Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Pertemuan Kevin dengan Willy


__ADS_3

Aku melilit tubuhku dengan selimut lalu turun dari ranjang melangkah mendekatinya, "Siapa yang menelfon Vin?" tanyaku penasaran.


Kevin membuang muka, ponsel yang tadi ia pandangi, dengan cepat ia sembunyikan di belakangnya, "Ahh i-itu dari temanku Sal... Kamu tidak tidak perlu tau!" elaknya terbata seperti ada yang ia sembunyikan.


"Aku tidak percaya! Coba sini ponsel kamu, aku mau melihatnya sendiri!"


"Tidak usah Sal...."


"Sini...." raungku menjerit.


Dengan ragu Kevin menyodorkan ponselnya padaku, "I-ini telfon dari ayah aku Vin? Kenapa kamu membohongiku?" kataku ketika melihat nama kontak yang memanggil di layar ponsel Kevin.


"Aku akan menjelaskan semuanya setelah kamu mengangkat panggilan dari ayah!" suruh Kevin yang langsung ku anggukan.


"Dokter Kevin! Ini saya perawat yang merawat ibu mertua bapak! Suaminya sedang berada di dalam ruang operasi saya disuruh menelfon bapak! untuk memberitahukan bahwa ibu mertua bapak kondisinya semakin parah! Jadi saya harap dokter segera kesini secepat mungkin!" ujar seorang wanita yang mengaku sebagai perawat yang merawat mamaku.


Aku syok berat! Bagai di sambar petir disiang bolong, Air mataku tanpa sadar mengalir dengan sendirinya mendengar kabar mama yang semakin memburuk.


Tubuhku seakan tak bertenaga, bahkan membuat tanganku seakan lumpuh hingga ponsel Kevin hampir terjatuh.


"Halo dok! Apa dokter mendengar saya?" imbuh perawat tersebut ketika tak mendapat respon.


Kevin sontak mengambil ponselnya dari tanganku, "Baik saya akan pulang secepatnya!" jawab Kevin kemudian langsung mematikan.


Tubuhku yang telilit oleh selimut seketika terjatuh ke lantai, gemetar, rasa takut, sedih semuanya kuarasakan bersamaan.


Kevin berjongkok di depanku sambil mencoba memelukku, "Sudah Sal... jangan menangis!"


Sekuat tenaga aku mendorong keras tubuhnya dengan Kesal.


"Vin...kenapa kamu berbobohong! bukankah semalam kamu masih bilang kalau mamaku tidak apa-apa? lalu apa yang baru saja kudengar? apa aku salah dengar atau semua faktanya memang seperti itu?" Aku mendonggakan wajah menatapnya serius sembari terisak.


"Maaf Sal... jujur! semalam aku memang berbohong! karena aku tidak mau melihatmu terpukul seperti sekarang, aku tidak mau kamu menangis lagi!" lirih Kevin Kembali ingin memelukku.


"Kamu tidak semestinya seperti itu Vin... kamu malah membuatku merasa tertipu lagi, aku fikir tadinya mama baik-baik saja karena aku percaya denganmu tapi kali ini lagi-lagi kamu mematahkan kepercayaanku!" tuturku menangis.


"Maafkan aku Sal... aku tidak akan mengulanginya lagi aku janji!" pungkas Kevin berlutut di hadapanku.


Setelah itu Kevin menatapku tanpa memberi jedah waktu ia memelukku dengan sangat erat, "Maafkan aku Sal... maaf sekali lagi maaf! aku tidak bermaksud untuk berbohong hanya saja ayahmu sendiri yang melarangku untuk tidak memberi tahumu akan hal ini, dia takut akan mengganggu konsentrasimu meraih cita-cita!" jelas Kevin membuatku melongo dalam pelukannya.


"Ja-jadi ayah tidak pernah menelfonku lagi karena takut aku akan gagal? Huhuhu Kenapa! kenapa Vin... kenapa ayah harus melakukan itu! aku sangat menyesal sekarang jika saja aku pulang lebih awal aku pasti ada di saat mama melewati rasa sakitnya, seharusnya aku menemani mamaku Vin... kenapa aku merasa sudah menjadi anak durhaka? kenapa...." jeritku penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tenanglah Sal... jika kamu marah! kamu bisa melampiaskan amarahmu padaku, tapi berhentilah menangis oke..." bujuk Kevin.


"Kevin... bunuh saja aku! aku tidak sanggup lagi untuk hidup, aku tidak kuat menghadapi mama yang terbaring di rumah sakit karena ulahku, bunuh aku Vin... please bunuh aku! aku sudah sangat capek dengan kehidupanku ini!" pintaku menangis histeris.


"Sal.... hidup itu berharga! jangan sekali-kali mengatakan seperti itu! ada banyak orang yang menyanyangimu seperti aku, ayahmu masih ada dan dia tak pernah marah padamu! sedangkan ibumu! kamu masih bisa bertemu dengannya jika kamu baik-baik saja sampai kamu bertemu dengan mama! jangan menyerah di tengah jalan Sal... mungkin ini akan menjadi kesempatanmu untuk berbakti kepada orangtuamu! balas jasa-jasa mamamu Sal... kamu belum terlambat sayang!" imbuh Kevin memberiku motivasi.


Mendengarnya! seolah-olah membuatku sedikit tenang, sebab fikiranku hampir saja kacau memikirkan mama.


Aku melepaskan diri dari pelukannya, kemudian "Ka-kalau begitu aku mau pulang sekarang Vin... please bawa aku pulang sebelum semuanya terlambat!" pintaku memohon meskipun mustahil.


