Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Aku Kenapa?


__ADS_3

"Bangun sekarang, ada yang mau aku katakan!" ucapnya lagi.


Aku mengerutkan dahi memandanginya dengan malas, namun aku berfikir untuk membuatnya sedikit merasa bersalah karena ulahnya tadi.


"Hehehe, gue mau ngerjain dia ahh, siapa tau bentar gue bisa ngakak!"


"Gue nggak bisa berdiri~, tuulungin dums, angkat gue keatas kasur~" regekku manja.


Aku berharap Kevin akan menolongku, dan jika dia sudah mengangkatku aku bisa langsung menampar wajah datarnya, fikirku.


Mataku berbinar sembari terus memandangi dia yang berdiri mematung. Namun ketika aku mulai menunduk, tiba-tiba sebuah tangan kekar mengangkat tubuhku, awalnya aku kaget tetapi lama kelamaan aku tersenyum.


Aku kira dia tidak akan menolongku, aku mulai merenggangkan jemariku bersiap untuk menampar wajah datarnya namun seketika niatku tertunda tatkala melihat wajah maskulinnya, ahhk sial mataku malah ikut terpukau.


Bugggg


"Akhh lo...."


Aku kesal sekarang Kevin bukannya membaringkanku dengan hati-hati tapi malah menjatuhkan tubuhku yang sontak membuat pantatku terasa berdenyut.


Aku menyesal tidak jadi menamparnya tadi, tanganku sangat sakit, mungkin karena tadi tidak sengaja terbentur.


Aku terus meringis, tetapi dia bahkan tak bertanya soal itu, aku geram lalu mengepalkan tangan, ingin sekali rasanya mencakar wajah itu, wajah yang membuatku menunda balas dendam yang ku pendam.


Tapi aku harus sabar, karena sebentar lagi dia akan menjadi suamiku, lalu aku akan mengajarkan dia bagaimana rasa penyesalan itu karena telah memilih aku sebagai istrinya.


"Ada yang mau aku katakan, apa kau tak mau mendengarnya? "


"Apa?" tanyaku dengan nada tinggi


"Sini tangan kamu? " ucapnya lagi membuatku menganga heran, aku mengira dia akan mengatakan sesuatu yang penting.

__ADS_1


Awalnya Aku ragu menjulurkan tanganku, akan tetapi tangannya seketika menarik tangan kiriku dengan keras yang membuatku sangat kesakitan.


"Aww sakit! Lo nggak tau caranya pelan-pelan?"


Kevin bukannya merespon ucapanku namun malah membersihkan darah yang ada dipunggung tanganku itu, entah kenapa ada sedikit rasa nyaman ketika dia kembali perhatian padaku, rasanya seakan membuatku merasakan kedamaian.


"Diamlah... "


Hanya itu balasan singkat yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Lo mau bilang apa?" tanyaku lagi sembari menatap matanya yang sedang fokus ketanganku.


Tiba-tiba aku kembali merasakan sebuah benda tajam perlahan memasuki kulitku, rasa sakitnya membuatku menutup mata dalam-dalam.


Sesaat kemudian aku membuka mata, perlahan kembali ku pandangi tanganku, ternyata benar jarum infusnya sudah kembali seperti semula.


Aku bermaksud ingin berterima kasih namun lidahku terasa keluh untuk sekedar mengucapkannya.


"Aku dengar kau sudah setuju untuk menikah denganku, tetapi aku ada 1 permintaan? " pintanya membuatku heran, bagaimana tidak biasanya yang mengajukan sebuah permintaan itu adalah wanita yang menikah karena dipaksakan, namun ternyata lain halnya dengan seorang Kevin Pratama.


"Jaga bicaramu, aku juga tidak sudi menikah denganmu kalau saja kamu itu.... "


Kevin tak meneruskan ucapannya yang sontak membuatku penasaran dengan alasan kenapa dia mau menikahiku.


"Gue kenapa?" tanyaku penasaran.


"Udahlah nggak penting"


"Gue kenapa, lo jangan bicara sepotong doang dong! " tanyaku lagi dengan lantang.


"Aku mau bilang dihari pernikahan kita, aku tidak mau lihat satu orangpun dari sahabat kamu yang datang, jadi jangan sampai kamu mengundangnya".

__ADS_1


Cihh... aku tidak habis fikir dia dengan mudahnya mengalihkan pembicaraan yang bahkan malah membuatku tambah penasaran dengan hal itu.


"Lo jujur dulu sama gue, gue sebenarnya kenapa? "


"Aku akan memberitahumu nanti, tapi yang jelas camkan baik-baik aku tidak mau ada seorangpun sahabat kamu datang ke pernikahan kita" ucapnya tegas.


"Nggak gue nggak setuju, mereka itu sahabat gue jadi gue berhak buat ngundang mereka."


"Aku sudah bilang jangan membuatku mengulangi ucapan yang baru saja aku katakan!"


"Lo nggak boleh seenaknya dong, gue nggak ngelarang elo ini itu, kok lo udah banyak aturan sih"


Aku semakin kesal saja mendengar semua ucapan Kevin, dia mau melakukan hal yang bahkan tak ku duga, bagaimana bisa seorang sahabat saja menjadi persoalan untuk tidak diundang, padahal mereka sudah menjadi bagian dari hidupku.


Meskipun Mataku sudah perih karena terus menatapnya dengan tajam, tetapi aku menahannya karena sudah sangat kesal dan siap untuk menyangga ucapan yang tidak masuk akal itu.


"Gue mau ngundang mereka! Percuma lo marah-marah, gue tetep bakal telfon teman gue"


Aku melirik ponselku yang sedang ku charger, bermaksud ingin mengambilnya, akan tetapi sebelum tanganku terjulur kevin tiba-tiba mengambilnya lebih dulu.


"Kamu tidak boleh menelfon mereka! "


"Kembaliin ponsel gue, lo itu namanya merampas, siniin hape gue a*jir"


"Ponsel ini aku bakalan sita, dan aku akan mengembalikannya setelah resepsinya selesai" Ungkapnya lalu kemudian melangkah pergi meninggalkanku.


"Kembaliin hape gue bern*sek, itu hape mahal lohh iPhone 11 pro, jadi kembaliin nggak " teriakku namun dia tak menoleh sedikitpun.


"Kevin Kembaliin hape gue..., gue nggak bisa hidup tanpa hape huhuhu" jeritku lagi sembari menangis.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2