
Ketika keluar dari rumah sakit, aku tidaklah pulang kerumah, mengingat Bagaiamana Kevin memperlakukanku aku bahkan tidak ada niat sedikitpun menginjakkan kaki lagi di rumah itu.
Lalu aku harus kemana dengan keadaan ini, jika pulang kerumah mama mungkin saja masalahnya akan tambah banyak, apalagi mama yang selalu saja marah padaku membuatku seakan malas untuk ke sana.
Mata yang sedikit memerah, rambut mulai acak-acakan perlahan menarik perhatian orang yang melintas melewatiku.
Pada saat itu aku melihat sebuah toko, lalu aku mampir terlebih dahulu untuk membeli sebuah topi dan masker untuk menutupi wajahku.
Aku menghela nafas panjang di balik masker, menitihkan air mata yang mendalam, membuatku seolah putus asa dengan semua ini. Jujur! Aku tidak lagi punya siapa-siapa, aku tak punya orang lain bahkan seorang teman saja meninggalkanku.
Baru beberapa langkah menjauh dari rumah sakit tubuhku seakan goyah, rasa lapar bercampur lelah menghampiriku.
Hingga kemudian aku melihat sebuah Cafe aku mampir sejenak di sana, penampilanku yang sedikit tertutup membuat para pengunjung menatapku penasaran.
"Mau pesan apa mbak!" tanya pramusaji menghampiriku sambil menyodorkan buku menu.
Semantara aku tertunduk, seraya berkata," pesan yang paling murah aja mbak sama air putih!" ucapku memesan tanpa membuka buku menu terlebih dahulu.
Yah... Sepertinya aku benar-benar berhemat menggunakan uang yang di beri Kevin ketika di kamar hotel, sebab aku tidak tau kehidupan yang seperti ini akan berlanjut sampai kapan.
Pada saat Makanan sudah datang aku membuka maskerku, tanpa ragu mulai menyendok makanan yang ada di hadapanku.
Mataku berkaca-kaca sambil mengunyah makanannya, terkadang menutup mata membiarkan linangan air mata kembali mengalir.
Makanan yang biasanya terasa sangat enak bahkan bisa dengan lahap ku makan tapi kini entah kenapa semuanya terasa hambar, sangat-sangat hambar yang membuatku seolah ingin muntah.
Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tanganku agar suara tangis yang tertahan tak bisa keluar dan di dengar oleh pengunjung yang sedang makan.
"Salsa.... " panggil seseorang di depanku dan langsung menarik topi yang menutupi kepala serta sebagian wajahku.
Kini wajahku terekspos, dengan kesal aku menatap orang tersebut ternyata dia Willy.
"Will... Kenapa.... "
"Sal... Kenapa lo bisa di sini? Dan kenapa elo nangis?" tanya Willy memotong ucapanku.
Aku memalingkan wajah menghindari dia yang menatapku, dengan sigap ia terduduk di bangku depan yang masih kosong.
Kini kami duduk berhadapan, tatapan mata yang di penuhi tanda tanya sangat terlukis jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Sal... Gue tanya! Kenapa lo nangis? Lo punya masalah atau apa?" ujarnya masih bertanya.
Aku masih terdiam, jika ku jawab
pertanyaannya itu takutnya suara tangisku tak bisa ku tahan lagi, jadi aku hanya menggeleng kepala beberapa kali, bahkan bibirku bergetar karena hal itu.
Seketika Willy berdiri, sambil menarik kursinya menempatkan kursi tersebut tepatdi sampingku.
Ketika ia mulai terduduk tangannya langsung mengelus lembut punggungku, aku tau dia mencoba membuatku merasa sedikit tenang.
"Sal... Elo punya masalah? cerita aja sama gue...." lirihnya.
Perlahan aku mulai merasa agak tenang, menarik nafas lalu menghembuskannya, topi yang ada di tangan Willy dengan cepat ku ambil dan memakainya.
Kemudian aku berdiri hendak meninggalkannya, tapi tanganku seketika di tahan, "Elo mau kemana? Gue kan nanya sama lo!" imbuhnya.
Tanpa mengeluarkan kata, aku menepis tangannya lalu berjalan ke kasir untuk membayar.
"Sal.... " panggil Willy.
Pada saat di delan kasir aku mengeluarkan uang dari dalam saku celana yang ku pakai, tapi kemudian Willy datang dan langsung membayar tagihan makananku.
"Biar gue yang bayar Sal... " sahutnya.
"Nggak usah sal... Lo simpan aja! Ohh iya lo kenapa nggak ngomong sih! Elo punya masalah apa?" untuk yang kesekian kalinya Willy bertanya dengan pertanyaan yang sama, bahkan dia terus memandangiku di sela langkah kami semenjak meninggalkan meja makan sampai sekarang di depan cafe.
"Will makasih ya!" ucapku seraya ingin berbalik badan dan melangkah.
"Ehh tunggu dulu! Elo mau kemana? Biar gue anterin elo!"
"Ahk nggak usah Will nggak usah!!!" tolakku.
"Lah... kenapa? Bensin gue banyak kok jadi elo tenang aja nggak bakal mogok di tengah jalan! Jadi ayo... " guraunya mengajakku.
"Aku... Ehh maksudnya, gue... Nggak usah nebeng sama lo! Gue mau naik taksi aja" elakku lagi.
