Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Kabur Dari Rumah


__ADS_3

Sesaat kemudian akhirnya dia berhasil mengantarku sampai di depan rumah.


"Wah... Ini rumah lo? mewah banget!" pujinya terpukau.


"Makasih! Karena lo udah nganterin gue!"


"Heheh... Ini emang udah kewajiban gue sebagai cowok sejati buat nganterin cewek cantik kayak elo!, Oh iya nama lo siapa sih!"


Aku menatapnya malas, "Salsa!" jawabku singkat.


"Tukeran nomor WA dong! Siapa tau entar kita bisa jalan-jalan gitu!" lirihnya.


"Nggak usah! Nanti suami gue marah!" ketusku.


"Hahah lo nihh bercandanya pake alasan suami segala sih! Lo kan masih muda, masa udah punya suami." serkahnya tak percaya.


"Kalau nggak percaya terserah! Gue mau masuk!"


"Ehh gue nggak di ajak masuk nih!" teriaknya disela langkahku masuk ke dalam rumah.


Aku tak menoleh kebelakang, tak ingin lagi mengajak orang gila yang menjengkelkan itu untuk bicara.


Sungguh malas meladeni sikap ceplas-ceplosnya itu, apalagi mendengar rayuannya malah membuatku merasa jijik.


Di dalam kamar, aku langsung mengambil handuk untuk mandi, tubuhku seakan sangat lengket karena keringat, wajahku juga menjadi kusam dalam sehari karena teriknya matahari tadi.


Aku menyalakan air shower, berdiri dibawahnya membuatku perlahan merasakan kesegaran, rasanya lelah hari ini terbayarkan dengan sejuknya air dari shower.


Setelah mandi aku keluar dengan handuk yang melilit tubuhku, air terus menetes dilantai karena rambutku yang masih basah.


Ceklek


Seketika pintu terbuka lebar, ternyata Kevin yang datang tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Ahk... Aku menjerit kencang sambil menutup tubuh bagian atasku yang tidak tertutupi handuk.


Brak... Ketika mendengarku berteriak, Kevin sontak langsung keluar dan menutupnya,


"Kevin bren*sek! Kenapa lo masuk nggak ngetuk pintu hah?" kesalku.


"Aku cuman mau tanya, bagaimana ujian tes kamu tadi?" tanya Kevin di balik pintu.


"Yah... Mestinya lancar dong! Gue gitu loh! " jawabku bangga.


Dia tak meresponku lagi hingga aku berjalan menuju pintu untuk menguping apakah dia pergi atau masih ada di depan kamar.


Namun sayang sekali tak ada suara sedikitpun, hingga aku sangat penasaran dan mengintipnya dari bawah celah pintu.


Ceklek... pangk....


Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan membentur keras kepalaku,


"Aww...Kevin!!


"Kamu ngapain ada disitu!" tanya Kevin yang melihatku berjongkok memegang dahi.


"Bisa nggak sih lo tuhh nggak bikin gue dapet sial terus!"


"Hah?" lirih kevin terperangah


Aku hendak berdiri, akan tetapi aku merasakan lilitan handukku menjadi longgar, jadi tidak mungkin aku langsung berdiri di depannya sebab nantinya akan mengakibatkan sesuatu hal yang tak terduga, fikirku.


"Ke-Kevin! Lo keluar sekarang!" pintaku.


"Ada apa?"


"Gue bilang Keluar!" teriakku dan akhirnya membuat dia langsung keluar.


Aku memegang handukku erat-erat agar tidak terlepas, lalu berdiri dan mengunci pintu, "Ahh... Kenapa ini terjadi lagi? Kenapa dia harus punya kebiasaan nggak ngetuk pintu dulu! Ahk sial... " ucapku melenguh.


***


Waktu terasa berjalan dengan cepat, hubunganku dengan Kevin tak ada kemajuan sama sekali melainkan hanya terus bertengkar meski itu hanyalah masalah sepeleh.


