
Maaf baru Up
Happy reading ya 😊
Kevin mengabaikanku, dia langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun padaku, tak ada rasa penyesalan dengan apa yang ku katakan padanya.
Sebab aku memang tidak tau di mana letak kesalahanku, jika hanya karena tidak meminta izin bukankah itu cuma masalah sepeleh? Lalu untuk apa dia harus menyuruhku intropeksi diri?
Aku tidak mau terlalu memikirkannya, dia marah terserah dia! Jika dia baik aku pasti akan berusaha lebih baik, tapi jika seperti ini sepertinya aku tidak bisa mengalah begitu saja.
***
Malam berlalu dan kini giliran pagi yang muncul dengan matahari yang sudah terlihat cerah, aku bergegas cepat mengingat hari ini adalah hari pengukuhanku di kampus.
Aku sungguh tidak sabar memiliki status menjadi mahasiswa di universitas ternama itu.
Sebagai mahasiswa baru, aku tidak perlu memakai pakaian dan make up yang terlalu mencolok dan tebal, yang terlihat simple saja tapi tetap keren dengan gayaku sendiri.
Lagipula baju yang ku kenakan nantinya akan tertutupi dengan almamater kampus jadi semua yang di persiapkan hanyalah masalah sederhana.
Ketika semuanya telah siap, aku beranjak meninggalkan kamar kemudian keluar ke teras, tadi malam aku tak pernah keluar dari kamar, jadi aku tidak pernah bertatap muka dengan Kevin.
Begitu juga pagi ini, aku sengaja tidak melirik ke lantai dua agar tidak bertemu dengannya, aku bukan mau menghindarinya hanya saja aku malas berdebat apalagi ini masih pagi, hanya bisa menimbulkan penyakit, fikirku.
Pada saat ingin menutup pintu, terdengar suara klakson nyaring berada tepat di belakangku.
Tubuhku seakan terlonjak kaget mendengarnya, karena penasaran aku menoleh, ternyata dia Kevin yang memakai pakaian sangat rapi dengan setelan jas berwarna silver di padukan kemeja berwarna putih, serta dasi berwarna serupa dengan jasnya.
Dia tampak memukau layaknya seorang publik figur yang terkenal, tapi bukankah dia memang terkenal ya? Yah... Memang benar dia terkenal tapi sayang sekali sikapnya tidak sesuai dengan tampangnya yang terlihat manis.
Bib bib bib
Sekali lagi dia membunyikan klakson mobilnya sambil menatap ke arahku, aku yang masih bingung dengan tatapannya justru menoleh kebelakangku mencari tau siapa sebenarnya yang ia tatap.
Tapi aku menyadari hanya ada aku seorang diri disini, lalu apakah dia menatapku? Tapi untuk apa?
Seketika dia mengerakkan jari telunjuknya ke arahku, mengisyaratkan bahwa aku mendekat padanya.
Karena masih linglung aku mendekat, "Elo manggil gue?" tanyaku.
"Kenapa kamu sangat lama? Ayo masuk cepat aku sudah hampir telat karena menunggumu?" keluhnya.
Aku tercengang dengan ucapannya, sungguh! Aku sama sekali tidak mengerti setiap untaian katanya itu.
"Maksudnya elo mau nganterin gue? Terus Lo udah lama nungguin gue? Hello... Kesambet apaan lo! Gue kayaknya nggak pernah tuh minta tolong ke elo!"
"Ohh kalau begitu terserah kamu! Kalau kamu siap jalan kaki ke kampus ya nggakpapa juga! Kan bukan aku yang mahasiswa!" ucap David.
"Ahh iya juga sih! Gue kan nggak punya uang lagian mumpung dia udah nggak marah terus mau nganterin gue ya gue maulah... Dari pada jalan kaki nanti kaki gue bisa keseleo sampai kampus!" gerutuku dalam hati.
Kevin menaikkan kaca mobilnya, menyalakan mesin bersiap untuk melaju, "Ehh tunggu! Tunggu! Gue mau nebeng sama lo!" pintaku menahan malu.
Pada akhirnya aku menaiki mobilnya ,duduk di kursi mobil tepat dibelakangnya, namun kali ini terkesan berbeda, dia bahkan tak menegurku seperti yang dia lakukan sebelumnya, dan yang terpenting adalah dia mau mengantarku ke kampus? Padahal kemarin dia masih marah bukan?