"Nggak usah bohong sama gue Sal...gue tau elo punya masalah, pasti lo nggak punya uang sekarang! Apalagi tadi gue lihat elo makan makanan yang tidak sesuai sama selera lo! Gue tau semuanya Sal... Karena gue udah kenal lo udah lama!" omel Willy dengan wajah memelas.
"Lo bilang udah kenal gue udah lama? Tapi kenapa kemarin elo juga nggak percaya sama penjelasan gue, lo kira dengan kepergian lo itu gue bakal baik-baik aja?" imbuhku kesal.
__ADS_1
"Maaf Sal... Maaf! Aku tau aku salah, seharusnya gue percaya sama lo! Tapi David udah jelasin semuanya ke gue, termasuk perasaannya ke Dita, kemarin gue pergi karena terbakar api cemburu! Gue minta maaf karena nyakitin perasaan lo!" kata Willy.
Aku sesegukan akibat menangis, dan kali ini Willy datang sebagai orang yang selanjutnya menghiburku, berkata dia mempercayaiku, tapi ada sedikit rasa trauma yang kurasakan seolah ketakutan dengan kekecewaan yang seakan terus membayangiku.
Bug...
Dengan kesal aku memukul lengannya, namun tidaklah keras, "Elo harusnya dengerin dulu penjelasan gue! Tapi kenapa semua orang malah nyalahin gue! Kenapa mereka semua langsung beranggapan kalau gue yang salah, padahal gue yang jadi korban tapi kenapa kalian tak satupun yang bisa mengerti!" ungkapku sambil menangis seraya terus memukul lengan Willy.
Dia hanya diam saja, sesekali ia memejamkan mata menerima pukulanku, di wajahnya tampak ada rasa penyesalan.
"Sekali lagi maaf Sal...." ujarnya Lalu menarik tubuhku dalam pelukannya, tapi dengan secepat Kilat aku menghindar, karena jangan sampai ada yang melihatku apalagi ini masih tidak jauh dari rumah sakit Kevin.
"Ahk... ma-maaf Sal... gue nggak bermaksud kayak gitu!" ujarnya menarik kembali tangan yang tadinya ingin menarik tubuhku.
"Nggak apa-apa kok!"
"Ohh iya lo mau kemana? biar gue anterin elo!" ucapnya menawarkan diri.
"Gue nggak tau Will... gue nggak tau mau kemana!" lenguhku lirih.
"Hah! kenapa elo bisa bicara kayak gitu! bukannya.... Ahh lebih baik elo masuk ke mobil gue dulu biar elo bisa bicarain semua keluhan lo sama gue!"
Tanpa merasa ragu lagi, aku segera masuk ke dalam mobilnya, dan kini ia menatapku dengan mata sayu, memandangku penuh kekhawatiran tanpa berkedip sekalipun.
"Sal... sebenarnya elo kenapa? kenapa tadi lo nangis-nangis sampai-sampai makanan lo aja nggak habis bukannya biasanya elo doyan makan? kasi tau ke gue Sal... jangan lo pendam sendiri! Gue kan pernah bilang sama lo gue siap jadi tempat sandaran lo di saat suka maupun duka, dan ini kesempatan gue buat kabulin pernyataan gue dulu! jadi elo bisa luapin semua amarah lo sama gue juga!" tutur Willy mendekatkan pundaknya padaku, tanpa melepaskan pandangannya, ia hanya terus tersenyum menungguku mendaratkan kepala di pundaknya yang ia siapkan itu.
"Tapi Will... " ujarku ragu.
Dia tak meresponku melainkan memegang sisi kepala bagian kiriku yang perlahan mamiringkannya dan menempel di pundaknya yang terasa hangat.
"Cerita ke gue sekarang Sal... gue yakin kalau elo udah ceita pasti persaan lo juga bakal ikut membaik!" terangnya memberi saran.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan, "Sebenarnya gue nggak di percaya sama suami gue Will dia lebih percaya sama mantan pacarnya yang jelas-jelas udah khianatin dia! bahkan dia sendiri ngusir gue!, ehh tapi bukannya elo juga nggak percaya ya kalau gue udah nikah?" paparku lalu bertanya padanya.
"Jujur! awalnya gue sempat nggak percaya tapi kemudian gue sadar elo nggak mungkin bohong jadi gue yah... berusaha strong aja nerima kenyataan ini!" lenguhnya.
Mendengar pernyataannya itu, aku malah merasa bersalah, dia seperti itu juga karena ulahku, "Maaf Will... "
"Loh kok minta maaf sih! ya udah lah yang lalu biarlah berlalu, tapi keputusan gue tetap sama Sal... gue bakal rebut elo dari suami lo itu! gue mohon jangan halangin langkah gue apalagi lihat lo yang menderita kayak gini otomatis gue juga ikut ngerasain hal yang sama kayak lo!" ungkap willy sontak membuatku tercengang.
__ADS_1
"Gue tau, gue nggak tau malu karena berusaha merebut istri oranglain, tapi tak apa! biarlah orang di luar sana mencibir gue sesukanya yang penting gue udah bersatu sama lo! memiliki keluarga kecil yang bahagia! itu harapan gue Sal... dan hanya elo yang bisa mengabulkannya, lagian seharusnya suami lo yang di anggap perebut karena dia yang rebut elo dari gue! " Oceh Willy berlanjut.
"Willy.... " lirihku menyebut namanya.