
Aku terduduk di kursi samping ranjang pasien mama mertuaku, melihatnya kini terbaring lemah, membuatku tambah merasa bersalah.
Apalagi aku yang membuat semua masalah ini terjadi, jika awalnya aku percaya dengan ucapan Salsa mungkin saja aku sudah tersenyum bahagia diatas ranjang bersamanya menikmati malam.
Tapi kini sudah berbeda, takdir bertolak belakang dengan khayalanku, semua hanya menjadi angan-angan di sela rasa frustasiku.
Dengan ragu aku mengeluarkan ponselku, berniat untuk menghubungi mama agar di tau kondisi mamanya Salsa.
📞" Halo mah!" ucapku di dalam telfon.
📞" Mmk...Kevin! Kenapa kamu menelfon selarut ini! Apa kamu tidak tau ini waktunya tidur!!!" raung mama dengan suara parau khas orang setengah sadar.
📞"Mah...sepertinya aku membuat kesalahan besar lagi!" lirihku terdengar memelas
📞"Apa maksud kamu? Jangan bicara omong kosong deh Vin...ini sudah tengah malam! Kamu tidur gih...nanti Salsa bangun kalau dengar suara telfonan kita!"
📞"Salsa kabur lagi mah! Dan sekarang aku dirumah sakit karena mamanya tadi pingsan!" jawabku.
📞"Apa!!!" pekik mama terkejut.
📞"kamu tunggu dirumah sakit! Mama akan segera kesana!" lanjut mama berkata, langsung mengakhiri telfonan kami.
Beberapa jam kemudian, mama datang terlihat tergesa-gesa, bahkan nafasnya tersenggal-senggal.
"A-apa yang sebenarnya terjadi Vin?" tanya mama menghampiriku.
"Maaf mah! Kali ini aku menyakiti semua orang!" imbuhku tanpa menjelaskan detailnya.
"Kevin! Apa yang kau bicarakan? Mama tidak paham! Terus di mana Salsa?" ucap mama masih bertanya seraya celingak-celinguk melirik ke setiap sudut kamar yang agak besar layaknya kamar VIP, di lengkapi TV, AC, Serta Toilet.
Aku terdiam membisu tak tau harus menjawab apa! Bahkan lidahku terasa sangat keluh.
"Dimana Salsa Vin! Jangan bilang kamu berbuat ulah lagi!" marah mama hingga urat lehernya terlihat.
"Aku minta maaf mah!" balasku masih menunduk.
"Tunggu! Maaf? Jadi benar kamu menyakitinya lagi? Kevin... Kenapa kamu selalu membuat Salsa tersakiti! Kalian sudah menikah beberapa bulan, apa kamu bahkan tidak ada sedikitpun rasa sayang sama dia?" ucap mama.
"Tidak seperti itu mah! Aku memang salah, aku terlalu percaya sama Clara sampai-sampai menuduh Salsa!"
__ADS_1
"Clara? Wanita jal*ng itu? Kenapa bisa gara-gara dia? Hah! Apa kamu memang buta, bahkan mama sendiri walau hanya melihat wajahnya saja pasti mama sudah bisa menebak isi otaknya! Lalu kamu... Ohh Kevin bunuh saja mamamu ini yang sudah melahirkan anak bodoh sepertimu!" keluh mama hingga Terduduk dilantai sambil memukul-mukul dadanya.
"Hentikan mah!" aku menahan kedua tangan mama yang hendak memukul dadanya lagi.
"Jangan hentikan mama! Kamu anak bodoh! Bagaimana bisa kamu melukai menantu kesayangan mama hah! Kenapa kamu malah percaya dengan wanita jal*ng itu Vin...kenapa?" mama memukul lenganku, melampiaskan amarahnya padaku.
Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit dari pukulan mama yang perlahan perih di kedua sisi lenganku.
"Kamu harus mencari Salsa...." suruh mama tiba-tiba melototiku.
"Ba-baik mah! Aku akan mencarinya lagi, kalau begitu aku pergi, mama bisa kan menjaga mamanya Salsa!" imbuhku
Menepuk punggung mama.
"Pergi sekarang!!! Tidak usah bertele-tele lagi!" teriak mama mengusirku.
Aku berdiri, berlari keluar kamar, tanpa menoleh sedikitpun, masalah terus berdatangan bertumpuk didalam otakku hingga rasanya ingin meledak.