"Maaf Sal... aku baru akan memesan tiket pesawat kita tapi jadwalnya di jam-jam sekitar sore hari, apa kamu bisa menunggunya?"


"Tidak apa-apa! yang penting aku bisa pulang!"


"Hm... baiklah kalau begitu aku akan memesan makanan biar di antar kesini! kulihat kamu juga belum makan dari tadi kan!"


"Tidak usah! aku tidak ada nafsu makan sama sekali! ahh Vin... aku mau kamu menemaniku mengambil barang dirumah yang ku tempati di negara ini!" sekaku.


"Dimana?" tanya Kevin terdengar masih bingung.


Aku berdiri lalu memungut pakaian yang berhamburan kesegala arah untuk ku kenakan kembali, Begitu pula dengan Kevin yang juga melakukan hal yang sama denganku.


***


Bukannya aku egois karena tak menerima cintanya hanya saja hatiku sudah milik Kevin sepenuhnya, dan jika Willy masih mengharap itu hanya akan terus mencabik-cabik hatinya.


"Kita mau Kemana Sal?" Ia bertanya lagi.


"Kita akan kerumah yang selama ini kutempati!" jawabku datar.


"Hm... ohh iya sebenarnya siapa yang mengajakmu ke tempat sejauh ini? terus kamu tinggal dengan siapa?" ia masih mengajukan pertanyaan.


"Kamu akan tau sendiri kalau sudah sampai... tapi ingat jangan Emosi jika kamu sudah mengetahuinya ya Vin aku mohon!" lirihku khawatir.


"Aku semakin penasaran lohh Sal... memangnya kamu tinggal bersama hewab buas? kenapa kamu harus terlihat takut?" curiganya menyadari keresahanku.


"Kamu fikir aku tinggalnya di tengah hutan?" protesku memutar bola mata dengan kesal.


"Aku hanya bercanda sayang!" balasnya


***

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, Aku lebih dulu tutun lalu berlari ke arah pintu sementara Kevin membayar ongkos taksinya, pertama aku mengetuk beberapa kali namun tak mendapat respon.


Ceklek


Aku memegang gagang pintunya berniat untuk membuka tapi tertanya pintunya memang tak di kunci.


Baru saja aku membuka pintu lebih lebar, aroma minuman keras sudah tercium membuatku seketika mual.


Mataku melotot melihat seisi ruang tamu di penuhi botol minuman keras yang berserakan dan Willy yang tengah tertidur diatas sofa.


Tap tap tap....


Suara langkah kakiku ternyata membangunkannya, "Sal... Salsa... elo udah pulang? elo dari mana aja? gue begadang semalaman cuman nungguin elo pulang! makasih ya elo ternyata masih ingat buat pulang kerumah kita! gue kira elo bakal pergi dan tinggalin gue sendirian ditempat ini!" ucap Willy dengan suara khas orang baru bangun.


Willy berdiri melangkah sempoyongan menghampiriku, "Gue minta maaf soal semalam ya Sal... gue janji gue nggak bakal lakuin itu lagi sama lo!" ujarnya semakin mendekat membuatku mundur karena aromanya yang sangat tak sedal di hidungku.


"Will... elo sebenarnya minum berapa botol?" gerutuku kesal


"Gu-gue cuman haus Sal... cuman beberapa botol doang! tapi kalau elo nyuruh gue berhenti buat minum-minum lagi! gue bakal lakuin itu asal elo suka dan kembali sama gue! tapi... tunggu... kenapa bibir lo bengkak?" Willy mengusap kedua matanya, mendapati bibirku yang memang agak bengkak karena ulah Kevin tadi pagi.


"I-ini di gigit nyamuk Will..." jawabku beralasan.


Willy memegang kedua lenganku, menguncang tubuhku sambil berkata, "Lo jangan nipu gue Sal... lo kira gue bodoh nggaj bisa bedain gigitan nyamuk? cepat katakan elo dari mana? dan siapa yang lakuin ini sama lo?" teriak Willy.


"Katakan Sal...." lanjutnya terus mengguncang tubuhku membuatku berdesis menahan cekalan tangannya yang kencang.


Bug...


Tiba-tiba Kevin datang dan melihat Willy yang mencengkram kedua lenganku, tak lupa ia melayangkan tinjuan kerasnya tepat di sudut bibir Willy hingga mengeluarkan darah.


Willy terlempar dan terjatuh ke lantai di antara botol bekas minumannya, "Shhh siapa dia Sal!!" seru Willy mengusap sudut bibirnya lalu menatap tajam kearah Kevin.


"Dia Kevin!!!" jawabku cepat.


Seketika Willy bangkit, ia tersenyum lebar sambil menjulurkan tangannya bermakaud ingin berjabat tangan membuat melongo heran.


"Wi... willy... apa yang...."


"Ohh hy Gue Willy.... elo Kevin yah... sepupunya Salsa? maaf gue nggak bermaksud nyakitin Salsa... gue cuman khawatir karena dia nggak pulang semalam, mungkin tadi elo salah paham jadi mukul gue kan? hahah aduhh jadinya kesan pertama gue buruk di depan calon kakak ipar, Lagian elo kenapa nggak ngasih tau gue sih Sal kalau sepupu lo mau datang?" tutur Willy masih menjulurkan tangannya.


"Will... sebenarnya dia...."

__ADS_1


"Aku bukan sepupunya Salsa... tapi aku adalah suaminya!" Kevin memotong ucapanku.


__ADS_2