Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Pahlawan


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Kevin, aku menangis di belakangnya, tertunduk sambil terisak-isak, hingga suara sesegukanku terdengar barulah Kevin menoleh kearahku, dan langsung meminggirkan mobilnya di tepi jalan.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu menangis?" tanyanya heran mengerutkan dahi.


Aku tak menggubris malah tambah menangis, tak mau Sampai Kevin melihat wajah belepotanku, aku terus saja menunduk.


Tiba-tiba daguku dipegangnya, mendongakkan sedikit membuat wajahku kini terpampang jelas di depannya.


"Ada apa?" tanyanya lagi.


"Gue nggakpapa!" jawabku lirih menepis tangannya.


"Kalau kamu punya masalah lebih baik selesaikan dengan baik-baik, bukannya menangis, kamu kira jika menangis masalahmu akan hilang?" terang Kevin.


"Nggak usah sok bijak! Gue nangis yah terserah gue! Lo nggak perlu ngurusin gue!" ketusku.


"Ohh ya udah! " ucap Kevin tak perduli.


Kevin kemudian turun dari mobil meninggalkanku sendirian di dalam mobilnya, mungkin dia juga tidak mau mendengar penjelasanku sama seperti para sahabatku.


Sudahlah, dia memang seperti itu, jadi untuk apa aku harus memikirkannya. Namun seketika dia kembali lagi.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan, sontak aku terkejut dan menoleh kesuara itu, ternyata itu Kevin yang mengetuk kaca mobil didekatku.


Dengan malas aku membukanya, "Apa lagi sih!"


"Aku akan pergi kesuatu tempat, jadi aku memberimu kesempatan untuk menangis didalam mobil dan kalau aku kembali ku harap kau sudah tidak seperti ini lagi! Dasar cengeng!" ejeknya.


"Bodo Amat emangnya lo mau kemana?"


"Kamu tidak perlu tau, yang pasti ketika aku pulang aku tidak mau lagi mendengar suara tangisan! Mengerti!" perintahnya.


Kevin melangkah pergi, melihat punggungnya dari belakang yang perlahan menjauh malah membuatku merasa benar-benar sendirian sekarang.


Aku kembali munutup kaca mobil, mengamati area sekitar jalan yang sangat ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Kepergian Kevin malah menambah kesunyian yang kurasakan, hening dan hanya suara kendaraan yang terdengar memuakkan.


Sebenarnya aku malu menangis kencang jika dia ada didekatnya, tapi sekarang dia sudah pergi apakah dia tau bagaimana perasaanku?


Atau dia memang merasa kesal dengan suara tangisanku?


Entahlah, tak ada yang bisa menjawabnya, kemudian aku melamun memikirkan masalah tadi membuatku kembali menangis.


Kali ini Kevin sudah tidak ada, suara tangis yang sejak tadi ku tahan kini tak bisa ku bendung lagi.


Aku menangis sekeras-kerasnya mengeluarkan semua rasa kesal yang menyesakkan dada, membiarkan air mata yang mewakili perasaanku.


30 menit kemudian, aku merasa capek sendiri, wajahku terasa kaku, mata yang sembab dengan tenggorokan terasa kering.


Aku haus, tapi aku malu untuk keluar dari mobil, apalagi ini dipinggir jalan, ada banyak pejalan kaki yang bisa melihatku.


Ahh... Hanya terus melenguh tak tau harus bagaimana, namun tiba-tiba Kevin datang dan langsung masuk ke dalam mobil.


Dengan cepat aku menutupi wajahku memakai rambut, "L-lo dari mana?" tanyaku dengan suara sedikit serak.


Menyadari itu aku memegang leherku, mengelusnya mencoba untuk meredakan seraknya.


"Ambil ini!" imbuh Kevin menoleh kebelakang menyerahkan sebuah kantong plastik hitam berisi air botol mineral dan juga tissue.


"Lo yang beli ini buat gue?" lirihku tak percaya.


"Bukan! Tadi aku pungut di tong sampah!" balas Kevin bercanda.


Aku memonyongkan bibir, "Ya bukanlah, tadi aku jalan-jalan terus lihat pusat perbelanjaan jadi sekalian membeli itu, karena jangan sampai ingusmu bertebaran di mobilku!" jelasnya ketus.


Bukannya berterimakasih aku malah menangis kembali, "Yak!!! Kamu nih kenapa masih menangis? Apa aku harus memberimu gula-gula, ayolah... Kamu itu sudah dewasa tidak perlu cengeng seperti anak kecil. " tegur Kevin.


Dalam hati aku ingin tertawa, sejujurnya aku menangis karena terharu dengan perlakuannya, tapi dia tidak sadar dengan perhatiannya itu membuat perasaanku lebih baik dari yang tadi.

__ADS_1


Aku tak menyangka seorang Kevin melakukan ini padaku, tidak seperti Willy yang hanya mengabaikanku ketika menangis tadi.


Dag dig dug.


Memikirkan itu jantungku berdegub begitu kencang, kemudian aku gugup dan langsung mengambil botol air minum yang ada didalam kantong, Membuka lalu meneguk airnya sangat cepat.