"Kevin! Elo salah makan sesuatu tadi pagi ya? Atau jangan-jangan tadi malam elo dapat pencerahan?" tanyaku sangat bingung dengan sikapnya ini.
"Kamu diam saja! Aku seperti ini karena sudah capek berdebat sama kamu!" tegasnya.
"Emang lo doang yang capek! Gue juga!!!" lenguhku ketus.
"Vin! Elo kenapa mau nganterin gue ke kampus? Mau jadi mahasiswa lagi ya?"
"Tidak usah banyak tanya! Aku hanya kasihan sama kamu , lagian aku punya urusan di kampus kamu itu! " jelas Kevin.
"Gue nggak butuh di kasihanin! Asal lo tau aja hidup gue kayak gini juga karena elo!" aku kembali kesal.
Kevin tak membalasku lagi, dia hanya berfokus ke arah jalan, hingga tanpa sadar aku sudah hampir sampai di gerbang kampus.
"Ehh... Vin! Lo berhenti di sini aja!" suruhku tiba-tiba membuat Kevin perlahan melambatkan laju mobilnya.
"Kenapa disini? Bukannya ini masih sedikit jauh dari gerbang masuknya?" jawab Kevin terdengar heran.
"Mau-mau gue lah! Pokoknya berhenti di sini!!!" tegasku lagi.
Ku fikir dia akan berhenti sesuai arahanku tapi ternyata tidak, dia tidak berhenti malah terus melajukan mobilnya secara perlahan memasuki parkiran didalam kampus yang khusus area mobil.
"Kevin! Lo nih ngeselin banget ya! Kenapa lo nggak turunin gue di luar aja!!!"
"Memangnya kenapa kalau disini?"
"Gue takut nanti di lihat sama teman gue!" kataku sambil celingak-celiguk mengamati kondisi di sekitar parkiran di balik kaca mobil.
__ADS_1
"Kamu malu karena takut temanmu melihat kita datang bersama? Tenang saja aku tidak akan membuatmu malu tapi malah sebaliknya! Ada banyak orang yang akan terpukau denganku jadi tidak usah berfikiran seperti itu! " ucapnya narsis memuji dirinya sendiri.
"Mungkin aja mata mereka yang bermasalah karena udah terpesona sama tampang lo yang nggak seberapa itu!"
"Sudah! Tidak usah ribut lagi, ini sudah di kampusmu bukankah hari ini kamu disuruh cepat? Lalu kenapa kamu hanya berceloteh disini?" tutur Kevin.
Aku baru sadar setelah itu, dengan cepat aku turun dari mobil berlari tergopoh-gopoh tanpa mengucapkan sepatah duakatapun kepada Kevin.
***
Terengah-engah akibat berlari membuatku tak bisa bernafas normal, sambil terus menyesuaikannya Dita, Lena, Willy dan David datang bersamaan menghampiriku.
Namun karena waktu acara pengukuhan yang sudah di jadwalkan tinggal tersisa 5 menit lagi, kami tidak sempat berbincang.
Pada saat memasuki aula kampus tempat acaranya berlangsung aku duduk diantara Lena dan Dita sedangkan David dan Willy berada di kursi kiri bagian untuk laki-laki, tempat ini sangat luas hingga mampu menampung puluhan ribu mahasiswa, sebenarnya tempat ini memiliki dua lantai namun lantai dua sudah penuh jadi aku berada di lantai pertama, dan untunglah aku duduk tak jauh dari panggung, jadi aku bisa leluasa menyaksikan acara ini.
Pada saat acara itu berlangsung Rektor kampus, Dekan dan semua jajarannya berada di atas panggung berpakaian sangat rapi dan tampak berwibawah, hingga mataku melotot menyadari salah satu di antara orang yang duduk di atas panggung.
Yah... Dia Kevin, yang sepertinya sangat akrab dengan semua yang ada di sampingnya itu, aku terus bertanya-tanya dalam hati apa yang dia lakukan di atas sana? Dan apa hubungan dia dengan para Dekan di kampus ini?
Pertanyaan itu menambah kepusinganku karena penasaran, menungguku di depan rumah, hingga kedatangannya di kampus sungguh membuat otakku memanas karena berusaha mencari jawaban.
