
Aku menjadi tidak tenang dengan kehadiran Clara yang ada disekitarku namun Kemudian Willy menyodorkan air minum, "Nih minum! Nggak usah melamun gitu!" katanya.
Botol air minum yang ia berikan hanya ku letakkan di hadapanku karena aku memang tak haus melainkan melamun karena Clara.
"Ehh Lena... Kamu tau dari mana aku sudah bersuami?" tanyaku masih heran akan ucapannya tadi.
"Hm... Gue tau dari yayang bebeb gue... Katanya elo pernah diantar sama dia pulang terus lo bilang sama dia kalau lo itu udah bersuami!" jawab Lena agak lebay.
"Ohh pantesan! Terus kalau masalah Dita, Gimana kabarnya kok dia nggak datang kali ini! Apa kamu tidak mengundangnya Will?" sekaku bertanya lagi dan tak mau membahas soal pertemuanku di rumah sakit.
"Bukannya gue nggak ngundang dia, tapi dianya yang nggak mau ngangkat telfon gue yaudah berarti dia nggak mau dong!" balas Willy.
Ku lirik David yang sejak tadi tertunduk apalagi saat aku sedang membahas soal Dita, "Kalau Dita mah... Udah berubah banget, dia tuh udah nggak sering chatingan sama gue! Tapi nih Ya gue sering lihat dia jalan sama cowok dan setiap kali gue lihat cowoknya tuh beda-beda terus, dan walaupun gue lihat dia di jalan, gue nggak sapa, soalnya gue takut ikut campur soal dia, apalagi bisnis orangtuanya bangkrut dan dia putus kuliah! Gue sih sebenarnya kasihan jadi seringkali gue mampir kerumahnya tapi dia sering ngusir gue ya udah gue sakit hati dong dan gue udah malas nemuin dia!" papar Lena mengungkapkan kisahnya dengan Dita.
"Ohh... Kalau Kamu Vid, bagaimana? Apa kamu pernah bertemu sama Dita?" Aku menatap penuh rasa penasaran ke arah David yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
Seketika ia terlihat lebih gugup dari sebelumnya, matanya berkeliling seperti sedang berfikir, "Ehh gu-gue... Sering ketemu sama dia...." jawabnya.
"Serius lo? Terus-terus?" sambung Lena bertanya dengan tak sabaran.
"Gue sama dia cuman ketemu sapa doang kok nggak lebih!" balasnya seperti menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba makanan yang tadi di pesan telah tiba dan di tata diatas meja tepat di hadapan kami, "Silahkan menikmati!" ucap pelayan Cafe tersenyum ramah.
Mmb... Hoek... Hoek...
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja, aroma dari makanan itu membuat mual, dengan cepat aku berdiri dan berlari pelan menuju toilet.
***
Sekitar 15 menit kemudian aku kembali, dan berjalan cepat ke arah meja para sahabatku, akan tetapi langkahku memelan saat melihat Clara tengah duduk di kursi yang tadi ku tempati.
Semakin dekat aku mulai mendengar percakapan mereka dan benar saja, topik pembahasan yang di keluarkan Clara adalah tentangku.
"Si Salsa pasti Hamil tuh! Kalian sebaiknya jauh-jauh deh sama dia! Asal kalian tau yah dia pasti hamilnya sama om-om, apalagi nih aku pernah dengar kalau dia pernah kawin lari sama mantannya, padahal statusnya sudah menikah, apa kalian tidak malu berteman sama dia?" hasut Clara
Aku geram mendengarnya, ku langkahkan kaki dengan cepat meraih gelas berisi air di hadapannya.
Byur...
"Kenapa kamu bisa memfitnahku seperti itu? Apa kau fikir aku wanita sepertimu yang mencoba merayu laki-laki beristri?" sindirku.
"Hahah ya siapa tau ucapanku benar kan? Lagian bukannya kamu memang sudah kawin lari bersama mantanmu itu? Dan bisa saja, itu anak dari mantan kamu!" Ucap Clara membalas cibiranku.
"Elo beneran hamil Sal?" seka Lena terdengar kaget.
