Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Harus sabar!


__ADS_3

**Maaf! telat Up lagi, dunia nyata terlalu menyibukkan😊🙏


HAPPY READING 😊**


.


.


.


Aku panik tak tau harus bagaimana, ingin ke rumah sakit rasanya tidak mau ketempat itu, "Ahh... Lebih baik aku menelfon mama!" gumamku setelah mendapat ide dan langsung meraih ponselku yang tergeletak diatas ranjang.


Aku menekan kontak mama dengan tak sabaran, beberapa detik menunggu hingga panggilan itu akhirnya terhubung.


"Halo mah!"


"Ehh iya sayang! Ada apa kamu menelfon mama? Apa kamu sakit? Atau apa, apa jangan-jangan Kevin masih menjahilimu?" omel mama menyahuti panggilanku.


"Ahh tidak mah! Aku hanya ingin bertanya sama mama! waktu awal kehamilan, mama biasanya punya gejala apa aja?" tanyaku.


"Apa! Kamu sudah hamil? Wah makasih tuhan akhirnya sebentar lagi mama bakalan jadi seorang nenek, makasih Sal... Makasih sayang!" cerocos mama sebelum aku menjelaskan.


"Tunggu dulu mah, aku kan belum bilang sudah positif hamil!" serkahku.


"Ahh iya juga yah! Terus kenapa kamu bertanya seperti itu sama mama! Apa jangan-jangan Kevin belum menyentuhmu sama sekali? Ahh anak itu bagaimana bisa ia menahan diri dari kamu yang sangat cantik ini sayang! Atau kamu yang selalu menolaknya!" umpat mama panjang kali lebar.


"Dengerin Salsa ngomong dulu mama! Masalahnya bukan disitu, tapi Salsa udah telat datang bulan 3 minggu mah, terus ada bercak darah di celana Salsa!" jelasku.


"Jangan-jangan kamu beneran hamil sayang, itu udah termasuk ciri-cirinya, oh iya kamu sudah cek pake tespack belum? Atau kamu beli tespacknya dulu diapotik biar kita tau!" usul mama.


"Kalau begitu Salsa beli dulu ya mah, nanti kalau hasilnya udah ada Salsa bakal nelfon mama kok!" kataku.


Aku mengakhiri telfonan kami, dengan cepat aku bersiap-siap untuk ke apotik.


***


Sepulangnya dari apotik, perasaan was-was sudah mulai ku rasakan, aku bahkan takut jika hasilnya mengecewakan.


Kini aku berada dalam kamar mandi, perlahan aku meneteskan urine ke tespack tersebut, mataku terpejam rasa gugup kian bermunculan.


Terlebih dahulu aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kemudian membuka mata secara perlahan.


"Ga-garis dua?" mataku melebar mendapati hasil dari tespack tersebut yang ternyata ada dua garis berwarna merah.


"A-aku hamil? Ahh aku beneran hamil?" gumamku ngirang tak menyangka.


Entah bagaimana perasaanku saat ini, semua bercampur aduk jadi satu, bahagia, terharu dan tak menyangka, aku menangis sambil memandangi tespack tersebut.


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu! Aku... Huhuh aku jadi ibu... " Tangisan penuh haru terus ku lanturkan sambil mengelus perutku yang masih datar.

__ADS_1


"Aku harus menelfon Kevin!" ujarku hendak menelfon, namun tanganku terhenti ketika kefikiran sesuatu.


"Ahh tidak-tidak, lebih baik aku menelfon mamanya dan juga mama, kalau soal Kevin aku akan memberinya kejutan saja mumpung sebentar lagi dia ulangtahun heheh!" sekaku.


Ku ambil ponselku di saku switer yang ku kekanakan, lalu menelfon mama terlebih dahulu, "Halo mah aku positif hamil!"


"Wah selamat yah sayang! Mama bahagia dengarnya, terus kamu sudah memberitahu Kevin belum?" sahut mama dalam telfon.


"Belum mah!" jawabku.


"Lah... Kenapa belum?".


"Aku mau memberinya sebuah kejutan kecil mah, karena besok adalah hari ulangtahunnya." tuturku.


"Ohh terserah kamu sayang! Mama senang deh akhirnya hubungan kalian sudah seperti pasangan suami istri bahkan mama iri sama kalian yang masih muda karena semangat tempurnya masih wow heheh!" ungkap mama mulai berfikiran aneh.


"Mama ihh, Ya udah kalau begitu Salsa mau menelfon mama Mira dulu yah!" ucapku yang langsung di iyakan oleh mama.


Beberapa jam kemudian aku telah menelfon mamanya Kevin dan dia mengatakan hal yang Hampir sama oleh mama, Yah semestinya ini memang momen yang paling ditunggu-tunggu oleh mereka, dan kini aku hanya harus menunggu bagaimana bahagianya Kevin ketika mendengar kabar ini.


