
SALSA POV
Sesampainya dirumah, aku masih salah tingkah setiap Kevin menatapku apalagi ketika mengingat kejadian tadi.
Wajahku tak hentinya terasa panas pada saat ia tak sengaja menyentuhku, seakan ada sesuatu yang mencolek pinggulku rasanya menggelitik dan membuatku ingin terus tersenyum.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin yang kini mengeluarkan semua sayuran di atas meja makan yang ada didalam kantong kresek.
"Gu-gue nggakpapa!" jawabku terbata-bata
"Nah... Sekarang semua bahan sudah ada, jadi cepatlah masak!" pintanya.
"Oh... Oke gue nonton konten masak dulu di youtube yah, soalnya gue cuman taunya bikin nasi goreng! Kalau yang lain mah! Takutnya gosong lagi heheh!" jelasku terkekeh kaku.
"Jadi maksudnya kamu mau belajar masak dulu di youtube? Salsa! Berhentilah main-main sekarang juga! Aku sudah sangat lapar!!"
"Ho'oh gue tau lo lapar! Tapi gue beneran nggak tau masak makanan selain nasi goreng doang!"
Sepertinya Kevin mulai kesal lagi, terlihat ketika bibirnya berdecak dengan menghembuskan nafas.
"Minggir! biar hari ini aku yang masak!"
Kevin tiba-tiba berjalan menyenggol melewatiku, dia dengan percaya dirinya mengambil celemek di dalam rak dan memakainya.
Aku perlahan berjalan menghampirinya, "Kevin! Lo yakin mau masak! Lo lagi nggak bercanda kan? Masa lo yang kayak monster bisa masak dari pada gue sih kan nggak mungkin!" ejekku.
Cling cling... Seketika Kevin mengasah pisau dengan suara gesekannya yang seperti di film-film psycopath sangat menyeramkan dan terlihat di dirinya seakan mempunyai hawa pembunuh.
Apalagi ketika melihat wajah datar dan seriusnya yang melihat ujung pisau yang terlihat berkilau.
Aku merinding takut, memilih untuk mundur sejauh mungkin darinya hingga akhirnya aku mencapai meja makan dan bersandar dipinggirnya.
Namun Kevin berbalik badan dengan pisau di tangannya yang tadi di asah, dia melangkah mendekatiku, aku syok melihatnya tanganku gemetar ketika memandangi ekspresinya yang menakutkan itu.
"Ohh tuhan kenapa Kevin mau kesini? Apa jangan-jangan dia mau bunuh gue pake Bawa-bawa pisau segala! Ya ampun gue masih muda dan terlalu imut untuk mati! Akh..." batinku menangis membayangkan hal tersebut.
"Ke-Kevin! Lo-lo mau apa?" lirihku ketakutan.
Aku menjadi tegang ketika ia semakin dekat tanganku tak bisa ku kontrol lagi dari rasa gemetar.
Tiba-tiba dia memegang pundakku, "Minggir, aku mau mengambil sayurannya!"
Aku melongo kaget, ketika menyadari dia menghampiriku tadi ternyata hanya ingin mengambil sayuran yang ada di belakangku.
"Ja-jadi lo cuman mau ngambil sayur doang?"
Ucapku tak menyangka.
"Hm... Kamu kira aku mau ngapain lagi!" tanyanya heran.
"Enggak kok! Gue cuman nanya! Oh... Iya gue bantu lo yah, gue bisa kok Motong-motong apa aja!" kataku menawarkan diri.
"Motong-motong organ lo juga gue siap baget! Heheh" batinku.
"Tidak usah! Takutnya kamu malah akan motong jari-jari kamu!"
"Mana ada! Gini-gini gue ahli tau, kalau soal motong-motong doang!" Sekaku memuji diri sendiri.
"Ya sudah! Kalau begitu kamu bisa potong wortelnya!"
"Asiapp!!!"
Dengan cepat aku mengambil pisau, lalu bersiap memotong wortel tersebut, namun ternyata tanganku masih belum berhenti gemetar.
"Tangan kamu kenapa?" tanya Kevin ketika melirik dan menyadari ada yang aneh dengan tanganku.
"Ta-tangan gue nggak kenapa-napa kok!" elakku berbohong.
Aku terpaksa berbohong karena tidak mau dia mengetahui penyebab tanganku ini gemetar, sebab tak ingin mempermalukan diriku lagi dihadapannya.
"Ya udah! Kamu duduk saja! Biar aku yang masak!" ucapnya lembut.
__ADS_1
Aku tercengang mendengarnya mengatakan itu, seolah dia memberiku ucapan yang tulus dan penuh kasi sayang.
"Sana pergi! Lama-lama kamu bisa tidak punya Jari kalau hanya memotong wortel saja tanganmu sudah gemetar!" cibirnya.
aku langsung terkejut Mendengarnya lagi, baru saja memujinya tapi sekarang dia malah menghinaku? Ingin sekali rasanya menarik kembali kata-kata pujianku tadi, aku menyesal sangat-sangat menyesal mengatakannya.