Kemudian MC mempersilahkan setiap ketua prodi untuk memberikan sekilas informasi tentang jurusan yang ada dikampus ini.
Tadinya aku berfikir dia hanya akan duduk diatas sana sambil bertepuk tangan, namun ternyata aku salah besar, ketika MC mengatakan "Mari kita sambut tamu istimewah kita hari ini, dia adalah seorang dokter muda yang sangat terkenal dengan sikap gigihnya mampu meneruskan warisan ayahnya menjalankan rumah sakit besar, tidak hanya tampan, tapi juga sangat ramah, jadi tidak perlu berlama-lama lagi kita sambut dr. Kevin Pratama," sambut hangat dengan segala pujian yang di berikan MC tersebut.
Aku melongo dengan mulut yang sedikit menganga, sangat tidak menyangka mendengar ucapan pembawa acara itu, ramah? Sepertinya kata itu perlu di review ulang, nyatanya dia sangat cuek bukannya ramah!
"Cih! Hanya karena dia tersenyum sedikit ternyata bisa di bilang ramah? Ya kali ramah, pastinya tuh sekarang dia cuman senyum terpaksa doang" batinku
"Wow! Gaes... Gue nggak salah lihat kan? Dia cakep banget sumpah! Dia kok kayak malaikat gitu ya, tampan, manis gayanya kece abis, uwuw senyumnya itu lo gaes bikin gue langsung klepek-klepek, iya kan? " tanya Lena yang juga memuji Kevin.
"Malaikat apaan? Malaikat pencabut nyawa?" cibirku dalam hati.
"Apasih lo Lena! Kalau lihat cowok tuh biasa aja, nggak usah lebay kayak gitu, jadi cewek cuek dikit napa!" tegur Dita mengejek Lena.
"Tutup mulut lo! Nggak usah ngurusin ucapan gue! Lagian gue nggak lagi bicara sama elo! Tapi sama Salsa!" tegas Lena.
"Haha tapi sepertinya Salsa nggak lagi perhatiin elo tuh... " lanjut Dita lagi.
"Nggak usah sok tau lo... Lo denger omongan gue kan Sal... Bilang aja iya...." balas Lena berbisik kepadaku.
Aku mulai risih duduk diantara mereka, namun apa daya dalam sebuah persahabatan pastinya ada yang memiliki sikap seperti mereka berdua, dan sebagai sahabatnya aku mestinya harus sabar menghadapi ini karena itu kuncinya agar persahabatan tidak retak.
Ini yang kusukai dari yang namanya sahabat tidak hanya menjadi pendengar yang baik, tapi juga tempat berbagi dan membantuku menghilangkan semua masalah yang mampu membuat kita gila.
"Shutt diam aja Lena! Dita itu benar! Jangan terlalu memuji laki-laki, takutnya semua yang dilihat sama mata tidak sesuai dengan sikap aslinya! " ucapku menyindir Kevin membuat Lena akhirnya diam meski cemberut sedangkan Dita tersenyum penuh kemenangan.
"Ehh kayaknya itu dokter pernah gue lihat deh tapi di mana ya?" selidik Lena
"Siapa tau di mirip sama aktor halu lo kali!" balas Dita.
"Enggak! Gue yakin banget gue pernah lihat dia!" tegas Lena penuh keyakinan.
"Lena... Please diam!!!" tegurku menengahi.
Prok prok prok
Kevin disambut dengan meriah oleh semua mahasiswa baru, tak sedikit dari mereka juga memuji ketampanan Kevin tapi aku tetap biasa saja menatapnya mungkin kadar ketampanannya sudah kadaluarsa di mataku.
"Terimakasih atas sambutannya, saya sangat bahagia bisa di undang hadir di tempat ini, ohh iya saya ingin menyampaikan kepada semua mahasiswa baru khususnya yang mengambil jurusan kedokteran, kalian itu adalah orang-orang terpilih yang mampu mengalahkan ribuan calon mahasiswa yang belum sempat belajar di tempat ini, dan juga ada banyak sekali diluaran sana yang ingin sekali kuliah tapi terhambat karena biaya jadi semestinya kalian banyak bersyukur dalam hal ini, untuk yang mengambil prodi kedokteran kalian adalah orang-orang yang nantinya akan memiliki sebuah tanggung jawab besar, karena kita di tuntut untuk selalu siap mental, fisik serta keberanian dalam hal yang berkaitan dengan nyawa seseorang, jadi tetap semangat perjuangan kalian masih panjang karena ini baru awal tidak perlu mengeluh sebab tidak ada kesuksesan yang di raih tanpa usaha yang keras!" papar Kevin panjang lebar seolah membuat mata yang memandangnya sontak penuh kagum dengan ucapan dan sikapnya.
