
Aku terus menangis memandangi tubuh Kevin, mengelus rambutnya lalu mendekatkan wajahku ke dadanya.
"Tunggu! Kenapa jantungnya masih berdetak?" gumamku menyadari Jantung Kevin berdetak, apa jangan-jangan dia hanya berpura-pura lagi?.
"Kevin breng*ek, Sialan, baj*ngan!!! Bangun sekarang!!! Aku tau kamu cuman mau ngeprank aku kan? Kalau kamu tidak bangun! Aku akan membuatmu benar-benar kehilangan nyawa! Biar mati aja sekalian!" ucapku mengutuk sambil mengeluarkan kata-kata kasar.
"Ehhem.... " Sahut Kevin langsung terduduk diatas kasur sambil tersenyum puas.
"Jadi kamu cuman pura-pura doang? Kevin! Sampai kapan kamu akan terus mengerjaiku seperti ini hah!" kesalku.
Dia tak hentinya tersenyum, "Jangan marah dulu Sal... Aku memang hanya bercanda! Agar aku bisa tau bagaimana reaksimu! Ternyata semua yang tadi ku dengar sudah sangat cukup bagiku!" terangnya.
"Bercanda! Bercanda dan bercanda! Hanya itu yang terus kamu lakukan sama aku Vin! Aku terkadang muak dengan bercanda kamu yang sama sekali tidak lucu itu!" celotehku di iringi air mata.
"Iya Sal... Maaf! Aku tidak akan melakukannya lagi!"
"Tidak semudah itu aku memaafkan orang yang bercanda pake nyawa Vin!" tegasku.
Setelah mengatakan itu aku berdiri, hendak melangkah pergi namun tanganku seketika di tarik dari bekalang.
Membuat tubuhku otomatis berbalik dan menimpa tubuh Kevin, mendorongnya diatas kasur.
Kini kedua tanganku bertumpu di dada sixpack miliknya, wajahku memanas dengan cepat.
Bahkan jantungku juga ikut terkontaminasi, "Wah... Sejak kapan kamu seagresif ini Sal... " tanya Kevin tersenyum menyeringai.
Secepat kilat aku menarik tanganku, ingin segera berdiri dan menjauh darinya, akan tetapi sebelum niatku terjadi Kevin lebih dulu melingkarkan tangannya dipinggulku.
Menekan, hingga membuatku terkejut, "Kevin! Apa yang kau lakukan?" tegurku.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kevin malah lebih menekan pinggulku, membuat tanganku yang bertumpu di tubuhnya seketika goyah dan langsung merapat turun ke dadanya.
Pada saat ini wajahku begitu sangat dekat dengan dada bidangnya itu, bahkan dengan sendirinya nafasku terpantul kewajahku.
"Hentikan Vin! Jangan menekan pinggulku! Bisa bisa kita.... "
"Kita apa Sal... Bukankah sekarang ini adalah hal wajar yang biasa di lakukan oleh pasangan suami istri? Jadi tubuh aku adalah milikmu seutuhnya, meskipun aku tau kamu tak mungkin mengatakan apa yang baru saja ku katakan iya kan?" tuturnya
"A-apasih aku masih polos! Otakku tidak bisa mengerti ucapan kamu!" elakku terdengar gugup.
"Ohh polos ya? Terus kenapa fikiran kamu dipenuhi oleh hal-hal jorok seperti tadi ?" cibir Kevin seraya menatapku menyelidik
"I-itu karena... Yak! Berhenti mengintimidasiku terus!!!" aku menjerit tepat di depan wajahnya setelah tadi aku mendonggak menatapnya.
__ADS_1
Hahah... Kevin tertawa keras, suaranya menggema di kamar ini, " Ngapain Ketawa? Emangnya ada yang lucu!" ujarku menatapnya heran.
"Kamu sangat menggemaskan Sal... Sumpah! Sampai-sampai aku tidak sabar ingin segera melahapmu!" jawabnya dengan nada rendah tepat di kata yang terakhir.
Aku bengong sungguh! Tidak mengerti ucapannya, "Kamu bilang apa tadi?"
"Hm... Tidak, aku tidak bilang apa-apa! Sepertinya kamu tidak sering membersihkan telingamu, jadi perkataanku saja tidak bisa kamu dengar padahal jarak kita sangat dekat loh!" jelas Kevin menyangkal.
"Sorry yah! Aku selalu membersihkan telingaku, lagian aku bukannya tidak mendengar tapi cara pengucapan kamu yang yang tidak jelas!"
"Sebenarnya kata apa yang tadi dia ucapkan?ahh sial aku sangat penasaran!" gumamku dalam hati.
"Ohh kalau begitu kamu tidak perlu mendengarnya lagi! Karena aku tidak mau mengulang ucapanku sendiri!" Sekanya tetap tidak mau memberitahuku.
