Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
.Willy Mabuk


__ADS_3

Aku menatapnya serius, ada rasa tak menyangka ia melakukan hal itu lagi, hal yang sudah tak pernah ku inginkan terjadi darinya.


Karena sepenuhnya aku sudah tak memiliki perasaan lagi untuknya, bahkan walaupun kami sudah bersama selama 4 tahun tapi perasaanku sudah mati untuk menerimanya lagi.


Aku memalingkan wajah menghindari tatapannya, "Maaf will gue nggak bisa nerima lo!" tolakku.


Willy kemudian berdiri, ia terlihat kesal namun di tahan, "Kenapa Sal? Apa gue kurang baik sama lo?" tanyanya memelas.


"Enggak Will... Lo baik banget malah sama gue! Tapi jujur gue cuman anggap lo itu sekedar sahabat gue aja nggak lebih!".


Hah! Ia menghela nafas berat, "Sahabat lagi ya Sal...tapi gue nggak pernah anggap lo tuh sahabat gue malah lebih dari itu? Bahkan kita udah tinggal bersama sejak lama apa lo nggak pernah ada lagi rasa buat gue? Sedikit aja Sal?" lirihnya.


"Maaf Will!" singkatku menolaknya secara halus.


Kupandangi wajahnya yang terlukis penuh rasa kecewa, Aku sangat mengetahui hal itu, sebab Willy sudah sering mengungkapkan perasaannya padaku tapi tetap saja aku selalu menolak, bukan karena apa! Tapi ini soal perasaanku yang sebenarnya.


"O-oke... Gue paham Sal....!" ucapnya.


Ia kemudian berbalik badan lalu hendak melangkah menuju pintu, "Elo mau kemana?" tanyaku.


"Gue mau pergi tenangin fikiran, elo nggak usah nungguin gue pulang!" imbuhnya terus berjalan membelakangiku.


Brak....


Ia menutup keras pintu kamarku, tak lama kemudian terdengar lagi suara pintu keluar yang ditutup juga dengan sangat keras sampai suaranya bisa ku dengar padahal aku berada di dalam kamar.


Aku mulai bingung, hanya bisa mondar-mandir sambil menggigit jari di samping ranjang.


"Willy sebenarnya mau kemana?" gumamku bertanya pada diri sendiri.


Walaupun dia berkata tidak usah menunggunya pulang tapi kata itu malah membuatku khawatir karena aku paham bagaimana kecewanya saat ini.


Maka dari itu aku malah menunggunya, duduk disofa ruang tamu yang agak kecil sambil mataku sesekali menatap keluar di balik jendela.


3 jam berlalu, aku masih menunggunya dengan khawatir, dia tak pernah melakukan ini sebelumnya ketika aku menolak perasaan yang ia paparkan di depanku.


Pank... pank... pank...


Seketika aku terkejut mendengar suara dibalik pintu seolah ada yang sedang memukul beberapa kali.


"Sal... bukain pintunya!" panggil seseorang setelah pukulan pintu berakhir dan terdengarlah suara Willy.


"Elo beneran Willy kan?" tanyaku memastikan sebelum membuka pintunya.


"Cepetan buka!!!" kata Willy terdengar kesal.


Awalnya aku tak curiga kenapa dia harus menyuruhku membuka pintunya padahal aku sama sekali tak mengunci pintu tersebut.


Dan lebih anehnya, bukankah dia marah denganku? lalu kenapa kali ini ia masih memanggilku terus?.


Sungguh membingungkan, "Salsa! buka!!!" teriak Willy terdengar sangat emosi.


Tubuhku terlonjak kaget dengan cepat berlari ke arah pintu, "Iya Will, bentar..." sahutku membalas.


Ceklek

__ADS_1


Pada saat aku sudah membuka pintunya, terlihatnya Willy yang tampak sangat berantakan.


Aku mengendus ke arahnya ketika indra penciumanku tak sengaja mendapati bau semacam alkohol.


"Will... elo dari mana?" tanyaku.


"Kenapa Sal... kenapa elo nolak gue terus? kenapa?" lirihnya.


Dari mulut Willy ketika ia berbicara terciumlah bau minuman keras yang sangat menyengat, bahkan aku sendiri tak bisa menahan bau tersebut dan langsung menutup menutup hidung.


"Elo abis Minum? hah!" gertakku.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan Sal... gue tanya, kenapa elo nolak gue terus!" balasnya dengan nada tinggi.


