Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Kantor Polisi


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Nayla tampaknya terlihat gelisah sedangkan mamanya masih menatapku dengan tajam.


Sorot matanya seperti ingin segera menerkamku, bahkan Pak polisi yang kini duduk didepan kami tidak menyadarinya karena sedang mengetik sesuatu di komputernya.


"Oke saya mau tanya apa alasan kalian bertengkar di tempat umum?" tanya pak polisi mulai menginterogasi.


"Begini pak! Kata anak saya, dia adalah dalang dari kecelakaan yang menimpanya, Jadi saya ingin mencobloskan dia ke dalam penjara!" cerocos mamanya.


"Apa ibu mempunyai bukti yang lebih spesifik karena jangan sampai kami memilih orang yang salah untuk di masukkan ke dalam penjara!" Seka pak polisi tersebut ragu dengan pernyataan dari mamanya Nayla.


"Sa-saya!!! Nay... Katakan yang sebenarnya nak! Katakan agar dia di hukum seberat-beratnya!" lirihnya menghasut Nayla.


"Mah! Cukup! Aku tidak tau siapa pelakunya!"


Pengakuan Nayla membuat mamanya tampak kaget, serta malu, "Nay... Apa maksud kamu! Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang sama mama! Tidak perlu bohong sayang! Ayo kasi tau ke pak polisi sekarang seperti yang kamu katakan tadi!" tutur mamanya lagi.


Nayla hanya tertunduk diam, sambil meremas tangannya sendiri, "Sudah hentikan, sepertinya anak anda memang berbohong! Jadi silahkan tanda tangangani surat perdamaian ini agar urusan kalian selesai karena sepertinya anda juga di bohongi oleh anak anda sendiri "ujar pak polisi memberikan selembar surat pada kami.


"Tidak pak! Anak saya tidak mungkin berbohong! Dia anak yang jujur!!!" ungkapnya.


"Tidak usah banyak basa-basi lagi saya tau bagaimana gestur orang yang sedang berbohong! Jadi cepat tanda tangan atau kalian yang saya jobloskan kedalam penjara, karena telah menuduh orang tak bersalah!" jelas Pak polisi berpihak padaku.


"Ehk... Tu-tunggu dulu pak!" serkah mamanya Nayla yang kemudian berbisik di telinga anaknya tersebut.


"Nayla kamu jangan diam terus dong! Jangan buat mama malu sendiri, jadi bicara sekarang!" bisiknya sekilas yang masih bisa ku dengar walau samar-samar.


"Pak! Saya minta maaf! Mah... Lebih baik mama cepat tanda tangani surat perdamaian itu sebelum kita yang di penjara!" sahut Nayla melirik ke pak polisi kemudian membalas bisikan mamanya.


"Apa! Nayla kamu nih gimana sih!" gertak mamanya tidak terima.


"Mama lakuin aja apa yang ku katakan!!! Perintah Nayla akhirnya membuat mamanya tersebut dengan kesal menarik kertasnya dari atas meja, kemudian menandatangani surat tersebut.


"Nih ambil! Sudah kan! Kamu nih Nay... Malu-maluin mama aja! Kalau tau kamu bakal begini kita nggak usah ke kantor polisi!!" kesal mamanya.


Sementara itu aku berusaha menahan tawa melihat tingkah ibu dan anak itu, "Oke sekarang kalian berdua boleh pergi!!! Kata pak polisi.


"Terus bagaimana dengan saya pak! Kenapa cuman mereka berdua yang disuruh pergi?" tanyaku heran serta panik.


"Haha rasain kamu! Mungkin kamu punya masalah lain yang menyangkut hukum, makanya sekarang kamu kena karma karena berani melawan orang tua sepertiku!" ejek Mamanya tertawa penuh kemenangan.


"Maaf dia tidak punya kasus sama sekali hanya saja saya ingin memanggil walinya untuk menandatangi surat pembebasannya" ungkap pak polisi.


"Apa!!! Oh... " pekiknya terdengar kecewa. Lalu kemudian pergi tanpa pamit sambil mendorong Nayla di kursi roda.


Sedangkan aku, kembali merasa gelisah apalagi pak polisi tadi mengatakan ingin memanggil waliku, lantas apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak mungkin menghubungi orangtuaku, karena jika itu terjadi mereka pastinya langsung Panik apalagi mama yang lemah jantung, dan juga papa yang selalu sibuk.


Lalu siapa yang harus ku panggil untuk menjadi waliku? Ahh sepertinya hanya ada satu nama yang tersangkut di otakku.


Aku mengeluarkan ponselku kemudian membuka detail kontaknya, lalu menyerahkan kontak itu kepada pak polisi.


"Suamiku tersayang? Jadi maksud mbak, saya yang menghubunginya?" tanya pak polisi lagi dan langsung ku anggukan tanpa rasa ragu.


Saat pak polisi menelfon Kevin, aku mulai merasa takut, bukan karena tak ada alasan tapi karena takut dengan apa yang akan di fikirkan olehnya.

