Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Akad Nikah.


__ADS_3

HAPPY READING YA...


jangan lupa tinggalkan jejak kalian


dan jika berkenan silhkan berikan dukungan dengan vote (seikhlasnya saja) karena dengan begitu maka akan membuat author tambah semangat lagi πŸ˜‰πŸ˜


Aku masih tidak percaya dengan semua ini, Diriku yang tampak kecil mungil kini berbalut busana gaun pengantin.


Namun apa yang bisa kulakukan sekarang, Masih mau mencoba membatalkannya? Sepertinya itu tidak mungkin, karena semua sudah siap 99% dan sisa 1%nya adalah hatiku yang kini masih merasa takut.


"Wahh, anak mama cantik banget! Pokoknya hari ini kamu ratunya sayang! Kamu memang seperti bidadari... Sini mama peluk dulu!" lirih mama yang berusaha memelukku.


Namun aku menahan badannya, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk melakukan hal tersebut.


"Mah, Salsa keluar bentar ya... Mau cari udara segar disini udah kayak dipenjara!" ucapku menolak.


Akhirnya mama setuju, dan aku keluar hanya untuk menenangkan sedikit rasa gelisahku,


Aku terus berjalan hingga tanpa kusadari ternyata menginjakkan kaki tepat diaula hotel.



Mataku mengerjap melihat kemewahan Aula hotel ini, sumpah sangat indah hingga membuat mataku tak bisa berkedip sedikitpun.


Akan tetapi pandanganku seketika tertuju ke arah kursi pelaminan, tempat yang akan kududuki bersama Kevin dan disaksikan oleh banyak pasang mata.


"Jadi hari ini gue beneran mau nikah? Sama si gunung es?" tanyaku dalam hati.


Aku melamun karena memikirkan ini semua, perasaan tidak percaya masih terngiang-ngiang didalam kepalaku.


Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundakku, yang sontak membuatku sangat kaget hingga tubuhku seakan ingin melompat.


"Akh tante.... " ucapku ketika tau orang yang menepukku adalah tante Mira sendiri.


"Kamu kenapa bisa disini Sal?" bisik tante Mira


"Ehk, Salsa tadi cuman jalan-jalan, tau-taunya sampe kesini deh heheh" jawabku cengingisan.


"Ohh iya... Kita sekarang udah ditungguin penghulu diruangan Sana, dan semua orang sudah menunggu kita juga, lagian tempat ini masih belum selesai, masih mau ditambah dekorasinya Sal... Jadi setelah akad mungkin udah selesai! " ungkap tante Mira yang hanya ku anggukan pelan.


"Ya udah kita ke sana sekarang!" ajaknya dengan menarik lenganku dengan pelan.


***

__ADS_1


Tap-tap tap


Suara high hills yang kupake memasuki ruangan sontak membuat semua mata kini tertuju padaku, termasuk Kevin dengan wajah datarnya.


Aku langsung terduduk ketika mama menyuruhku, terkadang pandanganku mengarah ke ayah dan mama yang tersenyum bahagia Dan itu sudah cukup mengurangi rasa gelisahku dan takutku.


"Baik saya mulai ya, saya nikahkan engkau saudara Kevin Pratama binti Bram dengan saudari Salsa Olivia binti Malik Dengan maskawin 2 Milyar rupiah, cincin berlian dan seperangkat alat Sholat dibayar tunai.... " ucap Sang penghulu.


Aku yang mendengarnya kini sangat gugup, bagaimana tidak janji suci akan mulai diucapkan oleh Kevin. Perlahan aku menutup mata seraya menggenggam erat gaun yang kupakai saat ini, aku tidak sanggup mendengar janji suci yang akan Kevin lontarkan.


"Saya Kevin Pratama, menerima Salsa Olivia binti Malik dengan maskawin tersebut Tunai...." balas Kevin.


"Bagaimana para Saksi SAH? " tanya pak Penghulu.


SAH SAH SAH


Prok prok prok


Seruan orang-orang membuatku perlahan membuka mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Aku tidak menyangka Kevin akan mengucapkannya tanpa ada kesalahan, dan itu seharusnya membuatku bahagia mendengarnya tapi kenapa perasaan itu belum bisa kurasakan?


Air mata kini mulai mengalir, dan ini bukan juga adalah air mata kebahagiaan melainkan air mata karena sudah terikat janji suci dengan pria yang tak kucintai sama sekali.


Ucapan mama hanya membuatku semakin kesal saja, padahal dia tau aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi mengatakan aku menangis karena terharu?.