Uhhuk uhuuk


Karena terlalu terburu-buru, aku tersedak air, membuat cipratan di wajah Kevin,


"OMG... mati gue, pasti Kevin bakal ngamuk nih... Terus gue harus gimana?" batinku takut.


"Sini tissuenya!" suruhnya dengan nada kesal.


Tanganku gemetar mengambil dan memberikan tissue itu padanya, "Ohh tuhan... Apa yang bakal Kevin lakuin ke gue? Jangan-jangan dia mau mukul gue pake tuh tuh tissue, ahh... Ehh tapi tissue kan bukan benda keras jadi pastinya nggak sakit! " selidikku dalam hati.


Dia mendengus dengan sangat kasar, membuatku takut dengan apa yang akan dia lakukan padaku.


Karena itu, aku memejamkan mata bergidik ketakutan dan pasrah saja, aku tau Kevin berhak marah sebab ini memang salahku.


Aku tak membuka mata beberapa menit, hingga seketika aku merasakan sentuhan di wajahku, barulah aku syok dan langsung membuka mata.


Ku pandangi Kevin yang ternyata fokus mengelap area mulutku yang tersembur air oleh ulahku sendiri.


Aku tercengang dengan perlakuan Kevin, dia bahkan mengelap wajahku sedangkan wajahnya yang juga terciprat air masih belum ia bersihkan.


Ada apa ini? Kenapa dia begitu perhatian, apa dia bersandiwara atau memang ikhlas melakukan ini padaku?


Pertanyaan itu seolah bertumpuk diotakku hingga tak satupun yang bisa ku jawab sendiri, "Vin! Elo ngapain bersihin muka gue!" tanyaku sambil terus menatapnya.


Seketika dia menghentikan tangannya, lalu menarik kembali tangannya itu dari wajahku, wajahnya tampak memerah, tapi apakah mataku yang salah lihat?


"Makasih!" ucapku lembut.


Kevin terlihat canggung sambil memutar posisi duduknya kembali seperti semula berhadapan dengan setir mobil.


Sempat terlihat sekilas wajahnya itu, dia memang benar-benar merona? Ahh apakah karena menangis terlalu lama mataku jadi bermasalah? Namun tetap saja aku sendiri yang terus menyangkal setiap jawaban yang coba untuk ku jawab.


"Sebaiknya kita pulang sekarang!" kata Kevin menyalakan mesin dan melajukan mobilnya secara perlahan.


"Kalau kamu mau tidur, Tidur saja!" ujar Kevin


Aku hanya memalingkan wajah menghadap ke arah jendela mobil.


Perlahan tapi pasti mataku tertutup hingga sepenuhnya berada di alam mimpi, masalah yang bertumpuk tadi ternyata masih terus membayangiku.


Hingga di dalam tidurku saja aku merasa tercekik dalam kesunyian, tak ada seorangpun yang menemaniku dalam kegelapan.


Aku menangis dalam tidurku, "Salsa... Bangun, Sal... " panggil seseorang yang entah dari mana, aku seolah berada di tengah hutan, hanya kegelapan yang terus menemaniku.


Suara yang memanggilku tadi, sungguh tak bisa ku pastikan asalnya, aku celingak-celinguk berlari mencari asal suara itu sambil menangis ketakutan.


Lebatnya hutan menampakkan sisi menakutkan membuat bulu kudukku seakan berdiri, "Tolong... Tolong gue... Gue takut... " lirihku dalam mimpi meremas rambut kemudian menutup telinga pada saat mendengar suara menyeramkan.


"Salsa...." panggilnya sekali lagi, namun wajahnya tak terlihat dalam kegelapan.


Ahh aku menjerit, sambil menangis tiba-tiba tubuhku terasa di peluk, siapa yang memelukku? Pelukannya terasa sangat hangat, aku merasa di lindungi, kegelapan yang tadi ku rasakan seketika menjadi cerah menampakkan sisi hutan yang menyejukkan.


Perasaanku menjadi lebih damai, masalah yang tadi perlahan menghilang digantikan oleh hangatnya pelukan itu.


Aku sesegukan, seraya membuka mata secara pelan-pelan, hal pertama yang ku lihat adalah Kevin yang memandangiku, dia sekarang berada di sampingku, sejak kapan dia pindah? Aku tidak tau, aku tidak menyadarinya.


Terlukis raut wajahnya yang tampak panik dan takut, ini merupakan sejarah baru bagiku, seorang Kevin pratama untuk pertama kalinya memasang ekspresi seperti itu.


"Hiks... Kevin, jadi orang yang tadi peluk terus manggil nama gue itu elo?" ucapku lirih.


"Kamu sebenarnya kenapa? Ada masalah apa? Cerita sama aku! Tidak perlu memendamnya nanti kamu sakit!" tutur Kevin


"Kevin khawatir sama gue? Ini bukan mimpi kan? Dia khawatir gue sakit?" tanyaku dalam hati terus mengulang ucapannya.


"Vin... Makasih banyak karena elo udah muncul, makasih karena elo nggak ninggalin gue huhu! " kataku menangis.