Hari ini adalah hari yang sangat ku nanti, pasalnya tepat jam 9 pagi dini hari merupakan waktu keluarnya hasil ujianku dan ini sudah hampir tiba.

__ADS_1


Aku tidak sabar melihat 5 huruf bergaris tebal terpampang nyata didepan mataku, dan untunglah pengumumannya itu dilakukan secara Online yaitu masuk melalui via E-mail.


Ting!


Tubuhku terkinjat ketika terdengar suara yang menandakan sebuah pesan baru saja masuk, dan benar saja ternyata itu adalah pesan melalui E-mail.


Dengan tangan gemetar aku membukanya, namun sebelum menggesernya kebawah aku menarik nafas dalam-dalam seraya menutup mata.


Karena tak sabar tanganku bergerak sendiri menggesernya, jantungku seakan berdebar kencang namun bukan karena jatuh cinta melainkan rasa takut akan gagal.


Perlahan tapi pasti aku membuka mata, hingga akhirnya mataku terbelalak sempurna dengan linangan air bening yang berada dipelupuk mataku bersiap untuk terjun ke pipiku ini.


Sungguh tak menyangka hasilnya sudah keluar dan tertulis jelas kata LULUS yang mampu membuatku terharu.


"Gue beneran lulus kan?" gumamku bertanya pada diri sendiri merasa tak percaya.


Aku melebarkan mata sambil mendekatkan wajahku lebih dekat dengan layar ponselku, terus menerus mengeja lima huruf itu berulang kali.


Ahk... Aku melompat-lompat kegirangan sambil berteriak histeris, lalu berlari keluar mencari Kevin sembari membawa ponselku itu untuk memperlihatkan hasil ujianku padanya.


"Kevin! Kevin!" panggilku menggema memenuhi isi rumah ini.


Pada akhirnya aku melihat Kevin berada di meja makan sambil menyantap roti tawar, aku berlari ke arahnya, dan langsung memeluknya dari belakang, melingkarkan tanganku dilehernya itu.


"Kevin!!! Lo tau nggak hari ini gue bahagia bang... "


"Uhhuk uhhuk! Lepasin tangan kamu!" potong Kevin tersedak karena pelukanku.


"Kamu mau membunuhku ya? Datang-datang langsung peluk-peluk orang lagi makan!" sambungnya.


"Yah... Sorry-sorry gue nggak sengaja, Ohh iya gue cuman mau ngasih tau lo kalau gue lulus!" ucapku senang.


"Oh.... "balasnya singkat, padat dan datar.


Aku merasa diabaikan lagi, "Lah... Kok lo kayak gitu sih!"


"Terus mau kamu apa? Peluk kamu juga! Kayak kelakuan kamu tadi." balasnya.


Aku terkesiap mendengar ucapannya, yang awalnya aku hanya ingin membagi kabar bahagia ini dengannya namun apa? Dia tampaknya tak ingin mendengarnya sama sekali malah tambah membuatku kesal dan merasa menyesal.


Aku menyeka air mata yang hampir saja meluncur keluar, berbalik badan dan hendak pergi.


Namun seketika Kevin berdiri dan memelukku dari belakang, "Selamat yah!" ucapnya lembut.


Aku menghela nafas mendengar itu, seakan membuatku merasa di permainkan yang tadinya di buat kesal dan sekarang seperti diberi gula-gula agar terhibur.


"Kevin! Maksud lo itu apa sih! Gue ngerasa elo itu nganggap gue kayak orang bodoh setiap saat!" kataku.


Air mata yang tadinya tak ingin ku keluarkan kini mengalir begitu saja.


Dia menempelkan wajahnya dari belakang disamping pipiku, membuatku sangat terkejut.


"Tadi itu aku sengaja buat kamu kesal dulu! Biar kamu marah-marah seperti sekarang! Karena kamu terlihat lucu loh kalau lagi marah! " jawabnya mengajakku bercanda


Ini diluar dugaanku, sumpah! Sebelumnya aku tak pernah berfikir akan ada seseorang yang akan membuatku seperti ini, seolah dijadikan bahan hiburan untuk orang lain.


