnesia! Ini Salsa mah! anak nakal mama sudah pulang" ketusku menjawab dengan nada manja.


Prok... prok... prok...


"Hahah bagaimana Sal... apa prank ayah sama mamamu bisa di anggap berhasil?" Ayah datang sambil tertawa keras di iringi dengan tepuk tangan.


Aku tercengang, "A-apa! prank? jadi ini hanya prank? terus berarti Kevin juga berbohong kepadaku?


"Ahh tidak! aku tidak ada campur tangan disini? tapi aku sudah tau kalau ini hanya prank, sebab aku tau dari mata mama tadi yang gerak-gerak, hahah bagaimana bisa orang meninggal matanya masih bergerak, kan mustahil!" elak Kevin.


"Kevin benar Sal... dia juga tidak tau soal ini!" pungkas ayah.


"Ahh aku belum mengerti ayah... ini terlalu rumit! aku sama sekali tak bisa memikirkan rencana ayah dan mama!" keluhku.


"Terus kenapa mama bisa sangat pucat? mama juga jadi kurusan," omelku.


"Sebenarnya mamamu sudah sering keluar masuk rumah sakit Sal..., kata dokter itu karena terlalu sering begadang, makan tidak teratur, kolesterol mama mu juga jadi pemicu dia masuk terus kerumah sakit! beberapa kali penyakit jantungnya kumat lagi" ungkap ayah.


"Kenapa bisa seperti itu?" bingungku.


"Ini karena mama terus memikirkanmu nak, mama sangat rindu, mam begitu merindukanmu siang dan malam, bahkan mama pernah memimpikanmu!" jelas mama.

__ADS_1


"Tapi bukannya mama marah pada saat aku menelfon dan mengatakan berada di tempat jauh?"


"Yah... mama memang sempat marah, tapi seiring berjalannya waktu, mama jadi sadar kamu pergi karena mungkin tak bahagia disini, kamu ke tempat yang sangat jauh karena mengejar kebahagiaanmu! jadi mama berusaha ikhlas demi kebahagiaanmu" ujar mama.


Aku menggeleng,"Tidak mah... aku juga seringkali merasa menyesal karena pergi ke tempat itu, hingga itu malah membuatku tertekan fan tak bisa merasakan kebahagiaan!" imbuhku.


"Uhh... sayang, maafkan mama yah!"


Mama memegang tanganku lalu mengelusnya dengan kelembutan.


"Salsa juga salah mah, maaf!" balasku.


"Ehh kalau begitu saya keluar dulu!" ujar dokter yang merawat mama, yang sejak tadi hanya menjadi penonton.


"Mah! jadi dokter tadi juga ikut andil dalam masalah ini?" tanyaku ketika sang dokter sudah pergi.


"Hahah iya.... mama menyogoknya!" jawab mama terkekeh.


"Apa! menyongok? bisa-bisanya yah mama melakukan itu! nanti ayah marah besar loh!" candaku melirik ayah dari sudut mataku.


"Hahah tidak mama hanya bercanda, mama memang meminta bantuan dokter tadi, tapi kemudian dia tiba-tiba takut karena Kevin mengancamnya! Hahah Kevin lain kali jangan seperti itu sama rekanmu!" saran mama kepada Kevin.


"Iya mah! kan Kevin cuman khawatir sama mama!" balasnya.


"Ohh iya... Vin... kamu sudah melakukannya belum?" Seketika mama membuatku kembali mengerutkan mata, tidak mengerti dengab perkataan mama.


"Iya Nih... ayah udah nggak sabar loh gendong Kevin junior heheh!" seka Ayah.


"Ho'oh... mama juga udah pengen gendong cucu!" sambung mama.


"Hah! apa yang mereka maksud adalah anak? ya ampun kenapa mama harus mengatakannya didepanku dan Kevin!" gerutuku malu dalam hati.


"Sebenarnya Kevin sudah hampir menanam benih, tapi ayah tiba-tiba menelfon jadi yah... nggak jadi lagi!" lenguh Kevin.


"Aish... jadi ayah menghalangi kalian yah... aduh lain kali ayah tidak akan menelfon kecuali kalian duluan yang menelfon ayah!" ujar ayah.


"Apa sih Vin! tidak usah mengatakannya didepan ayah sama mama!" protesku menahan malu.


Hahaha....


Ayah, mama serta Kevin tertawa Keras mendengar ucapanku, "Vin... kayaknya Salsa malu tuh!" mama menggodaku.


"Tenang aja mah! kalau aku sama Salsa sudah berada di rumah, aku bakal hati-hati menanam benihnya biar mama sama ayah cepat menimang cucu!" jawab Kevin yang juga menggodaku.


Wajahku memanas, mendengar Kevin membahas soal benih, "Kevin... hentikan..." raungku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.

__ADS_1


Ahahaha....


Mereka kembali tertawa keras membuat terciduk.


__ADS_2