"Yak!! Terserah gue dong! Mau tangan gue yang gemetar kek, kaki gue yang gemetar atau bibir gue yang gem... "
Plak... Kevin menekan kedua bahuku, "Diamlah! Lama-lama aku akan menjahit mulut berbisamu itu! Jadi duduk sekarang!"
Kevin mendorongku kebelakang dan pas mengenai kursi, aku terduduk dengan posisi ya baik tanpa sadar aku hampir saja jantungan karena kufikir akan terjatuh ke lantai.
"Lo bilang apa tadi! Mulut gue berbisa? Hello Kevin! Ternyata lo belum sadar diri ya! Ya mulutnya berbisa itu elo bukan gue! Lagian kalau gue bicara tuhh lembut banget kayak gula-gula kapas umm yummy!" tuturku.
Tuk tuk tuk... Suara memotong wortel terdengar sangat keras, juga tak ada respon Kevin ketika mendengar celotehku.
Aku mulai bosan hanya terus memandangi punggungnya dari belakang, sangat sibuk mondar-mandir.
Menguap dan melenguh malas, menempelkan pipi kanan dan kiriku diatas meja makan secara bergantian hingga leherku terasa ingin patah, namun percuma, rasa bosanku tak kunjung menghilang.
Hingga tercium bau sedap, tubuhku seolah terkinjat ingin mencari sumber bau tersebut.
Aku berdiri, berjalan mengendus mengikuti jejak baunya, yang ternyata berasal dari masakan Kevin.
"Kevin! Masakan lo kok baunya enak banget sih!"
Aku memujinya lagi, tanpa sadar tanganku melayang menghampiri panci, mengambil sedikit makanan yang ada diatas panci, karena ingin sekali mencicipinya.
Akh... Aku menjerit sakit sembari menarik kembali tanganku, "Salsa! Kamu ini sudah gila ya! Dasar ceroboh!" gertak Kevin mendekatiku.
"Uhh uhhh tangan gue sakit! Itu panas banget sumpah!"
"Namanya juga dimasak pake api jadi panas! Kamu itu tidak bisa sejam saja untuk diam? Selalunya berbuat masalah, sini tangan kamu!"
Seketika Kevin menarik tanganku yang sejak tadi ku kibas-kibaskan karena perih dan sangat sakit.
"Lo mau apain tangan gue?"
"Mau dipotong biar nggak nakal lagi!" ancamnya membuatku langsung takut dan berusaha menarik tanganku, tapi tidak bisa karena dia memegangnya terlalu erat.
Aku seolah tak bisa bernafas, air ludahnya yang terasa menyelimuti jemariku seakan memberikan rasa hangat dan perlahan membuat rasa sakitnya berkurang.
"Ke-Kevin! Stop!!!" teriakku tak bisa lagi menahan gejolak yang terus menggelitik tubuhku.
Akhirnya Kevin mengeluarkan jemariku, aku merasa melayang sekarang tak mampu berfikir lagi, Salah tingkah? Mungkin perasaan ini akan terus menerus ada ketika Kevin seperti itu padaku, memberikan perhatian yang seolah sangat tulus dan mampu membuatku terhipnotis.
Aku menyembunyikan tangan dan Jemariku di dalam saku celana jeans yang kupake, jemari yang masih hangat karena berasal dari mulutnya kini ku kepal di dalam sana.
Saat ini aku sangat gugup, merasa risih tidak tau mau melakukan ataupun mengatakan sesuatu padanya.
Lidahku seakan keluh, mataku berkeliling mencari ide yang bisa kukatakan, namun percuma semakin keras aku berusaha, semakin dangkal pula pemikiranku.
"Bagaimana? Tangan kamu sudah tidak sakit lagi kan?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng kuat dengan cepat sampai-sampai daging pipiku ikut bergetar karenanya.
"Kalau tangan kamu masih sakit! Kamu bisa merendamnya dengan air dingin!" imbuhnya lagi.
Aku kembali tak mengeluarkan kata-kata melainkan menggelengkan kepala mewakili ucapanku.
"Kamu bisu? Kenapa tidak mau bicara?" selidik Kevin heran dengan sikapku.
Aku terus saja menggeleng kepala tak menyahut di setiap pertanyaannya.
Kevin mendesah, "Hah! Salsa lebih baik kamu duduk saja! Ini sebentar lagi selesai kok!"
Kali ini aku mengangguk sementara Kevin tampak masih bingung dan gilirannya yang menggelengkan kepalanya pelan.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah bingung Kevin, meskipun ku tau asal kebingungannya adalah aku sendiri, tapi jujur! Aku memang sangat malu untuk sekedar membalas ucapannya, seakan jantungku ingin melompat keluar dari sarangnya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya masakan Kevin kini tertata rapi dihadapanku, semua tampak menggiurkan, sangat lezat hingga berkali-kali aku menelan ludah sendiri.
__ADS_1
Aku ingin sekali mencicipinya tapi takut kejadian tadi terulang lagi, apalagi mengingat tanganku yang dilumatnya sekarang sudah sembuh dari sakit meskipun masih ada sedikit bekas yang memerah.
Aku hanya bisa terus menatapnya dengan tangan masih ku sembunyikan di bawah meja makan.
