
Ditengah keramaian para pelanggan, ada yang sibuk berbincang, berfoto atau hanya sekedar duduk sambil menyantap makanan yang ada dihadapannya.
Aku mencari sosok Willy, mataku berkeliling hingga ada seseorang yang berdiri dan melambaikan tangan memanggilku.
"Sal...." panggilnya.
Aku berjalan menghampirinya, sambil berfikir apa niatnya menemuiku, "Silahkan duduk Sal... Lo apa kabar?" sapanya dengan tersenyum ramah.
"Ahh aku baik kok! Kapan kamu kembali kesini?" jawabku mulai terduduk dengan berusaha bersikap tenang.
"Ehh... Elo... Ahh gue tau pasti ini karena elo udah punya suami yah!" katanya yang mungkin menyadari cara bicaraku.
"Gue sampainya kemarin, ahh rasanya adem banget yah kembali ke negara asal sendiri, walaupun kondisinya nggak sama kayak dulu!" sindirnya berkata.
"Ohh iya Will... Katanya kamu mau bilang sesuatu ya? Emangnya soal apa?"ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Ahh itu... Itu cuman alasan gue doang kok! Maaf gue bilang kayak gitu biar elo bisa datang kesini, jujur setelah elo pergi gue kesepian Sal... Rasanya gue udah bosan hidup sendirian!" ungkapnya dengan tatapan sayu.
"Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa sama kamu Will... Sebab aku terlalu banyak menyakiti perasaanmu dan aku sadar akan hal itu, tapi aku memang tidak bisa kembali menjadi sosok yang kamu impikan, cintaku yang dulu biarkan itu menjadi momen bersejarah bagi kita dan sejarah itu tidak akan bisa terulang baik kini maupun nanti, jadi aku minta maaf!" tuturku membalas.
"Gu-gue paham kok Sal... Gue aja yang masih nggak bisa lupain elo padahal gue udah tau kalau elo udah nikah dan punya suami yang benar-benar luar biasa percaya sama lo! Gue salut sama dia Sal... Dan elo beruntung karena punya suami kayak dia!" katanya terdengar nada yang agak kecewa.
"Hm... Makasih Will... Dan sekarang aku sudah mengandung!"
"Ja-jadi maksud lo? Elo ha-mil???" Willy menganga, matanya melotot mungkin karena kaget atau apa aku sama sekali tak bisa menebak arti dari ekspresinya.
"Wah... Cie... Selamat ya Sal... Sebentar lagi elo udah jadi seorang ibu!" ucapnya memberi selamat tapi di balik kata itu ia terkadang tersenyum masam.
__ADS_1
Aku menatapnya sekejap, dengan terburu-buru ia meminum air digelas yang ada dihadapannya.
Uhhuk uhhuk....
"Will... Kenapa kamu harus minum seperti itu! Kan jadi tersendak kan!" tegurku memberinya beberapa lembar tissue untuk mengelap cimpratan air di sekitar mulut serta tangannya.
"Uhhuk... Gue nggakpapa kok Sal... Gue cuman kaget aja karena elo udah hamil... Sekali lagi gue ucapin selamat, dan kayaknya gue emang nggak ada harapan lagi yah... Imbuhnya lirih.
Aku tertunduk, tak ingin lagi-lagi menatap wajah penuh kecewanya, rasanya itu semakin membuatku merasa bersalah terhadapnya.
"Salsa....." panggil seseorang terdengar melengking dari arah belakang membuatky menoleh mendapati Lena, David dan juga Reno.
"Ehh Ka-kalian?" sahutku terkejut atas kedatangannya.
Lena langsung memelukku, disela aku masih tercengang, "Ahh.... Salsa.... Lo kemana aja, gue kangen banget sama lo! Kenapa elo nggak pernah hubungin gue hah! Apa elo lupa sama gue?" ucapnya memelukku dengan erat.
"Lena! Aku juga rindu kok! Maaf aku memang tidak pernah menghubungimu karena aku takut kamu masih kesal denganku!" balasku seketika membuat Lena melepaskan pelukannya dan menatapku serius.
"Kan lo tau sendiri kalau gue marah itu nggak lama kok! apalagi kalau gue udah baca komik, lah hilang dah tuh kekesalannya gue!" lanjutnya, sementara aku tersenyum dengan sikap Lena yang masih ceplas-ceplos.
"Ehh duduk dulu!" ucap Willy mempersilahkan.
"Ahh iya makasih ya Will lo udah undang kita kesini, pokoknya gue seneng banget bisa ketemu sama Salsa..." ujar Lena kegirangan.
"Jadi kalian datang kesini karena di ajak Willy?" kataku.
"Iya! ohh dan gue lupa ngasih tau lo Sal... karena pasti elo belum tau kan? sekarang gue udah nggak jomblo lagi... hebeh!" Tukas Lena setelah berkata ia melirik Reno dan memeluk Reno dari samping.
__ADS_1
"Apa! ja-jangan bilang kalau kalian pacaran?" pekikku terkaget.
"Iya Sal... duo bucin udah bersatu!" seka David.
"Yah... gitu deh... cinta bisa datang dari mana aja! dan sekarang gue udah dapatin bidadari cantik yang selalu buat hati gue berbunga-bunga setiap kali lihat dia!" bucin ala Reno sontak membuatku, David serta Willy menghela nafas bersamaan.
"Wah... gue salut bro sama lo! pertahanin terus dan selamat mengungkapkan kebucinan masing-masing!" kata Willy.
Beberapa menit berlalu, Willy memesan makanan, sementara menunggu makanan tersebut datang, Kami terus mengobrol dan tanpa ku sadari ada seorang wanita yang tidak asing bagiku duduk bersebelahan dengan meja kami.
"Ehh Salsa...." panggil wanita tersebut.
"Clara?" aku terkinjat kaget, dengan kehadirannya, sosok yang tak ingin sama sekali untuk ku temui bahkan hari ini atau di masa depan.
"Dia siapa Sal?" tanya Willy.
"Ahh dia...."
Clara berdiri dan menghampiri kami berlima, "Halo... aku Clara sepupunya Salsa... ehhh sepertinya bukan lagi, karena aku sudah bercerai dengan kak Syam! salam kenal yah... kalian ini sepertinya sahabat-sabahatnya Salsa yah! Ohh iya Kalian pasti belum tau yah! kalau Salsa itu sudah bersuami lo..." Papar Clara seolah-olah datang ingin membuat mereka menjauhiku.
"Kita-kita udah tau kok tante...." ucap Lena sontak membuat tawaku ingin pecah.
"Siapa yang kamu panggil tante hah!" Kesal Clara melotot.
"Ehh sorry-sorry apa saya yang salah ya? tapi keriput tante emang udah banyak jadi saya kira umur tante udah tua!" kata Lena dengan nada polosnya.
"Berhenti mengataiku tante, dasar bocah kurangajar, apa kamu tidak lihat aku ini masih muda!!" raung Clara menjerit.
__ADS_1
"Aduh... jangan marah dong tante... tuh keriputnya nambah tuh...." ejek Lena membuat Clara menggertakkan gigi
Seketika Willy berdiri untuk menengahi, "Ehh kayaknya soal yang seperti ini nggak usah di panjang lebarin deh! nggak enak bisa-bisa gangguin pelanggan lain!" Seka Willy membuat Clara dengan kesal menghentakkan kaki dan kembali ke kursinya.