Aku tak sabar, sangat-sangat tak sabar namun terlebih dulu aku harus menyiapkan kue ulangtahunnya.


***


Malam hari tiba dan ini sudah lewat tengah malam, akan tetapi Kevin belum juga pulang hingga larut malam aku menunggunya, namun mengingat kondisiku sekarang aku mulai lelah dan mengantuk.


Ku matikan lampu, lalu bersembunyi di balik pintu, seperti dugaan Kevin datang dan mulai membuka pintunya, tak lupa ia menyalakan lampu yang baru saja ku matikan.


"Happy birthday to you sayang!" ucapku mengagetkan melompat keluar dari persembunyianku.


Kevin tersenyum semringah menampakkan gigi rapi nan putihnya kepadaku, "Ya ampun Sal... Kamu mengagetkanku saja!"


"Heheh aku sengaja!"


Ia meniup lilinnya, lalu kemudia merangkulku memuju sofa, " Nah... Sayang, aku ulangtahun terus kadoku mana?" pintanya melirik ke segala arah, sambil mengambil kue yang ada ditanganku dan menaruhnya di atas meja.


"Maaf aku belum sempat membelinya!" Jawabku memelas.


"Aish aku kecewa, tapi tetap saja aku menginginkan sesuatu!" imbuhnya malah membuatku bingung.


"Apaan!"


"Aku sangat lelah Sayang! Dan aku sangat merindukan tubuhmu!" balasnya.


"Hah! Maksud kamu...."


Dia tak menjawab, malah mendekatkan wajahnya ke wajahku, semakin dekat hingga membuatku mengendus, lalu mendorongnya pelan, "Vin... Mandi dulu, kamu kan baru pulang!"


"Iya nanti aja! Lebih baik kita melakukannya dulu baru aku mandi!" pungkasnya.

__ADS_1


"Ihh kamu jorok! Kalau kamu tidak masuk bersihin diri sekarang, lebih baik kamu kembali kekamar kamu!" ucapku kesal.


"Oke-oke aku akan mandi heheh!" cengirnya.


Sesaat setelah Kevin mandi, ia keluar dengan hanya memakai handuk diatas dengkul, ia berjalan kearahku, "Aku sudah mandi ayo kita lakukan sekarang! Aku sangat merindukan tubuhmu Sal... Begitu pula dengan juniorku!" rengeknya manja.


Aku tak menjawabnya, hanya membungkus diriku kedalam selimut, tanpa sadar Kevin merangkak naik ia ingin menarik selimut yang ku pakai.


"Sal...." panggilnya lirih kembali mendekatkan wajahnya begitu dekat hingga aroma sabun mulai tercium di hidungku.


"Aku tidak mau melakukannya Vin!"


"Kenapa?"


"Karena aku hamil!" jawabku cepat


menatapnya serius.


Dia malah berdecih, sambil tertawa pelan, "Hahah jangan bercanda deh Sal... Apa kamu harus melakukan ini untuk menolakku? Tapi kenapa, bukannya kita sudah sering melakukannya hayo...." godanya.


"Aku serius Vin!"


"Kalau begitu mana buktinya!"


Aku mengambil sesuatu di balik bantal dan itu adalah tespack yang ku gunakan tadi, tespack itu ku perlihatkan didepan mata kevin.


"Ka-kamu serius sudah hamil?" ujarnya melongo kaget.


Akhirnya iya turun dari ranjang, namun ia kembali terduduk di tepi ranjang dengan mengacak rambutnya.


Aku heran dengan ekspresinya, "Vin! Kenapa kamu seperti itu? Apa kamu tidak bahagia mendengarnya," aku mendekatinya seraya berucap.


Tiba-tiba ia menoleh penuh air mata, "Aku bahagia Sal... Sangat bahagia, aku sampai menangis karena terharu sebentar lagi kita akan punya anak huhuh" lirihnya.


"Terus kenapa kamu harus mengacak rambutmu tadi?" aku mengerutkan dahi.


"Aku seperti itu karena tidak bisa 'melakukannya' aku kira sepulangnya aku dari rumah sakit, aku akan menikmati tubuhmu lagi!" lenguhnya.


"Tapi bukannya ini lebih membahagiakan!"


"Iya Juga! Tapi aku tidak bisa melakukannya selama kurang lebih 8 bulan, ahh itu sangat lama Sal...." sambungnya masih melenguh.


"Hahh sabar sayang! Itu tidak akan terasa lama, kan kurang lebih 8 bulan itu kita bakalan kedatangan anggota keluarga baru!"


"Hm... Hadeh ternyata kecebongku malah membuatku susah!" Kevin memukul dahinya.


"Berhenti mengatakan Kecebong Vin... Setiap kali kamu membahasnya aku malah ingin tertawa hahaha!" ucapku.


"Hahah baiklah-baiklah ahh aku sangat senang Sal... Makasih sayang!" balasnya.

__ADS_1


__ADS_2