Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Penerus???


__ADS_3

"Lo udah gila ya? Kevin! Asal lo tau itu ciuman pertama gue, dan lo bilang gue harus nyium lo dulu baru setuju? Mimpi aja sana!" ucapku menolak.


"Hn... Ya udah semuanya terserah kamu! Yang mau kuliahkan juga bukan aku!" balasnya santai.


Aku sangat kesal dengannya, hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi! Ingin sekali rasanya memukul wajahnya itu sampai babak belur hingga emosiku menghilang.


Namun apa? Semua hanya angan-angan sama sekali tak bisa kulakukan apalagi sekarang aku yang sangat membutuhkan bantuannya.


"Kevin~, ayolahh lo ganti aja syaratnya pasti gue bakal lakuin ya ya ya! " rengekku manja dengan meraih tangannya lalu mengayun-ayunkan.


"Ohh... Oke kalau begitu aku ganti syaratnya!"


"Nah... Gitu dong! Ini kan lebih baik! Terus apa syaratnya" ujarku bahagia dengan wajah penuh harap.


"Syaratnya adalah ayo kita bikin penerus!" jawabnya singkat


"Pe-penerus?"


Aku kaget bukan kepayang, menelan ludah sendiri dengan mata melebar ketika mendengar omongannya itu.


Aku tertawa kikuk, "Hahah lo jangan aneh-aneh deh Vin! Lo tau kan umur gue masih 18 tahun dan jujur gue belum siap punya anak!"


"Bukannya tadi kamu bilang akan melakukan apapun itu kalau aku menggantinya, Nah sekarang sudah ku ganti jadi tepatin janji kamu!" lirihnya menagih.


"Bu-bukan itu maksud gue! Gue emang bilang kayak gitu tadi tapi sumpah Vin gue belum siap!"


"Berarti kamu juga tidak mau kuliahkan!"


Aku terdiam membeku, melongo mendengar semua kata-kata yang baru saja diucapkannya.


Aku menarik nafas panjang bersiap membalas perkataaanya, "Kevin! Ternyata lo egois banget ya! Lo nggak lebih dari pria brengsek diluaran sana, gue nggak nyangka setelah pernikahan konyol ini, lo bisa-bisanya lakuin hal itu sama gue! Sumpah gue kecewa banget sama lo, lo nggak pernah sedikitpun bersikap layaknya seorang suami sama gue!" kataku yang sejak lama tersimpan rapat dalam otakku kini semua kukeluarkan.


Air mataku kembali hadir ditengah-tengah ucapanku padanya, mungkin karena sudah berulang kali kecewa dan sekarang terulang lagi.


"Aku memang sudah terkenal egois dari dulu, jadi kamu mau aku minta maaf? Sorry ini bukan pertama kalinya aku seperti itu, jadi kamu juga bukanlah korban pertama" ucapnya terdengar dingin.


"Kevin!!!"


"Dan kamu sudah tau alasan sebenarnya kenapa kita bisa menikah! Lalu kenapa kamu meminta aku bersikap layaknya seorang suami? Apa kau fikir aku mudah menerima orang baru setelah sakit hati? Tidak Sal... Tidak! kau salah, kau tau papan yang sudah dipaku jika pakunya dicabut itu masih akan meninggalkan bekas yang sangat dalam dan entah kapan akan hilang! Nah seperti itulah aku! " tuturnya.


Aku tertegun menatapnya dengan wajah berlinang air mata, "Terus kenapa harus gue Vin! Kenapa? Kenapa harus gue yang menderita karena sakit hati lo, masa depan gue juga hancur kalau seperti ini huhuh" lirihku terkulai jatuh ke lantai tepat didepannya.


"Entah... Mungkin karena kamu sudah ditakdirkan untuk melalui ini! " ucapnya datar mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.

__ADS_1


Sungguh tak menyangka dia baru saja mengatakan itu, pembuluh otakku seakan pecah, tak bisa lagi berfikir untuk membalas perkataannya.


"Lo jahat Vin! Lo jahat!!! Gue benci sama lo...." teriakku lantang seraya bangkit dan langsung berlari turun kelantai satu.


Dipertengahan anak tangga, kakiku lemas dan aku melambatkan langkahku, tanganku terkadang memijitnya mencoba untuk meredahkan rasa nyerinya.


Ahh... Aku seolah tak sanggup lagi menuruni tangga hingga kakiku terasa mati rasa dan pada akhirnya aku terjatuh terguling-guling hingga kebawah.


"Salsa...!!!" teriak Kevin


Kini aku sudah terkapar di ujung anak tangga penglihatanku menjadi buram akan tetapi meskipun begitu aku masih bisa melihat Kevin samar-samar, dia terlihat panik sambil menuruni tangga.


Kevin mengangkat kepalaku, menyeka rambut yang menutupi wajahku yang pucat, tubuhku juga bergetar hebat mungkin karena syok diiringi linangan air mataku yang tak kunjung berhenti mengalir.


"Salsa... kamu tidak apa-apa? Apanya yang luka? Apa kepalamu sakit! Atau apa? bagian mana yang sakit!" tanyanya masih terdengar panik.


Aku tak menjawab ucapannya melainkan hanya terus menangis dengan keras.


