
Kevin berjalan keearahku, langkahnya lesu, pandangannya begitu sayu menatapku, aku tau dia merasakan apa yang kurasakan saat ini.
Namun jika itu menyangkut Clara, aku benar-benar tak bisa tinggal diam dan hanya terus di jadikan korban.
"Sayang! Apa kamu begitu takut aku berpaling darimu?" lirih Kevin kini berdiri di samping ranjang meraih tanganku menggenggamnya erat.
Aku mengangguk, "Baiklah aku tidak akan pergi, Aku akan terus menemanimu disini Ahh apa kamu memerlukan sesuatu aku akan mengambilkannya, atau perutmu masih sakit?" tutur Kevin berbicara begitu cepat.
Melihat reaksinya yang seperti itu, aku malah merasa benar-benar beruntung ia menurutiku, bahkan berusaha mengontrol emosinya demi aku.
Ia terduduk dikursi tempatnya tadi, tanpa melepaskan genggamannya, "Kenapa kamu tidak menjawab? Apa perutmu masih sakit? Atau kamu mau makan sesuatu?" tanyanya lagi.
"Ahh tidak, aku tidak memerlukan sesuatu! Cukup kamu ada disini, itu sudah membuatku bahagia!" kataku.
Kyuuuk....
Sialnya disaat aku menolak tawarannya, cacing-cacing diperutku malah meminta jatah, dengan malu kupandangi Kevin yang menahan tawanya, "Ehh sepertinya aku mulai lapar sayang! Apa aku bisa meminta sesuatu? Aku pengen makan buah yang kecut-kecut! Pengen ketoprak, gado-gado juga boleh!" kataku.
"Kamu yakin mau makan itu semua?" Kevin menyipitkan matanya mendengar permintaanku.
Aku mengangguk tanpa ragu, "Bukan hanya aku yang menginginkannya sayang! Tapi calon bayi kita juga!" jawabku
melirik ke arah perut.
"Tapi sayang! A-aku tidak tau tempat yang menjual ketoprak atau gado-gado! Ahh atau aku akan pesan lewat online saja! Kan lebih simple!" tukas Kevin yang tadinya merengek menolak namun bersemangat lagi ketika ada terlintas ide cemerlang di otaknya.
"Tidak! Aku tidak mau kalau kamu memesannya lewat online, yang ku inginkan kamu sendiri yang harus membuatnya, atau hanya ada bekas tangan penjual dan juga bekas tangan kamu, kamu bisa pilih mana yang membuatmu merasa nyaman!" ucapku menantang.
"Tidak keduanya! Asal kamu tau ya sayang, aku memang pintar dalam berbagai hal, tapi kalau soal membuat ketoprak atau gado-gado ahh sepertinya aku tidak bisa membuatnya, kalau begitu apa kamu mau aku belajar dari penjualnya?" Matanya berbinar menantikan jawabanku.
"Benar sekali, aku benar-benar menginginkan semua itu, karena hasil dari buatanmu sendiri pastinya jauh lebih enak, dan juga calon bayi kita juga akan senang ya kan?" Aku memberi dorongan agar ia setuju.
Hahah... Kevin tertawa garing, "Tapi Sal..." keluhnya lagi.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau ya usah!" aku berpura-pura kesal di depannya sembari memalingkan wajah.
"Ehh tidak-tidak! Aku mau kok! Aku mau melakukannya demi calon bayi kita heheh!" katanya cengingisan
"Tapi siapa yang menemanimu disini kalau aku pergi?" sekanya berucap.
"Inikan rumah sakit Vin! Bukannya hutan, ada banyak dokter diluar, jadi siapa yang berani menyakitiku!"
Begitu ia mendengarnya, Kevin sempat berfikir lebih dulu, hingga ia memutuskan untuk segera pergi dan sebelum dia keluar lewat pintu, beberapa kali ia menoleh dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Sayang... pergilah kalau kamu seperti itu bisa-bisa aku mati kelaparan disaat kamu pulang! jadi cepat!" Aku merengek manja menyuruhnya bergegas.
Awalnya ia cemberut, akan tetapi seketika ekspresinya berubah dengan sedikit senyuman, "Baiklah aku akan cepat!" imbuhnya mulai berlari lamban keluar.
Kini aku benar-benar sendiri terbaring diatas ranjang pasien, dokter kandungan sejak tadi tidak pernah muncul lagi, mungkin sibuk atau apa, aku sama sekali malas memikirkan jawaban dari pertanyaanku sendiri.
Beberapa menit kemudian aku merasa ingin buang air kecil, untunglah ada toilet yang terletak disudut ruangan ini.
