Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Tiba di Rumah


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Mama akhirnya bisa pulang kerumah, awalnya aku ingin menginap beberapa hari di rumah mama, tapi Mama seolah tak membiarkanku, alasannya hanya satu yaitu tak ingin membuat Kevin lama menanam benihnya.


Aku merona setiap kali mendengar ucapan yang seakan menggelitik pinggulku itu, tak ada kata yang keluar dari mulutku, selain hanya bisu yang seolah menguasaiku.


Dan kali ini, aku pulang kerumah bersama Kevin, ia yang tengah menyetir, terkadang mengalihkan pandangannya ke arahku, sontak aku salah tingkah.


Hingga senyum tipis diam-diam ku selipkan di balik sikap ketusku, padahal aku sangat-sangat malu menatap Kevin.


"Kevin! Jangan menatapku terus-menerus nanti aku... Itu...."


"Ehhem... Ada yang berlagak salah tingkah nih!" selidiknya berdehem.


"Si-siapa yang Salah tingkah hah!" ucapku terbata.


"Istriku heheh!" ia terkekeh tersenyum semringah.


"Ti-tidak! Aku tidak seperti itu!" aku menahan diri, mencoba bersikap biasa saja, tapi mulutku sepertinya tak bisa diajak kompromi.


Suasana hening! Membuatku tambah gugup, entah kenapa rasanya tubuhku begitu gerah padahal AC mobil dalam keadaan menyala.


"Ehh Sal... Aku mau minta sesuatu dari kamu!" ucap Kevin memulai kembali percakapan.


"Hn.. Apa?"


"Bukankah, kita sekarang sudah lama menikah, terus sudah baikan juga! Jadi seharusnya kamu memanggilku, suami, sayang atau apalah yang penting seperti panggilan sayang pada suami!" ujarnya.


Aku tertunduk diam, seperti yang barusan ia katakan, memang benar aku memang harusnya lebih sopan padanya, namun rasanya begitu aneh, sama halnya ketika dulu pada saat aku mencoba mengubah cara bicaraku padanya, ada rasa kaku yang tak bisa ku lontarkan.


"Ehh A-aku akan memikirkannya!" jawabku.


Suasana kembali hening, Kevin tak lagi mengajakku bicara hingga pada akhirnya sampai di depan rumah.


Ia lebih dulu turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil tersebut untukku, "Selamat datang kembali nyonya!" sambutnya tersenyum.


"Terimakasih tuan! Ohh iya dimana karpet merah untukku!" balasku bercanda.

__ADS_1


"Ahh kamu mau karpet merah? Oke aku akan mengambilkannya untukmu!" imbuh Kevin hendak berjalan, tapi aku langsung menahannya, "Ehh tidak usah Vin... Aku hanya bercanda!" pungkasku.


"Hm... Baiklah ayo kita masuk!" ajaknya memegang tanganku dan menggandengku berjalan menuju pintu.


Ceklek.


"Lihatlah rumah kita Sal... Seperti tak berpenghuni, debu di lantai sudah sangat tebal, barang berserakan!" ucapnya dengan mata berkeliling seperti halnya aku yang syok melihat seisi rumah yang memang agak berantakan.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi Vin? apa selama aku tidak ada, rumah kita terkena bencana alam?" heranku.


Kevin terkekeh geli, "Ehheh... Iya... Rumah kita ikut kesepian karena tidak ada nyonya yang cerewetnya minta ampun!" sindirnya.


"Kenapa kamu tidak menyewa seorang pembantu?" tanyaku terpaku.


"Sebenarnya aku ingin melakukannya tapi aku takut ada orang lain yang masuk kerumah kita, apalagi kamu tidak ada!"


Aku menghela nafas " hufh...Ya udah kalau begitu kita bersihkan rumah ini dulu! Ya ampun ini sangat kotor! "lenguhku.


"Kalau begitu aku akan membantumu!"


Kevin cengar-cengir, " apa kamu lupa kalau suamimu ini adalah pemilik rumah sakitnya? Lagian aku sudah merekrut 2 dokter baru yang sudah ku latih khusus, dan keterampilan dalam hal kedokterannya hampir setara denganku, jadi tenang saja mungkin ini memang kesempatan kita untuk menikmati waktu yang tertunda selama 4 tahun!" paparnya.


"Baiklah kalau begitu kita bersihkan dulu rumah ini!"


