
Kevin cemberut, sementara aku tak bisa lagi menahan tawa melihatnya memasang wajah seperti anak-anak.
Begitu menggemaskan hingga aku berdiri dan menghadap kearahnya, dengan menempelkan kedua tanganku ke pipinya, "Ugh... Suamiku kenapa menggemaskan sekali hah!" ungkapku berlagak gemas.
"Umm..." tanpa ku duga Kevin malah menarik tubuhku kedalam pelukannya, "Aku memang menggemaskan, dan pastinya memuaskan bukan? Heheh!"
"Ya... Ya... ya... Dasar nakal!" kataku yang juga melingkarkan tangan di pinggulnya.
Ting tong...
Suara bel berbunyi nyaring menyadarkanku dan langsung melepaskan diri dari dekapannya, "Vin... Sepertinya ada tamu! Cepat pakai pakaianmu laly keluar bukain pintunya, kan rambutku masih basah!" suruhku.
"Ahh tidak apa-apa, aku bisa keluar seperti ini! Mungkin yang datang adalah mama!" serkahnya.
Mataku melotot memandangi penampilannya dari bawah keatas, "Tidak boleh! Kamu dilarang keluar jika seperti itu!" Tegasku tak terima pasalnya ia hanya memakai handuk sebatas lutut, lagian aku juga tidak tau siapa kira-kira yang datang bertamu.
"Loh... Kenapa?" ucapnya dengan nada nan polos.
"Pokoknya tidak boleh! Tamunya pastu menunggu kok kalau ada sesuatu yang benar-benar penting!" balasku lagi.
Ada perasaan tak rela jika ada orang lain yang melihat tubuh setengah telanjangnya, hingga aku berfikir untuk menyuruhnya memakai baju terlebih dahulu, entah ada apa denganku hingga berkata seperti itu padanya.
"Baiklah aku akan memakai baju dulu, tapi bagaimana dengamu?" timpalnya menatap rambutku yang masih basah.
"Tidak apa, ini cuman butuh beberapa menit lagi baru selesai!" jawabku membuat ia mengangguk dan berjalan menuju lemari.
Sedangkan aku juga begitu, duduk kembali didepan cermin dan mulai mengeringkan rambutku.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Kevin pamit untuk keluar lebih dulu membuka pintu untuk tamu yang sudah menekan bel beberapa kali sebelumnya.
Tak lama setelah kepergiannya, aku juga sudah selesai, " Pergi kamu!!!" Kevin terdengar berteriak dengan lantang seperti sedang mengusir orang dan suara itu bersumber dari luar.
Aku yang mulai penasaran berlari kecil keluar untuk mengetahui jawaban dari rasa penasaranku, "Sebenarnya siapa yang datang?" gumamku bertanya pada diri sendiri.
Selang beberapa langkah, kini terpampanglah dua sosok manusia yang satu adalah Kevin dan satunya lagi adalah seorang wanita, "Clara..." panggilku dengan nada berbisik, langkahku pun terhenti melihat pemandangan yang begitu membuat emosiku perlahan bermunculan.
Apalagi melihat Clara yang yang berlutut dihadapan Kevin sembari memeluk kedua kakinya Kevin yang terlihat emosi.
"Cih... Aku bilang pergi..." teriaknya kembali mengusir namun sayang sekali Clara tak mau melepaskan pegangan tangannya di kaki Kevin. Aku yang muak, berjalan cepat kearah mereka berdua, "Clara kamu ngapain datang kesini lagi?" jeritku langsung terbawa emosi.
Clara yang melihatku, bahkan belum juga melepaskan tangannya, " Ohh kamu akhirnya datang ya? Sorry ya Kevin yang bukain pintunya untukku mungkin dia sudah menanti kedatanganku!" katanya dengan percaya diri.
"Hah! Dasar wanita kurangajar lepaskan tangan kotormu dari kakiku!" Dengan keras Kevin berjongkok dan mendorong Clara agar menjauh.
Ahh... Lenguh Clara yang terhempas, "Cepat keluar dari sini! Atau kau mau aku yang menyeretmu hingga ke jalan?" tanya Kevin terdengar mengancam.