"Will... lebih baik elo masuk kamar! kayaknya lo emang mabuk! kita bisa bahas masalah ini besok pagi!" imbuhku, memegang lengannya dengan kedua tanganku tapi ternyata langsung ditepis begitu saja.


"Gue nggak mabuk Sal... gue sadar sekarang! gue cuman mau tanya sama lo, apa alasan lo nolak gue terus, nyakitin hati gue terus padahal kita udah tinggal bareng udah lama! dan gue juga udah lakuin yang terbaik buat lo! kenapa? kenapa Sal?"


"Elo mabuk Will... masalah ini bisa kita bahas besok pagi!" elakku membujuknya.


"Jawab gue Sal!!!" ucapnya dengan lantang.


"Karena gue udah punya suami Will... gue tau mungkin ini berat buat lo tapi ini emang kenyataannya! jujur gue cuman anggap lo sahabat gue nggak lebih!"


"Enggak gue nggak percaya!" serkahnya.


"Lo kira gue bohongin lo soal ini? kenapa gue harus lakuin itu Will... kalau misalkan gue emang bohong seharusnya gue udah nerima perasaan lp sejak awal putusnya kita! tapi enggak kan?" jelasku.


"Tapi sekarang kan udah Beda Sal... kita udah lama tinggal bersama bahkan lebih lama daripada elo tinggal sama suami elo itu, apa elo emang benar-benar jatuh cinta sama suami lo?" selidik Willy mulai curiga.


"Yah... ucapan lo emang benar.... gue emang udah jatuh cinta sama suami gue! jadi gue nggak akan pernah bisa nerima lo lagi!" tuturku tegas menjawab dengan serius.


"Gue udah fikirin itu semua, kepergian gue kali ini adalah berbuatan yang salah, gue baru sadar sekarang Will... gue malah nggak pernah sama sekali merasakan kebahagiaan karena jauh dari orang-orang yang sayang sama gue! mungkin ini karma, jadi sekarang keputusan gue udah bulat Will... gue mau pulang kerumah mama dan bersatu lagi sama suami gue!" ungkapku.


"Hah! apa lo nggak denger ucapan gue tadi?"Herannya.


"Gue dengar Will, semua ucapan lo tadi sangat jelas, tapi asal lo tau! gue lebih banyak salah sama suami gue di masa lalu kebanding dia yang nggak percaya sama gue! dan apa! dia tetep maafin gue! dan sekarang gue udah nyesal banget ninggalin dia, seharusnya 4 tahun lalu gue kumpulin bukti agar dia percaya sama gue! bukannya lari dari kenyataan! Yah... itu alasan gue yang sebenarnya Will...maaf!"


"Enggak kalau lo mau pulang! gue nggak bakal biarin itu terjadi!" Willy menggeleng kuat .


"Ini keputusan gue Will!"


Willy tersenyum sinis menyungging senyumnya itu seperti ada maksud lain yang ia sedang fikirkan.


Ia melangkah mendekat, membuatku seketika merasa takut, semakin dekat dengan tatapannya yang tajam.


"Sal... apa lo lupa! gue yang bawa elo ke sini! gue yang bantuin elo biayain kuliah lo, gue udah capek-capek bujuk lo buat pergi jauh dari suami lo itu, kenapa elo egois Sal... gue juga punya hati, tapi kenapa lo harus milih suami lo itu!" protesnya di sela langkah yang semakin mendekat ke arahku.


Aku tidak bisa hanya diam, melainkan melangkah mundur dengan cepat karena tak tau apa yang ada difikirannya.


"Te-ternyata elo sengaja menghasut gue terus buat Pergi? Will... kenapa elo harus lakuin ini semua?"


"Nggak usah terlalu plin-plan Sal... elo kan tau gue lakuin ini karena elo! elo yang buat gue kayak gini, karena gue nggak bisa lepasin elo Sal... gue nggak bisa lupain elo! jadi sekarang gue bakal buat lo nggak bisa lupain gue juga!" kata Willy semakin membingungkanku, begitu pula dengan ekspresi wajahnya yang begitu menakutkan.


"E-elo mau ngapain Will...." aku gemetar, Willy kini sangat dekat didepanku, bahkan bau minuman keras itu semakin membuatku merasa mual.

__ADS_1


Bola mataku tak pernah menatapnya, dan lebih sialnya kini aku tak bisa melangkah mundur lagi karena aku sudah berdiri tepat di pinggir dinding tembok.


Tiba-tiba Willy memegang kedua lenganku, mencengkramnya dengan sangat keras membuatku berdesis.