"Kamu tidak lapar?" tanya Kevin, aku menggeleng, "terus kenapa kamu hanya menatapnya! Kalau tidak suka, Ya sudah! kamu bisa kembali ke kamar kamu sekarang!" ujarnya lagi.
Dengan kesal aku memukul meja makan, membuat Kevin terkejut dan hampir membuat nasi yang ada di sendok depan mulutnya terjatuh.
"Gue lapar!!!" balasku malu
"Ya udah makan aja sekarang!"
"Tapi gue takut sayurnya masih panas!" rengekku
"Ohh... Ini ambil aja punyaku, kayaknya sudah tidak terlalu panas!" jawab Kevin yang seketika memberikan piring berisi nasinya tepat dihadapanku.
"Lo serius? Tapi bukannya ini udah termasuk sisa ya! Ogah ahh gue nggak mau makan makanan sisa lo! " ucapku bergidik jijik.
"Kamu itu tidak ada rasa terimakasihnya ya! Udah mending aku kasi yang tidak panas lagi! Lagian kenapa kamu harus merasa jijik padahal sebelumnya kita sudah berciuman dan bertukar saliva!" jelas Kevin membuatku terkejut.
"Kevin! Udah deh, nggak usah bahas itu lagi oke gue makan sekarang!"
Tanpa basa basi lagi dengan cepat aku melahap makanan yang ada diatas piring dengan rakus, dan semua itu di saksikan secara live oleh Kevin.
"Gimana? Masakan aku enak kan?"
"Masakan lo enak banget sumpah! Lo belajar masak dari mana sih?" pujiku dengan mulut yang terisi makanan, namun masih bisa membalas pertanyaan Kevin.
"Kamu tidak perlu tau, Ohh iya... Ujian tes masuk universitas akan berlangsung besok jadi kamu harus siap!"
Aku menelan paksa makanan yang tadinya di di dalam mulutku secara tiba-tiba karena kaget ketika Kevin mengatakan itu.
"Besok?? Ya ampun gue belum belajar!
Ahh mati gue, nulis-nulis aja belum pernah oh My God... " keluhku.
"Terserah! Pokoknya sebentar malam kamu harus belajar!" perintahnya.
***
Malam hari tiba, aku masih tidak tau harus mempelajari apa karena semua bukuku berada dirumah mama, dan dirumah ini aku tak punya buku bahkan satu pun tidak ada sama sekali.
Tok tok tok... Ketika terdengar ketukan, aku langsung berlari membukanya,
"Ini semua buku bekas ku dulu! Kamu bisa mempelajarinya!"
Aku kaget saat Kevin langsung memberikan tujuh buah buku yang sangat tebal dan besar setebal kamus besar.
Mataku melotot, "Sebanyak ini? Kevin mana bisa gue baca buku ini kalau waktunya cuman semalam doang!"
"Kalau kamu tidak mau membacanya, ya sudah lebih baik kamu tidak belajar dan akhirnya tidak Lu-Lus!! "
Dengan perasaan terpaksa aku menerimanya, lalu dia berbalik badan bersiap untuk pergi, "Oh... Satu lagi! Tangan kamu masih sakit?" tanya Kevin ketika dia kembali berbalik badan kearahku.
Aku tidak menjawabnya melainkan langsung menutup pintu karena aku sangat malu ketika dia mengatakan itu lagi.
Perlahan aku melangkah menuju salah satu meja yang ada didalam kamar ini, beratnya buku tak kurasakan mungkin karena fikiranku yang terus mengingat setiap untaian kata lembut yang hari ini kudengar keluar dari mulut Kevin.
Hingga kakiku menambrak kaki ranjang dan itu sangat sakit, buku yang tadinya ditanganku kini terjatuh semua dan berakhir menimpah kakiku.
Akh... Sial... Aku meringis berteriak-teriak namun sayang sekali rasa sakitnya malah bertambah ketika kakiku tak sengaja kusentuh.
Apa mungkin tulangnya bergeser atau patah? Aku takutnya seperti itu, tapi mengingat besok ujian tes aku mencoba mengabaikannya dan kembali memungut semua buku yang berceceran.
Malam semakin larut aku terus membaca dan membaca hingga penglihatanku menjadi buram, awalnya aku merasa setiap buku yang di berikan Kevin sangat membantu karena didalamnya sudah terdapat semua pengertian kata yang tak mudah kupahami.
Namun terkadang ada juga yang sampai sekarang tak bisa masuk kedalam otakku.
Aku sangat capek, punggungku nyeri bahkan leherku saja sakit dan sangat susah untuk sekedar menoleh.
Aku meletakkan pulpen yang ku pake, memandangi tanganku yang sudah kaku berjam-jam hanya memegang pulpen.
__ADS_1
Tiba-tiba mataku tertuju pada jari bekas dari mulutnya Kevin, aku terus memandanginya mengelusnya dengan ibu jari, tanpa sadar aku tersenyum.
Ternyata dia juga mampu mengobati luka sepeleh ini, tapi bagaimana jika mengobati rasa kecewa? Apa dia juga bisa mengobatinya? Fikirku dalam lamunan.