Sesaat kemudian adalah waktunya memasangkan cincin, aku hanya bisa tertegun melihat kotak cincin tersebut yang didalamnya terdapat benda yang akan menjadi bukti ikatan antara aku dan dia si muka datar.


Kevin mulai mencabut cincin yang akan dipasangkan dijari manisku itu, akan tetapi aku masih belum mengangkat tangan hingga mama meraih tanganku dan mengangkatnya tepat dihadapan Kevin.


Aku sangat ingin marah kepada mama, namun melihat banyaknya orang yang menyaksikan kami, aku tidak jadi melakukannya.



Cincin itu perlahan masuk kedalam jemariku, disaksikan oleh banyak pasang mata dan hatiku yang sangat sakit.


Mataku sesekali kututup rapat-rapat tatkala cincin itu sudah masuk dan berada diantara jemariku.


Aku mengepalkan tangan, mengingat kini tinggal giliranku yang memasangkan cincin di jemari Kevin.


"Udah Sal... Tahan dulu, Tinggal dimasukin dah kelar kan?" batinku yang mencoba mensupport diri sendiri, namun nyatanya sangat sulit melakukan hal sepeleh itu.


Aku menarik nafas panjang, lalu mengambil cincin yang ada dikontak tersebut, dengan cepat sekali hentakan aku memasukkan cincin itu dijari Kevin.

__ADS_1


Semua orang yang melihatnya tampak kaget bagaimana tidak, mereka belum berkedip selama aku memasukkan cincin itu, karena gerakanku yang mungkin sangat cepat.


Prok prok prok


Mereka kembali bertepuk tangan menyaksikan kami, lalu aku dan kevin berjabak tangan namun aku tak melirik wajahnya, aku hanya memilih untuk menunduk dari pada memandangnya.


"Akh hahah Salsa tadi kamu kenapa? Saking nggak sabarnya jadi sepasang suami istri ya jadi cincinnya harus dimasukin dengan cepat gitu?" tanya mama yang mencolek-colek pinggulku.


"Apasih mah!" pekikku.


"Ahk anak mama malu cie.... " lanjut mama yang hanya membuatku menggertakkan gigi dengan kesal.


Ingin sekali rasanya untuk saat ini, detik ini aku ingin segera meninggalkan tempat memuakkan dan membosankan ini.


Akan tetapi sepertinya percuma aku memikirkannya, aku bukanlah orang yang bisa ahli sihir hadeh...fikirku.


Aku melenguh, kulirik Kevin disampingku yang tadinya tak pernah kupandang kini dengan seksama kuperhatikan mimik wajahnya, wajah yang sejak tadi hanya diam tanpa Ekspresi ternyata sekarang malah tersenyum sambil berjabat tangan kesemua orang.


Entah kenapa aku yang melihatnya mulai merasa risih, kufikir dia tidak akan tersenyum ramah dihari pernikahan kami, tapi nyatanya tebakanku salah besar.


"Shuuut... Sal... Kamu juga harus seperti Kevin, senyum dong! Jangan pasang muka cemberut kayak gitu, dan kamu juga harus bersikap ramah sama tamu yang datang!" serkah mama seraya berbisik kepadaku.


"Selamat ya Sal... Kamu sekarang sudah SAH menjadi menantu tante, jadi panggilnya bukan tante lagi ya tapi harus mama, sama kayak Kevin!" pinta tante Mira dengan mengelus pundakku.


"Akh iya tent... Ehh maksudnya iya mama... " jawabku gugup karena belum terbiasa.


"Selamat ya jengk akhirnya sekarang kita udah jadi besan... Akh senangnya... " ucap mama yang langsung berpelukan dengan tante Mira tepat dihadapanku.


Seharusnya aku juga ikut merasa bahagia tapi kenapa hatiku hanya sakit menyaksikan senyum mereka? Seakan setiap senyuman hanya akan perlahan mengiris-iris batinku.


Mataku kembali berkaca-kaca dan tanpa kusadari Kevin ternyata melihatku, aku menyeka air mata yang hampir saja keluar dari pelupuk mataku itu, dan membalas tatapan Kevin.


Dia menatapku tanpa ada senyum yang di pamerkannya kepada semua orang tadi, dan aku juga tidak mau kalah, aku seolah ingin mengatakan menerkamnya tiba-tiba dan mencongkel bola matanya yang menjengkelkan itu.


.


.


.


Next... jangan lupa tambahkan cerita ini difavorit kalian ya ..............β€πŸ‘‡


terimakasih BanyakπŸ˜πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2