KeVin dan aku mulai membersihkan, ia mengambil alat penyedot debu, sedangkan aku mengambil kemoceng, namun tiba-tiba di saat aku sedang fokus membersihkan debu yang menempel di atas meja, Kevin datang dan dengan usilnya ia terus menyodorkan penyedot debu tersebut di kakiku.


"Awas kakimu sayang! aku ingin membersihkannya!" imbuh Kevin, yang membuatku berpindah agak menjauh darinya, akan tetapi setiap kali aku pindah Kevin selalu saja datang dan menggangguku, "Awas Sal..." ujarnya lagi.


"Kevin!!! hentikan! berhentilah bermain-ma... ahkk...." sebelum aku melanjutkan omelanku kevin tak mau berhenti melakukannya, aku berlari kecil dan dia tetap mengejarku dengan masih membawa alat pamungkasnya yang tak lain vakum cleaner tadi.


"Kevin! hentikan!!!" raungku menjerit tapi di abaikan.


"Ahahah aku akan mengejarmu Sal... ahahah!" balas Kevin tertawa puas.


Kevin terus mengejarku tanpa rasa lelah, kemoceng yang tadi di tanganku kini hanya ku genggam erat, tanpa sadar Aku di kejar olehnya mengelilingi sofa beberapa kali hingga aku merasa sedikit pusing.

__ADS_1


"Stop!!!" aku berhenti dengan cepat, nafasku terengah-engah, namun Kevin malah tersenyum bahagia.


"Hufh... Kevin aku mohon hentikan! aku capek! hufh...."


"Rasanya aku sedikit puas Sal... kita hanya membersihkan rumah tapi aku malah merasa bahagia, mungkin karena kita melakukannya bersama, apalagi kalau anggota keluarga kita bertambah pasti bakalan lebih rame!" tuturnya.


"Hufh tapi aku yang kecapekan Vin!" keluhku berlagak manja.


"Oke... aku tidak akan melakukannya lagi, aku juga merasa capek! wajah mungkin bisa menipu tapi tubuh tak bisa membohongi, ahh tulangku rasanya sakit padahal kita hanya lari-lari di dalam rumah!" Kevin juga melenguh panjang melepaskan semua rasa lelah yang ia baru saja dapatkan karena ulahnya sendiri.


"Ohh iya Vin... aku hampir lupa! aku ingin keluar belanja sesuatu, kalau begitu kamu bisa kan kelarin bersih-bersihnya!" pintaku dengan mata penuh harap.


Awalnya Kevin tampak begitu ragu, ia sampai menoleh kiri-kanan seperti sedang memikirkan sesuatu, namun kemudian ia mengambil dompetnya yang ada di saku celana ia kenakan.


"Ehh mk... baiklah, aku akan melakukannya, dan ini kartu! kamu bisa menggunakan kartu ini!" Kevin menyodorkan Black card miliknya yang sebelumnya pernah ku lihat, dan semudah itu iya menyerahkannya padaku.


"Kamu yakin Vin? tapi ini kan..."


"Tidak apa-apa, uangku memang milikmu juga!" jawabnya


"Kamu nggak tau yah? kalau perempuan itu belanjanya kayak gimana?" aku masih belum yakin dengan putusannya itu.


"Hahah iya nyonya Salsaku yang bawel... kamu bisa belanja sepuasnya! lagian itu kan kartu tanpa batas!"


"Dan satu lagi Vin... kalau aku sudah menggunakan kartu ini! apa notifikasinya akan muncul di ponselmu?" tanyaku lagi.


"Ahhaha ti-tidak itu tidak akan terjadi!" ucap Kevin terbata.


"Hm... baiklah kalau begitu aku mau mandi, terus ganti baju dulu! kemudian saatnya shopping!" Aku melompat-lompat ngirang di depannya.


"Terimakasih... aku makin cinta padamu Kevin sa-yang! bye...." setelah mengatakan itu aku berlari secepat kilat meninggalkannya menuju kamar.


"Hahah Salsa... Salsa.... aku sungguh tidak sabar melewati malam panjang sebentar malam denganmu! aku sangat menantikan itu! jadi tunggu saja dan kau akan puas!" gumam Kevin tersenyum miring.


"Ahh astaga baru saja aku memanggilnya Sayang! apa itu tidak terlalu alay? ahh aku harap dia tak mendengarnya! aku benar-benar malu sekarang...." aku geram dalam hati di sela langkahku memasuki kamar.

__ADS_1


__ADS_2