__ADS_1


Bahkan ketika pak polisi menyerahkan kembali ponselku, yang katanya Kevin ingin berbicara padaku, namun dengan cepat aku menolaknya sambil melambaikan tangan dengan kuat memberi isyarat agar pak polisi tidak memberikan ponselku itu.


Hingga Kevin menyerah tapi satu hal yang pasti dia akan datang kesini! Lantas apa yang harus aku katakan ketika dia bertanya tidak mungkin aku katakan soal pertengkaran sesama mantan kan? Masalah ini sungguh memusingkan.


Pak polisi mengembalikan ponselku, tapi dia menatapku seraya Geleng-geleng kepala, aku juga heran kenapa pak polisi tersebut seperti itu.


"Kenapa pak!" aku bertanya karena penasaran.


"Ohh... Kamu bertanya sama saya? Hahah tidak apa-apa hanya saja saya tidak menyangka kamu tampaknya masih sangat muda masih terlihat seperti seorang mahasiswi baru, tapi ternyata sudah menikah!" ungkap Pak polisi yang mengatakan hal yang sama dengan orang-orang yang tidak percaya dengan statusku yang sekarang.


"Ahhhah iya pak!" jawabku sopan tertawa kikuk.


"Wah... Ternyata anak muda jaman sekarang semuanya serba tidak sabaran ya!" lanjut pak polisi yang ku balas dengan senyum tipis.


Beberapa menit berlalu, Kevin datang lengkap dengan pakaian jas dokternya, dia terlihat sangat letih, wajahnya di penuh keringat bahkan nafasnya tersenggal-senggal.


"Hufh-hufh Sal... Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Kevin.


"A-aku.... "


"Ahk jadi suami mbak seorang dokter ya? Saya fikir seorang seorang mahasiswa juga seperti mbaknya tapi kayaknya kalian masih sangat serasi!" sindir pak polisi.


"Ya ampun! Kenapa pak polisi ini terlalu jujur! Apa dia tidak takut Kevin akan murka?" batinku khawatir.


Aku melirik Kevin ternyata dia menatap Pak polisi tersebut, "Ayo pulang sekarang!" ajaknya langsung menarik tanganku, mengabaikan apa yang baru saja ia dengar.


"Ehh tunggu dulu! Dia tidak di perbolehkan pergi sebelum mmada wali yang menandatangani surat pembebasan ini!" seka Pak polisi sebelum kami melangkah lebih jauh.


Kevin menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan sambil tangannya masih memegang tanganku, bahkan dia menyeretku kembali ke tempat kertas itu berada.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Kevin menarikku lagi, "Terimakasih pak!" ucapku sopan dalam keadaan terseret.


Pak polisi beserta jajarannya menatapku iba, mungkin mereka berfikir Kevin adalah orang yang kasar, Selalu menindas istri, bagaimana tidak perlakuannya sekarang bisa membuat orang salah paham.


"Ahk Kevin tanganku sakit! Kamu memegangnya terlalu kencang!" lenguhku merasakan nyeri tepat di genggamannya.


Seketika Kevin melepaskan tangannya, "Maaf! Aku tidak sengaja!" tuturnya mengelus tangannya yang memerah karena ulahnya, bahkan di bekas tangannya berbekas di kulitku.


Kevin menatapku datar, "Ayo pulang! Aku akan mengantarmu kerumah!" ajaknya lagi.


Kini aku berjalan di belakangnya hanya bisa menatap betapa tingginya Kevin, diriku yang pendek ini bahkan hanya sebatas dadanya saja.


Di depan kantor polisi, lagi-lagi aku masih bertemu dengan sepasang ibu dan anak itu, tampaknya mereka sedang menunggu seseorang.


"Dokter Kevin? Ini beneran dokter Kevin kan?" tanya mamanya Nayla menghampiri kami dia terlihat kaget melihat Kevin.


"Ehh maaf anda siapa ya?" Kevin bukannya membalas sapaan itu tapi malah tidak mengenal orang yang di depannya, maklumlah dia orang yang terkenal jadi siapa yang tidak mengenalnya? fikirku.


"Ahh masa kamu lupa! tente temannya mama kamu! itu lo dulu yang sering datang kerumah kamu!" ucapnya berusaha membuat Kevin mengingatnya.


"Tapi maaf! saya sudah lupa!" balas Kevin masih belum bisa mengingatnya.


"Ahk tidak apa-apa! tante paham karena memang sudah agak lama tidak berkunjung ke rumah kamu! ohh iya kamu ke kantor polisi karena ada urusan apa?" mamanya terus bertanya kepada Kevin namun justru Kevin terlihat malas meladeninya.


"Saya kesini untuk menjemput istri saya!" ketusnya.

__ADS_1


"Istri? Ohh jadi kamu sudah menikah? apa jangan-jangan Istri kamu seorang polwan ya jadi ingin menjemputnya kesini? tapi kenapa tante tidak di undang?" seru mamanya Nayla


"Tidak perlu mengungkitnya! pernikahan kami sudah lama! dan juga istri saya bukan polwan! Sal.... " ungkap Kevin lalu memanggil namaku, Yang sejak tadi hanya menyimak perbincangan mereka dari belakang.