__ADS_1


Seketika aku memeluk Kevin, saat ini aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk kujadikan sandaran dan mungkin hanya Kevin yang tersisa.


Aku tidak perduli lagi dengan yang lain, Meski awalnya aku sangat membenci dia, tapi sepertinya aku yang sudah keterlaluan, mulai saat ini aku akan berusaha memperbaikinya.


Dia menyelamatkanku, dia tidak meninggalkanku seperti yang lain, walau ucapannya terkadang membuatku kesal.


Tapi hari ini dia seolah menjadi pahlawan bagiku, jika saja tidak ada dia mungkin aku akan terus terpuruk dengan masalah ini.


"Makasih Vin... Makasih.... "


"Humph memangnya kamu punya masalah apa? Bukankah tadi pagi kamu masih baik-baik saja?" tanyanya lagi, melepaskan pelukanku, lalu menatapku serius.


"Gue nggakpapa, Vin... Anter gue masuk ya! Please gue udah nggak kuat buat jalan!" pintaku.


Tubuhku memang sangat lemas sejak di kantin, apalagi mimpi buruk tadi membuat tubuhku terasa mati rasa.


Kevin mengangguk, kemudian membuka pintu mobil ternyata ini sudah malam hari, aku tertidur berapa jam? Sungguh mengherankan, aku tidur berharap masalah berkurang namun ternyata mimpi buruk hampir saja membuatku gila.


"Turunlah dulu!" perintahnya.


"Vin... Gue kan bilang nggak bisa jalan! "


"Iya aku tau, makanya turun dulu!"


Aku menghembuskan nafas perlahan turun dari mobil.


Akan tetapi sebelum kakiku menginjak tanah, tubuhku seketika melayang dan kini langsung di gendong oleh Kevin.


Karena kaget aku sempat menahan nafas, "Kalau mau gendong! Ya bilang-bilang dulu dong!" protesku tapi tetap saja agar tidak terjatuh aku melingkarkan tangan kiriku di lehernya tanpa mau menatap wajahnya itu


"Tidak usah protes lagi, yang penting kamu bisa masuk rumah," jawabnya datar.


Seketika Kevin menghentikan langkahnya, "Tunggu! Berat badan kamu berapa Sal... " lanjutnya masih bertanya.


"Ahh jangan-jangan dia mau bilang kalau gue berat! Astaga amit-amit gue kan nggak sering makan teratur, jadi nggak mungkin berat dong!" batinku mencoba menjawabnya.


"Emangnya kenapa elo nanya kayak gitu?"


"Karena kamu sangat ringan, bahkan lebih ringan daripada kapas!" guraunya.


Aku bernafas lega, untunglah Kevin tidak mengatakan apa yang tadi ku fikirkan, bisa-bisa aku malu jika di ejek mengenai berat badan.


"Nggak perlu tanya itu, lo pastinya tau sendiri jawabannya!" ketusku.


"Hahah kalau begitu kedepannya kamu harus makan yang banyak! "


"Ngapain lo suruh gue makan banyak, lo mau badan gue bengkak kayak kerbau! Hah!"


"Bercanda Sal... Tidak perlu marah, bukannya kamu sakit?"


Aku tertawa kecil dalam hati, bercanda dengannya sepertinya lebih asik dari pada menonton komedi yang ada di Tv.


***


Dia terus menggendongku sampai di atas kasur, membaringkan, menutup tubuhku dengan selimut, "Tidurlah Sal..." ucapnya.


Kemudian dia hendak melangkah pergi, namun sebelum menjauh aku memanggilnya,


"Vin... Lo mau nggak temanin gue sampai tidur! Please gue takut mimpi buruk lagi"


Kevin terdiam menatap kesuatu arah seperti sedang berfikir "Ohh tidak, apa permintaan gue tadi terlalu berlebihan ya! Pasti dia langsung nolak tuh... Gue udah kenal sifatnya dia! Lagian kenapa gue harus merasa takut sekarang? " gerutuku dalam hati.


"Hn... Baiklah kalau itu mau kamu!


Tapi aku mau mandi dulu, lalu kesini!"


Setelah Kevin pergi, aku menjadi gugup, hanya terus menggigit ujung kuku hingga patah-patah.


"Ahh sial... Kenapa gue minta itu sih! Kan gue nggak bisa tidur kalau ada dia, nanti dia peluk gue lagi, bisa-bisa penyakit gue bertambah, lagi pula ini pertama kalinya gue yang berinisiatif minta di temenin! Astaga kasur gue bersih nggak ya! Nggak bau kan?" gumamku mengecek sprey serta mencium bantal yang akan ditempati tidur oleh Kevin.


Selang beberapa menit kemudian Kevin datang dengan kaos berlengan pendek berwarna putih serta celana yang panjangnya sedikit diatas dengkul.

__ADS_1


Stylenya yang sederhana terkadang membuatku menelan ludah sendiri, bahkan rambut serta Wangi tubuhnya yang baru saja selesai mandi masih tercium di hidungku.


"Tidak perlu memandangiku seperti itu, aku memang tampan!" ucapnya percaya diri.


__ADS_2