"Dokter Kevin...kebetulan saya bertemu anda disini! Ada pasien yang mencari anda dok!" ujar seorang perawat laki-laki yang baru saja datang dan menyapaku dilorong rumah sakit.
"Aku sibuk! Ada banyak dokter dirumah sakit ini! Kenapa pasien itu hanya mencariku!!!" Aku emosi perawat itu datang diwaktu yang tidak tepat, bahkan saat ini kepalaku berdenyut dari berbagai arah.
"Pergi!!! jangan mencariku malam ini ataupun besok!" jawabku datar.
"Ba-baik dok!" jawabnya dan langsung pergi.
Sedangkan aku seraya memejit pelipis, aku melanjutkan langkah menelusuri lorong rumah sakit untuk segera ke arah parkiran mobil agar aku bisa cepat mencari Salsa.
***
Di sepanjang perjalanan, aku terus menelfon Salsa namun nomornya tetap saja tidak aktif, aku mengiriminya pesan tapi tak ada balasan, menchat WhatsAapnya akan tetapi yang muncul hanya centang satu dan itupun foto profil Salsa sudah tidak ada.
Kemungkinan ia memblokir nomorku, aku sangat yakin akan hal itu, lalu kemana aku harus mencarinya? teman-teman yang biasa ia bicarakan semuanya tidak ada yang ku kenal.
Aku benar-benar hampa sekarang, baru kali ini aku merasa betul-betul kehilangan arah tujuan.
Bug bug bug...
Ahh Sial... Dengan penuh amarah yang membara, aku memukul-mukul setir mobil lalu mengerem mendadak di tengah jalan.
__ADS_1
Brak...
Tiba-tiba ada yang menambrak mobilku dari arah belakang, membuat tulang leherku seakan ikut sakit karena guncangan.
Tok tok tok
"Woe kenapa ngerem mendadak hah! keluar sekarang!" teriak seseorang mengetuk kaca mobil disampingku.
Sambil memegangi leherku yang terasa sakit! aku membuka kaca mobil menatap kosong ke arah orang yang tadi mengetuk.
"Kamu harus tanggung jawab! mobil saya penyok karena ulahmu! dasar sial*n tidak bisa menyetir!" cibir orang tersebut namun tak ku perdulikan.
Aku menghela nafas panjang, tak ingin rasanya berdebat dengan orang, hanya mengeluarkan dompet dan mengorek isi didalamnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dan menyerahkan uang tersebut ke arah orang itu.
"Apa ini? belum cukup! mobil saya penyoknya sangat banyak berarti ganti ruginya harus banyak juga!" keluh orang tersebut menolak uluran tanganku.
"Aishh..." lenguhku dengan cepat meraih kerah baju orang itu lalu menyeret kepalanya masuk ke dalam mobil melalui jendela.
"Jadi anda tidak mau menerimanya?" kataku mengangkat sebelah alis.
"Sa-say mau menerima pak!" jawab orang tersebut gemetar ketakutan sehingga aku melepaskan tanganku dari kerah bajunya.
Orang itu kemudian pergi, aku yang seakan seperti orang gila memukul-mukulkan dahi di setir mobil.
Tak hanya itu, dompet yang seharusnya ku masukkan kembali kedalam saku kini ku lempar di jok belakang.
"Dimana kamu Sal...aku harus mencarimu di mana?" gumamku bertanya pada diri sendiri.
***
Tanpa Fikir panjang lagi, aku menyalakan kembali mesin mobil, melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah.
Setibanya dirumah, aku merasakan apa yang ku rasakan ketika Salsa tak ada dirumah yang besar ini.
Bahkan aku sampai membayangkan dia melawan ucapanku lagi, memberiku cibiran pedas, serta kata-kata kasar yang menusuk.
Kaki ini tanpa sadar sudah melangkah jauh dari ambang pintu dan kini berdiri tegak di depan pintu kamarnya.
Aku masuk dan merebahkan diri diatas ranjang milik Salsa seraya melenguh menikmati enaknya terbaring diatas kasur empuk setelah lelah menghakimiku seharian full.
__ADS_1
Mataku menatap langit-langit kembali mengingat Salsa, " Dimana kamu Sal... apa yang kamu lakukan saat ini, aku sedang di kamarmu! aku merasa kesepian di dalam kamarmu!" batinku bergumam memikirkannya.