"Salsa! Yang mana yang sakit? Apa kamu jadi bisu karena terjatuh? Ohh tunggu disini biar aku ambilkan kamu air minum!"


Kevin berdiri lalu berlari kearah dapur mengambil secangkir air untukku, setelah datang dia bersikap lemah lembut padaku sembari menyodorkan air minum itu.


"Nih! Minum dulu!"


Aku mengambilnya dengan tangan masih gemetar, Kevin yang melihatnya seketika membantuku menggenggam gelas itu dan menuntunnya kemulutku.


Aku menatap Kevin dalam-dalam hingga aku merasa yang didepanku ini adalah Willy, berkali-kali aku menyipitkan mata, namun penglihatanku masihlah samar-samar.


Sosok Willy yang ternyata adalah Kevin itu tampak tersenyum padaku, senyum yang mampu membuatku menggila ketika mengingatnya.


"Willy!!! " panggilku bergumam.


"Willy? Siapa itu Willy? Aku Kevin bukan Willy!" jawab Kevin mengerutkan dahi.


Aku meringis menekan kepalaku yang pening, ku kucek mataku berkali-kali dan perlahan penglihatanku kembali normal.


Aku menatap Kevin dengan perasaan marah, dan dia juga tampak seperti itu, aku berfikir seharus aku yang marah tapi kenapa dia juga sepertinya marah?


"Kamu tidak apa-apa? " tanyanya lagi.


"Gue nggak butuh sandiwara lo!" ketusku.


Aku berusaha untuk berdiri, dan Kevin bermaksud ingin membantu tapi aku langsung menepis tangannya sebelum menyentuhku.

__ADS_1


"Minggir! Lo nggak usah ganggu-ganggu gue lagi!"


Selangkah demi selangkah aku terus berjalan menahan rasa sakit yang ada dikepalaku, semua tulang-tulangku seakan remuk, berjalan pincang tanpa menoleh sedikitpun kearah Kevin yang ada dibelakangku.


Didalam kamar, aku mengecek semua anggota tubuhku melihat apakah ada luka atau tidak tapi untunglah tidak ada sama sekali.


Aku kembali menangis bukan karena masih sakit akan tetapi ketika mengingat semua perkataan Kevin yang mampu membuat batin terasa sakit.


Berbaring di atas lantai tanpa bantal, merasakan sejuknya hawa lantai membuatku memejamkan mata dan terus mengeluarkan air bening dari ekor mataku.


***


Pagi harinya, aku terbangun dengan mata bengkak, tubuh yang seakan masih remuk aku tak mampu untuk berdiri, hingga aku meriah sudut kamar untuk kujadian tumpuan.


Aku melirik layar ponselku, menatap jam yang ternyata sudah hampir jam 09:00, aku baru sadar sekarang bahwa tadi malam aku tertidur diatas lantai tanpa pengalas atau pun bantal dan leher bagian belakangku juga terasa sakit.


Kakiku masih sakit jadi aku berjalan pincang agar rasa sakitnya tidak bertambah parah, tadi aku ingin mengurung diri didalam kamar untuk beberapa hari termasuk mogok makan, akan tetapi perutku sudah tidak bisa dikontrol lagi dan terus mengeluarkan suara-suara aneh.


Dengan terpaksa aku keluar mencari makanan diatas meja namun tidak ada, begitu pula didalam kulkas yang hanya berisi air dingin tanpa ada pendampingnya.


Aku mengeluh malas menatap isi ruang dapur yang tidak ada bahan makanan sedikitpun, bahkan sabun colek untuk cuci piringpun sudah habis termasuk minyak dan beras


"Oh tuhan! Apa ini yang namanya keluarga kaya raya? Beras aja nggak ada!" gumamku.


Ting tong


Bel berbunyi, perlahan aku melangkah menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu dipagi hari.


"Selamat siang ibu! Kami dari pos pengiriman, apa benar ini rumah tuan Kevin pratama?" ujar seorang Kukir


"Iya benar pak! Ada apa ya?" tanyaku heran.


"Anda Atas nama ibu Salsa Olivia ya?" tanyanya lagi dengan cepat kuanggukkan.


"Ada paket untuk anda!"


Kurir tersebut mengeluarkan map besar menyerahkannya padaku dan langsung pergi setelah aku menandatanganinya.


Aku berbalik badan melangkah masuk kedalam rumah namun sebelum melangkah lebih jauh ternyata ada lagi seseorang yang datang membawa kiriman Pizza.


Aku heran dengan semua ini apalagi orang yang membawa pizza itu mengatakan yang memesannya adalah Kevin dan memang ditujukan untukku.


Dengan suka rela aku mengambilnya karena memang sudah sangat lapar, aku membawa keduanya sekaligus meletakkan map tadi diatas kotak pizza.

__ADS_1


Diruang makan, aku masih bingung, belum tau apa yang pertama ingin kubuka terlebih dahulu, hingga pada akhirnya aku memilih makan dan tangan yang satu mengeluarkan kertas yang ada di dalam map tadi.


Mataku melotot membaca kop suratnya, hingga tanpa kusadari pizza yang ada ditanganku terjatuh begitu saja, air liurku juga hampir jatuh karena hal itu.


__ADS_2