Aku menepis tangannya, dengan berani berbalik badan dan mendorongnya agar menjauh dariku.


"Kevin! Asal lo tau kali ini gue serius! Dan lo cuman nganggap gue bahan candaan lo? Lo lihat gue ikut ketawa? Enggak kan! Jadi apa ini maksud lo dengan candaan? Kevin! Lo pernah mikir nggak sih! Kata-kata yang lo anggap candaan itu bisa saja nyakitin perasaan orang!" tuturku


Setelah mengatakan itu aku kembali berlari masuk kedalam kamar, meninggalkan dia yang diam membatu disamping kursi meja makan.


Didalam kamar, aku termenung diatas kasur memandangi layar ponselku yang masih memperlihatkan pernyataan lulus tadi, Rasanya tak ada niat untuk menggeser layar ponselku, malahan jika ponselku matipun aku langsung mengaktifkannya kembali.


Aku terus mengingat perkataan Kevin tadi, membuatku kembali kesal, akan tetapi ketika teringat besok adalah waktunya kembali kekampus perasaan malas bercampur kesalku bertambah, sebab menurut info yang kudapat, besok itu masih ada informasi penting dan harus diikuti oleh calon mahasiswa yang sudah lulus.


Entah kenapa aku mulai merasa bosan dan ingin sekali jalan-jalan, untunglah Kevin sudah berangkat kerja ketika tadi terdengar suara mobilnya meninggalkan rumah.


Aku keluar dari kamar, berjalan terus hingga ke teras rumah, tiba-tiba aku teringat sejak aku tinggal dirumah ini aku sama sekali belum melihat setiap sudutnya seperti apa.


Aku memutuskan kembali kedalam lalu menaiki lantai dua karena ku fikir semua yang ada dilantai satu sudah kulihat setiap jengkalnya.


Terkadang aku melirik pintu kamar Kevin, tapi ada rasa takut untuk membukanya, jadi aku memilih melewatinya saja dan tak jauh dari sana ternyata ada sebuah lorong kecil.


Aku sangat penasaran jadi terus berjalan mengikuti arah lorong tersebut, hingga mataku melotot ketika sampai diujung jalan, ada sebuah ruangan yang tampak menyeramkan dan sangat gelap.

__ADS_1


Aku menahan takut, sambil mengeluarkan ponsel lalu menyalakan senternya, mataku berkeliling mengikuti cahaya senter dari ponselku.


Tiba-tiba aku berbalik badan dan tampaklah penampakan yang tepat mengenai cahaya senterku pada wajahnya.


Aku tersentak kaget dan terjatuh ke lantai,


memegang erat ponselku dan kembali mengarahkan senter ponselku ke arah penampakan wajah tadi.


Dan ternyata itu adalah foto Kevin yang terpajang di dinding dengan bingkai foto yang sangat besar sampai-sampai fotonya hampir memenuhi isi dinding didepanku.


Aku merasa lega karena itu bukanlah hantu, kemudian aku berdiri dan melihat sesuatu yang tertutupi kain putih.


"OMEGAT... Ini apaan? Jangan-jangan mayat lagi! Ahk... gu-gue takut ngebukanya tapi jiwa penasaran gue udah meronta-ronta!!! Gimana dong! " gumamku.


Aku kembali menarik nafas terlebih dahulu, lalu bersiap membuka kain itu, tanganku bergetar hebat begitu pula dengan tubuhku.


Aku menunduk menutup mata, sedangkan tanganku membukanya dan ternyata hanya kumpulan peralatan operasi.


Ceklek


Tiba-tiba ada yang menekan saklarnya dan Lampu menyala terang membuatku langsung merasakan silau.


"Kevin!" ujarku kaget.


Kevin berjalan mendekat ekspresinya tampak menyeramkan, dia seperti sangat marah namun aku tidak tau kenapa.


