Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Emosi!


__ADS_3

HAPPY READING GAES JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN UNTUK PART INI 😊


.


.


.


Aku mendonggakkan wajahku, mencekik diriku sendiri dihadapan mama.


Mama tersentak, ia sangat kaget dan takut, mama berusaha melepaskan kedua tanganku dari cekikanku sendiri, namun aku malah memperkencang cekikanku itu.


"Salsa..., apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu nak!"


"Lepasin mah, Salsa mau mati aja!"


"Salsa jangan lakuin itu.... "


Mama menarik kedua tanganku dengan keras sampai terlepas lalu memelukku kembali dengan sangat erat.


"Salsa..., kamu jangan nakut-nakutin mama dong, kamu nggak takut penyakit jantung mama kambuh? Siapa tau mama duluan yang menghadap sang pencipta dari kamu sayang!"


Ucap mama membuatku terdiam, kini air mata yang tanpa ku sadari sudah mengalir begitu deras dikulit pipiku, meskipun aku tak mengeluarkan suara, namun air mataku mampu mewakili semua emosi yang sedari tadi kutahan.


"Mama jangan bilang gitu dong! Salsa yakin kita pasti bisa hidup bersama sampai tua mah! Salsa sangat yakin itu."


Mama melepaskan pelukannya lalu mengelus lembut rambutku yang kubiarkan terurai itu.

__ADS_1


"Salsa..., umur tidak ada yang tau sayang! Kamu sangat sehat, sedangkan mama sudah tua, penyakit mama juga sering kambuh setiap saat, jadi untuk kali ini saja, mama mohon sama kamu, terima Kevin jadi masa depan kamu nak!" imbuh mama yang masih meneteskan air mata.


"Tapi mah..., " keluhku.


"Shuttttt"


Mama menempelkan satu jarinya tepat dibibirku membuat aku tak bisa melanjutkan omonganku lagi.


"Kamu tenang saja, mama tau Kevin itu anaknya baik, dan juga sopan meskipun biasanya terdengar dingin tapi kan biasanya orang yang seperti itu lembut didalamnya, jadi Sayang! Kamu jangan melihat orang dari luarnya saja ya! " tutur mama membuatku termangu.


"Seharusnya ini adalah ucapanku mah, kita tak seharusnya melihat sifat orang dari luarnya saja tetapi kenapa mama dengan mudahnya langsung tertipu dengan senyum murahan seorang Kevin? " batinku.


"Ya udah sekarang kamu istirahat saja! Mama mau keluar dulu mau beli pulsa untuk telfon ayah kamu yang lagi bertugas! " ucap mama.


Mama akhirnya keluar, dan kini aku kembali sendiri.


Trinkk trinkk


Bunyi ponselku yang menandakan sebuah pesan masuk, aku terbangun lalu mengambil ponsel yang berbaring tepat disebelahku itu.


Aku menggenggamnya lalu menekan dua kali layarnya yang langsung otomatis menyala.


Aku melotot sembari melihat layar ponselku yang penuh dengan panggilan tak terjawab, dan chat dari via whatsappku yang berkisaran ada 1000+.


Aku mulai membuka panggilan tak terjawab itu yang ternyata berasal dari Dita, Lena dan David sedangkan satu panggilan dari Willy tidak ada sama sekali.


Aku kembali mulai emosi, aku tak habis fikir dia bahkan tak mencariku, aku merasa sangat kecewa sekarang, sakitku sebenarnya karena ulahnya namun dia bahkan tak pernah mengabariku.

__ADS_1


Aku kemudian membuka via whatsappku, berharap ada sebuah pesan terselip dari Willy masuk, namun nihil ketika aku mulai membuka polanya, ponselku tiba-tiba mati total.


Aku sangat kesal sekarang, aku kembali menggenggam ponselku dengan erat lalu melemparnya kekasur yang pada akhirnya terpental dan jatuh kelantai.


Clekk


Mama datang lagi, dia tampak kembali panik, mungkin karena mendengar suara dari lemparan ponselku.


"Salsa... suara apa itu?" tanya mama disela langkahnya mendekatiku.


"Ya ampun Sal... Kenapa kamu melempar ponselmu?" mama berjongkok mengambil ponselku, "Yah... Layarnya pecah Sal... Gimana dong! " keluh mama.


"Buang aja ma! " lirihku kesal.


"Lohh kok dibuang Sih Sal... Kan sayang hape iPhone11 pro nya, ini hape mahal lo Sal...." tutur mama dengan menyodorkan ponselku itu.


Aku menarik nafas dalam-dalam, "Mah, Salsa mau nanya, apa Willy pernah kesini buat jenguk aku nggak?" tanyaku dengan menatap penuh ke mama, menantikan sepatah kata yang sekedar "Iya" saja, aku sangat menantinya hingga jantungku ikut pula berdebar.


"Ke- kenapa kamu bertanya soal itu?" jawab mama dengan acuh.


"Mama jawab aja, kenapa mama balik nanya sih! " geramku dengan menghentakkan kaki ditempat tidur.


"Di-dia nggak pernah datang!" jawab mama yang tampak gugup.


Setelah mendengar pengakuan mama, aku merasa amat kecewa, sakit hati yang awalnya tak terlalu, kini sangat perih bagai terkoyak-koyak dengan sebuah sayatan pisau.


Perih, sakit namun tak berdarah.

__ADS_1


NEXT**......???


__ADS_2