Mungkin sepasang ibu dan anak itu memang tidak menyadari kehadiranku, apalagi dia hanya berfokus ke Kevin.


ketika mendengar namaku di panggil, aku keluar dari persembunyianku, sembari tersenyum lebar kepada mereka.


"Apa!!! jangan bilang dia Istri kamu? dokter Kevin! bagaimana bisa bocah ingusan ini menjadi istrimu?" pekiknya kaget.


"Jadi kamu sudah menikah Sal?" lirih Nayla untuk pertama kalinya bicara yang sejak tadi hanyak menyaksikan obrolan mamanya dengan Kevin.


"Memangnya kenapa? apa anda tidak setuju kalau Salsa menjadi istri saya! tapi itu tidaklah penting karena saya tidak butuh persetujuan anda!" kesal Kevin.


"Tante bukan bermaksud seperti itu sama kamu! Tapi dia itu perempuan jahat, dia yang mencelakai anak tante!" ucapnya mencoba menghasut Kevin juga.


"Berhenti memfitnahnya! siapa anda berani menjelek-jelekkan namanya, apa anda berhak menilai sedangkan anda sendiri tidak mengenalnya dengan baik? dan ingat pilihan saya itu adalah yang terbaik! jadi anda tidak perlu mengurusi rumah tangga saya" tutur Kevin mencibir.


Dengan cepat Kevin menarikku lagi menuju mobil, meninggalkan mereka yang terlihat sangat terkejut dengan pengakuan Kevin dan begitu pula aku yang juga kaget karena kata-kata yang baru saja Kevin sampaikan.


Ketika didalam mobilnya suasana menjadi agak canggung lagi, Kevin juga memasang raut wajah tanpa ekspresi membuatku bingung apa yang sebenarnya ia rasakan entah marah? atau apa aku tidak bisa menebaknya sama sekali.


Ia bahkan tak bicara sama sekali, sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya padanya! " Kevin! kenapa kamu tidak bertanya lagi tentang aku berada berada di kantor polisi?"


Kevin malah diam membisu, matanya hanya berfokus ke arah jalan, melirikku saja tidak pernah, aku mendengus kesal "Hem...Vin tadi kamu lagi nggak sibuk kan? pas pak polisinya nelfon kamu! lagian aku takut mengganggu, jadi kufikir tidak perlu menelfonmu tapi kata pak polisinya aku tidak boleh pulang sebelum ada yang menandatangi surat itu!" celotehku menjelaskan.


Kevin tetap saja tak meresponku, "Kevin! kamu tuli ya? aku ngomong sama kamu! kenapa kamu tidak menjawabku?" jeritku kesal.


Pasalnya aku sudah berkali-kali mengajaknya bicara tapi tak ada satu katapun yang keliar dari mulutnya, bahkan sekedar bergumam saja tidak ada.


"Diamlah! aku badmood gara-gara kamu, masalah ini kita bahas di rumah saja, kalau bahas disini takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan!" terang Kevin menegurku.


"Baiklah!" jawabku.


"Waduh! mati aku!!! apa yang mau Kevin lakukan di rumah? apa dia mau menidasku? atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga seperti yang marak di beritakan sekarang? astaga! bagaimana ini, apa aku masih bisa menghirup udara besok pagi?" lirihku khawatir bergumam dalam hati.


Sepanjang perjalanan kerumah, kami terus berdiam diri, sedangkan aku gelisah memikirkan apa yang akan terjadi ketika dirumah nanti.


Ketika sampai di rumah, dengan ragu aku malangkah masuk kedalam rumah, lalu Kevin berjalan cepat melewatiku.


Dia yang membuka pintu, aku mengikuti langkahnya dari belakang, Kevin menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu, sambil menyilangkan kedua tangannya, dengan tatapan tajam yang ia berikan padaku.


"Sekarang aku butuh penjelasan! kenapa kamu bisa ada di kantor polisi?" tanyanya terdengar dingin.


"Itu Vin... anu sebenarnya aku tadi bertemu dengan salah satu kenalan di masa SMA, dia bersama ibunya, tapi kenalan aku itu memfitnahku, katanya dia celaka gara-gara aku! padahal aku sendiri yang jadi korban bagaimana bisa mencelakainya disaat terbaring di rumah sakit! kan nggak masuk akal, terus dia menyuruh ibunya untuk balas dendam padaku, dan akhirnya aku dan ibunya bertengkar!" jelasku secara detail.


"Ohh bukannya dia yang menindasmu dulu?" balas Kevin.


"Hah! kenapa kamu bisa tau dia yang menindasku?".


"Ehh itu karena... aku pernah membaca berita!" jawab Kevin terlihat gugup.


"Hah! bukannya berita itu hanya di ada di forum berita sekolah lalu kenapa Kevin bisa tau? sepertinya ada yang dia sembunyikan dariku" batinku bertanya-tanya curiga dengan sikapnya.


"

__ADS_1


__ADS_2