Mahasiswa baru kembali bersorak, hingga MC mengambil alih microfon, "Wah... Ucapan yang sangat menginspirasi ya! Seorang Kevin Pratama ini memang patut di acungi jempol, jadi untuk kalian mahasiswa baru mari bertepuk tangan sekali lagi!" ajak Pembawa acara.
Beberapa menit berlalu tiba saatnya pengukuhan, MC mempersilahkan kami semua memakai almamater sebagai bentuk pengesahan bahwa kamj sudah resmi menjadi seorang mahasiswa.
Kemudian pak Rektor, dekan serta jajarannya turun dari panggung, tiba-tiba MC mengatakan meminta salah satu di antara kami untuk memberikan sebuah hiburan dalam bentuk apapun, baik menyanyi, berpuisi, ataupun berpantun.
Tapi ternyata tak ada satupun yang bersedia tampil, hingga MC sekali lagi memanggil, namun kali ini sepertinya ada salah satu cowok yang bersedia tampil kedepan.
Karena banyaknya kepala mahasiswi yang duduk di depanku, aku tak bisa melihat jelas siapa cowok itu, aku baru melihatnya ketika dia berdiri di atas panggung.
"Willy... Kok dia sih! Dia mau ngapain diatas sana?" batinku bertanya-tanya.
"Wow Ahh...itu Willy gaes teman kita tuh... Dia pasti mau nyanyi deh... "imbuh Lena menjerit pelan.
"Shuut Lena sebaiknya lo diam aja! Lo nggak malu disini bukan hanya elo, jadi diam aja oke... " Seka Dita menegur Lena.
Aku terkejut tidak tau sama sekali apa yang akan di perbuat Willy diatas panggung, "Oke... Salam kenal nama saya Willy saya berdiri di sini untuk membawakan sebuah lagu yang berjudul You are the Reason, lagu ini saya persembahkan untuk kalian semua khususnya perempuan yang sempat menjadi alasan saya berdiri disini!" ujar Willy
Seketika suasana hening menantikan bagaimana nyanyian Willy
__ADS_1
*There goes my heart beating
Cause you are the reason
I'm losing my sleep
Please come back now
There goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
Oh, cause I need you to see
That you are the reason
There goes my hands shaking
And you are the reason
My heart keeps bleeding
And I need you now
If I could turn back the clock
I'd make sure the light defeated the dark
I'd spend every hour, of every day
Keeping you safe
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
Oh, cause I need you to see
That you are the reason
I don't wanna fight no more
I don't wanna hide no more
I don't wanna cry no more
Come back I need you to hold me
(You are the reason)
Come a little closer now
Just a little closer now
Come a little closer
I need you to hold me tonight*
Berakhirnya lagu you are the Reason milik penyanyi terkenal Calum Scott mampu menyihir orang yang mendengarnya, kenapa tidak, Willy menyanyikannya dengan penuh penghayatan meskipun tanpa di iringi musik dia tetap saja sangat menghayati setiap lirik dari lagu tersebut.
Lagu ini mengandung makna yang mendalam yaitu sebuah penyesalan yang mengakibatkan hancurnya suatu hubungan karena pertengkaran, sama halnya seperti hubunganku dengan Willy yang kandas di tengah jalan.
Tidak hanya itu pada lirik lagunya ada Come back I need you to hold me sebuah kalimat yang membuatku merasa bahwa ini lagu untukku.
Tapi aku terkadang juga ragu karena Willy sebenarnya punya banyak mantan dan aku adalah salah satunya.
__ADS_1
Aku tidak mau terlalu berharap, meskipun demikian semua juga sudah terlambat tak ada lagi yang bisa ku perbuat.
Dengan begitu semuanya akan baik-baik saja, akan ku anggap lagu yang dibawakan Willy hanyalah hiburan semata untuk semua orang.