Perlahan aku turun dari ranjang, berjalan secara lamban menuju toilet tersebut, dengan susah payah akhirnya sampai dan mengunci diri dari dalam dan membuang air dari dalam tubuhku.
Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan ini, aku bahkan penasaran apa itu Kevin? tapi rasanya begitu aneh sebab dia baru saja pergi.
"Silahkan berbaring mbak!" Ucap seorang dokter yang terdengar tak asing lagi ditelingaku.
"Makasih dok!" Kali ini aku benar-benar menganga mendengarnya pasalnya itu sama persis dengan suara Dita.
"Jangan-jangan Itu Dita? kenapa dia ada disini lagi?" gumamku, namun ragu untuk keluar dari toilet meskipun hanya sekedar menyapa ataupun bertanya padanya sebab kutau dia masih membenciku.
"Dok! sa-saya mau... meng-gugurkan kandungan saya! apa boleh?" imbuh Dita membuatku yang menguping didalam toilet seketika syok.
"Apa! kenapa mbak mau menggugurkan kandungan? itu dosa besar mbak!" jawab sang dokter.
"Sa-saya tau dok! ta-tapi pacar saya tidak mau bertanggung jawab!" Ia terdengar terbata ketika berkata jujur.
__ADS_1
"Jadi, mbak belum menikah? kenapa mbak harus melakukan perbuatan hina itu jika belum sah! perlu mbak tau yah ada laki-laki yang benar sayang sama mbak dan ada juga laki-laki yang hanya singgah untuk menikmati saja lalu pergi! tapi kenapa bisa mbak ceroboh dalam memilih?" nasehat sang dokter.
"Saya juga tidak rela seperti ini dok! Tapi demi membayar hutang ayah saya, saya harus meminjam uang kepacar saya, akan tetapi pacar saya memberi saya syarat yaitu menjadi alat pelampiasan nafsunya!" tutur Dita terdengar terisak.
Krek...
"Dita!" lirihku memanggil setelah membuka pintu dan melangkah keluar kearahnya.
"Ahk.. Salsa?" sahutnya terlihat sangat kaget.
"Kenapa elo bisa disini? ja-jadi tadi elo dengar semuanya?" syoknya berucap.
Aku tak merespon melainkan terus berjalan dengan mata berkaca-kaca langsung memeluknya.
"Aku tidak tau kamu menjalani hidup yang sangat kejam seperti ini Dita!" lirihku lagi.
Ia terdiam sejenak, tiba-tiba ia mendorongku dengan pelan menjauhkanku dari dirinya, "Gue nggak butuh rasa kasihan dari lo! sebaiknya lo pergi dari sini, gue nggak mau lihat atau bahkan ketemu sama lo!"
"Ohh sepertinya kalian ini sudah kenal ya? Tapi tunggu agaknya ada sedikit masalah diantara kalian, sebenarnya Salsa datang kesini karena dia hampir kehilangan calon bayinya!" seka dokter menengahi obrolanku
"Apa! Terus kandungan lo gimana Sal?" Aku begitu kaget mendengar perkataan Dita, ia terdengar begitu khawatir terhadapku.
Aku tersenyum, "Kandunganku sudah tidak apa-apa Dita... makasih kamu sudah bertanya!" pungkasku.
"Ohh!" ketusnya memalingkan wajah, "Dita... aku dengar tadi kamu ingin mengugurkan kandunganmu? Jangan seperti itu Dit... janin yang ada dalam rahimmu tidak punya salah sama sekali, mungkin saja calon bayimu sudah tak sabar melihatmu sebagai ibunya memangilmu dengan kata 'Mama' apa kamu tidak ingin mendengarnya seperti itu?" ucapku.
"Lo nggak usah urusin urusan gue!" ia masih saja ketus meresponku membuat dokter yang berdiri ditengah-tengah kami menggeleng kepala
"Ahh sepertinya aku harus keluar, agar kalian bisa menyelsaikan masalah kalian." Serkah dokter yang kemudian melangkah keluar.
"Dita... dengarkan aku, tidak semua perempuan bisa seberuntung kita yang bisa hamil, ada yang mungkin sudah menikah bertahun-tahun tapi belum di beri karunia-Nya jadi kita sepatutnya bersyukur!" kataku.
"Lo nggak tau Sal... gimana menderitanya gue, gue emang hamil tapi pacar gue nggak mau bertanggung jawab, malah gue sering dipukul tapi gue diam aja! padahal hati gue udah sakit banget, beda sama lo, lo punya suami yang sayang banget sama lo!" balasnya.
__ADS_1
Aku tak tau lagi harus bagaimana, Dita hanya terus menangis terisak-isak disela ucapannya.