"Ishh Lepasin gue! ini Sakit Will... lo mau lakuin apa?"


"Gue bakal ngasih elo pengalaman yang nggak bakal bisa lo lupain seumur hidup lo Sal... dan gue yakin kalau kita udah lakuin itu! elo pasti lupain suami lo!" jelas Willy lembut.


"Ma-maksud lo apa Will gue...."


Srek.....


Ahh.... aku berteriak kencang ketika Willy tiba-tiba menyobek pakaian yang ku kenakan tepat di bagian dadaku dan untunglah masih ada pakaian dalam yang Selalu ku kenakan hingga aku tidaklah setengah bung*l.


Plak... dengan emosi aku menampar Wajah Willy, melihatnya mematung didepanku tanpa meminta maaf, sementara aku kini menutup tubuh bagian atasku dengan kedua tangan.


"Elo brengs*k Will... tega-teganya yah elo lakuin itu sama gue! lo fikir gue nih apaan? hah! jangan samain gue sama teman-teman lo Will, dan asal lo tau gue sebenarnya nyaman sama lo itu sebagai sahabat! tapi ini balasan lo! lo fikir gue bakal bahagia kalau kita lakuin itu hah! enggak Will... itu malah akan buat gue semakin menderita!"


Aku menangis setelah mengatakan itu, lalu berlari masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian yang sobek kemudian keluar lagi.


Aku menatap Willy sekilas yang terduduk di sudut ruangan sambil meremas rambutnya, "Elo mau kemana Sal? gu-gue minta maaf! tadi itu gue mabuk! jadi gue nggak sadar, please maafin gue yah!" pintanya saat menyadari aku yang baru saja keluar dari kamar.


"Lo bener-bener buat gue kecewa Will!" pungkasku kemudian berlari keluar dari rumah, mengabaikan apa yang tadi Willy katakan.


Aku menatap kosong ke arah jalan, hawa dingin yang menghembus tanpa sadar membuatku menggigil.


Rasanya aku ingin menangis mengingat perlakuan kasar ulah Willy, Kevin saja tak pernah memperlakukanku seperti itu bahkan saat kami sudah resmi menjadi suami istri.


Aku berjalan lesu menelusuri lorong panjang tanpa tau tujuan, meskipun sudah berada di negara ini cukup lama, tapi tetap saja rasanya masih sangat asing bagiku.


Saat aku menekuk wajahku, tanpa sadar aku melirik ke arah pinggir jalan, aku melihat seekor kucing berada didalam area garis putih jalan.


Aku panik dan ingin berniat untuk memindahkan kucing tersebut, jadi aku melangkah mendekatinya, tapi pada saat aku sudah berada sangat dekat, Kucing tadi tiba-tiba berlari kencang meninggalkanku.


Bib bib bib...


Suara klakson mobil terdengar berada tepat di sampingku, sontak aku menoleh dan benar saja ada sebuah mobil yang berada sangat dekat ingin melintas.


Aku tidak sadar bahwa aku kini berdiri di area yang sangat berbahaya, tubuhku seketika menegang ketika mobil itu semakin mendekat, ingin lari tapi rasanya aku tak bisa bergerak sedikitpun, ingin berteriak tapi mulutku hanya menganga tanpa suara.


"Salsa...." Ada yang memanggil namaku namun ku fikir itu hanyalah halusinasiku saja.


Dengan bodohnya aku malah memejamkan mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


Brum....


Suara mobil lewat dan aku tidak merasakan apa-apa, rasanya sangat aneh seharusnya aku sudah terlindas oleh mobil tersebut.


Perlahan aku mulai membuka mata, ternyata aku memang masih sehat, sepertinya mobil tadi berberbelok agar menghindariku.


Ahh... Aku barulah berteriak, beberapa detik setelah mobil itu lewat, ada yang tiba-tiba menarik tanganku dari belakang.


"Akhirnya aku menemukanmu Sal...." ucap seseorang ketika aku kini sudah berdiri tegap di hadapan orang itu yang tak lain adalah Kevin.


Aku sangat-sangat terkejut, Mataku melotot ke arahnya, Sangat tidak menyangka bahwa yang berdiri di depanku adalah benar-benar Kevin.

__ADS_1


"Kevin!!!"


"Iya Sal... ini aku! apa kau merindukanku?" Kevin bertanya soal itu untuk pertama kalinya setelah kami berpisah selama 4 tahun.


__ADS_2