"Kenapa harus ditanya lagi, dia pasti hamil, jadi kalian ini tidak usah berteman sama dia kalau tidak mau malu! apalagi anak yang di kandungnya itu tidak jelas siapa ayahnya!" nyinyir Clara memutar bola mata tersenyum miring.
"Gue ucapin selamat ya Sal... sebentar lagi elo udah jadi seorang ibu! " ucap Lena membuat Clara menganga.
"Hah, Apa kamu ini bodoh? tadi kan aku sudah bilang kalau dia itu perempuan murahan!" geram Clara menyangga ucapan Lena.
__ADS_1
Kini Willy berdiri, dan memukul meja dengan keras, "Sudah cukup! mulut anda benar-benar keterlaluan! anda juga begitu tidak tau malu langsung duduk di kursi Salsa tanpa di persilahkan, dan ingat mantan pacar yang anda ungkit itu adalah saya! Saya yang pergi bersama Salsa tapi saya tidak menghamilinya dia memang hamil anak dari suaminya sendiri jadi tolong jaga mulut anda, jangan sampai saya berbuat kasar apalagi saya memang tidak kenal anda!" Serkah Willy tampak begitu emosi namun tetap bersikap sopan didepan Clara.
"Iya... Saya juga setuju sama Willy, anda ini sebenarnya siapa, kenap begitu sok tau tentang kehidupannya Salsa!"lanjut David membelaku.
"Mulut tante emang nggak bisa di kontrol ya? apa perlu saya yang jahit pake benang wol biar nggak fitnah Salsa kayak gitu?, sebenarnya Dia siapa sih Sal... jangan-jangan pelapor ya?" imbuh Lena bertanya padaku setelah ikut mencibir Clara.
"Dasar ya kalian bocah-bocah ingusan, Siapa yang pelakor, justru sahabat kalian yang kalian anggap suci ini adalah biang keroknya dia yang merebut Kevin dariku! dia...." Raung Clara menjerit, sambil menunjuk-nunjukku dengan jari telunjuknya.
"Sabar Sal... sabar... kali ini memang sebuah ujian karena kamu harus bertemu lintah di hadapanmu! ingat kamu sedang hamil tidak boleh terbawa emosi!" geramku dalam hati berusaha menahan diri dengan memberi semangat pada diri sendiri.
Aku hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi, kuraih tasku di di hadapanku, " Will sepertinya aku harus pulang sekarang! makasih ya kamu sudah mengajakku makan disini, tapi maaf acara makan-makannya jadi hancur karena ada kecoa maaf yah!" kataku mengibaratkan Kecoa itu adalah Clara.
Mereka berempat hanya memberiku tatapan kecewa, namun aku benar-benar sudah tidak tahan melihat muka Clara yang ingin sekali ku terkam.
Aku melangkah pergi meninggalkan mereka, di sela langkahku aku mengeluarkan ponsel lalu menelfon Kevin, Rasa bahagia itu muncul Ketika panggilan itu berdering dan langsung di angkat olehnya, "Halo Sayang! ada apa? apa kamu sudah pulang, kebetulan aku sudah hampir sampai di titik lokasi yang kamu share ke aku! tunggu aku ya!" Sahut Kevin begitu lembut meski hanya dari suara panggilannya saja.
"Kamu cepat ya! aku sudah sangat lelah!" lenguhku berkata dan langsung di iyakan olehnya.
"Salsa... kamu baru saja menelfon mantanku ya? hm.. kebetulan aku memang agak merindukannya! bagaimana tampang dia yang sekarang ya?" tukas Clara yang baru saja datang dan kini berjalan sejajar denganku menuju pintu.
Aku hanya terdiam, begitu malas aku meresponnya, "Ahh Sal... apa Kevin sudah tau kalau hari ini kamu berkencang dengan mantan pacar kamu?" Kata Clara benar-benar membuat otakku rasanya memanas.
"Ahh aku benar-benar menantikan hari ini dimana Kevin melihatku lagi, dan aku yakin dia pasti akan jatuh cinta padaku lagi," Ia berbicara dengan dirinya sendiri sambil memuji dirinya.
"Heh! aku juga penasaran bagaimana Jijiknya Kevin ketika melihatmu yang sudah beberapa kali operasi palstik!" gerutuku mengejeknya dalam hati
__ADS_1