"Sepertinya, kali ini kamu benar-benar akan kecewa pasalnya janinku baik-baik saja, bahkan aku sekarang bahagia berkat benih yang diberikan oleh Kevin sebentar lagi aku sudah menjadi seorang ibu, bukankah begitu sayang!" imbuhku menatap Kevin dengan mesra.
"Apa! Itu tidak mungkin, jelas-jelas aku melihat sendiri kau terjatuh begitu keras sampai perutmu sakit, bagaimana bisa janinmu baik-baik saja hah! Kau pasti berbohong..." seka Clara bangkit seraya meremas rambutnya.
"Kenapa aku harus berbohong, padahal janinku memang benar tidak apa-apa!" Elakku lagi.
"Clara sepertinya kau harus kerumah sakit jiwa untuk memeriksakan kejiwaanmu! Aku yakin kamu saat ini yang tidak baik-baik saja!" saran Kevin.
"Ja-jadi kamu menganggapku gila Vin? Hah! Tidak aku masih waras aku melakukan ini karena memprjuangkan cintaku ke kamu! Aku tidak gila... Aku sama sekali tidak gila oke..." jawabnya yakin.
__ADS_1
Namun Kevin acuh tak acuh mengalihkan pandangannya, "Kalau begitu sebaiknya kamu pergi dan jangan datang kesini lagi"
"Vin... Dengarkan aku, aku sudah bercerai, dan aku siap mengandung anakmu, sedangkan Janin yang dikandung Salsa sangat lemah kan? Kalau begitu kamu bisa mencobanya denganku, aku rela memberikan semua, aku rela Vin..." bujuk Clara memohon kepada Kevin yang sejak tadi tak mau menatapnya.
"Kenapa kamu begitu percaya diri kalau janin yang ada dalam kandunganku begitu lemah Clara!" ketusku.
"Aku tau karena aku yang mendorongmu!" ucap Clara.
Plak...
"Jadi kamu mengakuinya sekarang?" timpal Kevin menampar keras wajah sang mantan,
"Tidak bukan itu maksudku Vin!" elaknya, "Terus apa? silahkan pergi dari hadapanku sekarang!" usir Kevin penuh amarah.
"Kamu sudah berapa kali menamparku Vin? padahal aku melakukan ini semua karena kamu, tapi kenapa kamu tidak mau lagi melihat perjuanganku? kenapa kamu tidak menghargaiku sedikitpun" lirih Clara mulai terisak.
"Bagaimana bisa aku menghargaimu Clara, kamu sendiri yang membuat dirimu begitu murahan, bahkan tak segan melukai orang, aku malah merasa muak dengan sikapmu yang seolah-olah tak merasa bersalah!" tutur Kevin.
"Oke-oke... aku akan mengubah semuanya, seperti yang kamu mau, tapi kamu harus kembali sama aku dan tinggalkan dia!" BalasNya.
"Heh... itu tidak mungkin terjadi! aku tidak akan meninggalkan orang yang begitu kucintai demi orang seperti kamu!" tukas Kevin.
"Terus aku harus bagaimana supaya kamu meninggalkan dia Vin huhuh!" Clara mulai menangis, "Apapun yang kamu lakukan, itu hanya akan menjadi sia-sia Clara jadu berhentilah bertindak yang membuatku semakin ingin membunuhmu!" cekamnya.
"Ini semua gara-gara Kamu Salsa...." Teriak Clara mendekatiku seakan ingin langsung menerkam, tapi Kevin dengan gesitnya menghalagi dengan memegang kedua tangan Clara.
"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh Salsa sedikitpun, Sini kamu...." Kevin menggertakkan gigi sambil berkata, lalu menarik Salsa keluar dari pintu mendorongnya lalu dengan cepat Kevin masuk kembali menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
Bug.... bug.. bug...
"Kevin buka pintunya!" teriaknya dari luar, "Salsa... aku tidak sabar menunggu pertemuan kita selanjutnya, kamu berdoa saja agar kita tidak berpapasan lagi ya hahaha!" ancam Clara didepan pintu.