Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Menangis Lagi


__ADS_3

Kevin dengan penuh ketegasan terus saja menolak untuk membiarkanku bertemu dengan Clara padahal aku ingin sekali memberi pelajaran yang setimpal padanya.


"Lebih baik kita pulang sekarang!" Kevin menengadah ia terlihat kesal memberiku tatapan intens.


Terpaksa aku menurut, lagian suasana dirumah lebih nyaman daripada terbaring dirumah sakit.


***


Tiba dirumah, mama menyambutku dengan pelukan namun seketika aku menangis membuat mama memadangiku, "Nak! Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya mama mulai mengusap air mataku.


"Huhuh mah! Aku keguguran." Isak tangisku pecah dihadapan mama, "Apa! Ke-kenapa bisa? Bukannya kemarin sebelum pergi kamu masih baik-baik saja?" pekik mama dengan kagetnya.


"Ma-maaf mah! Ini semua terjadi karena Salsa terlalu ceroboh huhuh maaf!" Kataku dalam tangisan.


"Jangan terus menyalahkan dirimu Sal...." Seka Kevin yang tadinya berdiri disampingku kini membelai lembut rambutku dari belakang.


"Terus! Apa kalian tidak pulang semalam itu, apa karena Salsa di rumah sakit, begitu?" mama tercengang seperti tak percaya.


"Kami minta maaf mah! Semalam kami memang menginap dirumah sakit karena kemarin Salsa di operasi koret, dan kami tidak memberitahu mama sebab takut mama syok!" Jawab Kevin dengan suara pelan.


"Tapi Seharusnya kalian tetap menelfon mama!" kesal mama menjerit.


Aku malah terus menangis melihat mama yang kesal dan Kevin yang tak tau lagi harus berkata apa, Tiba-tiba mama mendekatiku, dengan tatapan binar beliau memelukku erat.


"Berhentilah menangis nak! Mama tau perjuangan seorang wanita ketika hamil itu sangatlah berat! Tak apa jika kamu gagal, insyaallah nanti akan ada hal baru yang lebih baik! Jadi tidak usah menangis yah!" bujuk mama penuh kelembutan.


Semakin mama berkata seperti itu, tangisku juga tak bisa ku bendung, "Huhuh mah! Aku... Aku sangat bodoh kan?"

__ADS_1


"Jangan seperti itu sayang.... kamu harus tetap semangat! Anggaplah ini pengalaman pertama kamu mengandung jadi untuk yang kedua nantinya kamu harus lebih berhati-hati lagi!" imbuh mama melepaskan pelukan lalu mengusap lagi air mataku.


"Ya udah! Kamu masuk istirahat saja! Mama mau memasak, ohh iya apa kamu mau mama memasakkanmu bubur?" tawar mama yang ku balas dengan gelengan kepala.


"Tidak mah! Aku belum lapar, aku hanya ingin istirahat saja."


Mama menangguk namun sebelum itu beliau menepuk pundakku lalu berjalan menuju dapur.


Aku menatap datar ke arah Kevin, ia memberiku tatapan sayu, "Jangan menangis sayang!" usapan lembut tangannya mendarat di wajahku bekas air mata yang tak kunjung kering.


Ia membimbingku berjalan menuju kamar, langkahku bahkan terasa sangat berat sekarang dan dia dengan sabarnya berjalan pelan menyesuaikan langkahku dengan langkahnya.


Di dalam kamar, aku langsung merebahkan diri diatas kasur, Kevin juga beranjak setelah membantuku berbaring, ia agaknya mengambil handuk didalam lemari dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.


Aku menghela nafas memandangi langit-langit kamar, perlahan menutup mata hingga suara isak tangis mulai muncul dari mulutku.


Aku mendonggakkan wajah, tiba-tiba melihat ke arah cermin panjang yang ada di meja riasku.


Kulangkahkan kaki turun dari ranjang dan berjalan kearah cermin itu, ada sosokku didalam sana yang tampak begitu menyedihkan.


Wajah yang kusam Tanpa polesan make up sedikitpun, mata sembab dengan bulu mata berdempetan akibat air mata.


Aku meraba wajahku, sesekali memejamkan mata dengan menghela nafas panjang, pandanganku lalu turun kearah perut yang tampak sangatlah datar dan ukurannya tak jauh dari sebelumnya.


Ahkk.....


Aku berteriak sangat keras didepan cermin, melampiaskan kesedihan yang tak bisa ku ungkapkan dengan hanya sebuah kata.

__ADS_1


Huhuh...


Terus menangis hingga tenggorokanku rasanya kering, tanganku kukepal berdiri tegak, "Ada apa Sal? kenapa tadi aku mendengar suara teriakan?" Kevin datang dari dalam kamar mandi, tanpa berbalik badan menatapnya, aku terdiam tak merespon pertanyaannya.


"Sal!!! ada apa? kenapa kamu tidak menjawab?" Lagi-lagi Kevin bertanya.


Dengan tidak sabaran Kevin memutar tubuhku menghadapnya, "Ada apa?" katanya.


Awalny aku tertunduk tak ingin menatap matanya, "Kamu kecewa sama aku kan Vin? kamu marah kan sama aku, iya kan? Jujur saja sama aku Vin! jangan seperti ini! jangan mengabaikanku, setidaknya kamu harus bicara tidak perlu kamu memendamnya huhuh aku tidak mau kamu mengabaikanku Vin... aku tidak mau....!" ungkapku


"Sal... siapa yang mengabaikanmu? Aku kan sudah bilang di rumah sakit kalau, Yah... aku awalnya memang marah tapi jika aku terus-terusan marah apa janin kamu akan kembali? tidak kan! jadi ayolah sayang tidak usah beranggapan kalau aku mengabaikanmu!" jelas Kevin.


"Terus kenapa tadi kamu tidak banyak bicara?"


"Tadi? tadi itu aku diam karena aku fikir kamu mau langsung istirahat jadi aku kira lebih baik aku juga membersihkan diri! apa karena itu kamu bilangnya aku cuek?" Ucap Kevin mengangkat sebelah alisnya.


"Yah... aku... aku sangat takut kamu masih kecewa dan marah Vin! huhu aku takut kamu juga pergi dan... dan aku...."


Ucapanku seketika terpotong sebab Kevin menarik tubuhku dalam pelukannya, "Maaf! aku minta maaf kalau aku salah! tapi ingat jangan berfikir kalau hanya karena ini aku meninggalkanmu! karena aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu!" tegas Kevin berkata.


"Jangan meminta maaf Vin!" balasku


"Aku tau kamu sangat jujur dan menepati janji! dan aku tau kamu tidak salah melainkan ini semua terjadi karena aku yang ceroboh" batinku.


Pelukannya semakin erat penuh kehangatan meskipun air dari rambutnya masih basah ikut membasahiku juga.


Aku harap, kebahagian seperti ini bisa berjalan terus kedepannya tanpa hal rumit yang terkadang membuatku gila.

__ADS_1


__ADS_2