
Malam semakin larut, aku yang bertekad menjadi detektif malam ini tak bisa untuk tidur sebelum rasa penasaranku mendapatkan titik terang.
"Pokoknya malam ini gue harus tau! Kenapa istri kak Syam senyum-senyum munafik didepan gue!" gumamku sambil mondar-mandir disamping ranjang.
Hingga pukul 00:00 WIB aku masih terjaga, meskipun tadinya mataku tertutup namun aku berusaha membuka mata lebar-lebar menatap lampu agar tidak tertidur.
Aku membuka sedikit pintu kamar lalu mengintip dari celahnya
Clekkk......Pintu kamar sebelah sepertinya terbuka, ada seseorang yang keluar tapi aku masih tidak tau itu siapa.
Tap tap tap.... Bersamaan itu Kevin agaknya juga turun dari lantai dua, aku semakin penasaran saja dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Kevin!" sapa suara seorang wanita yang ternyata Clara, dia yang baru saja keluar dari kamar sebelahku.
Kevin mengabaikan Clara lagi, dia hanya terus berjalan melangkah kearah dapur lalu kemudian membuka kulkas mengambil dan meneguk air dingin.
Tiba-tiba Clara berlari dan memeluk Kevin dari belakang, mataku melotot melihat itu apalagi Kevin hanya diam saja ketika tangan Clara melingkar diperutnya.
Aku tak bisa berkedip sedikitpun, dan tanpa kusadari mulutku dalam keadaan menganga.
Saking penasarannya, aku sampai membuka sedikit demi sedikit pintunya agar bisa lebih fokus memperhatikan mereka.
"Kevin! Apa kau masih marah padaku?" tanya Clara semakin membenamkan wajahnya dipunggung Kevin.
Entah kenapa melihat mereka seperti itu aku menjadi kesal, perasaanku ini sangat aneh, dilain sisi aku masih penasaran tapi apa aku masih bisa melanjutkan melihat mereka berpelukan?.
Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya lalu kembali memperhatikan mereka berdua.
Seketika Kevin menepis tangan Clara tanpa mengucapkan apapun padanya, dia kembali melangkah untuk naik kekamarnya dengan membawa sebotol air dingin tersebut.
"Kevin!!!" panggil Clara berlari berusaha menghampiri Kevin namun sepertinya tidak bisa karena Kevin sudah hampir sampai di depan kamarnya.
Clara tampak kecewa dia terkulai duduk dilantai, dan sepertinya ia menangis, aku mengetahui itu ketika mendengar suara isak tangisnya, sebenarnya aku ingin menghampiri dia akan tetapi aku takut malah akan menambah masalah lagi.
Aku melangkah mundur dengan pelan kembali menutup pintu agar Clara tak menyadari aku sedang mengintipnya.
Berjalan menghampiri ranjang, terlentang dan tengkurap semua itu menjadi aktivitasku malam ini ketika memikirkan Kevin dan Clara.
Ada kisah apa antara mereka?
Pertanyaan itu seolah-olah membuatku gila ketika berusaha menjawabnya sendiri, aku hanya bisa terus melenguh, mencoba untuk tertidur namun nyatanya tidak bisa.
***
Pagi harinya kak Syam mengetuk pintu kamarku, dan aku dengan malasnya membukakan pintunya, semua terjadi begitu saja tanpa tau apa yang terjadi dengan wajahku.
"Salsa, mata kamu kenapa? Kok kayak orang kurang tidur sih! merah dan bengkak, kamu begadang semalam ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Mmk....tadi malam Salsa lihat tawon lagi pelukan kak, ehh tiba-tiba tawonnya gigit mata aku!" jawabku setengah sadar karena masih mengantuk.
"Ahh hahah kamu nih Sal... Pagi-pagi kok ngelawak sih! Mana ada tawon pelukan? Lagian masa tawonnya kompak banget gigit kedua mata kamu hahah!" ujar Kak Syam tertawa lepas.
"Oh... Iya kamu mandi dulu baru keluar yaa!"
Kak Syam dengan lembutnya mengatakan itu, aku hanya bisa tersipu malu, sebab dia mengatakannya dengan sangat jujur.
Beberapa menit berlalu kini aku sudah berada didepan meja makan dengan berbagai masakan enak dan menggiurkan diatas meja, Kevin, Clara, dan juna juga ada disini, sedangkan kak Syam masih sibuk memasak makanan.
"Wah.... Ini semua kak Syam yang masak? Kelihatan enak kak, Kakak nihhh suami idaman banget sih! Pasti kak Clara bahagia banget kan?" tanyaku kepada Clara setelah memuji masakan kak Syam.
Clara hanya membalasku dengan senyum tipis, hingga kak Syam datang membawa hidangan terakhir didepan kami Clara baru tersenyum lebar kepadaku.
Aku menelan ludah berkali-kali menatap masakan kak Syam hingga tanpa kusadari tangan nakalku ingin mencolek dan mencicipinya.
"Salsa... Jaga sikapmu! " tegur Kevin membuatku kembali menarik tangan sambil berdecak kesal.
Kak syam terduduk dan berkata, "Kamu nih bisa aja ya Sal... Belum coba tapi sudah memuji! Oh iya sebenarnya kakak mengelolah sebuah restoran dan salah satu investornya adalah tante Mira sendiri, mamanya Kevin! jadi lain kali kamu sama Kevin bisa kesana! " tutur kak Syam ramah.