"Ayolah Vin! Sumpah aku memang tidak mendengar apa yang barusan kamu bilang tadi, jadi kasi tau aku sekarang juga! Siapa suruh kamu mengucapkannya kurang jelas"
"Aku bisa mengatakannya lagi, tapi kamu jangan sampai menyesal karena ini sedikit membuat orang berfikiran mesum, dan aku tidak akan lagi menahan diri jika kamu meminta aku mengulangnya!" ucap Kevin terdengar membingungkanku.
Aku mengangkat kedua alisku, "Me-mesum? Kalau begitu lebih baik tidak usah! Dari pada nanti aku yang jadi korban!"
"Ya udah kalau begitu lebih baik ini menjadi rahasiaku, Ohh iya Kapan kamu masuk kuliah?"
"Mingdep!" jawabku menyingkat kata.
"Ho'oh emangnya kenapa?"
"Kalau begitu kita bisa manfaatkan waktu libur kamu buat bulan madu! Gimana?" ujar Kevin memberi usulan.
"What! Bulan madu? bulan madu itu apaan ya?" tanyaku dengan wajah polos.
Kevin sepertinya menghela nafas panjang, "Salsa... Masa kamu tidak tau apa itu bulan madu? Bukannya otak kamu selalu kotor!kenapa bulan madu saja tidak tau dan masih bertanya sama aku?"
"Aku memang tidak tau!!!"
Kevin menggeleng tidak percaya, "Bulan madu itu semacam liburan yang di lakukan oleh pengantin baru, disana kita bisa melakukan apa saja, termasuk membuat anak!" jelas Kevin.
"Apa!!! Tidak-tidak aku tidak mau melakukannya, aku kan sudah bilang belum siap punya anak!" Cerocosku.
"Bukannya tadi kamu bilang sendiri mau melakukan apa saja asal aku bangun termasuk memiliki anak?"
"I-itu ceritanya beda, tadi kamu cuman pura-pura doang berarti tadi ucapanku juga termasuk bohongan bwek!" jawabku cepat menahan rasa gugup.
"Jadi kamu juga tidak mau mempunyai anak dariku?"
__ADS_1
"Nggak!"
"Yakin?"
"Ya iyalah yakin!"
"Kalau begitu aku akan terus memintanya sampai kamu yakin!" Godanya.
"Terserah!!!" balasku ketus.
Tanpa sadar ketika terus membalas ucapannya, ternyata tubuhku masih berada di atas tubuhnya.
Dengan gesit aku berdiri dan menjauh darinya, sedangkan Kevin melakukan hal yang sama denganku namun dia berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian.
Tanpa permisi, Kevin melorotkan handuknya tepat di depanku, menampakkan bokong putihnya, aku kaget kemudian menutup mata lalu berbalik.
"Astaga... Kenapa dia tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau dia mau pake baju! Kan aku bisa keluar dulu dari kamarnya!"
gerutu dalam hati.
"Aku sudah selelsai! Kamu bisa membuka mata, lagian kenapa kamu harus melakukannya? Bukankah nantinya kalau kamu siap, kamu bisa melihat semuanya tanpa terkecuali?" ucap Kevin merebahkan kembali Tubuhnya diatas kasur
Aku berbalik badan kemudian berjalan mendekatinya, dan sialnya aku tersandung kaki sendiri dan kembali menimpa tubuhnya.
"Sepertinya hari ini kamu memang tidak bisa lagi menahan diri ya Sal...."
"Hah! Tadi itu aku kesandung! Jangan berfikiran yang aneh-aneh deh... "
Kembali aku hendak berdiri, namun sekali lagi Kevin memelukku dan langsung menggelitik pinggulku.
Seketika aku merasakan geli, tubuhku menggelinjang seperti cacing kepanasan karena ulah jemarinya yang terus saja menggelitik tanpa henti.
"Kevin! Hentikan ahhah.... " pintaku berteriak sambil tertawa.
"Hahah ini hukumannya karena kamu terus menolakku!"
Hanya bisa tertawa geli, "Stop Vin! Stop hahah ini sangat geli perutku sakit sekarang!" pintaku memohon.
Aku tidak bisa terus menjadi korban kejahilannya, hingga aku berusaha menahan rasa geli kemudian memegang pinggulnya, kini giliranku yang menggelitikinya.
"Ahh Sal... Apa yang kamu lakukan, jangan seperti itu!" lenguh Kevin.
Tanpa rasa ampun aku terus menggelitikinya, kami saling bergantian menggelitik ketika ada salah satu dari kami yang lengah.
__ADS_1
Kasur yang tadinya sangat rapi kini tampak kusut oleh pergulatan kami, bukannya melakukan sesuatu yang intim tapi ini hanya kejahilan masing masing.