Aku menjadi takut melihatnya dan langsung mundur, "Ke-kevin! Lo kenapa ada disini?" tanyaku gugup.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu berani sekali menginjakkan kaki diruangan ini!!! " gertak Kevin terdengar sangat marah memenuhi ruangan.


Aku sampai menutup telinga karena sangat terkejut, "Kevin! sebenarnya lo ke-kenapa? Jangan teriak-teriak gu-gue takut!" pintaku ketakutan.


Kevin semakin mendekat, urat lehernya kini tampak sangat jelas terlihat, dia mengepalkan tangannya dengan erat hingga gemetar menahan emosi.


Grap... Seketika Kevin memegang dan menarik kerah bajuku, "Kenapa? Kenapa kamu masuk kesini!!!" gertaknya lagi.


Aku sangat ketakutan sekarang, di seakan berubah jadi monster yang sangat menakutkan.


Tubuhku bergetar hebat, "Gu-gue cuman penasaran doang!" jawabku.


Dia semakin mempererat cekalan tangannya dikerah bajuku, karena sudah sangat takut aku menangis tak mampu lagi untuk bicara.


"Kamu bilang penasaran? Mulai sekarang kamu harus berhenti merasa penasaran dengan tempat ini! Dan jangan sampai kamu menginjakkan kaki di tempat ini lagi, kalau tidak kamu akan tau akibatnya" ancamnya membuatku bergidik ngeri.


"A-ampun Vin! Ma-maafin gue Huhuh please maafin gue! Gue nggak sengaja masuk kesini, gue janji nggak bakal lakuin ini lagi, Le-lepasin gue huhuh!" pintaku menangis.


"Kamu juga menyalahkan aku kan?" tanyanya membuatku bingung


.


"Hah? apa maksudnya?" batinku


"Gu-gue nggak ngerti maksud lo!"


"Cih kamu tidak usah berbohong! kamu pasti juga menyalahkanku iya kan?" imbuhnya lagi.


Aku semakin takut, sambil terus menangis aku menatap matanya dalam-dalam, "Kevin sumpah! gue nggak tau maksud lo apa? huhuh please lepasin gue... lepasin... gue takut.... "lirihku


Akhirnya Kevin melepaskan tangannya, setelah itu Kevin langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih dirundung ketakutan.


Aku kembali kekamar, mengunci diri didalamnya, tubuhku masih tak bisa berhenti gemetar, sikap yang tadi ditunjukkan Kevin membuatku frustasi mengingatnya, ini pertama kalinya dia semarah itu padaku, yang lalu mungkin sudah ku abaikan karena kufikir aku masih belum mengenal betul dengan wataknya tapi sekarang dia tak hanya mempermainkanku, dia juga tak menganggapku sebagai istrinya menggertakku begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku.


"Gu-gue udah nggak tahan tinggal serumah sama dia! Lebih baik gue kembali kerumah mama!" gumamku.


Aku bangkit lalu mengeluarkan koper besarku, mangambil semua baju yang ada didalam lemari dan memasukkannya kedalam koper.


"Dasar laki-laki nggak punya hati! Kenapa dia langsung marah-marah nggak jelas padahal gue cuman penasaran doang!" ucapku disela mengeluarkan semua baju.


"Gue udah muak liat sikap dia yang kayak gitu! Mungkin lebih baik kita pisah, gue lebih rela jadi janda muda, dari pada harus menderita setiap hari sama sikap dia!" sambungku bergumam.


Setelah semuanya sudah masuk kedalam koper, kemudian aku membawanya berjalan meninggalkan kamar hingga kedepan rumah.


Pintu rumah juga tidak ku tutup dengan sengaja, ketika sudah ada taksi aku langsung menaikkan koperku.


Tanpa pikir panjang aku menyuruh pak supir untuk cepat sebelum Kevin muncul lagi, diperjalan aku terus menangis, hingga cegukan beberapa kali.

__ADS_1


Terkadang aku berusaha untuk tidak menangis lagi tapi kenapa aku tak bisa melakukannya?


__ADS_2