Aku membalas senyuman kak Syam, sedangkan Clara ternyata masih menatap Kevin, ini sungguh membingungkan! Fikirku.
Brakk.... Kevin meneguk air gelas didepannya, dan tiba-tiba meletakkan gelas tersebut dengan Keras hingga retak.
"Lo nih, Apa-apaan sih! Ngagetin aja." ucapku terkejut.
"Aku kenyang! Kalian bisa makan." lirih Kevin dan langsung melangkah pergi menuju kamarnya.
"Salsa... Sabar ya! Dari kecil Kevin memang selalu seperti itu, tapi dia juga kadang-kadang baik loh dulu kami sering main bareng tapi kakak tidak tau kenapa sikapnya berubah sama kakak!" jelas kak Syam.
"Sayang! Lebih baik kita cepat makan dan langsung pulang!" potong Clara disela perbincangan kami.
"Loh... Nggak usah buru-buru kak! Kevin memang seperti itu jadi udah terbiasa lihat tingkahnya." serkahku
Tanpa basa-basi lagi akhirnya kami makan, suasana sarapan pagi sangatlah sunyi apalagi tidak ada sosok Kevin, namun terkadang Clara menatap kebelakang seperti menunggu seseorang, hal itu seakan membuatku mati penasaran ingin sekali rasanya mengkaji kisah tersembunyi dari mereka, akan tetapi aku tidak tau harus memulai dari mana.
Selang beberapa menit setelah kami selesai makan akhirnya mereka bersiap untuk pulang.
"Salsa... Kami pulang dulu ya! Makasih atas jamuannya, lain kali kalian boleh mampir dirumah kami juga!" kata kak Syam.
"Ah iya kak nanti kita bakalan kesana! Ohh iya juna nggak mau nginap lagi dirumah kakak nggak?" tanyaku kepada juna dengan kembali berjongkok didepannya.
"Juna tidak mau bermalam kalau ada tante dirumahnya om Kevin!" jawab Juna ketus
"Wahwah... Tante lagi? Nih bocah pengen banget gue tabok ya? Gue masih muda dipanggil tante hadeh... Gini nih derita anak remaja yang nikahnya sama yang tua!" gerutuku kesal dalam hati.
"Loh... Emangnya kenapa kalau kakak satu atap sama Kevin?" tanyaku lagi berusaha menahan kesal.
__ADS_1
"Pokoknya tante pasti selalu bikin marah om Kevin kan? Jadi juna juga membenci tante huh!" balasnya lagi.
"Dasar bocah ingusan! Masih kecil udah ngeselin gimana besarnya coba!" geramku lagi
"Hahah Salsa... Kamu tidak usah menghiraukan ucapan juna! Dia masih kecil belum ngerti urusan orang dewasa hahah!" pungkas kak Syam terkekeh.
"Iya kak, Salsa paham kok!"
"Kalau begitu kita pamit ya!"
Setelah kepergian mereka rumah kembali sunyi tak ada sedikitpun suara sama sekali, aku melirik kelantai dua, sambil berteriak " Kevin mereka udah pergi! Lo nggak mau turun?"
Tak ada jawaban sama sekali, Meskipun begitu aku berniat untuk membawakannya makanan, entahlah setan apa yang merasukiku hingga ingin melakukannya.
Untung saja kak Syam tadinya memasak hidangan yang sangat banyak dan kini masih ada sisanya.
Aku berjalan naik kelantai 2 dengan sangat hati-hati sebab membawa makanan untuknya.
Tok tok tok
"Kevin buka pintunya, gue bawa makanan buat lo!" teriakku setelah mengetuk pintu.
"Buka aja, pintunya tidak terkunci!" jawabnya dari dalam.
"Mana bisa gue yang buka, lagian tangan gue megang makanan!"
"Sejak kapan kamu perhatian sama aku?" tanya Kevin ketika membuka pintunya.
"Lo itu ya, gue perhatian lo masih nanya kenapa? Ya ampun Kevin seharusnya lo itu bersyukur karena punya istri kayak gue!" jelasku.
"Nih ambil, makan dulu!"
Kevin mengerutkan dahi menatap makanan yang ku bawa, dia memasang ekspresi seperti orang yang jijik tak mau menyentuh makanan ini.
"Aku tidak suka memakan makanan dari orang itu!" ketusnya.
"Orang itu? Kevin! Dia kan sepupu lo, lagian kenapa dengan kak Syam? Curhat dong sama gue, ada apa sih gue udah kepo banget loh!" rengekku kepadanya.
"Oh... Apa jangan-jangan kamu memakai trik ini cuman karena ingin tau soal ini?"
"Lah... Kok jadi salah jalur sih! Ini gue ikhlas bawain lo makanan, dan gue tanya soal lo sama kak Syam itu karena gue cuman penasaran doang nggak lebih!"
Aku sangat kesal dengan Kevin yang salah memahami kepedulianku, hingga di memegang kedua sisi nampan yang kubawa.
Kufikir ia menerimanya dan tidak mau lagi membalas celotehku.
Prangk.......Seketika mataku terbelalak tatkala kaget melihat Kevin melempar nampan berisi makanan yang kubawa.
__ADS_1
"Ahk... Kevin! Lo nih apa-apaan sih, kenapa makanannya lo lempar? Kalau lo nggak mau lebih baik lo tolak secara halus nggak usah kayal gini! " kesalku.
"Aku tidak suka kau bertanya soal itu, dan kuharap kedepannya kamu tidak boleh membahasnya lagi!" perintahnya.